Calon Suami Pilihan Dari Suamiku

Calon Suami Pilihan Dari Suamiku
BAB 36


__ADS_3

Rhode Island 01:30 AM.


Keringat dingin membanjiri tubuh Arzan, dan yang begitu terlihat jelas adalah bulir keringat yang menetes di keningnya. Arzan menggeleng saat dirinya bermimpi melihat Moza sedang merasakan kesakitan karena sesuatu. Dirinya terbelak sadar dengan nafas yang terengah-engah. Kemudian Arzan meraih gelas berisi air putih di atas nakas, kemudian Arzan meminumnya. Arzan meraih ponselnnya. Memencet nomor Moza dan menelfon Moza. Beberapa kali Arzan mencoba menelfon Moza, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Terahir dia berfikir untuk menghubungi Luna. Dengan segera dirinya memencet kontak nomor Luna.


Luna melihat layar ponselnya, panggilan telfon dari Arzan melalui aplikasi Whatsapp.


"Hallo, Arzan? kok masih pakai nomor ini?" jawab Luna.


"Itu ngga perlu di tanyain, Luna. Aku mau tau kabar Moza sekarang, berkali-kali aku telfon ga di angkat telfonnya. Moza ga kenapa-napa kan ?" tanya Arzan dengan suara yang dapat di pahami oleh Luna bahwa Arzan sedang mencemaskan Moza.


"Ka Moza baik-baik aja. Arzan ngga perlu khawatir, Ponselnya memang ketinggalan di rumah. Ka Moza sekarang sedang Yoga bersama temannya kok. Emang kamu cemas kenapa, Arzan?" ucap Luna memastikan. Sebisa mungkin dirinya tidak memberi tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Syukurlah kalau Moza baik-baik aja, Lun. Tadi aku mimpi buruk, di mimpi aku Moza meminta tolong kepadaku seperti sedang menahan sakit."


"Dah dulu ya, Arzan. Aku juga mau lanjut ikutan Yoga."


Luna mengakhiri pembicaraanya dengan Arzan.


***


Moza sedang berjuang dengan sekuat tenaga dan bertaruh nyawa. Setelah 3 jam melewati masa penuh perjuangan, kedua anak Moza pun lahir dengan proses normal. Luna dan dokter Frans yang mendengar suara tangis bayi dari kedua anak Moza pun merasa bahagia.


Bu Puspa yang menunggu menemani proses melahirkan Moza pun menghampirinya.



Bayi kembar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan itu lahir dengan sempurna. Anak laki-lakinya lahir terlebih dahulu dengan selisih jeda 7 menit.


"Selamat, nyonya, mereka sangat tampan dan cantik." ucap bu Puspa sambil menggendong si bungsu.


"Alhamdulillah, mereka terlahir dengan sempurna." ucap Moza sambil menggendong si sulung.



Kemudian dengan segera Moza memberikan ASI pertamanya kepada kedua anaknya secara bergantian. Dokter Arumi yang membantu proses melahirkan Moza pun tersenyum bahagia. Melihat perjuangan pasiennya yang melahirkan tanpa kehadiran sosok suaminya, dokter Arumi kagum akan sosok Moza yang begitu terlihat tegar. Moza sendiri tidak mau berlarut lagi dalam kesedihan. Sekarang setelah kelahiran ke dua anaknya, dirinya berjanji akan selalu tersenyum kepada kedua anaknya.


Kemudian Dokter Frans masuk bersama Luna.


Moza meminta dokter Frans dan Farid untuk !mengadzankan kedua anaknya.

__ADS_1


"Selamat atas kelahiran anak-anak anda, Nyonya." ucap Farid sambil memandangi kedua anak Moza.


Dokter Frans pun kemudian menanyakan perihal nama kepada kedua anak Moza.


"Apa kamu sudah mempersiapkan nama untuk kedua anak ini, Moza?" tanya dokter Frans.


"Untuk anak laki-lakiku, aku memberinya nama..."


" Avaro Fausta Karuniawan "


"Yang artinya adalah laki-laki bijaksana yang selalu memberi keberuntungan"


"Untuk anak perempuanku, aku memberinya nama..."


" Alisha Faustine Karuniawan "


"Yang artinya adalah perempuan mulia yang beruntung"


"Waaah, nama yang sangat bagus. Sangat cocok untuk si kembar." ucap dokter Frans.


"Iya benar, namanya sangat cocok untuk si kembar yang tampan dan cantik." sambung Luna.


Moza sedang melamun, sementara mereka yang berada di ruangan sedang saling berbicara. Kemudian Farid menyadari kalau Moza sedang berdiam diri.


