Calon Suami Pilihan Dari Suamiku

Calon Suami Pilihan Dari Suamiku
BAB 22


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit Arsan segera di bawa ke ruangan IGD. Moza menunggu di ruang tunggu sambil menangis tiada sesenggukan. Luna yang di telfon oleh sopir Moza segera menuju ke rumah orang tua Arzan untuk menjemput mereka.


Selang 20 menit Luna datang menghampiri Moza bersama kedua orang tua Arzan.


"Nyonya... gimana keadaan Arzan?" tanya Luna sambil duduk di sebelah Moza. Sementara kedua orang tua Arzan begitu panik mondar mandir di pintu IGD.


"Dokter belum keluar dari ruang IGD sejak tadi, Luna." jawab Moza sambil sesenggukan.


"Nyonya Irsyad" ucap pak Adam sambil menghampiri Moza bersama istrinya.


"Pak Adam.. Ini pasti salah saya karena dua hari ini saya menghindar dari Arzan" seru Moza menyalahkan dirinya sendiri.


"Nak, Ibu yakin ini bukan salah kamu. Dan ibu yakin Arzan itu anak yang kuat, lebih baik kita ber do'a untuk kesembuhan Arzan." ucap bu Hulyani sambil duduk di samping Moza.


Pintu IGD terbuka dan salah seorang perawat segera keluar menghampiri dimana keluarga Arzan sedang menunggu.


"Keluarga Tuan Arzan" ucap perawat tadi.


"Ya suster, kami adalah keluarganya. Dan saya adalah bapaknya." jawab pak Adam sambil berdiri menghampiri suster tadi.


"Terdapat luka yang cukup serius di bagian belakang kepala dan beberapa jahitan di siku dan lututnya. Dan juga pasien kehilangan banyak darah, berunung stok darah di bank darah kami lengkap. Pasien belum sadar." Kemudian suster mempersilahkan kedua orang tua Arzan untuk masuk.


"Nak ibu yakin kamu kuat, ingat masih ada bapak dan ibu. Juga Orang yang kamu sayangi" ucap ibu Hulya sambil mengusap tangan putrannya.


"Kamu harus segera bangun, Arzan. Anak bapak pasti kuat." terlihat buliran kristal bening di pelupuk mata pak Adam. Kemudian mereka berdua keluar ruangan dan mempersilahkan Moza untuk menemui anaknya.


Moza segera masuk menemui Arzan. Dirinya menangis lagi, masih merasa bersalah atas apa yag sudah menimpa kekasihnya yang sekarang belum sadarkan diri.


"Arzan, lekaslah bangun! aku menunggumu, aku ingin melalui hari-hari kita bersama lagi" ucap Moza lirih di dekat daun telinga Arzan. Kemudian menggenggam tangan kanan Arzan dengan kedua tangannya.


Selang beberapa menit, dokter dan perawat datang untuk memindahkan Arzan ke ruang rawat inap.


"Dokter, tolong rawat Arzan apapun yang terbaik untuk dia. Dan tolong pindahkan ke ruang rawat inap yang bagus untuk Arzan. Saya yang akan menjaminnya.


Dokter itu tersenyum


"Nyonya, Rumah sakit ini adalah bagian dari salah satu milik almarhum tuan Irsyad. Jadi kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Tuan Arzan."


"Terimakasih, Dok." ucap Moza sambil keluar dari ruangan IGD. Kemudian Luna menghampiri Moza.


"Nyonya, serahkan semua ini kepada Allah, dan yakin kalau Arzan pasti bisa melewati masa kritis ini." ucap Luna sambil menuntun Moza keluar dari IGD.


***

__ADS_1


Sudah hampir 3 jam Moza menunggu di ruang dimana Arzan di rawat. Sedangkan pak Adam pulang ke rumahnya, mengingat kesehatannya yang sedang kurang baik. Sesampainya di rumah, bu Hulyani segera memasak untuk dibawa ke RS. Setelah selesai memasak bu Hulyani segera kembali menuju rumah sakit membawa makanan untuk Moza dan Luna.


Sesampainya di ruang inap anaknya, bu Hulyani segera menaruh makanan yang dibawanya dan mendekati Moza.


"Nak, dari tadi kamu pasti belum makan, ibu sengaja tadi pulang memasak untuk kalian. Tapi ibu cuma bawa masakan sederhana." kata bu Hulyani sambil membuka rantang yang dia bawa dari rumah.


"Waah ini sayur bobor bayam sama tahu bacem, ini bagus untuk anda, Nyonya" ucap Luna sambil berbicara bergaya seperti dokter.


Moza tersenyum, kemudian menghampiri bu Hulyani.


