
Sementara di kamar hotel yang di tempati Moza dan Arzan.
Moza beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi menuju wastafel. Dirinya merasakan mual dan juga badannya merasa panas. Dengan segera Moza menyeka wajahnya, kemudian berjalan menghampiri Arzan yang sedari tadi terlihat gelisah.
"Kamu sudah pulang!" seru Moza sambil memeluk lengan Arzan. "Aku merindukanmu"
Arzan yang sudah di kuasai tubuhnya karena efek obat perangsang langsung memeluk erat tubuh Moza. Moza pun membalas erat pelukan dari Arzan. Moza pun merasa tidak bisa menahan hasratnya. Moza membayangkan Arzan adalah suaminya.
Arzan melum*t bib*r Moza, kemudian menelusuri leher jenjang Moza. Moza pun mendesah pelan. Arzan langsung menggendong tubuh Moza dan membaringkan ke tempat tidur.
"Sayang... apa aku boleh melakukannya" seru Arzan berbisik di telinga Moza dengan nafas yang sudah memburu. Moza hanya mengangguk, dirinya juga sudah di kuasai oleh obat perangsang.
Arzan pelan-pelan melepaskan gaun yang di pakai Moza, kemudian meraba payud*r* Moza. Melum*t bergantian, Arzan sangat menikmatinya. Terlebih karena kehamilan Moza, tubuhnya terlihat lebih padat dan berisi. Moza mendesah dan menggeliat kemudian melepaskan jas dan membuka kancing kemeja yang Arzan pakai. Arzan semakin bernafsu meraba dan menciumi tubuh Moza. Tepat di bagian bawah Arzan menelusupkan jarinya kedalam celana dalam Moza dan memainkan jarinya di area sensitif Moza.
Moza semakin menggeliat tubuhnya gemetar dan cairan bening pun keluar dari daerah sensitifnya. Arzan segera melepas celana dalam milik Moza, dengan segera mencium bukit kecil yang terawat dengan bersih dan wangi. Arzan menjil*t cairan bening yang keluar dari area sensitif milik Moza dan utuk kedua kalinya tubuh Moza bergetar, dengan segera Moza meraih sabuk celana Arzan dan segera membuka celana yang di pakai Arzan. Keduanya sudah berada di puncaknya dan deruan nafas mereka berdua semakin membara. Kini mereka berdua sudah telanjang tanpa sehelai benang pun. Kemudian Arzan meraih selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
"Sayang... aku sudah tidak tahan" seru Moza, kemudian Arzan mencium bibir Moza lagi.
"Emmhh" desahan Moza semakin membuat Arzan memuncak.
"Emmhh.... Akhhh" desah Moza.
"Sayang aku mulai ya!"
Kemudian Arzan mengarahkan pen*s miliknya ke arah lubang v*gin* Moza. Awalnya Arzan kewalahan, dia berfikir bahwa mungkin karena Moza masih Virg*n.
Moza pun membantu Arzan, memegang pen*s milik Arzan menuju lobang v*gin* nya.
"Cleeeeeb" masuk dengan sempurna.
Perlahan Arzan memaju mundurkan miliknya, sambil sesekali menc*um bibir Moza. Moza yang sudah 2 bulan tidak merasakan kehangatan dari sosok suaminya membayangkan kalau saat ini dirinya bersama suaminya karena pengaruh obat perangsang.
Mereka berdua beradu bermain di ranjang hingga dini hari.
Moza dan Arzan sama-sama saling mendes*h, bermain dengan beberapa macam gaya. Giliran Moza yang menind*h tubuh Arzan, dengan gaya woman on top. Tubub Moza menggeliat dan bergetar hebat dan dari daerah sensitivnya mengeluarkan cairan bening dan kental. Arzan pun segera berbalik men*nd*h tubuh Moza, menggoyangkan bagian bawahnya dengan cepat. "Aaaaaarrrg" seru Arzan dan Moza bersamaan.
Setelah klim*ks bersamaan keduanya merebahkan ke ranjang. Arzan pun mencium belakang punggung Moza.
Moza yang langsung tertidur karena kecapean terlihat tersenyum bahagia. Arzan pun ikut merebahkan tubuhnya dan tidur sambil memeluk Moza.
