
Paginya di kampus tempat Arzan kuliah.
"Lo beruntung banget Bro! ini beneran kesempatan yang ga bakal dateng buat ke dua kalinya." suara Akhsan yang ikut meyakinkan Arzan supaya melanjutkan study ke Amerika. "Menurut gue, Moza adalah Dewi Fortuna yang udah di kirim buat Lo! sejak ada dia, gue rasa keberuntungan selalu ada pada diri Lo! Lo ikut lomba menang, dapet laptop canggih. Lo punya impian pengin kuliah di Rhode Island School of Design, akhirnya kesampaian juga kan!"
"Bener juga ya, tapi besok Moza mau pindah ke kota M untuk sementara waktu." jawab Arzan dengan wajah murung.
"Ayolah, Bro! kalian kan sama-sama megejar cita-cita. Moza aja ngedukung lo buat study di Amrik sono, masa lo ga ngedukung dia yang hanya masih di kota Indonesia." ucap Akhsan yang menghibur sahabat karibnya itu sambil menepuk bahu Arzan berulang.
"Tapi kenapa dia harus mendadak gitu, terkesan mau menghindar dari aku."
"Jangan negative thingking dulu bro! inget waktu kemarin lo sakit, bukannya dia yang jagain lo siang pe malem?!"
Arzan terdiam sejenak.
"Aku heran, Aks. Kenapa beasiswa yang aku dapat berbeda dengan yang lain? Dari semua biaya pendidikan, tempat tinggal dan pengeluaran biaya hidup selama aku di sana sudah di jamin oleh FF Group. Terlebih tuan Farid selaku wakil CEO di FF Group mengusulkan agar aku nantinya mendapat gelar ganda, di Rhode Island dan Brown University."
"Dan itu sudah pasti, sebagai gantinya harus bekerja mengabdi untuk FF Group. Setahuku begitu, dan lo bruntung bro! semenjak menang lomba waktu itu kehidupan lo berubah, gue ikut seneng kalo impian lo bisa tercapai." Ucap Akhsan, dirinya paham soal FF Group karena kedua orang tuanya bekerja di salah satu anak cabang FF Group Mamanya sebagai wakil direktur cabang sedangkan Papanya adalah Arsitek senior di Kantor FF Group Utama.
"Jujur aku bingung harus gimana, Aks. Di satu sisi aku sudah di jodohkan dengan Istri dari Almarhum Tuan Irsyad yang tak lain adalah CEO FF Group. Tapi cintaku dan hatiku sudah untuk Moza. Kalau untuk membalas budi, bisakah dengan aku mengabdi sampai akhir usia di FF Group saja. Tanpa harus menikahi Istri dari seorang Bos Besar." ucap Arzan dengan raut wajah yang terlihat murungw
"Kalau menurut gue, lo fokus kuliah dan fokus kejar mimpi lo dulu. Masalah perjodohan kita ikut alurnya saja, tapi saran dari gue sebaiknya tetap lo harus menikah dengan Moza. Karena kalian sebelumnya sudah itu kan?!" Akhsan mencoba mencairkan ketegangan Arzan.
"Udah, jangan bahas itu lagi! itu juga gara-gara kamu dan pacarmu!" seru Arzan sambil melayangkan tinju di pundak Akhsan pelan.
"Ciih, semenjak kejadian itu gue ga liat dia ngampus lagi!" Akhsan mengepalkan tangannya, karena mendengar nama Belvina sama saja mendengar nama musuh bagi dirinya.
Bip..bip..bip
Ponsel Arzan berbunyi, ternyata Moza menelfon dirinya. Dengan segera dirinya mengangkat telfon dari kekasihnya itu.
"Hallo, Mo ada apa?" jawab Arzan
"Aku ingin mengajak kamu makan malam, sebagai perayaan hubungan kita"
__ADS_1
"Baiklah, gimana kalau kita makan malam di resto dekat pantai A?" usul Arzan spontan.
"Tidak, itu pemborosan! kenapa tidak di rumah saja?!"
"Plis, Mo! Aku kan belum traktir kamu saat aku mendapat hadiah lomba dari FF Group" ucap Arzan memaksa.
"Baiklah, tapi ngga usah aneh-aneh ya."
"Siap, ya udah aku tunggu nanti malam ya." Arzan tersenyum sumringah sambil menutup telfonnya.
"Widih, kenapa muka lo jadi sumringah gini, Bro!" seru Akhsan yang heran melihat perubahan mood sahabatnya yang tadinya murung, langsung ceria seketika.
