Butuh Waktu

Butuh Waktu
Apakah Niko Akan Luluh


__ADS_3

***Keesokan paginya, Laura bangun dgn semangat baru. Ia tahu hari ini hari yg ia tunggu-2. Ia mengenakan seragam sekolahnya dgn penuh semangat. Hari ini ia ingin terlihat rapi di mata Niko. Dimeja riasnya terdapat gulungan kertas yg diikat pita merah. Gambar Niko.


Ia menatap bayangannya di cermin, & tersenyum. Hari ini akan berbeda dgn hari-2 sebelumnya. Hari ini ia akan mengumpulkan keberaniannya utk bicara dgn Niko.


Saat istirahat siang, Laura memandangi punggung Niko. Teman-2 sekelas sudah pergi utk beristirahat. Di kelas hanya tinggal mereka berdua. ''Ayolah Laura, hanya enam langkah menuju tempatnya,'' katanya dalam hati. Perlahan-lahan, Laura bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah Niko.


Napasnya mulai tdk beraturan. Tiga langkah lagi. Dua langkah lagi. Satu langkah lagi. Kini ia tiba di meja Niko. Tampaknya Niko sedang menulis laporan.


Mengumpulkan keberanianya, Laura menarik napas panjang dan berkata, ''Niko...''


Niko berhenti menulis dan memandang Laura dgn tatapan ingin tahu.


Laura meletakkan gambar Niko di atas mejanya. ''Aku menemukan gambarmu kemari.''


Niko melihat gulungan kertas berpita merah di depannya, lalu membukanya. Matanya mengenali gambar yg tertera di sana, Niko menatap Laura lagi. ''Terima kasih.''


Laura menghela napas lega. ''Akhirnya aku bisa berbicara padanya.''


Melihat mata Niko yg masih memandangnya membuat Laura gugup. Ia tdk tahu harus berbicara apalagi.


''Ehm... kalau begitu aku keluar dulu.'' Langkahnya yg terburu-buru hampir saja menyenggol meja Niko.


''Tunggu, Laura,'' kata suara di belakangnya.


Laura membalikkan badannya ke arah Niko. ''Ada apa?''


Niko seakan ragu untuk mengutarakan kalimat berikutnya. ''Begini.... bisakah kau tdk memberitahukan tentang gambarku ini pd orang lain?''


(''mengapa'?') benak Laura langsung merespon pertanyaan Niko, tp yg keluar dr mulutnya malah kebalikannya. ''Baiklah,'' katanya perlahan.


''Terima kasih lagi,'' kata Niko sambil tersenyum lembut.


Senyum Niko membuat Laura gemetar. ''Sama-sama,'' balasnya perlahan.

__ADS_1


Lima menit kemudian, di toilet cewek, Laura tersenyum lebar. Kali ini ia tdk peduli jantungnya berdetak dgn cepat. Ia sangat menyukai perasaan ini. Akhirnya, setelah satu setengah tahun, ia bisa berbicara dgn Niko, dan Niko mengetahui namanya. Pertama kali namanya keluar dr bibir orang yg disukainya.


Hari-hari berikutnya, ketika Laura berpapasan dgn Niko di lorong kelas, di kantin, ataupun di dalam kelas, Niko tersenyum padanya dan Laura membalas senyuman itu.


***


Dua hari kemudian, Laura mengelus-elus bajunya yg basah. Gerimis membasahi halte bus yg akan membawa Laura ke sekolahnya. Laura melirik jam tangannya. Masih banyak waktu. Biasanya bus datang sepuluh sampai lima belas menit sekali. Dan perjalanan ke sekolah dr halte bus ini biasanya sekitar sepuluh menitan.


Laura mengeluarkan jaket dr tas dan mengenakannya. Sambil menunggu bus, telapak tangan Laura terulur merasakan tetesan air hujan. Sepuluh menit berlalu, tp bus yg hendak mambawanya ke sekolah belum tiba juga. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Kaca jendelanya terbuka


''Laura...'', sapa seorang cowok.


