Calon Suami Pilihan Dari Suamiku

Calon Suami Pilihan Dari Suamiku
BAB 23


__ADS_3

Seminggu setelah Arzan di rawat di rumah sakit, dokter pun mengizinkan dirinya pulang. Kondisinya sudah membaik, berkat Moza yang setia menemani Arzan di rumah sakit.


Kedua orang tua Arzan merasa sangat beruntung. Karena anaknya sangat mencintai Moza, yang tak lain adalah wanita yang sudah di jodohkan mereka. Arzan pun mulai berangkat kuliah seperti biasanya, hanya saja belum bekerja lagi sebagai ojol.


Dirumah kediaman Tuan Irsyad.


"Farid, apa kamu sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Moza.


"Sudah, Nyonya. Tinggal urus paspor dan visa nya saja" jawab Farid sambil menyodorkan map kepada Moza.


"Bagus! terimakasih, Farid. Besok segera kamu urus agar Arzan datang ke kantor"


"Baik, Nyonya, Kalau begitu saya pamit" ucap Farid, kemudian beranjak dari kursinya.


Moza sudah memutuskan matang-matang soal beasiswa untuk Arzan melanjutkan study di Amerika. Karena Moza tau kalau Arzan sangat berbakat di bidang desain grafis dan juga bisnis. Untuk kampus dia memilih Rhode Island School of Design untuk mengembangkan bakat karya desain yang di miliki Arzan. Antara bahagia dan sedih sedang melanda dirinya. Karena setelah Arzan berangkat ke Amerika sudah pasti dirinya jauh dari Arzan. Tapi dirinya tidak egois, karena demi kebaikan calon suaminya agar mendapatkan pendidikan yang terbaik sesuai dengan bakatnya.


Luna menghampiri Moza yang sedang melamun di ruang keluarga. "Nyonya, kenapa melamun?"


Moza sedikit terkejut dengan kedatangan Luna yang datang tiba-tiba. "Tidak apa, Lun. Hanya saja saya sedang berfikir, setelah nanti Arzan berangkat ke Amerika..." Moza menghembuskan nafasnya pelan.


"Setelah Arzan di Amerika, pasti nanti terasa sepi." lanjut Moza.


"Arzan di sana 19 bulan, tentunya waktu kan sekarang berjalan begitu cepat. Seperti debay di perut Nyonya, tidak terasa sudah berumur 3 bulan, hari ini jadwal Nyonya untuk periksa kandungan" ucap Luna.


"Kita bisa berangkat sekarang?" tanya Moza.


"Boleh, Nyonya. Nanti saya kabari dokter Frans dulu" sahut Luna sambil mengambil ponsel di saku celananya.


"Kalau begitu saya ganti baju dulu ya, Lun." Kemudian Moza menuju kamarnya. Sedangkan Luna segera menghubungi dokter Frans.


***


30 menit kemudian Moza dan Luna sampai di RS dan langsung menuju poli kandungan. Tiba giliran Moza di periksa, entah kenapa dirinya merasa deg-degan.


"Pagi, Frans." ucap Moza sambil duduk berhadapan dengan dokter Frans.


"Pagi, Moza dan Luna" dokter Frans tersenyum, kemudian segera menyuruh asisten perawatnya untuk mengecek tensi darah Moza.


"Bagaimana hari-hari kamu belakangan ini? jangan terlalu banyak pikiran dan jangan terlalu kecapean." ucap Frans, kemudian memeriksa kandungan Moza.


"Perutku sakit Frans, apa boleh kalau di USG lagi?" tanya Moza sambil meringis.


"Tentu boleh, sepertinya ada kejutan lagi" ucap dokter Frans sambil tersenyum. Sebenarnya dirinya mengetahui sesuatu tentang kehamilan Moza. Kemudian dirinya menjelaskan tentang rahasia yang kemarin sempat belum dia sampaikan.

__ADS_1


"Dok, itu kenapa ya? apa nyonya Moza hamil kembar dok? karena saya melihat janin di dalam kandungannya ada dua" ucap Luna yang penasaran.


Moza terkejut dengan apa yang barusan Luna ucapkan. Frans tersenyum, kemudian menjawab rasa penasaran Luna. "Selamat nyonya Moza, anda di karuniai anak kembar nantinya"


Moza berkaca-kaca, dirinya merasa bahagia karena dikaruniai dua anak sekaligus. "Apa itu benar, Frans?"


"Iya, itu benar. Jaga kesehatan kamu, makanlah makan yang bergizi, stop makan mie dulu, stop ngopi dulu." ucap dokter Frans sambil menyodorkan resep vitamin kepada Moza.


