
"Kenapa bisa begini Vicka! pemotretan untuk model iklannya 30 menit lagi! saya tidak mau tau, harus segera cepat di mulai" seru Farid dengan nada penekanan kepada Vicka sekertarisnya.
"Tapi tuan, model yang harusnya pemotretan sekarang mendadak jatuh dari motornya. Dan kalau harus mencari model pengganti sangat sulit, mengingat model kita adalah pira dari India. Dan dengan waktu kurang dari 30 menit mustahil sekali bisa mencari model pengganti" Vicka menjawab dengan terbata-bata.
"Saya hanya butuh satu menit untuk mencari model penggantinya!" ucap Farid sambil memicingkan alisnya.
"Maksud tuan?" tanya Vicka heran.
"Cepat panggil makeup artisnya dan siapkan baju untuk pemotretan" seru Farid.
Vicka pun langsung memanggil makeup artis yang sudah menunggu di ruangan kerjanya.
"Apa modelnya sudah ada?" tanya makeup artis tersebut.
"Saya yang akan menggantikannya" ucap Farid yakin.
Vicka melongo kaget dan heran.
"Sulit di percaya, apa iya tuan es bisa berpose seperti model profesional?!" batin Vicka.
.
20 menit kemudian Farid sudah siap untuk pemotretan. Dan segera menuju studio pemotretan ke lantai 12.
Sesampainya di studio, fotografer yang hendak memotret sang model terkejut heran. Karena yang datang bukanlah model yang kemarin dirinya temui. Melainkan tuan Farid, orang kepercayaan nyonya Irsyad.
"Tuan Farid, kenapa anda yang menggantikan untuk pemotretannya?" tanya fotografer itu heran.
"Bersiaplah, lekas di mulai" ucap Farid.
"Apa anda yakin tuan?" tanya Vicka memastikan.
"Jangan remehkan saya, Vicka. Kalian liat saja, mari kita mulai." ucap Farid sambil tersenyum cool.
Sepersekian detik Vicka terpana dengan senyuman Farid. Baru kali ini dirinya melihat tuan es atasannya itu tersenyum.
Kemudian acara pemotretan pun di mulai. Tidak di sangka, Farid begitu seperti model profesional.
30 menit kemudian acara pemotretan selesai. Semua kru yang berada di studio kagum dengan Farid, termasuk Vicka yang melongo tidak percaya.
Hasil foto pemotretan Farid
Vicka meneguk salivanya, mengagumi beberapa foto yang dia lihat di kamera sang fotografer.
"Bagaimana bisa tuan es bisa jadi pria setampan ini. Terlihat ramah dan seperti model profesional sungguhan" batin Vicka.
Vicka tidak sadar kalau Farid sedang berada di sampingnya.
"Ekheeem! bagaimana Vicka? kau tadi sempat meremehkanku bukan?" ucap Farid yang mengagetkan Vicka.
"Maaf, tuan" cicit Vicka pelan.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Farid.
"Anda sudah seperti model profesional sungguhan tuan. Saya merasa iklan ini untuk pangsa pasar di India sangatlah cocok dan bagus. Mengingat anda juga berasal dari kota yang sama." jawab Vicka jujur.
Kemudian Farid segera meraih ponselnya dan menelfon Moza.
"Hallo, nyoya. Semua sudah saya atur, sekarang anda bisa ke sana sekarang. 2 jam lagi waktu pulang jam kantor." ucap Farid dengan sopan.
"Baiklah, Farid. Terimakasih, maaf kalau saya selalu merepotkanmu." jawab Moza di seberang sana.
"Tidak, Nyonya. Itu semua memang kewajiban saya." kemudian Farid mengakhiri pembicaraannya di telfon.
***
"Luna, kita ke sana sekarang. Nanti sampai di sana aku ingin masak." ucap Moza sambil meraih tas selempangnya di sofa.
"Baik, Nyonya." jawab Luna singkat.
