
Tepat di hari ini, dimana Arzan merasakan sangat bahagia. Hari ini adalah jadwal penerbangan yang sudah di tentukan oleh Farid untuk kepulangan Arzan ke Indonesia. Arzan menuju bandara terdekat dengan Rhode University tepatnya di T. F Green Airport yang berjarak kurang lebih 30 menit dari tempatnya.
Cuaca di sana sudah memasuki musim dingin, di bulan desember ini adalah pilihan tepat dari Farid agar Arzan tidak terlalu lama menikmati musim dingin seperti tahun sebelumnya.
"Moza, tunggu aku. Aku akan segera pulang" ucapnya sambil menatap halaman kampus tempat ia belajar untuk yang terahir kalinya. Kemudian Arzan menaiki taxi yang sudah dirinya pesan menuju *T. F Green Airport.
***
Sementara di Indonesia
"Nyonya, hari ini Arzan sudah bersiap untuk pulang ke sini." ucap Luna sambil membawakan segelas susu Almond untuk Moza.
"Makasih, Lun. Iya aku tau itu Luna, menurutmu apakah aku harus menjemputnya nanti? atau sesuai rencana dariku saja?" tanya Moza.
"Kalau menurut saya, Nyonya sebaiknya ikut menjemput Arzan di bandara nanti. Tapi jangan kasih tau biar surprise gitu. Nanti kan Akhsan yang jemput Arzan." Luna mencoba memberi usul.
"Bagus juga ide kamu Luna." Moza pun setuju dengan ide Luna.
***
(Skip sampai Arzan sudah tiba di bandara Indonesia)
Arzan sedang berjalan kemudian dirinya melihat Akhsan dari jarak pandang 10 meter. Arzan pun melambaikan tangannya. Akhsan segera berlari kecil menghampiri Arzan.
"Hei yo, whats up bro! long time nosy" ucap Akhsan sambil memberi kepalan tinju ke arah pundak Arzan.
"Kabar gue seperti yang lu liat bro, baik aja bukan?!" sahut Arzan kemudian dirinya nampak sedikit murung.
"Suasana hati lu apa kabar bro?" ledek Akhsan sambil menunjuk arah jantung Arzan.
"Ya begitulah bro, hati gue ga se sehat raga gue" ucap Arzan sambil menunduk lesu.
"Memangnya Hati kamu kenapa, Arzan" terdengar suara seorang wanita sedang melangkah ke arah Arzan.
"Mo.. Moza" Arzan berseru kemudian menjatuhkan tas ranselnya dan juga koper yang sedang ia pegang. Arzan berlari menuju ke arah Moza kemudian langsung memeluk Moza.
"Moza... Aku sangat merindukanmu" Arzan memeluk erat tubuh Moza, kemudian Moza membalas pelukan dari Arzan.
"Aku juga merindukanmu" jawab Moza.
Mereka berdua berpelukan lumayan sangat lama.
"So sweet sekali mereka berdua" tanpa sadar Akhsan sudah merangkul Luna dengan mesra, Luna pun terbawa suasana.
Arzan pun melepaskan pelukannya, kemudian melangkah menuju kopernya.
"Kalian mau sampai kapan seperti itu terus?!" seru Moza sambil melambaikan tangannya ke arah Akhsan dan Luna.
"Eeh! dasar kamu Akhsan cari kesempatan dalam kesempitan!" ketus Luna sambil menginjak sebelah kaki Akhsan.
__ADS_1
"Aduuuh!" Akhsan reflek kesakitan karena kaki kirinya di injak sama Luna.
"Udah jangan berantem, nanti yang ada kalian berjodoh" ledek Arzan.
"Nggak mungkin!" seru Akhsan dan Luna.
Moza dan Arzan pun tertawa melihat kekompakan antara Akhsan dan Luna.
Kemudian mereka ber empat pergi menuju rumah Arzan.
***
Seminggu setelah kepulangan Arzan, kedua orang tuanya mulai membahas tentang perjodohan dirinya dengan Nyonya Irsyad.
Di teras rumah Arzan
"Bapak harap kamu bersedia memegang amanah dari tuan Irsyad. Karena bagaimana pun, bapak sudah berhutang budi dan juga berhutang yawa. Bapak tidak bisa membalas semua kebaikan dari tuan Irsyad. Almarhum hanya ingin, Istrinya menikah denganmu, anak bapak." ucap pak Adam sambil memegang pundak Arzan.
"Tapi pak, bukannya bapak sudah tahu kalau Arzan sudah mencintai wanita lain? dan Arzan juga sudah megambil kehormatan wanita itu. Untuk balas budi, Arzan akan bekerja dengan sungguh-sungguh di perusahaan milik tuan Irsyad. Cinta itu tidak bisa di paksakan pak, Arzan benar-benar sangat mencintai Moza" jawab Arzan sambil menundukan kepalanya, dirinya tidak berani menatap ayahnya.
"Kamu belum pernah bertemu nyonya Irsyad, nyonya Irsyad berusia 25 tahun. Masih sangat muda. Bapak yakin tidak kalah cantik dari wanita yang kamu sukai."
"Cinta bukan masalah karena fisik, tapi di hati Arzan sudah memilih Moza pak. Arzan sudah memutuskan akan menikahi Moza."