"Moza ngajakin gue makan malam" jawab Arzan yang terlihat gembira ria sehabis menerima telfon dari kekasihnya.
"Widiiih, idaman banget si Moza! gue jadi iri deh"
"Makanya lekas cari pacar bro! kamu ga bakal betah ngejomblo lama-lama" ledek Arzan sambil lari menuju kelasnya.
Sedikit cerita tentang persahabatan antara Akhsan dan Arzan. Sejak sekolah menengah pertama dirinya sangat akrab. Akhsan yang sering sendiri karena kesibukan kedua orang tuanya. Awalnya di titipkan kepada Pak Adam, yang tak lain dulu adalah sopir keluarga Tuan Irsyad. Hampir setiap hari mereka selalu bermain bersama, bahkan Akhsan remaja lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah Arzan.
Jam sudah menunjukan jam 7 malam, Moza sudah bersiap menunggu jemputan Arzan. Beruntung Arzan mempunyai sahabat sebaik Akhsan yang mendukung hubungan antara dirinya dan Moza. Sebelum berangkat, jam 5 sore Akhsan datang ke rumah Arzan. Membawa setelan jas dan juga meminjami mobilnya untuk dipakai Arzan menjemput Moza. Arzan sangat terharu dengan sikap Aksan yang begitu baik terhadap dirinya. Usai bersiap-siap dirinya segera berpamitan dengan bapak dan ibunya. Sedangkan Aksan entahlah, mungkin dirinya sedang berkeliling kota dengan sepeda motor milik Arzan.
15 menit kemudian Arzan sudah sampai di rumah Moza. Dengan segera dia turun dari mobil menghampiri Moza yang sudah menunggu di teras depan rumahnya. Malam ini Moza semakin cantik dengan Dress berwarna hitam dan make up yang minimalis. Sementara Arzan semakin tampan menggunakan jas berwarna abu-abu.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Arzan sambil mengulurkan tangan berharap Moza meraih dan menggandeng tangannya. Moza pun mengulurkan tangan dan menggenggam erat dan berjalan menuju mobil.
Suasana resto di pantai A tidak begitu ramai, karena hari ini adalah hari rabu malam. Berbeda dengan weekend yang selalu ramai. Sesampainya di meja yang sudah Arzan pesan sebelumnya, mereka berdua duduk. Dengan segera seorang pelayan menghampiri mereka berdua. Mereka memesan menu makanan dan minuman yang sama.
Usai makan, mereka berjalan menyisiri tepi pantai di restoran. Arzan menggandeng tangan Moza. Mereka berhenti sambil memandangi bintang dan juga rembulan. Mereka berdua saling berhadapan satu sama lain.
"Aku sudah yakin sama kamu, aku sangat mencintaimu Moza" ucap Arzan dengan lembut.
__ADS_1
Moza tersenyum sambil mengangguk "Aku juga mencintaimu Arzan" jawab Moza sambil menatap kedua bola mata Arzan.
Arzan pun memeluk Moza dengan erat
"Setelah aku kembali, aku akan menikahimu sayang"
ucap Arzan sambil memeluk Moza semakin erat.
Sementara Moza sedikit terkejut, karena Arzan yang tiba-tiba mendekap dirinya begitu erat.
"Aku tunggu dirimu dan aku pegang janji kamu Arzan, walaupun apapun nantinya yang akan terjadi padaku, apa kamu tetap bersedia mau menikahiku?" ucap Moza sambil melepaskan tangannya di pinggang Arzan. Kemudian Arzan melepaskan pelukannya, dan menatap wajah Moza semakin dekat.
"Apapun yang terjadi, kita harus menepati janji kita untuk menikah dan menua bersama" jawab Arzan sambil membelai pipi Moza. Mereka berdua terdiam saling menatap satu sama lain. Kemudian Arzan lebih mendekatkan lagi wajahnya hingga hidungnya menyentuh hidung milik Moza. Mereka berdua memejamkan mata mereka bersamaan.
Hingga akhirnya, Arzan memberanikan dirinya untuk mencium bibir Moza. Moza terdiam beberapa saat, menikmati ciuman yang di berikan Arzan dengan begitu lembut dan dirinya membalas ciuman dari Arzan. Entah mereka berdua berciuman berapa lama, karena mereka benar-benar akan berpisah untuk sementara waktu.
Bersambung...
Author menyapa
.
.
__ADS_1
Hai, hallo aku Chevia 😊 Author yang masih Amateur
Gimana kalau di episode ini dapat 100+ like aku bakalan crazy up sampe 5 episode?