Calon Suami Pilihan Dari Suamiku

Calon Suami Pilihan Dari Suamiku
BAB 13


__ADS_3

Keesokan paginya Luna sudah siap mengantarkan majikannya menuju rumah sakit. Moza pun datang membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Luna.


"Nyonya, kenapa anda duduk di sini?" tanya Luna pelan sambil membenarkan posisi duduknya.


"Saya pengin duduk di sini Lun, biar bisa ngitung dengan jelas mobil yang lewat di jalan" jawab Moza sumringah. Luna yang melihat keanehan majikanya cuma menggelengkan kepalanya pelan, kemudian menghidupkan mesin mobil dan berlalu ke jalan menuju rumah sakit.


"Nyonya saya sudah menghubungi Dokter Frans, kita bukan ke klinik, tetapi ke RS tempat teman nyonya. Kemarin waktu di klinik sekedar menggantikan temannya untuk jaga" ucap Luna sambil tetap fokus menyetir mobil.


Moza tidak begitu fokus mendengarkan apa yang sudah Luna bicarakan. Dirinya fokus menghitung mobil yang lewat berlalu-lalang di jalan raya. Luna tertawa kecil melihat majikannya bertingkah seperti anak TK yang suka menghitung mobil bila di ajak pergi naik mobil atau bus.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. Segera Luna memarkirkan mobilnya di area parkir RS. Mereka berdua turun dari mobil, menuju poli kandungan.


Moza yang baru menyadari kalau dirinya baru saja sampai di rumah sakit, bukan ke klinik dimana kemarin bertemu dengan Frans yang merupakan teman masa kecilnya itu segera bertanya kepada Luna "Bukankah kita ke klinik Frans, Lun? kenapa malah ke sini!" seru Moza sambil turun dari mobil.


"Semalam saya menelfon dokter Frans di kartu nama yang diberikan, ternyata beliau kemarin di klinik sekedar menggantikan jaga temannya, dokter Frans bukan dokter periksa umum. Di kartu namanya juga tertera tulisan spesialis dokter kandungan, Nyonya."


"Ooh gitu, sorry Lun dari tadi terlalu asyik ngitungin mobil" oceh Moza sambil tersenyum tipis.


Sesampainya di poli kandungan, Luna segera memencet tombol yang tersedia untuk mengambil antrian nomor, beruntung saat itu hanya ada 3 antrian saja. Pandangan Moza tertuju pada salah satu ibu hamil yang nampaknya sebentar lagi akan segera melahirkan, kemudian Moza dan Luna duduk di kursi antrian. Moza semakin fokus memperhatikan kedua pasangan itu, matanya berkaca-kaca. Dengan segera mendongakkan kepalanya ke atas agar air matanya tidak tumpah.


Luna menyadari jika sebenarnya majikannya itu merasakan kesedihan yang teramat dalam. Di situasi seperti ini, harusnya bukan dia yang mengantarkan majikannya untuk periksa kehamilan.


Tiba giliran pasangan suami istri yang sedari tadi di perhatikan oleh Moza mendapat giliran masuk ke ruang periksa. Dengan lembut suami dari wanita yang sedang hamil besar itu pun memapah istrinya denga hati-hati. Mereka berdua sangat bahagia terlihat dari raut wajah kedua pasangan tersebut.


Moza menitikan air matanya, dengan segera mengusapkan tangannya kearah wajahya.


"Luna, gimana nanti kalau perutku semakin membesar?" tanya Moza lirih.


"Nyonya yakin saja, kalau rencana dari Tuhan pasti akan Indah" jawab Luna pelan sambil memegang bahu Moza.

__ADS_1


Setelah beberapa menit, tiba giliran Moza ke ruang periksa. Luna ikut mengantarkan Moza menuju ruang periksa.


"Pagi dokter Frans" ucap Luna sambil duduk di kursi yang ada di depan meja kerja dokter Frans.


"Pagi juga Lun, pagi Moza" ucap dokter Frans sambil mempersilahkan Moza dan Luna.


"Ada keluhan atau sekedar periksa kandungan saja, Moza?" tanya dokter Frans.


"Gimana buat ngejelasinnya ya" ucap Moza kelihatan bingung mau menjelaskan gimana.


Luna justru yang menjawab "Saya rasa Ka Moza sejak hamil daya tahan tubuhnya menurun, Dok. Sudah 2x pingsan. Kalau untuk ngidam masih wajar-wajar aja. Juga mulai merasa mual dengan aroma bau-bau, soalnya kemarin Ka Moza mual dengan bau aroma Baso" Luna menerangkan dengan jelas di setiap perkembangan kehamilan Moza. Dirinya kagum dengan Luna, karena Moza tidak menyadari semuanya yang terjadi semenjak hamil. Justru Luna yang begitu sangat peduli dengan dirinya.