"Tapi perjodohan ini tetap harus di laksanakan, Nak"
"Mo... za" seru Arzan.
Kemudian Moza berlari dengan kencang agar segera pergi menjauh dari rumah Arzan.
Arzan pun langsung mengejar Moza. Moza yang berlalri tanpa tujuan kemudian sesampainya di jalan besar segera memberhentikan Angkutan umum dan menaikinya. Arzan tidak sempat mengejar Moza lagi, kemudian dirinya pulang dengan langkah gontai menuju rumahnya kembali.
Sesampainya di rumah Arzan segera masuk menuju kamarnya. Kemudian meraih ponsel mengirimkan pesan kepada Moza.
Moza, aku harap kamu jangan salah paham. Aku habis menentang perjodohan ini. Aku tetap memilih dirimu. Aku tidak peduli walaupun Nyonya Irsyad sangat kaya raya, atau apa lah. Aku hanya memilih dirimu, aku mencintaimu. Hati ini sudah menjadi milikmu.
Arzan mengirimkan pesan kepada Moza. Moza yang baru saja turun dari angkot segera menelfon Luna untuk segera menjemputnya. Setelah menelfon Luna dirinya bertemu dengan dokter Frans yang kebetulan lewan di jalan. Kemudian dokter Frans segera menepi dan memberhentikan mobilnya.
"Moza... Sedang apa kamu di sini? kamu habis menangis?" tanya dokter Frans.
"Tidak, Frans. Aku tidak apa-apa, tadi kebetulan aku bertemu teman lama dan masih sangat terharu sama ceritanya." jawab Moza berbohong.
"Aku antar kamu pulang ya" tawar dokter frans.
"Tidak, terimakasih. Luna sudah mau ke sini menjemputku." jawab Moza sambil menyeka air matanya.
"Bagaimana kabar si kembar? sekarang kalian tidak tinggal di rumah yang dulu lagi ya?" tanya Frans penasaran. Karena dirinya sudah beberapa kali melewati rumah itu terlihat sepi.
"Ak sudah pindah di rumah suamiku Frans. Kalau kamu mau mampir, bisa sekalian nanti tinggal ngikutin kita pulang. Kabar kedua anakku baik, tahap tumbuh kembang mereka berdua juga sesuai dengan umuran bayi di usianya" ucap Moza pelan.
__ADS_1
"Kalau memang kamu tidak keberatan boleh, aku ingin mampir untuk menemui si kembar. Gini-gini aku paman mereka kan?" Frans pun tersenyum ke arah Moza.
Kemudian Luna datang, setelah itu dirinya turun menyapa Frans.
"Eeh dokter Frans ada di sini, lama tak jumpa dok." ucap Luna sambil mengulurkan tangannya. Frans pun membalas uluran tangan dari Luna.
"Iya lama tak jumpa, Luna." sepersekian detik dokter frans mematung saat melihat Luna. Ya, kebetulan Luna habis meeting mewakili Moza di FF Group. Tampilan Luna begitu anggun karena mengenakan pakaian formal.
Luna Kinandita
"Cantik" dokter Frans membatin.
Moza sedang memperhatikan Frans yang sedari tadi memandangi Luna. Kemudian Luna juga segera sadar, dirinya sedang di tatap oleh dokter Frans.
"Frans, kamu gak kenapa-kenapa kan?" tanya Moza yang mengagetkan lamunan dokter Frans.
"Tidak, saya tidak kenapa-kenapa. Hanya saja, ada apa dengan Luna? Hari ini dia tampak berbeda dari biasanya" kata dokter Frans jujur.
"Luna itu memang cantik kalau dirinya mau memoles dengan sedikit make up saja. Kamu pasti kagum kan dengan kecantikan Luna?" bisik Moza ke arah Frans.
"Ya, kamu benar Moza." kemudian Frans masuk menuju mobilnya. Karena melihat Luna juga sudah masuk menuju mobilnya.
Di perjalanan menuju rumahnya, Moza baru membuka pesan chat dari Arzan.
Moza, aku harap kamu jangan salah paham. Aku habis menentang perjodohan ini. Aku tetap memilih dirimu. Aku tidak peduli walaupun Nyonya Irsyad sangat kaya raya, atau apa lah. Aku hanya memilih dirimu, aku mencintaimu. Hati ini sudah menjadi milikmu.
Moza tersenyum membaca isi pesan dari Arzan. Di saat banyak laki-laki pengusaha yang ingin menikahinya agar bisa menggantikan posisi CEO FF Group. Pilihan almarhum suaminya ternyata tidak salah menilai Arzan dan juga kelurganya yang tidak haus akan harta dan tahta. Tinggal selangkah lagi dirinya membuktikan ketulusan cinta dari Arzan.
Luna penasaran dengan ekspresi wajah Moza yang terlihat sedang bahagia. Rasa penasaran Luna terpaksa harus tertunda hingga nanti setibanya di rumah.
.
.
.
.
.
Author Menyapa
Hai, Hallo
Chevia belum bisa sering update ya manteman,
cerita ini akan lanjut di sini saja. Terimakasih like dan coment serta vote dari kalian. Chevia belum bisa balas coment dari kalaian satu per satu
__ADS_1