
"Pokoknya kamu harus nurutin semua apa yang tadi aku bilang, Farid." seru Moza sambil mengakhiri pembicaraana tanpa menunggu jawaban dari Farid.
Sementara di seberang sana, Farid merebahkan tubuhnya di sofa apartemennya. "Nyonya, ketahuilah tugasku sekarang bukan hanya mengurusi kantor, sekarang pun harus mengurusi masalah pribadi anda" seru Farid kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Sedikit cerita tentang Farid, dia pria kelahiran Jammu City - India. Setelah selesai kuliah dia mendapat kerja di sebuah perusahaan di Malaysia. Di waktu dia bekerja di perusahaan yang lama dirinya difitnah korupsi. Padahal sama sekali tidak, hingga akhirnya dia bekerja sebagai driver taksi di Malaysia. Sampe suatu ketika bertemu dengan Tuan Irsyad, waktu itu dia menolong Tuan Irsyad, hingga akhirnya menjadi orang kepercayaan Tuan Irsyad.
****
Beralih ke Moza yang sedang memandangi foto Almarhum suaminya sambil menangis sesenggukan.
"Mas Irsyad... Aku ngga tau nantinya apa aku bisa mencintai Arzan, yang jelas benar apa yang kamu bilang bahwa Arzan adalah pria yang baik" ucap Moza lirih sambil menyeka air matanya. Luna yang beberapa menit mematung sambil membawa susu khusus untuk ibu hamil kemudian mengetuk pintu kamar majikannya pelan. Setelah mendengarkan majikannya menyuruh masuk, Luna pun masuk kemudian meletakan segelas susu yang dia bawa di atas nakas.
"Di minum dulu Ka susunya, mumpung masih hangat" ucap Luna kemudian duduk di tepi ranjang. "Ka Moza mau aku pijitin?" ucap Luna menawarkan, karena siapa tau majikannya merasa lelah.
"Tidak, terimakasih Luna. Luna aku ingin kamu jawab jujur, kamu mau lanjut bekerja di kantor atau masih mau bersamaku disini?" tanya Moza pelan.
"Saya lebih baik jadi asisten nyonya, karena saya ingin membalas budi kebaikan nyonya" jawab Luna mantap.
"Sampai kapan?" tanya Moza sekali lagi.
"Sampai nyonya menemukan kebahagiaan nyonya kembali" jawab Luna yakin.
"Baiklah, untuk gaji kamu selama menjadi asistenku 3x lipat dari gaji di kantor" sahut Moza sambil menepuk bahu sebelah kanan Luna.
"Tapi nyonya... itu terlalu banyak. Lagian pekerjaan saya ini ringan gak capek" jawab Luna jujur, dia meskipun dibayar lebih sedikit sebelum kerja di kantor Moza pun sama sekali tidak keberatan.
"Sudahlah... dengan begitu kamu kan bisa dengan segera memenuhi impianmu untuk bapak dan ibumu. Bukannya kamu ingin memberangkatkan Umroh kedua orang tuamu, Lun!!" seru Moza, kemudian meneguk segelas susu yang tadi di bawa Luna sampai habis. "Besok beliin yang rasa moka ya, Lun. Bosen rasa vanila terus.
"Iya, Nyonya. Besok saya beli beberapa varia rasa. Biar tiap hari bisa gantian minum varian rasa yang lain." jawab Luna, kemudian mengambil gelas kosong di atas nakas. "Kalau begitu Nyonya istirahat, saya permisi dulu." ucap Luna kemudian beranjak pergi dari kamar Moza.
*
*
*
Keesokan harinya Moza datang ke kantor karena jadwal kuliahnya siang hari.
Moza langsung menuju meja receptionis menemui Ibu Puspa. Melihat kedatangan Moza, bu Puspa tersenyum.
"Selamat pagi Nyonya" ucap bu Puspa sambil memberi hormat dengan sedikit menundukan kepala.
"Bu Puspa, apa Farid sudah menjelaskan semuanya kemaren? maaf ya bu, kemaren niatnya saya mau ke rumah bu Puspa... Malah saya ketiduran" ucap Moza beralasan. Padahal dari sore dia menatap foto Almarhum suaminya sambil menangis hingga larut malam.
__ADS_1
"Sudah nyonya, Tuan Farid sudah menjelaskan semuanya kepada saya" jawab bu Puspa.
"Oke, terimakasih kalau begitu saya mau lanjut dulu." ucap Moza sambil berjalan menuju lift.