"Ibu, ibu sengaja memasak semua ini untuk saya?" tanya Moza sambil memandangi makanan yang sudah tertata di meja.


"Makanan sederhana, Nak" jawab bu Hulyani


"Tapi kaya akan manfaat, apa lagi untuk ibu hamil" sahut Luna sambik tersenyum.


Kemudian bu Hulyani mengambilkan nasi dan sayur untuk Moza, yang tak lain nantinya akan menjadi menantunya.


Moza merasa sangat bahagia, karena dirinya mendapatkan sosok ibu mertua seperti almarhum mamanya. Moza tadinya tidak selera untuk makan, tetapi dengan bujukan dari bu Hulyani akhirnya memakan makanan yang sudah di bawa dan dimasakin oleh bu Hulyani. Di suapan pertama, Moza langsung merasakan betapa enaknya masakan dari calon mertuanya itu.


"Ini enak banget, Bu. Sudah lama moza tidak makan sayur bayam seperti ini." Moza menyenderkan kepalanya di bahu bu Hulyani. "Saya sangat beruntung, nantinya akan mempunyai ibu mertua sebaik ibu"


"In Sha Allah, Nak." jawab bu Hulyani sambil memeluk calon menantunya dengan lembut. Sementara Luna sangat terharu dengan pemandangan yang dirinya lihat, melihat calon menantu dan mertua yang begitu akrab dan hangat.


"Nak, kamu di sini ndak papa di tiggal sendiri dulu?" tanya bu Hulyani, memastikan.


"Saya tidak sendiri, Bu. Kan di sini saya bersama Arzan." jawab Moza sambil tersenyum dan menggenggam tangan Arzan.


"Baiklah, kalau begitu ibu pamit pulang ya."


Kemudian Luna dan bu Hulyani melangkah keluar mejuju parking area.


***


Moza menggenggam erat tangan Arzan, dirinya bergumam dalam hati "Mas Irsyad, aku yakin pilihanmu sangat tepat. Aku akui Arzan adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Jujur aku sudah membukakan hatiku untuk Arzan. Terimakasih Mas Irsyad, terimakasih telah memberikan calon suami yang baik untukku." ucap Moza sambil menyenderkan kepalanya di tepi ranjang sampai dia tertidur sambil memegang tangan Arzan.




Sementara Arzan yang sedang berjuang di alam bawah sadarnya, membayangkan dirinya di tinggal Moza untuk selama-lamanya. Arzan tetap mengejar Moza hingga dirinya berhasil meraih tangan Moza dalam genggamannya. Tangan Arzan bergerak-gerak menyadarkan Moza dari tidurnya.


__ADS_1


"Mo za" ucap Arzan lirih sambil menggenggam tangan Moza. Kemudian Moza reflek beranjak bangkit dan menggenggam erat tangan Arzan.


"Aku minta maaf, Zan. Aku sudah membuatmu seperti ini" seru Moza menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan yang di alami oleh Arzan.


"Bukan salah kamu, itu karena aku yang kurang hati-hati saat mengendari sepeda motor" jawab Arzan pelan.


Moza membelai rambut Arzan dengan lembut



"Pasti karena kamu melamun kan? aku panggilkan dokter ya" ucap Moza sambil tersenyum, kemudian memencet tombol nurse call.


Selang waktu 5 menit, dokter yang menangani Arzan datang bersama kedua perawat. Dengan segera memeriksa tubuh Arzan.


"Alhamdulillah, kondisi Tuan Arzan sudah membaik. Anda sudah berhasil melewati masa kritis, tetapi apa kah anda bisa mengingat semuanya? menginggat anda kehilangan darah cukup banyak." kata dokter sambil menyematkan stetoskop di lehernya.


"Saya bisa mengingat semuanya, Dok. Hanya saja kepala saya masih merasakan pusing yang teramat sakit." jawab Arzan sambil memegangi kepalanya.


"Itu karena efek benturan di kepala anda, setelah rutin minum obat, 2 hari kedepan akan berangsur pulih."


"Apa sudah tidak ada yang perlu di khawatirkan, Dok? tanya Moza dengan raut wajah khawatir.


"Setelah 2 hari tidak merasakan pusing kembali, bisa di pastikan tidak perlu lagi yang di khawatirkan."


"Terimakasih, Dok." jawab Moza.


"Kalau begitu saya pamit" kata dokter, kemudian beranjak pergi.


Moza segera menghubungi Luna, agar segera memberi kabar kepada kedua orang tua Arzan.


.


.


.


Bonus




tinggalin jempol dan koment kalian ya 😊

__ADS_1


__ADS_2