Calon Suami Pilihan Dari Suamiku

Calon Suami Pilihan Dari Suamiku
BAB 20


__ADS_3

Pukul 9 malam di rumah Arzan.


Arzan pulang dengan langkah gontai. Melihat keadaan putranya yang tidak seperti biasanya, Ibu Hulyani segera menghampiri Arzan.


"Nak, kamu kenapa? ibu perhatikan sejak kemarin sepertinya sedang ada masalah?!" ucap ibu Hulyani sambil duduk di tepi ranjang.


Arzan menghembuskan nafasnya pelan.


"Bu, Arzan kemarin membuat satu kesalahan yang teramat besar" jawabnya lirih.


"Kesalahan apa, Nak?"


"Bu, bisa tidak kalau perjodohan antara Arzan dan Istri almarhum dari Tuan Irsyad di batalkan saja. Arzan janji kelak kalau sudah bekerja akan membalas budi dengan cara yang lain."


"Itu jelas tidak bisa, Nak. Keluarga kita bukan hanya berhutang budi tentang harta saja, tetapi juga berhutang budi nyawa."


"Tapi, Bu... Arzan sudah melukai perasaan seorang wanita dan aku sangat mencintainya."


"Nak, coba kamu jujur jelaskan pada ibu apa yang membuatmu sampai merasakan penyesalan seperti ini."


"Aku sudah menghancurkan masa depannya, Bu."


"Maksudnya?" Ibu Hulyani merasa sedikit khawatir dengan ucapan Arzan barusan.


"Bu, Arzan minta maaf. Saya sudah mempunyai kekasih tanpa sepengetahuan bapak dan ibu. Kemarin malam di waktu Arzan tidak pulang ke rumah, bukan menginap di rumah Aksan. Tapi... malam itu saya sudah menghancurkan kehormatan kekasihku, Bu."


Ibu Hulyani kaget mendengar semua ucapan anaknya. Bagaimana tidak, dirinya mengetahui betapa keras suaminya mendidik putranya sedari remaja agar menjadi sosok lelaki yang menghormati setiap wanita. Dan selalu melarang putranya tidak boleh pacaran. Dari Arzan sekolah menengah pertama hingga lulus sekolah menengah atas dirinya selalu patuh terhadap kedua orang tuannya. Bulir kristal bening membasahi di pipi ibu Hulyani. Dengan segera dirinya menyeka air matanya.


"Kamu sudah mempunyai kekasih, Nak?" ucap bu Hulyani sambil menyeka air matanya lagi.


"Arzan minta maaf, Bu. Saya tau ini suatu kesalahan, besok Arzan coba jelaskan kepada bapak, semoga bapak mau mengerti tentang keadaan Arzan sekarang."


"Lekaslah mandi, Nak. Jangan membicarakan tentang hal ini kepada bapak. Kondisi bapak sedang tidak baik." kemudian bu Hulyani segera beranjak pergi dari kamar putranya.


***


Jam 7 pagi, Pak Adam sedang berada di meja makan menyantap sarapan paginya. Kemudian menyuruh Arzan duduk bersamanya.


"Nak, apa kamu sudah siap untuk menemui Nyonya Irsyad?" tanya pak Adam dengan wajah serius.

__ADS_1


"Untuk minggu ini Arzan belum siap, Pak. Karena seminggu ini jadwal kuliah dan tugas dari kampus sudah menumpuk." sahut Arzan berbohong.


"Nak, berjanjilah dengan bapak. Karena lelaki sejati akan selalu memegang apa yang sudah di ucapkannya. Kamu sudah berjanji akan menikahi istri dari almarhum tuan Irsyad. Bapak yakin walaupun perbedaan usia kalian terpaut 4 tahun, bapak sangat yakin nyonya Irsyad adalah wanita yang baik."


"Baik, Pak. Arzan akan memenuhi janji Arzan." ucap Arzan yang terlihat tidak yakin.


***


Di kampus


"Wei, Bro!!" seru Akhsan mengagetkan lamunan Arzan.


"Ngagetin aja, Lo! Moza kok ga keliatan ya?!" ucap Arzan sambil mengedarkan pandangannya mencari Moza.


"Jelas hari ini ngga masuk, Bro! oya bro, gimana kejadian pas sabtu kemaren? apa lo sama Moza udah itu?!" tanya Akhsan penasaran.


"Maksudnya?" jawab Arzan pura-pura tidak mengerti.


"Ayolah bro! ga usah pura-pura bodoh gitu deh! gue yakin lo udah mendapatkannya! gimana bro?! pasti sangat enak ya?!" seru Aksan sambil menghadap Arzan dan mengguncang bahu Arzan dengan kedua tangannya.