***
Pukul 5:30 pagi
Sinar mentari menelusup masuk dari kaca jendela di kamar dimana Arzan dan Moza sedang tertidur dengan pulas karena pertempuran semalam. Arzan mengrenyitkan matanya, dalam keadaan setengah sadar Arzan menutup matanya dengan tangan kirinya. kemudian memiringkan tubuhnya, seperti mimpi Moza berada di sampingnya. Arzan mengrejapkan matanya beberapa kali, dia sontak kaget karena ini semua bukanlah mimpi.
"Astagfirullah! apa yang sudah aku lakukan semalam?!" seru Arzan sambil melihat tubuhnya dan tubuh Moza tel*nj*ng hanya di tutupi selimut. Dengan segera Arzan membangunkan Moza.
"Moza... bangun" sambil mengguncang pelan tubuh Moza. Moza pun mengeliat dan membuka mengrejapkan matanya.
"Sudah pagi ya, Lun" serunya sambil menguap. Sepersekian detik dirinya baru tersadar bahwa ada Arzan di sampingnya.
"Arzan!! Apa yang kita lakukan?!!" seru Moza sambil melihat keadaan tubuhnya yang polos. "Tunggu! Aku ingat! Semalam setelah meminum minuman pemberian Belvina aku langsung pusing!"
"Kita sama-sama di jebak Belvina!" seru Arzan kemudian hendak memeluk Moza.
"Lepaskan!!" seru Moza sambil meraih bajunya. Arzan menarik tangan Moza, kemudian memeluk Moza.
"Aku akan tanggung jawab Moza! Aku akan menikahimu. Sekarang pun kita menikah aku bakal menyanggupinya" ucap Arzan sambil memeluk tubuh Moza dengan erat.
"Nikah itu bukan perkara semudah mengutarakan perasaan suka" sahut Moza pelan.
"Bukankan kita saling mencintai?!"
"Sekarang aku tanya satu hal sama kamu Arzan, tolong jawab jujur!"
"Apa, tolong katakan!"
"Apa ini pertama kali bagimu? atau..."
__ADS_1
"Ini yang pertama kali bagiku" jawab Arzan jujur.
"Tapi maaf Arzan, ini bukan yang pertama kali untukku!" ucap Moza lirih kemudian melepaskan pelukan Arzan.
"Aku tidak peduli!! Aku mencintaimu!! mau itu bukan yang pertama kali atau pun kamu sudah mempunyai anak sekalipun!! aku tidak peduli!!" jawab Arzan sambil memeluk Moza kembali.
Moza menitikan air matanya, kemudian melepaskan pelukan Arzan. "Aku mau membersihkan diri dulu"
Arzan pun melepaskan pelukannya.
Beberapa menit Arzan tetap terdiam, Moza pun keluar dari kamar mandi. Mereka berdua merasa canggung. Kemudian Arzan beranjak menuju kamar mandi.
Setelah mandi Arzan mengajak Moza pulang.
"Kamu pulang saja sendiri, antarkan mobil Luna. Aku masih mau di sini" ucap Moza pelan.
"Tapi aku khawatir sama kamu!" seru Arzan.
"Sudahlah! Turuti saja!! Sampaikan pada Luna kalau aku berada di sini"
Arzan akhirnya pasrah "Kamu yakin masih mau tetap di sini?!" seru Arzan.
"Iya, cepatlah pergi dari sini, antarkan mobil Luna!"
Arzan menyerah untuk membujuk Moza ikut pulang bersamanya. Kemudian dia segera menuju pintu keluar.
Selang beberapa menit kemudian Moza meneteskan air matanya kembali.
Dengan setengah sadar Moza menuju ke kamar mandi kembali. Mengguyurkan air shower dan membasahi tubuhnya dengan pakaian yang masih dia kenakan. Moza menangis saat mengingat kembali kejadian semalam.
Hampir 2 jam Moza di bawah guyuran air shower yang dingin. "Mas Irsyad... Aku minta maaf atas semua ini... Jujur aku sudah mulai jatuh cinta dengan Arzan. Tapi kejadian ini di luar dugaan dan bukan bagian dari rencanaku."
Moza terus menyesali kejadian semalam.
***
Sementara Luna yang cemas dengan dimana keberadaan Majikannya, meraih ponselnya dan menghubungi Arzan.