***


Setelah sampai di rumah, Moza dengan segera menuju ke kamarnya. Meraih foto almarhum suaminya dan membelai foto suaminya sambi menitikan air mata.


"Mas Irsyad, anak kita kembar. Aku merasa bahagia, tapi akan lebih lengkap kebahagiaanku ini kalau kamu masih di sini bersamaku" ucap Moza sambil memeluk foto suaminya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, tertera nama 'Arzan Caling' kemudian Moza meraih ponselnya.


"Iya halo, Zan"


"Mo, kita bisa ketemuan ga sekarang?"


"Aku lagi sama Luna, 1 jam lagi aku dah di rumah kok"


"Oke, nanti 1 jam lagi aku kerumah kamu ya"


Setelah mengakhiri percakapannya di telfon Moza tersenyum. "Farid pasti sudah menghubungi Arzan."


Kemudian Moza melangkah keluar memanggil Luna.


"Baik, Nyonya" jawab Luna sambil meraih kunci di atas meja.


Kemudian mereka berdua menuju rumah kecil yang setahu Arzan adalah rumah kontrakan tempat Moza mengontrak.


***


Mereka berdua sampai terlebih dahulu, 15 menit kemudian Arzan datang.


"Arzan mau minum apa? Kopi atau air dingin?" kata Luna menawarkan minuman.


"Aku ke sini cuma sebentar, Lun" jawab Arzan.


Luna menjawab "Ooh, ya sudah aku mau istirahat aja"


"Mo, ada yang mau aku omongin sama kamu" ucap Arzan dengan mimik wajah serius.


"Mau ngomong apa?" tanya Moza pura-pura tidak tau.

__ADS_1


"Aku dapat beasiswa dari FF Group, untuk melanjutkan study ke Amerika. Kalau boleh jujur, itu impian aku. Tapi aku sekarang ada kamu, aku harus minta pendapat dari kamu"


"Waaah!! serius kamu, Zan! selamat ya" jawab Moza dengan expresi kaget. Kemudian menundukan kepalanya terlihat sedih.


"Kenapa Mo? kalau memang kamu ga izinin aku, ngga papa. Aku lanjutin kuliah di sini saja." ucap Arzan sambil memandang Moza dengan ekspresi sedih.


"Bukan begitu, aku dukung kamu untuk melanjutkan kuliah di sana. Ini kesempatan emas, aku juga 2 hari lagi mau ke kota M. Aku bakal menetap di sana untuk sementara waktu. Mungkin sampai 1 tahun di sana, aku ngga bisa jelasin sekarang tujuan aku kesana. Yang jelas aku tetap bersama Luna."


"Kenapa mendadak begini? Aku fikir sambil menunggu visa turun, aku ingin ngeluangin waktu kebersamaan kita sebelum aku berangkat nanti." raut wajah Arzan nampak murung.


Kemudian Moza segera meraih tangan Arzan.


"Kita sama-sama mempunyai impian, aku sudah yakin sama kamu. Aku akan sabar dan bersedia menunggu kamu" ucap Moza meyakinkan Arzan.


"Baiklah, karena kamu meyetujui aku untuk melanjutkan study di Amerika, aku juga ngga boleh egois" sahut Arzan, kemudian menggenggam erat tangan Moza.


"Berjanjilah satu hal untuk saling menjaga hati kita" ucap Moza pelan.


Karena terbawa suasana, mereka berdua hampir saja berciuman. Tapi dengan segera Moza memalingkan wajahnya. Mereka berdua menjadi canggung, Arzan pun meminta Izin untuk berpamitan pulang.



"Kalau begitu, aku pamit pulang dulu ya" ucap Arzan sambil membelai rambut Moza. Moza pun mengangguk dan mengantarkan Arzan sampai ke depan pintu.


"Oiya, lusa kalau kamu mau ke bandara aku ikut mengantar kalian ya"


"Iya" jawab Moza singkat.


"Aku pamit dulu ya." Dengan gerakan cepat Arzan mencium kening Moza. Moza pun terkejut, kemudian tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah Arzan.


"Jangan ngebut ya!" ucap Moza kemudian Arzan tersenyum dan mengangguk.


.


.


.


.


.


Author menyapa

__ADS_1


Maapkeun baru bisa Up lagi, 2 hari ini pikiranku sedang Blank! 🥺


Othor lagi patah hati, di tinggal pas lagi sayang-sayangnya 😿


__ADS_2