
"Sial! bagaimana mereka bisa mengetahui semua hal tentang bisnis gelap yang aku jalani!! B*jing*n Farid sialan!!" Maki Edgar saat dirinya sudah tertangkap oleh pihak yang berwajib. Edgar di tangkap ketika dirinya sedang berada di rumah bordir dan juga casino gelap ditambah dirinya juga kedapatan bertransaksi narkoba.
Fiqih yang dari awal memang sudah menyusun strategi sangat matang, sangat mudah menangkap Edgar di tempat bisnis prostitusinya. Dan bonus yang dia dapat ketika menangkap Edgar adalah 50 gram sabu-sabu. Edgar bakalan sangat lama menginap di hotel prodeo entah berapa tahun lamanya.
"Kerjamu sangat bagus, Fiqih." ucap Farid yang datang bersama Akhsan.
"Tentu saja tuan Farid, bang Fiqih memang sangat bisa di andalkan. Sebenarnya dia sangat jenius kalau menyusun strategi." Akhsan memuji Fiqih, karena dirinya sudah sangat paham betul tentang Fiqih.
"Jangan terlalu berlebihan, Akhsan. Semua juga karena bantuan Agung dan Toto, makanya rencana ini bisa berhasil" jawab Fiqih.
"Untuk kalian, Agung dan Toto. FF Group akan menjamin setiap karyawannya dengan baik. Jadi setelah kalian berdua bergabung di FF group, keselamatan kalian akan kami jamin. Kalian berdua tidak usah khawatir setelah kejadian ini" ucap Farid memastikan kepada Agung dan Toto.
Sebuan setelah sidang keputusan dari hakim, Edgar mendapatkan hukuman pidana kurungan selama 10 tahun. Dengan denda yang lumayan fantastis jumlahnya. Edgar memang menyewa pengacara handal.
***
Style Arzan saat di kampus
Arzan memang mahasiswa pintar dan berbakat di kampus. Dirinya memang berpenampilan sederhana, namun dirinya sangat di segani oleh teman satu kampusnya dari beberapa negara lain. Sempat ada satu dari teman perempuan kuliahnya yang menyatakan perasaan kepadanya, tapi Arzan dengan tegas menjawab kalau dirinya sudah mempunyai tunangan di negara asalnya itu. Dirinya punya cara tersendiri agar tidak memberikan luka secara langsung di hati perempuan yang pernah mengungkapkan cinta kepada dirinya. Selama Arzan menempuh pendidikannya di Rhode Island tidak ada kendala sama sekali. Dirinya bisa memanfaatkan waktu dengan baik, mengingat dirinya belajar di 2 Universitas sekaligus.
***
Saat ini usia kandungan Moza sudah hampir mendekati HPL, semenjak menginjak usia kandungannya di trimester akhir dirinya fokus hanya di rumah. Dirinya tetap bekerja di rumah, dan Farid begitu bisa di andalkan. Jika ada berkas penting yang harus di tanda tangani Farid lekas turun tangan menuju rumah kediaman Moza. Semenjak itu pula, Moza sangat merindukan sosok suaminya dan juga Arzan. Moza hanya bisa bersabar. Karena dirinya saat ini jarang berkomunikasi Via Skype dengan Arzan. Dari perubahan tubuh Moza yang mulai lebih berisi dan perutnya yang semakin membuncit membuat dirinya tidak mau mengobrol tatap muka bersama Arzan. Arzan pun sedang sangat sibuk-sibuknya, karena dirinya dari awal kuliah menggambil 2 jurusan di kampus yang berbeda.
Moza Arisha Yasmeen
Hari-hari Moza terselamatkan dari yang namanya kebosanan di rumah karena ada Luna Kinandita yang sangat peka terhadap dirinya. Dirinya benar benar merasa beruntung mendapatkan asisten pribadi seperti Luna. Moza sedang memperhatikan Luna yang tampak sedang melamun, kemudian dirinya memanggil Luna. Dirinya tersenyum ke arah Moza
"Iya, Nyonya" sahut Luna sambil menatap Moza sambil tersenyum
Luna Kinandita
__ADS_1
"Perut saya tiba-tiba mules, Luna." ucap Moza sambil mengelus-elus perutnya.
Luna berlari kecil menuju ke arah Moza. Kemudian dirinya menghampiri Moza yang tampak sedang meringis entah sakit atau terlihat sedang tertawa hanya Moza yang bisa merasakannya.
"Nyonya baik baik saja kan? apa perlu saya telfon dokter frans untuk ke sini?" tanya Luna sambik memegang bahu dan tangan Moza.
"Tiba-tiba mereka menendang, Luna. Lihat lah Luna, mereka berdua mungkin sedang bermain bersama" seru Moza sambil menunjuk perutnya yang bergerak-gerak. Kemudian Moza merasakan perutnya melilit. "Perutku mules banget, Luna. Sakit!!!" pekik Moza pelan sambil meringis.