"Suster, saya titip anak saya dulu. Mungkin saya pulang jam 8 malam" Moza berbicara dengan salah satu suster yang merawat kedua anaknya.
"Baik, Nyonya." jawab suster itu.
Moza dan Luna pun segera berangkat menuju rumah kecilnya. Di tengah perjalanan mobil mereka di hadang motor RX King tepat sudah berhenti di tengah jalan.
__ADS_1
Luna pun memberhentikan mobilnya.
"Nyonya perasaan saya tidak enak, sebaiknya Nyonya di sini dulu biar saya saja yang turun dari mobil." ucap Luna kemudian lekas turun dari mobil. Sementara Moza hanya terdiam terlihat cemas.
"Kalian mau apa? ini kan jalan umum kenapa berhenti di tengah jalan?" tanya Luna dengan judes.
"Cantik, kita hanya mau minta receh buat beli rokok." ucap salah satu dari kedua pria yang berkepala botak sambil cengengesan.
"Bang, saya ini taksol. Ini jalan juga jalan umum, kalau mau dapet uang kerja dong bang. Bukan malakin orang kaya gini.
"Cantik, kita bukan sarjana. SD aja kita berdua ga lulus, mau kerja apa kita! Hahaha..." pria brewokan berambut gimbal itu pun mencolek dagu Luna. Tapi dengan segera Luna menepis tangan pria brewok itu dengan sekali hentakan. Dan Luna menarik tangan pria brewokan itu, kemudian memlintir tangan pria tersebut sampai berbunyi.
"Kreeek"
"Aooooww!!!" seru pria brewokan itu sambil menahan rasa sakit.
"Hei cantik, kamu berani ya melawan kami! apa susahnya kami hanya meninta sedikit uang kepadamu!" seru pria botak sambil hendak menampar Luna.
Dengan segera Luna menangkis tangan pria botak itu, dan kali ini Luna melayangkan bogem mentahnya ke arah pipi sebelah kanan pria botak.
"Buuugghh" tinjuan mantul mendarat di pipi pira botak, seketika pria botak itu menangis karena kesakitan.
"Apa-apaan lu botak! baru gue sentuh aja udah nangis! apa lagi kalo udah gue pukul beneran! Sini gimbal lu serang gue!" Luna pun melambai kan tangannya ke arab pria berambut gimbal.
Pria gimbal itu terlihat marah dan emosi.
"Enak aja manggil gue gimbal! nama gue Bob Marley tau!" seru pria berambut gimbal sambil melayangkan tinju ke arah Luna.
Dengan cepat Luna menangkap tangan pria gimbal dan menguncinya, dengan sekali gerakan pria berambut gimbal itu terbanting mencium lembutnya aspal jalan.
Si botak bukannya menolong malah menggaruk kepalanya bingung.
"Bam, sejak kapan lo ganti nama? nama lo kan Bambang kenapa jadi Bob Marley?!" tanya si botak polos.
"Diem lu! bantuin gue bangun!" seru si Bambang. Kemudian si botak membantu bambang untuk berdiri.
"Eh, Lo berdua ga tau gue ini murid siapa hah?" seru Luna sambil memasang kuda-kuda.
"Murid siapa Lo emang hah?" si Bambang bertanya ketus.
"Gue murid Mad Dog! lu tau kan!" jawab Luna bangga.
"Bohong! gue ga percaya lu murid kang Yayan Ruhian!" Bambang tidak percaya.
"Waduh gawat!" seru si botak.
"Maap neng, kita salah. Maap jangan diambil ati ya neng! kita lagi bingung aja lagi lapar ga ada kejaan udah 3 minggu nganggur" oceh si Bambang.
Luna terdiam, Moza yang penasaran turun dari mobil menghampiri Luna.
Kedua preman itu menatap Moza kemudian menunduk memberi hormat kepada Moza.
