
Pagi hari di kediaman Moza.
Farid sudah berada di ruang tamu sebelum jam 7 pagi. Kemudian Moza datang menemui Farid.
"Pagi, Nyonya." ucap Farid berbasa basi.
"Apa kamu sudah mempersiapkan semua yang saya minta tadi malam, Farid?" ucap Moza sambil duduk menghadap Farid.
"Sudah, Nyonya. Saya mengambil mobil di kantor anak cabang yang terdekat dengan kantor pusat. Kebetulan ada 2 mobil yang jarang di pakai." jawab Farid sambil menunjukan foto kedua mobil itu kepada Moza.
"Yang ini saja." Moza menunjuk mobil Mazda 3 berwarna silver.
"Tapi ini bukannya terlalu biasa, Nyonya." kata Farid heran. Mengapa Boss nya lebih memilih mobil Mazda 3 ketimbang BMW X5. Mengingat mobil itu akan dipakai oleh calon suaminya.
"Aku yakin kalau Arzan memilih sendiri, pasti dirinya akan memilih seperti pilihanku. Baiklah nanti kau atur saja, biarkan Arzan yang memilih. Aku yakin Arzan akan memilih seperti pilihanku." kata Moza yakin.
"Baiklah, Nyonya. Hari ini adalah hari pertama Arzan kerja. Dan juga ada 20 peserta magang baru di kantor pusat. Kalau begitu saya pamit." dengan ekspresi datarnya Farid melangkah menuju keluar.
Setelah kepergian Moza pun beranjak dari kursinya.
"Kamu pasti nanti tidak akan percaya dengan pilihan Arzan, Farid." kemudian Moza melangkah menuju kamar anak-anaknya.
*
Sementara di rumah Arzan.
"Pak, Bu. Arzan pamit berangkat dulu ya. Do'ain semoga semua urusan Arzan di sana lancar." ucap Arzan sambil mencium tangan bapak dan ibunya secara bergantian.
"Iya nak, bapak dan ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu." ucap pak Adam.
Kemudian Arzan segera menuju kantor dengan mengendarai sepeda motornya.
***
Sesampainya di kantor Bu Puspa yang sedari tadi menunggu kedatangan Arzan pun langsung memanggil Arzan.
"Arzan, saya ingin bicara sebentar" kata bu Puspa.
Kemudian Arzan menghampiri bu Puspa.
"Ada apa, bu Puspa?" tanya Arzan penasaran.
"Kamu langsung ke ruangan Tuan Farid, beliau sudah menunggu di ruangannya" kata bu Puspa.
Kemudian Arzan mengangguk dan melangkah menuju lift.
***
Di depan ruang kerja Farid. Arzan mengetuk pintu.
"Masuklah" jawab Farid singkat.
__ADS_1
"Selamat pagi tuan Farid" sapa Arzan dengan sedikit menundukan kepalanya.
"Duduklah" ucap Farid dengan ekspresi datarnya.
Kemudian Arzan duduk berhadapan dengan Faried.
Kemudian Faried menekan interkom yang berada di meja kerjanya.
"Vicka lekas kemari, bawa map yang saya minta tadi."
"Arzan, apa kau sudah siap bergabung menjadi bagian dari FF Group?" tanya Farid.
"Saya siap tuan Farid. Karena bekerja di sini merupakan impian dari kebanyakan setiap mahasiswa yang baru lulus. Tapi di sini saya ada tujuan lain..." jawab Arzan.
Farid memicingkan alisnya.
"Tujuan lain apa?" tanya Farid heran.
"Saya ingin mengenal lebih dekat sosok nyonya Irsyad yang tak lain adalah CEO dari FF Group.
Vicka mengetuk pintu, kemudian menyerahkan map yang diminta oleh Farid. Kemudian dirinya segera melangkah menuju meja kerjanya kembali.
"Sampai dimana tadi? kau ingin mengenal lebih dekat dengan nyonya Irsyad?" Farid mengangkat kedua alisnya.
"Ini tentang urusan pribadi tuan Farid." jawab Arzan singkat.
"Saya sudah mengetahui semuanya Arzan. Karena saya adalah orang yang berperan penting sebagai perantara dari nyonya Irsyad secara langsung. Dan Ini (sambil menyodorkan map kepada Arzan.) sebelum kamu bekerja di sini, saya berharap kamu membaca sampai selesai tentang peraturan di sini." masih dengan ekspresi datarnya.
15 menit kemudian.
"Baik, tuan Farid. Saya sudah memahami semua peraturan dan larangan yang sudah saya baca tadi." ucap Arzan.
