
Pada hari wisuda, Laura memasukan baju terakhir ke koper kemudian menutupnya.
"Kau sudah siap?" tanya mama dari ambang pintu kamar.
Laura mengangguk. "Ya".
Mama tersenyum lalu mengulurkan sesuatu pada Laura. "HP barumu. Kau bilang HP lamamu hilang, jadi mama putuskan untuk membeli yang baru. Mama juga membelikanmu nomor baru untukmu."
"Terima kasih, Ma", kata Laura. Ia melihat HP berwarna merah yang diberikan mama dan tersenyum. HP baru. Awal yang baru.
Tak berapa lama kemudian, Laura dan mama berjalan keluar dari rumah menuju taksi yang akan membawa mereka ke bandara.
***
Sementara itu di sekolah, Niko mendorong kursi roda yang diduduki Erika. Erika berkeras menghadiri wisudanya. Sesampainya Erika di kelas 3 IPA 2, teman-temannya berlarian menemuinya.
"Aku harus mempersiapkan pidato kelulusan terlebih dulu," kata Niko.
Erika mengangguk. "Pergilah. Buat pidato yang bagus, ya". Niko mengangguk.
Setengah jalan menuju aula, Niko baru sadar tasnya masih berada di pangkuan Erika dan bergegas kembali untuk mengambilnya.
"Kau melihat Laura hari ini?" tanya Erika pada salah satu temannya.
Temannya menggeleng. "Tidak. Sepertinya dia tidak datang."
Erika mengangguk senang. "Baguslah. Akhirnya si siswi kampung itu tidak akan membuatku marah lagi. Semuanya sudah berakhir."
"Aku benar-benar tidak menyangka Laura punya keberanian untuk mendorongmu dari tangga," komentar temannya.
Erika mendengus. "Keberanian apa? Mana mungkin dia bisa mengalahkanku?" Lalu Erika berdiri dari kursi rodanya dan berjalan menuju tempat duduknya.
"Kau bisa berjalan?" tanya temannya kaget.
__ADS_1
"Aku bosan duduk terus," kata Erika. "kakiku cuma terkilir kok"
"Kalau begitu kenapa harus pakai kursi roda?" tanya temannya bingung.
Erika mendesah kesal. "Supaya Niko bersimpati padaku dong. Kalau dikiranya aku tidak luka serius, dia tidak akan pernah marah pada Laura dan mungkin saja dia bisa memaafkannya. Aku tidak mau itu terjadi."
Erika memandang muka temannya yang berubah pucat pasi. "Ada apa?" tanyanya. Ia berbalik kemudian menatap Niko di pintu kelas. Erika terkejut bukan main. "Niko... sejak kapan kau disini?"
Niko berjalan ke arah Erika dengan kesal. "Aku kembali ke sini untuk mengambil tasku." Niko mengambil tasnya yang berada di atas kursi roda.
"Kau mendengar semuanya?" tanya Erika panik.
Niko terdiam, lalu berkata dengan marah, "Kau tidak terluka parah, kau masih bisa jalan. Apakah kau tidak tahu betapa khawatirnya aku memikirkan keadaanmu?"
"Maafkan aku, Niko," kata Erika memelas. "Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Aku..."
"Jawab aku satu hal," sela Niko tegas. "Apakah Laura benar-benar mendorongmu dari tangga?
katakan yang sebenarnya."
Niko mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat unttuk menahan amarahnya. "Kenapa? Kenapa kau berbohong padaku? Aku sudah mengenalmu sejak kecil. Aku peduli padamu... Aku percaya padamu."
Erika benar-benar menyesal. "Maaf. Aku benar-benar menyesal melakukan semua ini."
"Kalau kau menyesal," tegas Niko lagi, "mengapa kau tega berbohong padaku?"
Mendengar amarah Niko, Erika tidak bisa menahan emosinya, "karena aku takut, oke?! Aku benar-benar takut, Niko. Aku melihat caramu menatapnya. Aku tidak mau kehilanganmu."
Erika tertegun. Ia tidak pernah melihat Niko sesedih ini. Bahkan sewaktu orangtua Niko memarahinya soal gambarnya, Niko hanya kecewa, tapi tidak pernah seperti ini.
Erika berkata perlahan, "Aku takut, kau lebih menyukainya daripada aku."
Niko menatap mata Erika tanpa ragu. "Saat ini... perkataanmu tidak salah."
Erika menatap Niko dengan kaget. Ia berusaha meraih tangan Niko, tapi Niko sudah berlari keluar dari kelasnya. Erika jatuh terduduk di kursinya sambil menangis. Ia tahu ia telah kehilangan Niko.
__ADS_1
Niko berlari ke kelasnya dan mencari Laura. Ia benar-benar harus meminta maaf pada Laura.
"Kau melihat Laura?" tanyanya pada temannya yang duduk di kelas. Temanya menggeleng.
Niko melanjutkan pencariannya ke taman sekolah, kantin, dan terakhir aula. Para murid kelas tiga sudah duduk di sana. Para guru sudah berkumpul untuk memulai acara wisuda.
Pak Bambang melihat Niko. "Kau sudah mempersiapkan pidatomu? Acara wisudanya akan dimulai."
Niko hanya bisa terdiam dan memandang ruang aula yang sudah dipenuhi orangtua murid dan putra-putri mereka.
Papa dan mamanya sendiri juga sudah duduk. Papa memanggil Niko untuk duduk disampingnya.
"Duduklah dulu di samping orangtuamu," kata pak Bambang. "Bapak yakin kau tidak akan bermasalah dengan pidatomu."
Karena tidak punya pilihan lain, Niko duduk di samping orangtuanya dan mengikuti acara wisuda selama dua jam berikutnya. Dia menyadari Laura tidak berada di aula.
Setelah acara wisuda selesai, Niko bertanya pada pak Bambang soal Laura.
"Pak," katanya penasaran, "kenapa Laura tidak ikut acara wisuda hari ini?"
"Oh, Laura," jawab pak Bambang. "Kemarin dia meminta ijazahnya lebih awal. Dia mau pindahan ke kota lain. Ibunya dipindah tugaskan."
Jelas Niko kecewa mendengar kabar tersebut. "Apakah bapak tahu kemana Laura akan pergi?
Pak Bambang menggeleng. "Bapak tidak tahu, tapi sepertinya hari ini mereka berangkat.
Mungkin mereka sudah di bandara sekarang."
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Niko berlari kencang menuju parkiran mobil, meninggalkan pak Bambang yang mengernyit kebingungan dengan sikap Niko.
Niko memacu mobilnya secepat mungkin menuju bandara. Ia mencoba menghubungi HP Laura dari mobilnya, tapi selalu tidak aktif. Niko mencoba lagi ,lagi, dan lagi sampai dia melihat pintu masuk bandara dan memarkir mobilnya di tempat parkir, lalu berlari secepat mungkin ke dalam bandara.
Matanya berkeliling mancari Laura. Ia melihat jadwal keberangkatan pesawat. Ada puluhan keberangkatan di sana. Ia tidak tahu Laura akan pergi dengan pesawat yang mana.
"LAURA!" teriaknya putus asa di tengah-tengah kerumunan.
__ADS_1