Calon Suami Pilihan Dari Suamiku

Calon Suami Pilihan Dari Suamiku
BAB 31


__ADS_3

Di sebuah gedung tua yang terbengkalai...


"Bodoh kalian semua! mengurus masalah semudah ini saja tidak becus! kalian ber lima sedangkan dia hanya sendiri!" ucap seorang pria sambil menampar pipinya. Sementara sosok lelaki yang di tampar pira tersebut menyeringai sambil menyeka bibirnya yang berdarah dengan jari telunjuknya.


"Tapi bos, dia sekarang nampaknya tidak sendiri. Saya melihat di sekeliling kantor ada beberapa orang yang mengawasi di titik tertentu." jawab pria yang tadi di tampar oleh pria bernama Edgar.


Edgar menyeringai sambil menatap pria di hadapannya.



Visual Edgar.


"Jalankan rencana terakhir! ini juga kesempatan terakhir kalian kalau memang kalian masih ingin menghirup nafas dengan bebas!" seru Edgar sambil melangkah pergi meninggalkan anak buahnya. Dirinya menuju mobil, sesampainya di mobil segera meraih ponselnya di dashboard. Kemudian Edgar mengirim pesan kepada Belvina.


***


Di sisi lain, Belvina sedang berada di apartremen milik Biyan. Dirinya baru saja selesai bermain bersama Biyan. Belvina yang masih berbaring di samping Biyan yang sudah tertidur pun segera mengambil ponselnya. Kemudian membaca pesan dari Edgar.


"Cepat sekarang ke apartemenku, aku tunggu sayang"


Belvina pun segera beranjak dari kasur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa menit kemudian dirinya sudah memakai baju dan merapikan diri. Biyan pun terbangun dan memeluk Belvina dari belakang.



Visual Belvina


"Sayang, Aku masih kangen sama kamu. Masa iya kamu mau pergi?! Aku masih mau bermain lagi bila perlu menginap lah di sini" ucap Biyan kemudian membalikan tubuh Belvina ke hadapannya. Tanpa menunggu jawaban dari Belvina, dirinya melu*t bi*ir Belvina dengan rakus. Belvina pun membalas cium*n Biyan dengan li*r. Biyan mendorong Belvina ke ranjang tanpa melepaskan cium*n mereka. Biyan yang masih polos tanpa sehelai benang pun kemudian menyodorkan pen*snya ke arah mulut Belvina.


Belvina pun melahapnya dengan rakus, memainkan dengan gerakan maju mundur sampai dirinya tersedak karena cairan Biyan menyembur di tenggorokan Belvina. Biyan melepas cel*na d*lam milik Belvina, Belvina memakai dress mini jadi tidak sulit untuknya melepaskan G-str*ng yang dipakai Belvina.


Dengan segera Biyan menyibak dress yang di pakai Belvina dengan kasar, sehingga terdengar suara kain dari bagian dress yang robek. Memasukan pen*snya ke dalam v*gin* Belvina. memaju mundurkan dengan gerakan pelan.


"Aakkhh faster baby, love you" rintih Belvina dengan suara serak dengan deruan nafas yang semakin membuat Biyan bersemangat menggen**t tubuh Belvina. Biyan menarik kedua kaki Belvina dan mengapitnya di atas lehernya dan semakin mempercepat gerakannya. Kemudian Belvina memberi kode agar berganti posisi. Setelah 25 menit berlalu keduanya ambruk secara bersamaan. Mereka pun klim*ks bersama. Biyan masih men*nd*h tubuh Belvina. Dirinya tidak mau melepaskan penyatuan mereka berdua.

__ADS_1


"Sayang cepat bangun, aku harus pulang. Aku ada urusan lagi." ucap Belvina sambil mengelus kening Biyan.


"Aku nggak mau! Aku ingin kita bersama hingga larut malam" jawab Biyan dengan mata tertutup, kemudian dirinya menenggelamkan wajahnya ke pay*d*ra Belvina.


"Tapi sayang... kalau tidak nanti aku akan celaka!" seru Belvina dengan ekspresi wajah terlihat khawatir.


Kemudian Biyan bangun, dirinya pun menyuruh Belvina duduk di sampingnya.


"Belvin... Aku mau ngomong serius sama kamu! Aku tau hubungan kita selama ini sekedar have fun saja. Dan kamu melakukan ini bukan denganku saja. Tapi perlu kamu tau, laki-laki pertama yang mendapatkan kesucianmu adalah aku. Awal kita kenal memang karena dulu kita sama-sama sedang frustasi memikirkan pasangan kita masing-masing. Karena kita terlalu banyak minum akhirnya terjadilah hal itu. Tapi karena sering kebersamaan kita, aku sadar aku mulai sayang dan jatuh cinta denganmu. Aku ingin melamarmu dan menikahimu, jika kamu bersedia. Aku hanya ingin kamu jadi miliku, bukan jadi Mistress." Biyan membelai rambut Belvina yang sedang bersandar di bahunya.