"Nyonya Irsyad, kami tidak tahu kalau yang berada di mobil ini adalah anda Nyonya." ucap Bambang dengan sopan.
"Kalian mengenal majikanku?" tanya Luna.
"Ya, kami mengenal beliau. karena beliau pernah sekali ke tempat kami bersama tuan Irsyad." jawab si Botak.
"Memangnya dimana kampung kalian?" tanya Moza.
"Di daerah pinggiran kota ini nyonya, sekarang tempat kami hampir di gusur. Karena tanah yang kami tempati akan di bangun Panti Pijat dan Tempat Karaoke." jawab Bambang.
Moza membuka tas selempangnya. Kemudian memberikan kartu nama Farid kepada Bambang.
"Saya sedang buru-buru. Kalian nanti hubungi saja Farid. Setelah ini saya yang akan menghubungi Farid untuk mengatur kapan kalian akan bertemu Farid." ucap Moza kemudian dirinya mengambil beberapa lembar uang dari tasnya dan menyerahkan kepada kedua pria tersebut.
"Tidak, Nyonya. Kami minta maaf. Sebenarnya baru pertama kali ini kita berdua bertindak bodoh seperti ini, karena sudah tidak ada lagi jalan keluar bagi kami yang ingin menafkahi anak dan istri." ucap Bambang terlihat menyesal.
"Saya ikhlas, dan ingat saya tau walapun penampilan kalian seperti ini, kalian bukan preman. Jadi jangan bertindak bodoh seperti ini lagi. Anggap ini sebagai tanda terimakasih karena kalian berdua telah memberikan informasi penting kepada saya." kata Moza kemudian dirinya melangkah menuju mobil di ikuti dengan Luna. Kedua pria itu melamun sesaat.
.
"Nyonya, kenapa anda malah memberikan uang kepada mereka? apa lagi jumlah uang itu sangat banyak." tanya Luna penasaran.
"Kau tidak mengerti Luna, nanti saja saya jelaskan." Moza pun mengambil ponselnya dan menelfon Farid.
"Farid, cari tau siapa yang mengurusi tanah di pinggiran kota ini. Karena setahu saya, tanah itu milik mas Irsyad dan sudah di ghibahkan untuk pemukiman warga pendatang." ucap Moza dengan nada yang begitu di tekan.
"Kenapa anda tiba-tiba membahas tanah di ujung kota itu, Nyonya. Bukankah sekarang sudah menjadi pemukiman warga pendatang?" jawab Farid.
"Ada yang tidak beres, Farid. Segera cari tahu semuanya." ucap Moza tanpa menunggu jawaban Farid dirinya mengakhiri telfonnya.
__ADS_1
Luna semakin penasaran, tapi rasa penasarannya terpaksa dia pendam. Melihat ekspresi wajah Moza yang tampak serius.
"Luna, saya baru tahu kalau ternyata kamu jago bela diri." kata Moza sambil turun dari mobil. Mereka berdua sudah sampai di rumah kecil milik Moza.
"Dulu waktu smp dan sma saya ikut eskul bela diri, Nyonya" jawab Luna jujur.
Mereka berdua masuk dan Moza segera mencuci tangannya dan menyiapkan beberapa sayuran dan ayam yang sudah di ungkep yang di bawa oleh bi Atik dari rumah utama. Moza pun mulai memasak, di bantu juga oleh Luna.
Setelah selesai memasak, Moza menelfon Arzan.
"Hallo, Arzan. Sepulang kerja bisakah kamu mampir bersama bu Puspa ke sini? aku sudah masak lumayan banyak untuk kalian juga. Anggap ini sebagai syukuran kecil dari aku buat kamu"
"Wah serius, Mo? kebetulan ini kita sudah mau jalan, masih di parkiran kantor tepatnya. Kebetulan aku nganter bu Puspa pulang juga." ucap Arzan yang terdengar senang karena ajakan Moza.
