Calon Suami Pilihan Dari Suamiku

Calon Suami Pilihan Dari Suamiku
BAB 14


__ADS_3

Di rumah sakit pukul 7 malam, dokter Frans bersiap untuk segera pulang ke rumahnya. Tiba-tiba dia teringat dengan kondisi Moza tadi pagi sewaktu dia memeriksa Moza. Diraih ponselnya yang berada di laci meja kerjanya. Memencet nomor kontak luna dengan segera.


"Hallo, Lun" sapa dokter Frans


"Ya, Dok. Ada apa ya? "


"Saya mau mampir sebentar ke rumah kalian, kira-kira boleh tidak?" tanya dokter Farid.


"Ya boleh aja, sekarang? " tanya Luna


"Iya sekarang, kamu bisa share lock nanti alamat rumahnya"


"Itu, kebetulan saya lagi di jalan dekat rumah sakit "


"Ya sudah, kamu tunggu di situ. Tunggu beberapa menit ya"


"Baiklah, Dok. Saya lagi isi bensin mobil, nanti tunggu di depan SPBU saja dok "


"Oke, kalau begitu tunggu ya" jawab dokter Frans sambil mengakhiri percakapannya dengan Luna di telfon.


***


Beberapa menit kemudian dokter Frans tiba di depan SPBU. Luna sudah menunggu di sana.


Dokter Frans kemudian membuka kaca jendela mobilnya "Saya ikutin kamu dari belakang ya, Lun. Tapi nanti mampir di toko buah dulu" ucap dokter Frans kemudian mengikuti mobil Luna.


Sampainya di toko buah, dokter Frans memilih beberapa macam buah, mangga, jeruk dan apel. Tapi dengan cepat Luna menghampiri dokter Frans.


"Ka Moza ga suka buah apel, Dok. Dia lebih suka buah pear" ucap Luna sambil memilih beberapa buah pear.


"Kalau begitu bantu saya untuk memilih buah pearnya ya, Lun"


Luna mengangguk, kemudian memilihkan beberapa buah pear yang menurutnya bagus dan benar-benar segar.


Setelah selesai melakukan pembayaran, segera mereka berdua menuju mobil mereka masing-masing.


Frans mengikuti laju mobil yang di kendarai Luna.


15 menit kemudian Luna memarkirkan mobilnya di depan teras rumah, sementara dokter Frans memarkirkan mobilnya di tepi jalan depan rumah Moza.


Moza yang sebelumnya dikabari oleh Luna tentang kedatangan dokter Frans menunggu di ruang tamu.


Di dalam hati dan pikiran Frans bertanya-tanya, mengapa sekarang Moza bisa tinggal di rumah sesederhana seperti sekarang ini. Tapi dirinya hanya bisa membatin saja, tidak mau mempertanyakan kepada Moza.


"Duduk, Frans" sambil melangkah dan duduk di hadapan Frans. "Mau minum apa?" tanya Moza menawarkan minuman kepada Frans.


"Kopi boleh deh" jawab Frans. Moza hendak melangkah kakinya ke dapur, tapi dengan segera Luna mencegah langkahnya.

__ADS_1


"Biar Luna aja, Kak." seru Luna sambil menuju dapur.


"Baiklah" jawab Moza pasrah


Frans memulai membuka percakapan dengan Moza


"Kamu harus banyak-banyak makan buah dan sayuran segar ya, dan satu lagi selama kehamilan hindari makan sushi ya. Waktu kita masih SD kan kamu doyan banget makan sushi, hampir tiap hari makan sushi."


"Siap Pak Dokter" ucap Moza sambik terkekeh pelan.


Luna datang membawakan secangkir kopi panas, kemudian di suguhkan kepada dokter Frans.


"Memangnya ada banyak ya, Dok. Makanan yang harus di hindari selama hamil?" tanya Luna sambil duduk di sebelah Moza.


"Ya lumayan banyak, contohnya buah yang tidak di cuci, telur mentah, mie instan, ikan bermerkuri tinggi seperti ikan tengiri, ikan tuna. Kalau saran dari saya perbanyak ikan salmon diolah dengan matang, atau ikan Cod" ucap dokter Frans. Luna pun mengangguk-anggukan kepalanya.


