
"Ini surat dari seseorang yang aku terima tepat 3 tahun yang lalu" ucap Moza dengan tatapan mataya yang mulai berkaca-kaca.
Arzan pun membuka dan membaca isi surat itu.
"Selamat Ulang Tahun Istriku Moza Arisha Yasmeen"
"Aku minta maaf karena aku tidak bisa menemanimu sampai menua bersama, maaf kalau dari awal aku tidak jujur tentang penyakit ini. Aku sangat berterimakasih dan sangat beruntung bisa bersamamu, walau hanya sebentar saja. Aku bahagia karena rasa sayang dan cinta ini bukan aku saja yang merasakan sejak dulu, demikian juga denganmu istriku.
Maaf kalau kamu kaget dengan beberapa foto sosok laki-laki yang ada dalam map ini.
Dia Arzan Adama Avi, anak pak Adam.
Alasan kenapa aku mau mendonorkan ginjal karena ketulusan pak Adam selama bekerja sedari aku sendiri belum lahir, beliau menjadi sosok bapak disaat aku kecil sendiri diwaktu kesibukan ayah dan ibu waktu bekerja.
Arzan sosok yang baik seperti bapaknya, sampe detik ini pun aku yakin dia adalah sosok lelaki yang baik.
Tepat di usiamu yang ke 25 tahun Arzan genap berusia 20 tahun.
Aku harap kamu bisa memenuhi permintaanku, aku ingin kelak kamu menikah dengan Arzan dengan caramu. Sebelumnya aku sudah berpesan kepada pak Adam untuk menasehati Arzan, jika dia sudah ada jodoh. Tapi sebelumnya aku ingin memastikan Arzan benar-benar mencintaimu dengan tulus bukan karena paksaan dari pak Adam. Aku harap kamu paham dengan semua maksudku, Istriku."
Aku sangat menyayangimu."
*
*
__ADS_1
Arzan mendekat ke arah Moza dan menyeka butiran kristal bening yang hampir menetes di pipi Moza.
"Sekarang aku yakin, kita memang berjodoh. Kamu bilang menerima surat ini tepat 3 tahun yang lalu. Itu artinya pertemuan pertama kita, karena benar-benar tidak di sengaja bukan?" tanya Arzan sambil tersenyum kepada Moza.
Moza menganguk.
"Ya, setelah pertemuan pertama itu. Farid memberikan surat ini kepadaku. Pertemuan kedua waktu kamu mengantarku ke RS aku dan Luna sudah mengetahui tentang dirimu. Maka dari itu aku mengatur semua ini, sampai sekarang ini. Aku minta maaf Arzan, karena selama ini aku sudah banyak berbohong. Sampai aku melibatkan banyak orang untuk membantuku." kata Moza, air mata pun mengalir membasahi kedua pipinya.
Arzan pun mengajak Moza untuk duduk kembali. Semua yang berada di ruangan itu tersenyum lega.
Terutama kedua orang tua Arzan sangat bersyukur untuk malam ini, karena akhirnya putra mereka melamar wanita yang dicintai oleh putranya juga sekaligus wanita yang sudah mereka jodohkan.
Arzan tampak bingung dan bertanya kepada kedua orang tuanya.
"Bapak, ibu apa sebelumnya sudah mengetahui tentang hal ini?" tanya Arzan sambil menatap pak Adam.
"Semua yang ada di sini sudah tahu siapa Moza, eh maksudnya Nyonya Moza, gue juga telat tau bro." ucap Akhsan mencoba mencairkan suasana.
"Arzan..." ucap Moza sambil menatap ke arah Arzan.
"Ada satu hal lagi yang ingin aku katakan" lanjut Moza.
"Katakanlah.." jawab Arzan dengan lembut.
"Sebenarnya aku juga sudah mempunyai 2 orang anak, di awal kita bertemu ternyata aku sedang mengandung anak dari almarhum mas Irsyad. Jadi kamu sudah tau kan alasan aku ke Medan dan memintamu untuk melanjutkan study lagi."
__ADS_1
"Kita ceritakan nanti saja semuanya, apa kamu masih ingat ucapanku? waktu dulu kita..." Arzan menjeda ucapannya.
"Terimakasih Arzan" Moza menyeka air matanya dan tersenyum ke arah Arzan.
Acara melamar Moza pun berjalan dengan lancar. Kedua orang tua Arzan pamit untuk pulang. Karena waktu sudah menunjukan hampir jam 10 malam.
*
*
Arzan mengantar Moza pulang ke rumah utama. Di perjalanan menuju pulang mereka berdua membicarakan tentang ke dua anak kembar Moza. Sesuai dengan apa yang pernah Arzan bilang, mau Moza itu janda atau sudah punya anak sekalipun. Dirinya akan menerima Moza dengan tulus. Dan dirinya merasa lega, karena dirinya mencintai sosok wanita yang ternyata orang yang sama, yaitu istri dari almarhum tuan Irsyad. Arzan tidak marah ataupun kecewa kepada Moza. Justru dirinya merasa beruntung, karena dirinya benar-benar mencintai Moza yang tak lain wanita yang di jodohkan oleh kedua orang tuanya.
Moza sendiri yang awalnya ragu untuk mengungkapkan identitasnya pun merasa bahagia, dirinya benar-benar mencintai Arzan. Walaupun bagi dirinya tidak bisa menghapus semua kenangan tentang almarhum suaminya. Moza menyukai kepribadian Arzan yang tidak arogan, juga tidak haus akan harta dan tahta.
Sesampainya di depan rumah Moza, Arzan segera membukakan pintu mobilnya.
Moza tersenyum sambil memegang cincin di jari manisnya. Arzan pun mengantar Moza sampai depan rumahnya. Dirinya langsung berpamitan untuk segera pulang. Karena waktu hampir menunjukan jam 11 malam.
"Aku pamit pulang ya, besok kan weekend. Aku mau jemput kamu dan juga si kembar. Boleh kan aku memulai pendekatan kepada si kembar." ucap Arzan sambil tersenyum.
Moza pun mengangguk kemudian dirinya mencium punggung tangan kanan Arzan. Arzan masuk kedalam mobil dan melambaikan tangan.
Moza masuk dan segera menuju kamar si kembar, si kembar sudah tertidur pulas. Moza pun mencium kening Alvaro dan Alisha.
"Kesayangan mama, sebentar lagi kalian akan merasakan kasih sayang dari seorang papa."
__ADS_1
Moza pun menyeka air matanya yang mengalir begitu saja.