
Menjelang sore Moza duduk di teras rumah sambil menikmati teh jasmine bersama Luna.
"Luna, segera kamu hubungi Farid untuk ke sini secepatnya" ucap Moza kemudian kembali menyeruput teh.
"Baik nyonya" jawab Luna sambil mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Farid.
"Sudah saya sampaikan kepada Tuan Farid, Nyonya"
"Saya sudah memikirkan tentang rencana darimu Luna"
seru Moza.
"Tapi, apa nyonya sudah memikirkannya matang-matang" tanya Luna memastikan apa majikannya ini benar mau mengikuti ide gila darinya.
"Sempurna sekali ide dari kamu Luna!!" jawab Moza sambil memeluk Luna.
Luna merasa senang jika majikannya senang.,
Visual Luna Kinandita
***
skip sampe Farid sekertaris Moza datang
***
"Nyonya yakin dengan keputusan ini? mengingat anda sedang hamil muda nyonya" ucap Farid dengan menegaskan kembali kepada Moza.
"Aku serius farid, tugasmu cuma mengatur agar aku bisa satu kampus dan satu jurusan dengan Arzan. Juga nanti tolong atur orang membawa beberapa barang yang saya butuhkan untuk di bawa ke rumah yang nantinya mau saya tempati.
"Anda bilang cuma Nyonya? dengan sederet tugas berat ini dengan banyaknya pekerjaan kantor yang semua saya urus beberapa hari ini" gumam Farid dalam hati.
"Baiklahh nyonya, segera besok saya urus" jawab farid.
"Tapi bagaimana kalau kedepannya nanti kenyamanan waktu kehamilan anda terganggu nyonya?" tanya Farid lagi.
"Aku cuma ada waktu 2 bulan sebelum perutku ini terlihat membuncit" jawab Moza
"Baiklah kalau itu sudah final menjadi keputusan nyonya" jawab Farid sambil mengangguk pelan.
"Ingat untuk menyembunyikan semua identitasku" seru Moza
"Baik nyonya, kalau begitu saya permisi" ucap Farid sambil membenarkan jasnya kemudian melangkah pergi meninggalkan Moza dan Luna.
***
Setelah kepergian Farid
"Jadi nanti nyonya beneran mau tingal di rumah kecil itu?" tanya Luna memastikan sekali lagi.
"Iya Luna, tentu saja. Aku ingin dengan waktu 2 bulan itu apa aku akan merasakan suka dengan Arzan atau pun sebaliknya" ucap Moza yakin.
"Semoga rencana yang sudah tersusun dengan rapi ini berjalan dengan lancar nyonya" ucap Luna sambil tersenyum.
__ADS_1
***
Di sisi lain
Di perjalanan menuju pulang ke apartemennya, Farid berbicara sendiri sambil menyetir mobilnya dengan lumayan cepat.
"Yang anda bicarakan sepertinya mudah nyonya, ya memang mudah, mengingat anda adalah donatur tetap nomor satu di kampus itu"
"Harusnya anda tinggal menjemput Arzan dari rumahnya saja nyonya, tidak perlu ada sandiwara seperti ini. Anda sungguh menguras tenaga dan pikiran saya dengan ide gila dari asisten anda"
***
"Huaaaciiiiiiih"
Tiba-tiba saja Luna bersin
"Siapa juga yang ngomongin gue" seru Luna sambil mengambil tisue.
"Mungkin itu Farid karena loe dah kasih ide gila ini Lun" ucap Moza yang tiba tiba nongol di hadapan Luna sambil tertawa.
"Haha.. ka Moza bisa aja" jawab Luna dengan raut muka yang tidak bisa di artikan.
"Aku rasa kamu cocok loh, Lun. Sama si Farid" ucap Moza sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kak Mo bisa aja deh, mana mungkin aku mau sama cowok muka datar seperti Tuan Farid"
"Yee jangan gitu Lun, kan saya tau lah kamu penggemar Aktor Bollywood sekelas Hrithik Roshan" canda Moza.