"Di minum dulu kopinya, Dok. Saya mau mencuci buah pear dulu buat Ka Moza." Luna pun mengambil keranjang buah yang dibawa oleh dokter Frans menuju ke dapur, untuk segera di cuci.


"Mo, Luna itu sebenernya siapanya kamu ya?" tanya Frans sambil menyeruput kopi.


"Dia temenku laah, cuma dia udah aku anggep seperti adikku, Frans. Dia sangat baik dan perhatian. Dan kamu tau kan kalau aku ini anak tunggal, aku menikah dengan Mas Irsyad sebelum Almarum Papa pamit untuk selamanya. Setelah itu pun Mas Irsyad pergi meninggalkanku, tapi aku masih beruntung. Sekarang ada pengganti mas Irsyad di sini." ucap Moza lirih sambil mengelus perutnya.


Frans turut bersedih atas semua peristiwa yang menimpa Moza, dia pun menepuk pelan pundak Moza.


"Aku tau kamu wanita yang setegar batu karang, Mo"


Luna datang membawa buah pear yang sudah di potong-potong, kemudian memberikan kepada Moza.


"Ka Moza makan dulu nya buahnya, ga boleh sedih berlarut-larut"


"Maaf, Mo. Aku dah bikin kamu sedih" dokter Frans pun merasa bersalah. Suasana ruangan hening seketika.


Kemudian ponsel Moza berbunyi


"Ya hallo, Zan" jawab Moza


"Aku kepilih jadi kandidat 5 besar, Mo!!" ucap Arzan yang terlihat gembira.


"Waah berita bagus, Zan. Selamat ya.. trus selanjutnya gimana?" tanya Moza.


"Besok temenin aku ke kantor FF Group ya!" kata Arzan dengan nada memohon.


"Iiiya, besok aku temenin deh" jawab Moza.


"Makasih, Mo. Yaudah, btw dah makan blom?"


"Ini aku lagi makan buah pear"

__ADS_1


"Ooh gitu, yodah sampe ketemu besok ya. Aku besok jemput aja"


"Oke deh"


Moza mengakhiri pembicaraannya di telfon.


Sedari tadi dokter Frans memperhatikan Moza, entah dia sedang menerima telfon dari siapa. Yang jelas dirinya melihat kalau Moza terlihat begitu senang saat berbicara dengan orang yang menelfon Moza.


Kemudian dokter Frans beranjak dari tempat duduknya meraih tasnya, kemudian berpamitan "Mo, sudah malam saya mau pamit pulang"


"Cieee udah di tungguin istrinya ya, Dok?" ledek Luna.


"Saya belum menikah Luna" jawab dokter Frans.


Luna hanya menjawab "Uuupppss" sambil cengengesan.


"Iya Frans, titip salam buat om dan tante ya. Kira-kira masih inget Moza ga ya?"


"Pasti mereka masih ingat kamu, Anak kecil yang doyan makan. Begitulah papa sama mama dulu ngasih julukan itu ke kamu" sahut dokter Frans sambil tersenyum. "Makanya kapan kalo ada waktu main kerumah ya, Mo. "


"Boleh, aku juga kangen masakan tante" jawab Moza sambil mengikuti Frans sampe ke depan pintu.


"Kalo begitu saya pamit pulang dulu ya, jangan begadang. Usahakan tidur sebelum jam 9 malam" kata dokter Frans, kemudian berjalan menuju mobilnya.


***


Moza meraih ponselnya kemudian menghubungi Farid


"Ya hallo, Nyonya."


"Farid, apa benar besok kandidat 5 besar di undang ke kantor untuk berkumpul? terus 4 orang itu apa bisa di percaya kemampuan beraktingnya?"


"Itu sudah di urus semua sama Luna, Nyonya. Mereka ber empat adalah anggota teater di bandung. Teman dari Luna"


"Besok saya di ajak Arzan ikut menemani dia ke kantor, apa kamu bisa mengatur semuanya? saya tidak ingin Arzan tau posisi saya di kantor"


"Untuk hal itu saya sudah persiapkan semuanya, Nyonya."


"Bagus, ya sudah terimakasih."


Moza menutup telfonnya. Kemudian menghampiri Luna. "Luna, terimakasih ya"


"Itu sudah menjadi tugas saya, Nyonya" sahut Luna.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2