*
Sampai di ruangannya, dengan segera Farid yang mengetahui kalah majikannya sudah datang langsung menuju ruangan bosnya itu.
"Maaf kalau anda sudah lama menunggu nyonya" kata Farid sambil meletakan map berwarna merah di meja kerja Moza.
Kemudian Moza membuka Map tersebut dan mengambil selembar kertas yang merupakan brosur kompetensi dadakan yang kemarin dia minta dibuatkan oleh Farid. Moza manggut-manggut tandanya dia puas dengan hasil kerja Farid.
"Okeh, ini perfect banget Farid. Thanks ya, kamu bakalan dapat bonus" seru Moza.
"Emmh nyonya apa saya boleh tau alasan anda dengan rencana semua ini?" tanya Farid penasaran, karena dari semalam dia sangat penasaran ingin mengetahui apa alasan majiknnya itu meminta hal yang diluar nalar dari seorang nyonya Moza.
"Karena saya sudah merusak laptop dia, dan dengan cara ini saya bisa menggantinya" jawab Moza sambil mengetik pesan kepada Arzan.
"Bingo!!! Arzan kabar baik buat loe, ada kompetensi lagi nih. Barusan gue di kasi kabar sama bu Puspa"
Farid dan Luna saling tatap melihat majikannya senyam-senyum sendiri.
"Ekheeemmm" Luna berdehem, kemudian Moza sadar segera menaruh ponselnya.
kemudian mereka berdua segera pergi melangkahkan kaki mereka segera keluar dari ruangan Moza.
"Luna, ikut ke ruangan saya. Ada yang mau saya bicarakan" ucap Farid. Luna hanya mengangguk dan mengekor di belakang Farid.
Sesampainya di ruangan Farid, segera menyuruh Luna duduk.
"Tuan Farid kenapa? kayaknya lagi bingung mikirin sesuatu" tebak Luna, yang ternyata memang benar adanya.
"Dari semalam saya tidur kurang dari 2 jam, Luna." ucap Farid sambil memijat kepalanya dengan kedua tangannya. "Apa kamu mempunyai teman yang jago akting? kalau ada segera cepat beritahu saya untuk bekerja selama satu minggu. Untuk gajinya begitu setuju saya bayar 5 juta dimuka, setelah semua selesai sisa pembayarannya baru saya bayar. Besar kecilnya sisa pembayarannya tergantung orang itu pintar dalam berakting atau tidak." ucap Farid dengan tegas.
"Ada donk, temen theater waktu saya SMA banyak Tuan. Eeh itu ngga salah 5 juta aja baru DP apa gak kebanyakan tuh?! kan cuma kerja seminggu" seru Luna .
"5 juta gaji kamu selama 5 hari Luna" jawab Farid sambil mengangkat alis sebelah kirinya.
"Apaa!!!" ucap Luna kaget dengan perkataan yang barusan Farid ucapkan.
"Ya! belum lagi kalau kamu selalu bekerja dengan baik, bakalan ada bonus lagi" jawab Farid sambil menyeruput secangkir kopi di meja kerjanya. "Ingat kamu harus mencari orang terbaik buat misi dari nyonya Moza" ucapnya sambil menyodorkan map berwarna biru.
"Apa ini?" tanya Luna penasaran.
__ADS_1
"Itu naskah yang harus kamu dan teman theatermu hafalin buat persiapan besok" jawab Farid.
"Asal kamu tau Luna, betapa pusingnya semalaman saya mengurus semua ini, demi keinginan Nyonya yang mendadak dan terlihat konyol" gumam Farid dalam hati.
Visual Farid Khanevi
***
Sementara itu Moza yang siap memencet symbol telfon hijau di layar ponselnya.
" Hallo" jawab Moza
"Hallo, Mo.. apa itu benar? bakalan ada kompetisi lagi Mo?" terdengar suara Arzan yang keliahatan senang begitu mendapat pesan dari Moza.
"Iya, ini aku nanti bawain brosurnya ya. Kita ketemu di kampus" jawab Moza sambil tersenyum karena dia merasa Arzan sangat senang sekali begitu dia mengrim pesan memberitahu tentang kompetisi design.
"Makasih, Mo. Yaudah gue lanjut narik orderan dulu ya" jawab Arzan.
"Iya.. semangat ya!" seru Moza
"Ok! Bye"
***
.
.
.
.
.
.
.
.
Klik tombol like dan tinggalin coment ya 😊
__ADS_1