"Dan ini..." Farid menyodorkan 2 kunci mobil kepada Arzan.
Arzan terkejut dan heran dengan sikap Farid yang tiba tiba menyodorkan 2 kunci mobil kepadanya.
"Untuk apa ini, tuan?" tanya Arzan dengan ekspresi heran.
"Ini sebagai alat transportasi kamu nanti dan untuk kedepannya kamu pakai untuk berangkat bekerja. Ini termasuk salah satu fasilitas dari perusahaan." masih dengan ekspresi datarnya Farid.
"Tapi, bukannya saya baru bekerja dan belum juga saya mulai bekerja." Arzan pun mulai merasa ada yang janggal.
"Sudah jangan banyak bicara, kamu pilih salah satu saja" seru Farid.
Mendengar Farid berbicara dengan nada lumayan tinggi, Arzan segera meraih kedua kunci yang berada di depannya.
"Setahu ku ini mobil BMW X5 masuk dalam salah satu mobil mewah, aku tidak mungkin akan memilih mobil ini. Karena di posisiku sekarang ini, aku belum pantas untuk mendapatkannya." batin Arzan.
Kemudian Arzan mengambil kunci mobil BMW.
"Nyonya Moza, sepertinya anda sudah salah menduga." batin Farid.
__ADS_1
"Tuan Farid, mohon kunci ini anda simpan kembali." ucap Arzan sambil menyodorkan kunci mobil MBW di hadapan Farid.
"Maaf kalau saya memilih kunci mobil ini, dan bukannya saya tidak tau berterimakasih. Justru saya sangat berterimakasih di hari pertama saya bekerja sudah mendapatkan fasilitas dari kantor." kata Arzan dengan hati hati, takut menyinggung perasaan Farid.
"Kenapa tidak kau pilih kunci ini saja, bukannya ini mobil bagus?" tanya Farid penasaran.
"Tuan Farid, saya hanya menyadari posisi saya. Saya merasa belum berhak untuk mendapatkan fasilitas yang terbilang mewah dari perusahaan ini. Mengingat saya belum memberikan jasa dan juga keuntungan kepada perusahaan ini." jawab Arzan dengan jujur.
"Ternyata apa yang di pikirkan oleh nyonya Irsyad benar adanya. Dan saya harap tetaplah rendah hati jika suatu saat nanti kamu sudah berada di atas puncak karier."
"Maksud tuan Farid?"
"Kelak kau nanti akan mengetahui semuanya Arzan."
Farid memencet tombol interkom kembali.
"Vicka, segera antarkan Arzan"
Dengan segera Vicka menuju keruangan Farid. Kemudian dirinya mempersilahkan Arzan untuk mengikutinya menuju ruang kerjanya.
Setelah kepergian Arzan Farid menghelai nafas panjang dan merebahkan punggungnya di kursi.
"Nyonya, anda hebat. Dalam waktu sebentar saja anda sudah mengetahui sifat dan memahami karakter Arzan dengan baik." ucap Farid kemudian dirinya beranjak dari kursi merapikan kembali jasnya. Sebelum dirinya melangkah ponsel Farid berbunyi, nama "Nyonya Irsyad" tertera di layar ponselnya.
"Bagaimana, Faried? apa tebakanku benar?" tanya Moza antusias.
"Benar sekali anda, Nyonya. Arzan lebih memilih mobil sesuai dengan tebakan anda." ucap Farid pelan. Awalnya dia memang tidak yakin apa yang Moza bicarakan tadi pagi sewaktu dirinya berkunjung menemui Moza.
"Mulai sekarang kau jangan ragu dengan kemampuan instingku kalau untuk menilai seseorang." ucap Moza dengan nada penuh kemenangan. Dirinya mengetahui gelagat Farid yang tidak percaya dengan apa yang dirinya sampaikan kepadanya tadi pagi.
"Saya minta maaf, Nyonya. Saya tidak bermaksud untuk seperti itu" kata Farid dengan nada penyesalan.
"Ya sudah, kau boleh melanjutkan pekerjaanmu kembali." Moza kemudian mengakhiri telfonnya.
"Baik, Nyonya. Terimakasih."
Farid segera melangkah menuju ruang Design Inti untuk menemui kepala bagian Design.
.
.
.
Author Menyapa.
Hai, Hallo 😊
Buat para pembaca novel #CSPDS yang masih setia menunggu novel ini Up kembali. Hari ini Chevia Up 3 Bab ya.
Terimakasih buat para pembaca yang sudah mau Like, Komen dan juga Vote di novel ini. Please jangan jadi Silent Rider 😟
__ADS_1