Calon Suami Pilihan Dari Suamiku

Calon Suami Pilihan Dari Suamiku
BAB 8


__ADS_3

Tutup, buka kembali jam 3 sore.


Terlihat tulisan dengan papan di pintu tukang tambal ban.


"Yaaah gimana nih, motorku" gerutu Moza pelan.


"Yodah aku anter kamu sampe rumah" sahut Arzan.


"Eh tapi kan kamu mau lanjut ngojek" jawab Moza.


"Gapapa, sans aja kale. Toh aku juga blom nyalain aplikasinya" seru Arzan sambil menyerahkan kembali helm yang semula dilepas Moza.


"Yaudah, beneran gapapa?" tanya Moza sekali lagi.


"Iya beneran gapapa" jawab Arzan singkat. Kemudian segera menyalakan motornya berlalu dari tempat tukang tambal ban.


Di jalan....


"Rumah kamu ngga jauh kan?" tanya Arzan sambil menoleh ke belakang sekilas.


"Enggak kok, abis ini belok masuk perum Asri" jawab Moza sambil menunjuk ke arah sebelah kanan jalan.


Sesampainya di rumah Moza.


Luna yang mendengar suara motor bergegas membukakan pintu.


"Kak Moza dah pula.... ng" ucap Luna tapi kaget karena ada Arzan di samping Moza.


"Looh! kamu kan sopir taksol yang waktu itu kan!" seru Arzan.

__ADS_1


"Eeh ada Arzan" ucap Luna sambil menggaruk tengkuknya yang nggak gatal karena terkejut dengan kedatangan Arzan.


"Kok bisa tinggal bareng sama Moza?" tanya Arzan yang to the poin. Moza pun bingung harus menjawab apa.


Tapi dengan cepat Luna menjawab "Itu karena pas kejadian itu pas kebetulan aku baru di usir dari kostan karena 3bulan nunggak belum bayar, pas aku cerita sama Kak Moza malah di ajak bareng tingal di rumah kontrakannya. katanya Ka Moza sendirian tinggal di sini, ya udah deh aku mau banget tinggal di sini garatis. Iya kan, Ka.Moza?!" jawab Luna dengan berbelit-belit.


Arzan menjawab Owh singkat.


"Duduk dulu sini, Zan. Mau minum apa?" tanya Moza.


"Air putih dingin aja, aku duduk di sini aja ya, aku ngga bisa masuk. Kan aku cowo sendiri di rumah ini, ga enak kalo diliat orang" jawab Arzan sambil duduk di teras.


"Baiklah, bentar ya aku ambilin dulu" jawab Luna, kemudian pergi menuju dapur mengambil air minum.


"Mo.. tadi pas di kampus yang kamu bilang itu beneran kan?!" Seru Arzan sambil menatap ke arah Moza.


"Yang mana?" tanya Moza sambil menggaruk kepalanya.


"Iya, tadi aku dah send pesan sama bu Puspa, beliau keja jadi receptionis di perusahaan yg pernah aku menangi hadiah laptop sama uang 25 juta" jawab Moza sambil mikir lagi harus jawab apa lagi.


"Semoga ada lomba lagi ya, Mo. Aku berharap banget bisa ikutan lomba biar menang kaya loe" ucap Arzan dengan mimik wajah penuh harapan.


"Iya, nanti kalo bu Puspa udah kasih kabar pasti aku bakal kabarin kamu" jawab Moza sambil tersenyum.


*Deeeeeg


"Perasaan macam apa ini!! kenapa jantung gue berdebar-debar melihat Moza tersenyum seperti itu*" gumam Arzan dalam hati, sambil memperbaiki posisi duduknya karena jadi salah tingkah melihat senyum Moza. "Makasih ya, Mo" jawab Arzan gugup, takut kalau Moza tau dia terpukau dengan senyuman Moza barusan.


__ADS_1


Visual Arzan Adama Avi


Luna datang membawa 2 botol air mineral dan menyuguhkan ke arah Arzan dan Moza.


"Maklum kita cuma berdua, masak aja jarang. Yang ada juga beli di warteg. Mentok kalo lagi ada duit ya beli nasi padang" ucap Luna sambil menyodorkan botol minuman ke arah Moza.


"Thanks, Lun. Btw tadi kamu dah beli Ind*mie kan?" ucap Moza sambil meneguk air mineral yang di sodorkan Luna barusan. (Maap yee bukan ngiklan tapi emang Ind*mie itu makanan favorite sejuta umat, apalagi bagi para anak in the kost).


"Udah, sekalian sama telor juga" jawab Luna singkat.


"Kalian jarang masak?" tanya Arzan.


"Mana sempat, keburu telat" ledek Luna sambil cengengesan.


"Kita suka buru-buru, pagi kalo ga beli bubur ayam ya nasi uduk kalo ngga buru-buru banget ya masak telor ceplok kasi kecap nasi anget udah Mantul pastinya" jawab Moza jujur.


"Kapan-kapan aku masakin ya" seru Arzan "Yodah aku pamit dulu ya, ni aku bawa ya airnya" seru Arzan kemudian berpamitan.


Setelah kepergian Arzan Moza dan Luna menghelai nafas panjang.


Huu**uffttt!


"Untung aja tadi kamu gercep Lun" seru Moza sambil meminum kembali air mineral yang tinggal sisa setengahnya.


"Itu tadi apa yang saya pikirkan aja langsung saya ucapin, Ka." jawab Luna jujur.


"Saya sengaja ngambil jurusan yang sama dengan Arzan, Lun. Semoga nanti aku bisa lebih dekat dengan Arzan. Karena dari dulu aku sangat menyukai dunia design. Tapi karena almarhum Ayah sama Ibu untuk mengambil jurusan bisnis."


"Tapi saya salut dengan anda, Nyonya. Anda sangat berbakti kepada kedua orang tua anda. Saya yakin almarhum kedua orang tua anda bangga melihat anda untuk yang sekarang ini, bisa mengelola perusahaan dengan baik."

__ADS_1


"Iya, Lun. Untung waktu itu saya menuruti semua permintaan almarhum Ayah. Ternyata keputusan saya dulu itu tepat." sahut Moza dengan mata yang berkaca-kaca, karena mengingat kembali kenangan bersama kedua orang tuanya.


__ADS_2