Luna sangat kaget melihat cairan yang mengalir di bawah tempat Moza sedang duduk. Dirinya sempat mempelajari tentang tanda-tanda ibu yang akan melahirkan anak.
"Nyonya, nampaknya ini adalah air ketuban anda yang sudah pecah. Kalau begitu saya segera menghubungi dokter Frans." ucap Luna, kemudian dirinya meraih ponselnya untuk menghubungi dokter Frans.
"Hallo, dokter Frans. Air ketuban ka Moza sudah pecah, saya harus bagai mana dok?" tanya Luna yang tampak bingung.
Di rumah sakit, dokter Frans yang kebetulan baru selesai jam praktek kerjanya dengan segera menyuruh Luna untuk membawa Moza menuju kemari.
"Kamu yang tenang, jangan panik. Segera bawa Moza ke sini, saya akan segera mempersiapkan semuanya di sini" ucap Farid sambil menenangkan Luna.
"Ba ik, dokter. Terimakasih, saya bersama bi Atik nanti akan membawa Ka Moza ke RS" kemudian Luna menaruh ponsel di saku celananya dan mencari bi Atik.
"Bi, air ketuban Nyonya Moza sudah pecah. Apa ini tandanya kalau nyonya akan segera melahirkan?!" tanya Luna kemudian sebelum bi Atik menjawab pertanyaan, dirinya sudah berlalu melangkah menuju lantai atas menghampiri Moza kembali. Luna mengambil tas perlengkapan persalinan yang sebelumnya disiapkan oleh Moza dan dirinya.
"Saya masih bisa di bawa berjalan pelan-pelan, Luna." jawab Moza singkat.
Kemudian Luna memapah Moza dengan hati-hati, sementara bi Atik membawa tas perlengkapan bayi dan juga perlengkapan melahirkan.
Di perjalanan menuju rumah sakit, Moza tiada henti melantunkan rangkaian do'a yang dia yakini agar persalinannya bisa berjalan dengan lacar, cepat dan terhindar dari marabahaya.
***
setelah sampai di RS, 2 orang perawat membawa brankar menuju ke arah Moza yang sedang di papah oleh Luna. Moza sempat menjerit karena kontraksi yang di alaminhya begitu kuat. Dokter Frans segera menghampiri bersama dokter Arumi, yang merupakan dokter spesialis kandungan juga.
"Dokter Frans, apa saya perlu menemani ka Moza di dalam?" tanya Luna pelan.
"Tidak, Luna. Kali ini biarkan 2 orang perawat dan dokter Arumi saja yang menangani Moza. Karena Moza mengalami kontraksi dan juga pecah ketuban secara bersamaan." jawab dokter Frans.
"Apa itu tidak apa-apa, Dok?" Luna begitu sangat khawatir.
__ADS_1
"Kamu yang tenang ya, kita tunggu di sini sambil berdoa untuk kelancaran persalinan Moza" ucap dokter Frans menenangkan Luna.
"Saya mau menelfon ibu Puspa dulu."
Kemudian Luna mengambil ponsel di saku celananya dan menghubungi bu Puspa dengan segera.
"Hallo, bu Puspa... Nyonya Moza sepertinya sebentar lagi akan melahirkan. Sekarang saya sudah di rumah sakit, saya harap anda segera minta izin dengan tuan Farid untuk segera menuju ke sini" ucap Luna
"Bailklah, Luna. Saya akan segera meminta izin untuk bersiap menuju rumah sakit." Ibu Puspa kemudian menutup telfonnya dan menghubungi Farid dengan segera.
Farid yang baru saja mengetahui bahwa sebentar lagi Moza akan melahirkan terlihat begitu panik. Dirinya dengan segera mencari sekertarisnya untuk menghandle pekerjaannya. Kemudian dengan segera dirinya bersama Bu Puspa menuju rumah sakit.
***
Sesampainya di rumah sakit Farid seperti sosok suami bagi Moza, dirinya berjalan menghampiri menanyakan kondisi Moza saat ini. Dokter Frans yang belum tahu benar siapa Moza sekarang ini, terlihat bingung dan bertanya-tanya melihat kedatangan Farid.
"Luna, bagaimana keadaan Nyonya sekarang?" tanya Farid terlihat cemas.
"Masih dalam proses melahirkan, tuan Farid." jawab Luna pelan.
Frans semakin bingung, mengapa sosok tuan Farid yang merupakan orang penting di FF Group bisa berada di sini, dan dirinya kaget ketika Farid menyebut nama Moza dengan panggilan nyonya.
Farid kemudian memilih duduk di samping bi Atik dan juga Bu Puspa. Mereka mendo'akan yang terbaik untuk kelancaran persalinan Moza.
.
.
.
.
Othor lagi sakit, karena lembur terus.
Buat pembaca saya harap kalian bersabar ya.
Di sini chevia sengaja percepat alur ceritanya.
__ADS_1
Pasti para pembaca udah ga sabar kan menunggu kelahiran anak kembar Moza dan juga Nantinya pernikahan Moza dan Arzan juga bakalan di percepat alur ceritanya.