"Apa kamu benar-benar serius mau menikahiku? bukannya kamu tau kalau selama ini aku sudah tidur dengan beberapa pria lain?!" cicit Belvina pelan.


"Aku pun begitu, aku sudah tidur dengan beberapa wanita lain. Tapi denganmu berbeda, aku tau waktu kejadian itu yang pertama buat kamu. Karena waktu itu kamu hanya mengigau memanggil nama seorang pria bernama Arzan. Dan maaf karena aku memanfaatkan kondisimu yang sedang dalam keadaan mabuk." Biyan mengecup kening Belvina dengan lembut.


Belvina menangis dan dirinya memeluk pinggang Biyan dengan erat. "Kalau memang kamu serius mau menikahiku, aku mau bersamamu. Karena aku fikir diriku sudah terlalu kotor dan hina."


Ponsel Belvina berbunyi, ada pangilan masuk dari Edgar. Biyan yang mengetahuinya menyuruh Belvina mengangkat telfonnya. Kemudian Belvina memencet tombol terima telfon, memencet tombol speaker dan tombol rekam panggilan.


"Kenapa kamu belum datang ke sini? aku sudah tidak sabar Belvina! Aku kesal dengan anak buahku yang tidak becus untuk membereskan Farid dan Akhsan!"


"Aku sedang bersama pacarku, dan soal itu aku tidak ikut campur! dari awal aku hanya ingin kamu memberikan sedikit pelajaran kepada Akhsan, bukan untuk melibatkan diriku dengan kelicikanmu itu Edgar!" balas Belvina dengan suara tenang.


" Hahaha, omong kosong! mana ada seorang pria yang mau berhubungan serius dengan perempuan mur*h*n sepertimu! cepatlah kemari sayang! hanya aku yang bisa memanjakanmu bukan?! hahaha..." tawa Edgar begitu merendahkan Belvina.


"Memang ada! dan aku akan segera menikah dengan pacarku. Aku sudah tidak mau berurusan lagi denganmu!" seru Belvina kemudian mengakhiri pembicaraannya dengan Edgar.


Biyan yang sedari tadi penasaran mendengar orang nomor 2 di FF Group di sebut oleh Edgar pun bertanya kepada Belvina.


"Kenapa dia menyebut nama tuan Farid dan Akhsan? jawab jujur, Bel." ucap Biyan sambil memegang lengan Belvina dan menatap dengan tajam.


Kemudian Belvina menceritakan semua tentang rencana jahat Edgar kepada Biyan.


"Bukannya papa kita itu masih di bawah naungan FF Group!" ucap Biyan meyakinkan Belvina.

__ADS_1


Belvina mengangguk, kemudian dirinya berniat membongkar dan memberikan bukti rekaman yang tadi barusan dia simpan juga beberapa rekaman yang sengaja dirinya rekam entah karena firasat atau ada maksud lain. Intinya dirinya menyimpulkan bahwa Edgar ingin menghancurkan perusahaan FF Group dimana papanya juga memiliki saham di FF Group. Dan karena FF Group dirinya sedari kecil bisa hidup dengan mewah.


"Biyan, apa nanti malam kamu bisa mempertemukan aku dengan tuan Farid dan juga Akhsan? karena yang aku dengar dari papa, Aksan sudah mulai bekerja di FF Group. Dan beberapa hari ini terlihat begitu dekat dengan tuan Farid. Aku hanya ingin menyampaikan bukti kejahatan Edgar kepada tuan Farid selaku petinggi di FF Group." ucap Belvina dengan tulus.


"Pasti, nanti aku akan segera menghubungi sekertaris tuan Farid." kata Biyan sambil memeluk Belvina dan mencium kening Belvina dengan lembut. Belvina yang terlihat kelelahan merebahkan tubuhnya di kasur dan tertidur pulas.


Biyan segera mengirim pesan kepada Akhsan.


"Rencana kita berhasil, Akhsan."


Di tempat lain, Akhsan yang membaca isi pesan dari Biyan tersenyum tipis. Kemudian dirinya membalas pesan dari Biyan.


"Bagus, kita jalankan rencana selanjutnya senatural mungkin."


Kemudian Biyan membaringkan tubuhnya dan dirinya memeluk Belvina dari arah belakang. Tanpa sadar Belvina tidur dengan raut wajahnya yang tersenyum bahagia.


Penasaran dengan Visual Biyan gak nih? 😬


.


.


.


Author menyapa


Hai, Hallo 😊


Buat para pembaca #CSPDS yang udah setia baca dan nungguin cerita ini up kembali, sedikit cerita ya.


Chevia akhir-akhir ini memang lagi sibuk dengan pekerjaan Chevia. Karena Chevia ini adalah pedagang online dan juga berjualan makanan online. Beberapa hari sedang banyak orderan snack box. Jadi sangat sibuk dengan kegiatan keseharian Chevia.


Kalau Chevia banyak waktu pasti akan crazy up.

__ADS_1


Jangan lupa like dan coment di bab ini ya.


Terimakasih 😊


__ADS_2