"Kalau begitu mari saya periksa" ucap dokter Frans sambil mengisyaratkan agar Moza berbaring di atas brankar. Kemudian dokter Frans menyuruh asisten perawat untuk segera mengecek tensi darah Moza. Tensi darahnya ternyata rendah. Dengan segera dokter frans menempelkan transducer yang sebelumya perut Moza sudah di beri ultrasound gel oleh asisten perawat tadi. Moza melihat ke arah monitor, dilihatnya janin yang berada di dalam perutnya sudah sebesar buah anggur. Dokter Frans pun menjelaskan secara rinci, Moza haya terdiam. Sedangkan Luna begitu serius mendengarkan di setiap kata yang di ucapkan dokter Frans.


"Dok, kalau boleh tau kenapa Ka Moza bisa pingsan?" tanya Luna serius.


"Pada saat hamil, memang sebagian dari beberapa perempuan menghadapi masalah pada kesehatan tubuhnya. Sebagai contoh mudah merasa lelah dan juga sering merasa lemas di sertai pusing. Pingsan saat hamil merupakan hal yang normal terjadi. Ini disebabkan karena sistem kardiovaskular mengalami banyak perubahan. Detak jantung lebih cepat dan jumlah darah dalam tubuh bertambah sekitar 30-50% juga dengan pembesaran pada pembuluh darah, sehingga tekanan darah menurun secara bertahap sementara waktu. Sebagian besar ibu hamil ada yang bisa menyesuaikan diri dengan semua perubahan ini. Sehingga aliran darah ke seluruh tubuh terutama di bagian otak tetap terjaga. Namun juga terkadang ada juga ibu hamil yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan cepat pada kondisi tertentu. Akibatnya, akan merasa pusing dan bisa membuat pingsan seperti yang di rasakan Moza saat ini." ucap dokter Frans menerangkan dengan serius.


Luna mendengarkan di setiap kalimat yang di ucapkan dokter Frans dengan serius sambil manggut-manggut.


"Untuk mencegah supaya tidak mudah pingsan gimana tuh dok?" tanya Luna dengan mimik wajah serius. Sejenak Moza menyikut pinggang Luna.


"Kayaknya yang hamil bukan aku deh Frans, tapi Luna. Liat aja dia serius banget ndengerin semua yang barusan kamu katakan" ledek Moza.


Luna mengerucutkan bibirnya "Iiih Ka Moza buka gitu kali Kak. Kan Luna cuma mau jadi adek yang siaga, ga salah kan ya, Dok"


Frans terkekeh pelan melihat ekspresi Luna yang tadinya serius berubah 180% seperti anak kecil.


"Udah la Mo, jangan ngledek dia. Aku yakin karena Luna memberikan perhatian extra buat kamu" seru dokter Frans.

__ADS_1


"Dokter Frans belum jawab pertanyaan Luna barusan" ucap Luna sambik memanyunkan bibirnya.


"Pingsan dapat terjadi saat otak tidak cukup menerima aliran darah dan Oksigen. Hindari dari berdiri dari duduk terlalu cepat, perbanyak asupan makanan dan minum air putih, jangan sering kepanasan. Harus mengatur pola makan dengan baik untuk menjaga kadar gula darah. Terutama di saat bepergian, bawalah beberapa makanan ringan biar bisa makan kapan aja di saat merasa lapar. Perbanyak makanan yang mengandung zat besi. Yang terpenting hindari tempat yang panas, ramai dan pengap supaya tidak merasa kepanasan." terang dokter Farid.


Luna pun segera paham apa yang di ucapkan dokter Farid. Kemudian setelah merasa puas dengan semua pertanyaanya Luna segera mengajak majikannya pulang.


Moza sangat beruntung memiliki asisten serba bisa seperti Luna. Moza tahu sebenarnya tentang Luna. Luna adalah wanita cerdas.


"Nyonya, setelah ini kita ke supermarket ya." ucap Luna sambil menarik sabuk pengaman dan mengaitkan ke badannya.


"Baiklah, kita belanja sayur, buah dan juga cemilan" jawab Moza antusias.


"Dan juga susu ibu hamil" tambah Luna.


"Ya kamu benar, Lun"


Mereka berdua menuju supermarket yang tak jauh dari RS tadi.


.


.


.


.


.


Like naik pesat setelah bab ini bakalan Up lagi nanti malam.

__ADS_1


__ADS_2