
Suasana pagi di kantor FF Group yang belum terlalu ramai. Moza dan Luna sudah berada di ruang kerja Farid.
"Sudah jelas kan, Farid. Nanti saya dan Luna akan bekerja di satu ruangan dengan Arzan." ucap Moza tegas.
"Sudah saya atur semua, Nyonya." jawab Farid singkat.
"Dan satu lagi, mulai sekarang biasakan panggil saya Moza saja. Paham?" tanya Moza sambil menatap tajam Farid.
"Baik, Mo..Za" jawab Farid kaku.
Kemudian Moza dan Luna pun melangkah menuju lantai bawah. Farid pun mengikuti mereka.
Arzan melihat sosok Moza dan Luna berjalan menuju ruangan Pak Agung. Sontak dirinya berfikir apa benar Moza akan bekerja satu ruangan bersama dirinya.
Setelah 10 menit Farid keluar dari ruang kerja Pak Agung, kemudian dirinya menemui Arzan.
"Dewi fortunamu datang Arzan, kau sangat beruntung karena kekasihmu satu divisi denganmu" ucap Farid kemudian melanjutkan langkah kakinya kembali tanpa menoleh Arzan.
Arzan tersenyum, harinya akan begitu indah karena bisa bertemu Moza tiap waktu. Arzan semakin bersemangat dan sudah tidak sabar lagi ingin bertemu Moza.
.
Skip sampai jam makan siang.
Arzan menghampiri meja Moza dan Luna.
"Makan bareng yuk" ucap Arzan sambil tersenyum ke arah Moza.
"Luna ngga mau ah, ntar malah jadi obat nyamuk"
"Kan kita bareng sama bu Puspa." sahut Moza.
"Baiklah" jawab Luna singkat.
Di Kantin Kantor
Arzan dan Moza duduk berhadapan, Luna yang sangat lahap menyantap makan siangnya tidak sadar kalau sedang di perhatikan seseorang.
"Luna, kamu Luna Kinandita kan?" seru seorang perempuan sambil menepuk pundak Luna.
"Luna pun menatap perempuan itu, Nuri?!" Luna spontan berdiri. Mereka berdua berpelukan singkat.
"Kamu kerja di sini juga Nuri?" tanya Luna memastikan.
"Iya, aku masih magang di sini. Kamu pasti sudah jadi karyawan tetap di sini kan, Lun?" tanya Nuri kemudian entah dengan pedenya Nuri duduk di sebelah Arzan.
"Hai, Arzan kita ketemu lagi." sapa Nuri.
Arzan hanya tersenyum terpaksa.
Moza pun menatap Nuri dengan tajam.
"Aku sudah kenyang permisi" ucap Moza beranjak dari kursinya.
"Tunggu, Mo. Aku juga sudah kenyang." Arzan pun mengikuti Moza.
__ADS_1
Nuri melongo dan terlihat kesal.
"Mereka berdua pacaran, lagi anget-angetnya deh pokoknya" bisik Luna kepada Nuri.
Mata Nuri terbelak karena kaget, jadi wanita cantik sempurna itu adalah pacar Arzan yang kemarin menelfon. Sempat down melihat pacar Arzan yang sangat cantik dan anggun. Tapi tekadnya sudah bulat untuk tetap mendekati Arzan.
"Tapi di sini gue lebih semok ketimbang pacar Arzan, soal wajah nanti deh gajian pertama gue bakalan beli make up. Gue bakalan ga kalah cantik deh sama cewenya Arzan" batin Nuri.
"Kamu sudah berapa lama kerja di sini, Lun?" tanya Risma.
"Sudah 2 tahun lebih, hanya saja baru sempat di pindah ke sini lagi" jawab Luna.
"Dulu aku ambil satu jurusan lagi, jadi ketinggalan jauh deh sama kamu, Lun." keluh Nuri.
Selesai makan bu Puspa pun pamit meninggalkan Luna. Sementara Arzan dan Moza kembali menuju ruang kerjanya. Sepanjang jalan bersama menuju ruangnan mereka, Moza hanya terdiam.
"Kamu kenapa, Mo?" tanya Arzan.
"Aku nggapapa" jawab Moza singkat.
Arzan menatap Moza dan meraih tangan Moza.
"Kamu cemburu?" tanya Arzan sambil tersenyum ke arah Moza.