"Iya, Farid. Ini memang hari bahagiaku, dan mas Irsyad di sana mungkin lebih bahagia melihat putra dan putrinya sudah lahir." ucap Moza lirih.


Hening, Bu Puspa yang tadinya sedang ngobrol bersama Luna pun terdiam sejenak.


"Kalian kenapa diam? saya tidak apa-apa kok. Saya hanya mewakili almarhum mas Irsyad yang pastinya bahagia melihat anaknya sudah terlahir dengan selamat dan sempurna." kata Moza, kemudian dirinya mencium kening Avaro yang sedang di gendongnya.


Ada perasaan haru dan kagum dari dalam hati bu Puspa dan juga yang lainnya. Mengingat Moza melahirkan tanpa adanya suami yang mendampinginya.


****


Sementara Arzan masih belum bisa memejamkan matanya, dirinya teramat memikirkan keadaan Moza. Dirinya yakin kalau tadi Luna sedang berbohong kepadanya. Arzan meraih ponselnya kembali dan menulis pesan kepada Moza.


"Moza, entah kenapa malam ini aku gelisah memikirkan keadaanmu. Kamu sedang baik-baik saja kan? aku merasa khawatir kepadamu."


Arzan menghelai nafas panjang, dirinya benar-benar mencemaskan Moza. Malam ini dirinya tidak bisa tidur. Di tempat Arzan sudah menunjukan jam 3 dini hari, sedangkan di Indonesia menunjukan jam 2 siang. Mengingat berbedaan waktu di Rhode Island dan Indonesia adalah 11 jam.

__ADS_1


Arzan sedang memandangi beberapa foto Moza.



Dirinya teringat kembali saat memotret Moza tanpa izin. Moza yang selalu berpenampilan natural membuat Arzan jatuh cinta pada pandangan pertama saat dirinya dulu menolong Moza.



"Aku harap kamu di sana baik-baik saja" ucap Arzan sambil mengusap foto Moza di layar ponselnya. Kemudian dirinya terlelap masih dengan memegang ponselnya.


***


Keesokan harinya Luna datang kembali di rumah sakit, bergantian dengan bi Atik. Luna pun memberikan ponsel Moza yang ketinggalan di rumah.


"Nyonya, nampaknya Arzan benar-benar mengkhawatirkan anda. Karena kemarin dirinya menelfon saya." ucap Luna sambil menyerahkan ponsel milik Moza.


"Makasih, Lun." kata Moza sambil menerima ponselnya. Kemudian Moza menyalakan layar ponselnya. Ada 20 pangilan terlewatkan dari Arzan. Dan 1 pesan chat dari Arzan. Kemudian dirinya membuka pesan chat dari Arzan. Moza tidak lekas membalas pesan dari Arzan. Kemudian meletakan ponselnya di atas nakas.


"Menurutmu, apa Arzan nanti akan menerimaku dengan tulus? jika sudah mengetahui tentang aku Luna?" tanya Moza sambil menatap jendela kaca dengan tatapan kosong.


"Kalau saran dari saya, sebaiknya nyonya melanjutkan komunikasi dengan Arzan seperti biasanya. Jangan beritahu tentang kelahiran putra dan putri anda terlebih dahulu. Mengingat waktu belajar Arzan masih ada waktu 8 bulan lagi. Tentunya anda tidak ingin jika nanti setelah mengetahui semuanya sekarang ini malah Arzan tidak fokus belajar di sana." jawab Luna dengan hati-hati, dirinya tahu benar kalau majikannya sedang galau.


"Kamu benar, Luna. Aku ingin Arzan belajar di sana dengan fokus dan tenang." Kemudian Moza meraih ponselnya lagi. Membalas pesan dari Arzan.


" Aku baik-baik saja Arzan, kemarin memang aku sedang sibuk. Aku sudah bekerja magang, jadi waktu kita benar-benar sedikit, mengingat perbedaan waktu di sini dan di sana yang terpaut 11jam. Di sini sekarang jam 8 pagi, pasti di sana jam 9 malam bukan? Aku sudah mulai bekerja, sudah dulu ya."


Moza menghembuskan nafasnya pelan, kemudian dirinya menghampiri kedua anaknya yang sedang tidur terlelap.


.


.


.


.


.


*Author menyapa

__ADS_1


Maaf ya kalau ceritanya ga seru atau ga menarik. Tapi beginilah novel amatiran pertama yang Chevia tulis memang alur ceritanya seperti ini.


Terimakasih buat pembaca yang sudah mau Like, Coment dan Vote di novel ini. Terimakasih juga untuk para pembaca yang sudah memberi Rate 5 bintangnya dan juga sudah klik tombol favorit di novel ini*.


__ADS_2