"Iya, nanti kita makan sama-sama. Saya juga mengajak Akhsan ke sini." jawab Moza lagi.
"Thanks banget ya, Mo. Aku bahagia banget punya pacar yang peduli dan perhatian." Arzan sudah tidak sabar mencicipi masakan kekasihnya itu. Arzan tau kalau Moza dan Luna sejak tahu kalau dirinya bisa memasak, mereka berjanji akan belajar memasak juga.
***
20 menit kemudian Arzan dan bu Puspa datang, dan melihat Akhsan sedang duduk di teras rumah.
"Wiiib bro, ganteng banget pake jas" ledek Akhsan.
"Lu juga ganteng, Bro!" sahut Arzan.
Bu Puspa langsung masuk, Arzan dan Akhsan mengekor bu Puspa.
Arzan bertemu pandang dengan Moza. Arzan tersenyum, dirinya merasa rindu yang teramat dalam. Mengingat sejak terahir bertemu saat Moza menjemputnya di bandara.
"Udah dong, Bro jangan di tatap terus! duduk sini gih! gue dah nahan lapar dari tadi" seru Akhsan sambil menepuk pundak Arzan. Arzan kemudian duduk masih dalam keadaan setengah sadar dalam lamunannya.
"Waah, nak Moza dan nak Luna masak banyak banget. Kelihatannya enak nih" kata bu Puspa sambil melihat sekeliling meja makan.
"Kalau rasanya ada yang kurang, harap maklum. Kita baru belajar memasak, bu Puspa." jawab Moza pelan. Kemudian Moza mengambil nasi dan di sodorkan kepada Arzan.
"Ini acara syukuran kamu, silahkan kamu icip-icip dahulu" Moza pun mengambilkan lauk untuk Arzan.
Moza mempersilahkan yang lainnya untuk mencicipi masakannya. Akhsan pun tanpa ragu mengambil nasi, ayam goreng dan tumis tahu pokcoy ke dalam piringnya.
"Waah mantul banget nih, kenapa kalian berdua ngga buka restoran saja nih" ucap Akhsan memuji.
"Tidak semudah itu Akhsan, mau buka restoran modalnya sangat banyak" sahut Luna sambil mengunyah makanannya.
Mereka ber 5 sangat menikmati acara makan malam yang merupakan syukuran Arzan yang sengaja Moza atur secara dadakan.
Usai acara makan malam tiba -tiba ponsel bu Puspa berdering. Kemudian bu Puspa mengangkat telfonnya.
"Ya hallo, tuan Farid ada apa?" tanya bu Puspa.
"Baik, tuan" jawab bu Puspa singkat.
.
"Ada apa bu Puspa?" tanya Moza penasaran.
"Kabar baik buat kalian berdua, Nak. Kalian di terima kerja di FF group." ucap bu Puspa sambil tersenyum.
"Waah serius bu Puspa!" Luna pun heboh.
"Ya benar, besok kalian ke kantor dahulu. jawab bu Puspa.
"Jadi kita bisa kerja bareng, Mo?" Arzan pun terlihat senang mendengar kabar bahagia itu.
"Dan kali ini gue udah terlibat dalam permainan Nyonya Moza. Nyonya Moza terhormat semoga anda dapat menjalankan skenario yang sudah anda atur sendiri. Anda memang wanita special, tak heran banyak laki-laki yang ingin menjadikan anda sebagai istrinya. Karena selain kaya raya anda juga cantik mempesona. Bersyukur anda mencintai Arzan, laki-laki yang benar-benar tulus mencintai anda bukan karena harta kekayaan melainkan dari kesederhanaan anda." batin Akhsan.
.
.
.
.
.
Author Menyapa
Hai, Hallo
Chevia lagi ga bisa tiap hari up date.
__ADS_1
Author butuh piknik 😔 buat refresh my mind 🥺
Terimakasih buat yang sudah Like, coment dan Vote.