"Justru aku ingin tahu dimana Ka Moza sekarang! cepat beritahu aku! Aku sangat khawatir!" seru Luna dengan nada penuh penekanan kepada Arzan.
"Moza ada di Hotel JM nomor 306" jawab Arzan.
"Oke! terimakasih buat infonya" ucap Luna sambil menekan tombol akhiri telfon, tapi terdengar suara Arzan.
"Apa aku ikut menjemput Moza ke sana?" sambung Arzan.
Luna segera menjawab "Tidak, tidak usah biarkan saya saja" sahut Luna sambil mengakhiri telfonnya.
Luna menghelai nafas pelan "Huuuuffttt"
"Ternyata anda berada di Hotel milik anda sendiri nyonya, tapi perasaanku tidak enak! terus kepikiran anda nyonya." kemudian Luna meraih kunci rumah dan kunci mobilnya.
Setelah mengunci rumah, Luna segera melaju dengan mobilnya menuju Hotel JM.
Di perjalanan dia menelfon Farid ketika berhenti di lampu merah.
"Hallo Tuan Farid, Saya sedang menuju Hotel JM saya minta tolong sampaikan kepada manager hotel di sana, kalau saya hendak menjemput Nyonya Moza di kamar 306" ucap Luna tanpa ber basa-basi.
"Kenapa nyonya berada di sana, Luna! apa semalam Nyonya menghadiri pesta ulang tahun yang semalam di selenggarakan di sana?"
" Ya semalam Nyonya menghadiri pesta teman kampusnya bersama Arzan, tapi tadi pagi Arzan hanya mengantarkan mobil yang sedang saya pakai"
"Kalau begitu saya juga akan segera ke sana, Luna. Entah kenapa perasaan saya menjadi tidak enak begini"
"Sama seperti saya Tuan, saya juga merasakan sesuatu terjadi kepada Nyonya"
Setelah mengakhiri pembicaraanya dengan Farid di telfon, Luna segera mengendarai mobilnya dengan cepat. 10 menit kemudian Luna sampai di Hotel JM dan segera menuju resepsionis menanyakan letak kamar nomor 306 dan meminta untuk segera mengabari Pak Albert yang merupakan manager hotel JM.
10 menit kemudian Farid tiba di Hotel JM dan mendekati Luna. Begitupun dengan Pak Albert, segera menyapa Farid.
"Selamat siang, Tuan Farid. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Albert dengan tersenyum ramah kepada Farid dan Luna.
"Saya minta kunci cadangan kamar nomor 306, di sana ada Nyonya Irsyad" jawab Farid singkat. Kemudian dengan segera Pak Albert menanyakan kunci cadangan kamar nomor 306.
__ADS_1
Setelah mendapatkan kunci cadangan kamar nomor 306 mereka bergegas menuju Lift. Sesampainya di kamar 306 Farid mempersilahkan Pak Albert untuk kembali melanjutkan bekerja.
Luna langsung membuka pintu kamar dan mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, majikannya tidak ada. Hanya kasur yang berantakan, kemudian Luna melangkah menuju kamar mandi. Luna terpekik histeris melihat Moza yang pingsan di bawah lantai dengan guyuran air shower yang mungkin sudah sejak tadi menguyur tubuh majikannya.
"Nyonya...!!!" pekik Luna Histeris melihat majikannya yang sudah tidak sadarkan diri.
Farid yang mendengar teriakan Luna segera menuju kamar mandi.
"Ada apa, Luna?!" seru Farid sambil mengarahkan pandangannya ke kamar mandi.
"Nyonya!!" dengan segera Farid mengangkat Moza menuju tempat tidur. Kemudian Luna mematikan kran shower, segera menyusul menuju tempat tidur.
"Luna, segera keringkan tubuh Nyonya Moza dan lekas ganti menggunakan jubah mandi yang berada di lemari." ucap Farid kemudian beranjak keluar dan menutup pintu.
"Nyonya... Sebenarnya apa yang terjadi semalam... Kenapa anda bisa seperti ini" gumam Luna dalam hati. Selesai menggantikan pakaian majikannya Luna hendak menyuruh Farid kembali, tapi langkahnya terhenti mendengar ucapan yang Moza katakan.
