
Setelah kelas usai, Akhsan dan Arzan menghampiri Moza. Moza pun baru saja selesai berkemas.
"Kuy kita ke kantin, kali ini gue mau traktir kalian deh pokoknya" ajak Akhsan sambil menepuk dadanya pelan. Moza dan Arzan pun mengangguk sambil mengekor di belakang Akhsan.
Sesampainya di kantin, Aksan memesan baso dan es jeruk sedangkan Arzan memesan pisang goreng dan kopi. "Loe mau makan apa, Mo?" tanya Akhsan.
Tanpa sadar Moza menjawab "Gue pengin rujak yang pedes banget harus ada mangga nya yang asem"
Akhsan dan Arzan melongo
"Kalian berdua kenapa? kesambet?!" seru Moza mengagetkan lamunan Arzan dan Akhsan, kemudian mereka berdua menggeleng pelan.
"Engga, aneh aja mosok pengin rujak? biasannya juga pesen intel sama es teh tawar" jawab Aksan yang sudah hafal kesukaan Moza.
"Seger tau jam segini makan rujak" seru Moza.
Pesanan Arzan dan Akhsan sudah di hidangkan di meja, tiba-tiba Moza merasa mual karena mencium bau aroma baso yang ada di depannya.
"Apa-apaan ini, bukannya aku paling seneng sama baso, apa lagi bau aroma baso di kantin kemaren kan begitu enak. Apa iya ini salah satu dari ngidam?" gumam moza dalam hati. Moza segera beranjak dari tempat duduknya "Gue mau ke toilet dulu ya" ucap Moza sambil berlari kecil menuju toilet.
"Moza kenapa Zan? apa dia sakit?" tanya Aksan sambil mengunyah baso di dalam mulutnya.
"Mungkin masuk angin, gue kalo lagi masuk angin juga gitu" jawab Arzan yakin.
Yah, begitulah mereka berdua mengira kalau Moza sakit masuk angin, maklum mereka cowok yang masih berumur 20 tahunan.
Di toilet cewek
"Hueeeeek" Moza mengelap bibirnya dengan Tisue. Kemudian menggambil ponselnya, dengan segera menelfon Luna.
"Ya hallo, Nyonya" jawab Luna singkat.
"Bisa jemput saya di kampus sekarang, Lun? saya merasa mual dengan aroma baso sampe lemes gini" ucap Moza dengan suara sedikit gemetar.
Luna yang baru saja sampai di bandung langsung panik, karena mendengar suara majikannya yang terlihat lemas. "Saya baru sampai di bandung, Nyonya. Apa saya hubungi Tuan Farid supaya menjemput Anda"
"Ya sudah kalau begitu, lanjutin aja urusan kamu. Nanti saya minta di antar pulang sama Arzan" ucap Moza sambil mengakhiri pembicaraannya dengan Luna.
Moza segera menuju dimana tadi dia duduk, beruntung Akhsan dengan cepat menghabiskan basonya.
"Zan... aku minta tolong anterin pulang bisa kan? kebetulan aku ga bawa motor, tadi di antar Luna" ucap Moza sambil duduk, mengambil air mineral di meja dan meminumnya hingga tersisa separuhnya.
__ADS_1
"Kamu gak enak badan, Mo?" tanya Arzan dengan polosnya, padahal sudah terlihat jelas kalau wajah Moza sedikit pucat.
"Yaelah ga peka banget si loe Zan!" seru Akhsan sambil meninju pelan ke arah bahu sebelah kiri Arzan.
"Iya nih, mungkin gegara semalam begadang nonton film" jawab Moza pelan.
Kemudian Aksan menyodorkan kunci mobilnya ke arah Arzan "Nih, buruan gih anterin Moza"
"Gausah, aku boncengan pake motor Arzan aja" seru Moza sambil menarik ransel di punggung Arzan.
"Tapi kalo loe kenapa-kenapa gimana?!" seru Aksan beneran khawatir sebagai teman yang baik tentunya ngga tega melihat Moza kepanasan naik motor dengan kondisinya saat ini.
"Iya beneran, aku gapapa kok" sahut Moza meyakinkan Aksan.
"Yaudah, kamu pake jaket aku aja biar ga kepanasan" ucap Arzan sambil melepaskan jaket yang dikenakannya, kemudian menyodorkan ke arah Moza.
"Tapi.." seru Moza. Belum selesai dia bicara Arzan berucap "Tenang aja, jaketnya baru kemaren aku cuci. Masih wangi kok"
"Makasih" sahut Moza kemudian memakai jaket yang di sodorkan Arzan barusan.
"Kita pamit dulu,Bro" ucap Arzan sambil bersalaman tinju dengan Aksan.
***
"Masha Allah, Moza. Kamu wanita pertama yang membuatku ritme jantungku berdetak entah karena apa.. aku bingung dengan kondisi hatiku saat ini" Ucap Arzan dalam hati.
Sementara Moza membatin "Perasaan macam apa ini? kenapa rasanya seperti waktu pertama aku merasakan ketika bertemu pertama kali bersama Mas Irsyad"
"Tiiiiin" suara klakson motor yang tiba-tiba mengejutkan mereka. Dengan segera Arzan menyalakan mesin motornya. Moza pun sudah duduk membonceng di motor Arzan.