"Beruntung aku di terima kerja di sini, dan aku ngga suka liat cewe barusan. Pasti kemarin kecentilan banget ya"
"Aku juga baru bertemu dia sekali, itu pun karena tidak sengaja menabraknya."
"Tapi kenapa dia langsung tau nama kamu?!"
Moza tersenyum kepada Arzan.
"Aku becanda, Arzan. Aku tau kamu cuma milikku seorang" ucap Moza tersenyum menatap Arzan.
"Nanti sore kamu pulang bareng aku ya, aku mau ngajak ke taman."
Moza mengangguk, Arzan pun merasa senang karena merasa hari-harinya akan begitu indah di jalani bersama Moza.
***
Skip sampai sore, waktunya jam pulang kerja di kantor.
Arzan mengantar Moza pulang ke rumah, tapi kemudian dirinya mengajak Moza pergi ke bukit yang letaknya tak jauh dari kantor. Di Hari Jum'at untuk para karyawan FF Group jika sudah menyelesaikan pekerjaannya boleh pulang lebih awal. Oleh karena itu Arzan mengajak Moza pulang lebih awal.
Mereka berdua sampai di taman, Moza pun kagum dengan pemandangan di area taman tersebut. Terahir dirinya menginjakkan kaki di tempat ini, bersama dengan almarhum suaminya.
Arzan menggandeng tangan Moza, mereka berdua menghirup udara segar bersamaan. Moza tampak termenung mengingat kembali kenangan bersama suaminya.
"Kamu kenapa sayang? kenapa kamu tampak murung?" tanya Arzan sambil menghadapkan dirinya kepada Moza.
__ADS_1
"Jujur di tempat ini aku ada kenangan tersendiri" jawab Moza dengan raut mukanya yang semakin sedih.
Arzan pun mendekap tubuh Moza.
"Setiap orang pasti mempunyai kenangan, entah itu kenangan bahagia ataupun kenangan sedih. Mungkin sebelumnya kamu mempunyai kenangan sedih di masa lalumu. Tapi aku janji, bersamaku aku akan selalu menciptakan kenangan indah dan aku ingin selalu membahagiakanmu" ucap Arzan sambil mengusap pucuk rambut Moza dengan lembut.
Moza semakin erat memeluk Arzan, dirinya memejamkan matanya. Sepersekian detik, bayangan almarhum suaminya datang dan tersenyum kepadanya.
"Mas Irsyad, terimakasih telah memilihkan calon suami yang baik untukku." batin Moza sambil mengeratkan lagi pelukannya.
Arzan melepaskan pelukannya, menyentuh pipi dan ujung bibir Moza dengan lembut. Dirinya tersenyum dan Moza pun tersenyum. Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Terlihat jelas dari sorot mata Arzan yang begitu bahagia saat ini.
"Aku menyayangimu Moza, seperti apa pun masalalumu aku tidak akan pernah mengungkit dan mempertanyakan tentang hal itu. Karena aku yakin kalau kamu adalah wanita baik-baik. Moza berkaca-kaca, air matanya pun menetes mengalir di pipinya. Arzan pun mengusapnya dengan lembut.
"Kenapa menangis?" tanya Arzan pelan.
"Aku bahagia bisa memilikimu Arzan" jawab Moza jujur.
"Lantas kenapa kamu menangis?"
"Ini tangisan bahagia, Arzan. Aku sangat beruntung bisa bertemu dengan lelaki baik seperti dirimu. Kamu mau menerimaku apa adanya, walaupun kamu sendiri sudah tau tentang diriku."
"Itu karena jika benar-benar mencintai seseorang dengan tulus orang itu akan mau menerima semua segala sesuatu tentang masalalu orang yang sangat di cintai oleh dirinya."
Arzan pun mencium kening Moza dengan lembut sambil memejamkan matanya.
Mereka berdua terdiam beberapa saat dengan posisi seperti itu. Jujur di dalam hati Moza, dirinya sudah sangat merasa benar-benar nyaman dengan Arzan. Arzan pun sudah bertekad akan bekerja keras menabung untuk segera menikahi Moza.
"Berjanjilah padaku, Moza. Kamu akan menikah denganku dan berjanjilah untuk menjadi istriku, menjadi ibu dari anak-anakku nanti. ucap Arzan sambil menempelkan keningnya. Kemudian Arzan memajukan bibirnya, dan mencium pelan bibir Moza.
...
.
.
.
.
__ADS_1
Author chevia lagi ngintip sembunyi di semak belukar, ngintipin Arzan sama Moza lagi pacaran 😅