Laura tersentak kaget, suara itu. Ia pasti akan mengenali suara itu di mana saja. Suara Niko.


''Niko. Hai...''


''Kau sedang menunggu bus?'' tanya Niko menatap ke arah Laura.


''Ikut mobilku saja,'' saran Niko.


Laura agak terkejut, ''Hah?''


Niko tersenyum simpul. ''Ikut mobilku saja sekalian.'' Laura melihat Niko menekan tombol utk membuka kunci pintu. ''Masuklah,'' kata Niko kemudian.


Laura berdiri lalu berjalan memasuki mobil Niko.


''Kebetulan sekali bertemu dgn mu,'' kata Niko memulai pembicaraan.


Laura mati kutu. Jantungnya berdegup kencang lagi. Ia benar-2 kesulitan utk berbicara & hanya bisa mengangguk.


''Biasanya aku kesekolah tdk sepagi ini,'' lanjut Niko lagi, ''tapi aku harus menyusun acara utk pertandingan persahabatan minggu depan.''


Setelah beberapa saat, jantung Laura kembali berdetak normal. ''Kau pasti sibuk,'' kata Laura perlahan.

__ADS_1


''Yah begitulah,'' kata Niko tersenyum tipis, ''resiko jd ketua OSIS.'' Laura ikut tersenyum, ''Jadi... rumahmu jauh dari sekolah, ya?'' tanya Niko.


Laura mengangguk. ''Iya, bagaimana kau bisa tahu?''


Niko tersenyum lagi. ''Aku kan ketua kelas, masa aku tdk tahu teman-teman sekelasku? Nomor hp mu pun aku tahu.''


Laura menelan ludah, ''Benar juga.'' Laura menggengam erat jemarinya. ''Ehm... Niko,'' katanya lagi, ''terima kasih utk kertas semangatnya pas ulangan fisika minggu lalu.''


Niko seakan berpikir sesaat, tp kemudian tersenyum. ''Oh, kertas itu, yah... aku lihat sepertinya kau sudah menyerah. Jadi aku ingin memberimu semangat. Nilai ulanganmu tdk jelek kan?''


Laura menggeleng dan mengingat angka delapan yg ia terima beberapa hari yg lalu untuk ulangan fisikanya. ''Tidak, nilai ulanganku cukup baik.''


''Baguslah kalau begitu,'' balas Niko, Laura serasa bermimpi.


Beberapa saat kemudian, mobil Niko memasuki area sekolah. Laura berharap perjalanan dr halte bus ke sekolah tdk sesingkat ini. Mobil Niko berhenti di area parkir.


''Terima kasih utk tumpangannya, Niko,'' kata Laura tulus.


''Ehm... Laura,'' kata Niko ragu, ''terima kasih karena tdk pernah memberitahukan tentang gambarku, pd orang lain.''


''Aku sudah berjanji tdk akan memberitahukannya,'' kata Laura sedikit bingung.


''Tidak ada yg tahu soal hobiku yg satu itu selain orang tuaku. Biasanya gosip sekolah menyebar dgn cepat. Tapi kau benar-2 tdk memberitahukannya pd siapa pun. Aku benar-2 menghargainya.''


Laura tersenyum. ''Gambarmu sangat indah, kau seharusnya bangga.'' (''aku tahu aku terpesona olehnya'') lanjut Laura dalam hati.


Sesaat mata Niko terlihat sendu, lalu digantikan oleh senyuman. ''Terima kasih. Ini pertama kalinya seseorang memuji gambarku.'' Niko membuka pintu mobilnya dan Laura melakukan hal yg sama. Perkataan Niko membuat Laura sedikit bingung.


''Terima kasih lagi,'' kata Laura perlahan


Tiba -2 sebuah suara mendekati mereka. ''Niko'' katanya, ''rupanya kau sudah sampai.'' Laura menoleh ke arah datangnya suara,


ternyata Erika***.

__ADS_1


__ADS_2