"Jujur aku sangat merasa bersalah! aku bakal bikin perhitungan sama Belvina!" ucap Arzan sambik mengepalkan kedua tangannya.


"Maksudmu?" tanya Arzan penasaran.


"Bro, Belvin tu masih suka sama lo! tau sendiri kan sejak SMA dia udah bucin banget sama lo! dia mau pacaran sama gue karena biar bisa deket sama lo! makanya dia sampe ngerencanain kaya gini! gue dukung lo sama Moza, gue yakin kalian berdua emang saling suka, saling cinta. Makanya gue dukung elo" Aksan meyakinkan sahabatnya itu dengan yakin, karena dirinya memang melihat antara Arzan dan Moza memang memiliki perasaan yang sama.


"Tapi.. aku bingung, Aks! Sudah seminggu ini bapak membahas soal istri dari almarhum tuan Irsyad. Kamu sudah tau kan kalau aku sudah di jodohkan sama bapak, dan paginya ketika kejadian itu aku bilang sama Moza kalau aku mau tanggung jawab sama dia. Bahkan kalau dia meminta untuk aku nikahi sekarang juga aku menyangupinya. Tapi dia malah menyuruhku pulang. Dari kejadian itu, aku belum ketemu dia lagi. Sengaja tadi malam aku kerumahnya, menunggu lama hanya ada Luna teman yang sudah dianggap adik oleh dirinya. Dia malah menghindar dariku."


"Udah coba lo telfon?"


"Dari kemarin nomornya ngga aktif, aku ingin tanggungjawab. Aku mau menikahi Moza!" seru Arzan.


"Gini aja, mending lo hubungi Luna. Minta pendapat dan kejelasan dari Luna, siapa tau kan dia bisa kasih solusi. Terus untuk masalah nikah, lo jangan buru-buru. Lo juga masih kuliah, blom mapan. Gimana nasib anak orang lu empanin nantinya kalo lo masih kaya gini. Bukannya gue ga percaya sama lo, Zan. Tapi nikah itu ga semudah yang lo bayangin!" ucap Aksan sambil menepuk bahu kiri Arzan.


"Moza juga bilang begitu, Aks! katanya menikah tak segampang menyatakan perasaan suka, dia menjawab seperti itu."


"Itu berarti dia memberikan waktu buat lo dan sekarang tinggal gimana lo mau ngelanjutin hubungan kalian kedepannya."


"Kamu benar juga, Aks. Tadi pagi bapak membicarakan lagi soal perjodohanku, niatnya bapak sore ini aku harus ke rumah almarhum tuan Irsyad. Di satu sisi, ibu sudah mengetahui apa yang terjadi antara aku sama Moza. Tapi aku takut menyampaikan hal ini dengan Bapak. Akhir-akhir ini juga kesehatan bapak sedang menurun."

__ADS_1


"What? Ibu dah tau, Zan?" tanya Akhsan dengan mata terbelak.


"Iya, aku ngga bisa bohong sama Ibu. Ibu nanti juga mencoba membantu untuk mencari solusinya.


***


Sementara di waktu yang sama di kediaman tuan Irsyad..


"Jadi, Lun apa menurutmu keputusanku benar atau salah?" tanya Moza meyakinkan tentang keputusannya kepada Luna.


"Tidak salah, Nyonya. Menurut saya itu keputusan yang tepat dan sangat brilian kalau menurut saya." jawab Luna serius.


"Ya sudah, tunggu apa lagi? lekas kamu pergi ke rumah orang tua Arzan."


"Baik nyonya, saya sangat bersemangat sekali. Saya yakin orang tua Arzan akan mendukung anda sepenuhnya." ucap Luna, kemudian dirinya bergegas menuju garasi.


Di perjalanan menuju rumah kedua orang tua Arzan, Luna pun sangat kagum akan ketegaran majikannya.


"Nyonya, anda sangatlah bijaksana dan juga sangat detail jika sudah serius melaksanakan sesuatu. Saya bangga bisa menjadi bagian dari orang terdekat anda."


.


.


.


.


.


.


Author menyapa 😊


Hi, pembaca setia novelku #CSPDS jujur novel ini adalah novel pertamaku. Sebenranya akhir-akhir ini othor sedang lumayan sibuk 😔 beberapa baca di komen ada yang minta crazy up. Hari ini othor usahakan ya. Dan saya minta saran dan masukan dari kalian sampai di bab 20 ini, pendapat kalian tentang novel pertamaku ini gimana?


tolong jawab di komentar ya 😊


Mau komentar manis atau pedas akan saya terima semua masukan dari kalian 😊

__ADS_1


salam Othor Batu 😬


__ADS_2