Di pom bensin dekat kampus Arzan berhenti, mengisi bahan bakar untuk motornya. Tanpa sengaja Arzan menyenggol tangan Moza, dia merasa tangan Moza begitu dingin. Moza menggenggam pakaian Arzan dengan kuat. Kemudian Arzan merasa kalau kondisi Moza semakin memburuk.
"Aku ngga keberatan kalau misalkan kamu mau meluk aku kaya gini" sambil melingkarkan kedua tangan Moza ke pinggangnya. Moza hanya terdiam, kemudian memeluk pinggang Arzan dengan erat. Jantung Arzan berdetak dengan kencang. "Aku yakin kamu bisa bertahan, Mo" seru Arzan lirih, tangan kirinya mengusap tangan Moza agar tidak begitu merasa kedinginan.
Sesampainya di rumah Moza, Arzan membangunkan Moza pelan. Moza membuka matanya kemudian turun dari motor. Baru tiga langkah dirinya berjalan, terasa gelap, seketika Moza ambruk pingsan. Dengan segera Arzan mengangkat tubuh Moza menyandarkan ke kursi yang ada di depan teras rumahnya. Kemudian mencari kunci rumah di ranselnya. Dengan segera membuka pintu, menggendong Moza menuju Kamarnya.
Setelah membaringkan tubuh Moza di ranjangnya, Arzan menempelkan punggung tangan kanannya di kening Moza. "Badannya panas sekali" seru Arzan. Kemudian segera melangkah ke dapur mengambil air kran dan juga mencuci sapu tangannya. Dengan telaten Arzan mengompres Moza. Arzan yang kebingungan antara memilih beranjak pergi atau tetap menunggu hingga Moza sadar. Akhirnya dia memilih tetap menunggu Moza hingga sadar, tapi dia hendak menunggu di teras rumah Moza saja. Karena dirinya selalu ingat pesan dari bapak dan ibunya.
Arzan pun beranjak dari duduknya, tapi tiba-tiba tangan Moza menarik tangan Arzan.
"Jangan pergi, jangan tinggalin aku" seru Moza yang mengigau, didalam mimpinya dirinya sedang menarik tangan almarhum suaminya. Arzan kemudian duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di tepi ranjang dengan tangan yang masih di genggam erat oleh Moza.
__ADS_1
2 jam berlalu, Arzan ketiduran dengan kondisi tangannya yang masih di genggam erat oleh Moza. Pelan-pelan dia melepaskan genggaman tangan Moza.
Moza yang sedang bermimpi kalau suaminya hendak melepaskan genggaman tangannya, tiba-tiba terhentak bangun dari mimpinya. "Jangan tinggalin aku" seru Moza reflek sambil memeluk Arzan dengan erat. Jantung Arzan pun berdetak semakin kencang. Moza semakin erat mendekap tubuh Arzan. Arzan hendak membelai rambut Moza, tapi dengan segera ia urungkan niatnya.
"Mo, ini aku Arzan" seru Arzan lirih di dekat telinga sebelah kanan Moza. Beberapa menit Moza tidak menghiraukan suara ucapan dari Arzan, kemudian tangan kanannya memegang pipi sebelah kanan Arzan. Moza tersenyum menatap kedua bola mata Arzan. "Jangan tinggalin aku lagi" ucap Moza lirih kemudian membenamkan kepalanya di dada Arzan.
Entah pertahanan dan pendirian Arzan pun akhirnya goyah, Arzan membalas pelukan Moza. Kemudian mengusap-usap rambut Moza yang tergerai.
Satu jam lebih, mereka berdua bertahan dengan posisi saling berpelukan.
"Jegreeeeg" suara pintu mobil yang di tutup dari luar, Luna pulang dan memarkirkan mobilnya di depan rumah, karena terhalang oleh motor Arzan.
"Waah rupanya ada Arzan di rumah" ucap Luna sambil melangkah masuk kedalam rumah. Pandangannya menelusuri ruang tamu dan dapur, ternyata tidak ada satu orang pun di dalam rumah. " Paling sedang ke rumah Bu Puspa" gumamnya pelan. "Eeeh kok pintu kamar Ka Moza terbuka ya" seru Luna sambil berjalan menuju kamar Moza.
"Astagfirullah" pekik Luna denga suara lantang sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
Sontak Moza dan Arzan tersadar dari lamunan.
"Lunaa" Seru Arzan dan Moza. "Aku bisa jelasin, Lun" seru Arzan sambil beranjak bangun kemudian berjalan menuju ruang tamu. Luna pun memapah tubuh Moza menuju ruang tamu.
15 menit setelah mereka berdua menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, akhirnya menyelesaikan kesalahpahaman yang barusan Luna lihat.
" Nanti tolong antarkan Moza ke dokter ya, Lun" seru Arzan yang terlihat begitu khawatir.
"Pasti, habis mandi nanti Luna anterin Ka Moza ke dokter"
"Kalau begitu aku pamit pulang ya" seru Arzan terlihat kikuk menatap ke arah Moza.
"Zan..." ucap Moza lirih. Arzan pun menoleh ke arah Moza.
"Kenapa, Mo?" jawab Arzan gugup.
"Aku minta maaf buat yang tadi, aku juga berterimakasih karena kamu dah mau nolong dan ngerawat aku" ucap Moza sambil tersenyum penuh arti.
"Iya, aku juga minta maaf untuk yang tadi" seru Arzan, kemudian dirinya beranjak pergi.
Moza menghelai nafas lega.
.
.
__ADS_1
.
.