"Maafkan aku Mas Irsyad" Moza terus mengigau mengulang kembali kalimat tersebut. Kemudian Luna menempelkan punggung tangannya di kening Moza.
"Astagfirullah, Nyonya mengalami deman tinggi."
Kemudian Luna segera memberi tahukan kondisi Luna kepada Farid. "Tuan Farid, bisakah anda menghubungi dokter untuk segera kemari? Nyonya mengalami demam tinggi, saya khawatir dengan kondisi Nyonya dan juga janin yang berada di rahimnya."
Tanpa menjawab perkataan dari Luna, Farid segera menghubungi dokter Azmiya.
"Hallo dok, bisakah anda segera kemari, Nyonya Moza mengalami demam tinggi. Saya berada di Hotel JM di kamar 306" dengan cepat Farid mengakhiri pembicaraannya di telfon.
15 menit kemudian Dokter Azmiya sampai dan segera memeriksa tubu Moza. Setelah memeriksa keadaan Moza, dokter Azmiya ingin menyampaikan kondisi Moza hanya kepada sesama wanita. Farid pun mengerti dan segera menunggu di luar.
"Begini, Nona. Nyonya Moza semalam mengkonsumsi Obat Perangangsang dan saya menyimpukan tadi malam Nyonya Moza melakukan hubungan int*m dengan seseorang, sehingga sewaktu dirinya sadar dan effek dari obat perangsang itu hilang mengalami syok mendadak dan merasa sedikit tertekan dan juga perasaan bersalah setelah apa yang dilakukan semalam. Apa Nyonya Moza sekarang mempunyai teman dekat?"
"Ada, Dokter. Teman dekat nyonya adalah calon suami yang telah dipilih oleh Almarhum suaminya." jawab Luna.
"Kalau begitu segera hubungi dia, bisa jadi semalam Nyonya bersama dengan pemuda itu"
"Baik, Dok. Nanti saya segera menghubungi dia" jawab Luna. "Tentang obat perangsang itu apakah berbahaya untuk kandungan Nyonya Moza dok?"
"Saya bukan dokter kandungan, saya hanya dokter umum. Tapi setahu saya bahaya atau tidak tergantung berapa banyak mengkonsumsi obat tersebut, alangkah baiknya nanti ketika Nyonya Moza sudah membaik segera periksakan kandungannya di spesialis kandungan" jawab Dokter Azmiya mengakhiri pembicaraan kemudian pamit.
"Luna..." ucap Moza lirih.
Luna yang mendengarkan suara panggilan namanya langsung menghampiri majikannya. "Iya Nyonya" sahut Luna sambil mendekatkan diri di tepi ranjang.
"Tolong jangan katakan semua ini kepada Farid, aku belum siap kalau Farid mengetahui ini... Arzan bisa habis nantinya" ucap Moza lirih.
Kemudian Luna mengangguk pelan.
***
"Tuan Farid, apa boleh saya meminta Bi Atik menuju kemari mengantarkan pakaian Nyonya?" tanya Luna dengan sopan. Tentu saja, nanti segera saya telfon mengabari Pak Ali." jawab Farid kemudian menelfon Pak Ali. Setelah memberi tahu Pak Ali, segera dirinya bertanya tentang kondisi Bosnya dan juga janin yang berada di rahim Bosnya itu.
"Tuan Farid tidak perlu khawatir, ini salah satu dari bentuk ngidam." ucap Luna beralasan.
"Memangnya orang ngidam itu aneh-aneh? contohnya seperti Nyonya?" tanya Farid dengan ekspresi wajah heran.
"Suatu saat nanti, ketika Tuan Farid sudah menikah dan kemudian istri anda hamil. Anda juga akan mengalami berbagai kejutan, ibu hamil itu penuh kejutan" ucap Luna dengan tersenyum penuh arti.
Melihat kondisi Bosnya yang sudah membaik, Farid segera berpamitan kembali menuju kantor.
" Kala begitu saya kembali ke kantor, tolong jaga dengan baik Nyonya Moza" seru Farid
"Siap Komandan!" sahut Luna.
Farid pun hanya menggelengkan kepalanya 2 kali, kemudian berlalu tanpa mengucapkan kata-kata lagi.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Rekor hari ini UP di episode ini sampai dengan 2000 kata. Jangan lupa klik tombol like dan favorite ya readers 😊