Luna hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir ga jelas. Gimana majikannya bisa tau kalau dirinya sangat mengidolakan Hrithik Roshan.
Moza sudah bersiap-siap menuju kampus, dia sengaja membawa motor skuter matic type keluaran lama, yang sengaja dia minta ke Farid. Ketahuilah bagaimana repotnya seorang Farid, mengurusi masuknya Moza di Kampus, mencari rumah sederhana, dan mencari motor matic sesuai dengan permintaan majikannya itu.
Di perjalanan tiba-tiba motor Moza bannya kempes.
"Kenapa juga harus kempes segala nih ban motornya" gerutu Moza kesal
Dari jarak 100meter ada seorang pria mengendarai motornya dengan pelan sambil melihat ke arah Moza, kemudian tepat di samping Moza memarkirkan motor nya. Mendekati Moza
"Bannya kempes ya" Seru cowok itu yang ternyata adalah Arzan.
Moza kaget ternyata pria yang sedang sedang berdiri dihadapannya adalah Arzan.
"Kamu?!" seru mereka berdua.
Arzan pun tersenyum begitu juga dengan Moza.
"Gimana keadaan kamu?" tanya Arzan sambil tersenyum.
"Aku baik kok" jawab Moza
"Sepagi ini memangnya mau kemana?" tanya Arzan
"Itu aku mau ke kampus" jawab Moza kaku.
"Kampus mana? aku juga mau ke kampus" jawab Arzan penasaran.
__ADS_1
"Kampus Mega" jawab Moza singkat
"Gimana kalo bareng sama aku aja, di dekat sini ada tukang tambal ban, kamu pake motorku dulu nunggu disana. Biar aku dorong motornya sampe tukang tambal ban.
"Tapi, aku ga enak sama kamu" seru Moza
"Issh santai aja lagi, nanti sampe kampus traktir aku sarapan pagi aja ya sama Intel" jawab Arzan
"Intel?" tanya Moza penasaran sambil mengankat sebelah alisnya.
"Ind*mi Telor" jawab Arzan sambil terkekeh.
"Bisa aja kamu kasih singkatan nama makanan" ucap Moza sambil meninju lengan Arzan pelan. Arzan pun cengengesan.
"Nih kunci motornya, kamu tunggu di tukang tambal ban yang di ujung sana ya. Aku dorong motornya" ucap Arzan sambil menyodorkan kunci motornya.
"Gak papa nih?" tanya Moza basa basi.
"Iya, udah gih buruan jalan" seru Arzan.
"Baiklah" jawab Moza kemudian menyalakan motor milik Arzan.
Setelah mereka berdua sampe di tukang tambal ban
"Motornya di titipin sini dulu, nanti sepulang kuliah baru kamu ambil. Sekarang kita cus berangkat sini bonceng aku" ucap Arzan sambil menepuk jok belakang motornya.
"Baiklah, kuy kita jalan" oceh Moza sambil duduk di jok belakang motor Arzan.
5 menit mereka diam tanpa bicara.
Kemudian Arzan memulai percakapan
"Kamu ambil jurusan apa?" tanya Arzan membuka percakapan.
"Grapich Designr" jawab Moza singkat.
"Kok bisa sama?" seru Arzan yang emang kaget. Ini kebetulan atau apa yang jelas bisa sama gitu ya.
(Padahal emang ini udah rencana dari Moza)
"Ooh yaa? masa?! jangan-jangan kita jodoh ya!!" seru Moza. Entah itu sebuah candaan atau apa lah, hanya Moza yang tahu.
"Haha" seru Arzan tertawa lepas. Dalam hati Arzan masih bertanya-tanya. Entah ini kebetulan atau ini memang salah satu rencana dari Tuhan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Buat yang sudah baca, jangan lupa pencet like dan coment ya