
*Trinng!!
Tidak mungkin, tingkat ketertarikan Arka menurun lagi dan sekarang gak main-main level kecantikan ku turun 50 poin. Apa artinya sekarang aku menjadi jelek lagi???
Seketika level kecantikan aini menurun 50 poin karena tingkat ketertarikan Arka yang berkurang kepadanya.
"Aini awas!" seru Agni saat sebuah bola melesat kearahnya.
*Dug!
"Oh!!"
Semua orang begitu terkejut saat melihat bola tepat menghantam kepala Aini hingga gadis itu ambruk di tepi lapangan.
*Bruughhh!
Agni segera berlari menghampiri Aini yang tergeletak pingsan. Sementara itu Arka pun menghentikan langkahnya dan menoleh kearahnya.
"Dasar bodoh!"
"Ai, kau baik-baik saja kan, Ai bangun!" seru Agni berusaha mengguncang tubuhnya
Melihat semua orang berbondong-bondong mengerubungi Aini, Arka pun buru-buru menghampirinya.
Saat ia hendak menggendongnya Aini tiba-tiba terbangun.
"Minggir!" ucap Arka membuat semua orang langsung memberinya jalan.
Gawat, jangan sampai mereka tahu kalau wajahku berubah menjadi jelek??
Aini buru-buru bangun dan memalingkan wajahnya saat Arka hendak menggendongnya.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja," tolaknya kemudian segera bangun dan berlari menutupi wajahnya.
Ia tetap berlari meskipun kepalanya terasa pusing. Ia tempak sempoyongan membuat semua orang mengkhawatirkannya. Agni yang mengkhawatirkan keadaan Aini buru-buru berlari menyusulnya.
"Dasar bodoh, kamu tidak baik-baik saja!" gerutu Arka saat melihat Aini berlari meninggalkan lapangan basket.
"Aini tunggu!" Agni berusaha menyusulnya, namun ia kehilangan jejak Aini, karena ia berlari begitu cepat.
Aini sengaja duduk dibawah meja untuk bersembunyi dari Agni.
Ia kemudian mengeluarkan cermin kecil dari saku bajunya.
__ADS_1
Ia begitu terkejut saat melihat wajahnya yang tampak membengkak.
Air matanya tiba-tiba menetes, dan tangisnya pun meledak.
"Kenapa susah sekali untuk menjadi cantik, kenapa juga harus ada orang egois seperti Arka yang selalu menilai buruk semua orang yang mendekatinya tanpa mendengarkan alasannya, hiks, hiks,"
Tiba-tiba Manager game muncul dan menghiburnya.
"Cup, cup, cup, jangan bersedih dong, namanya juga perjuangan pasti ada dong rintangannya. Untuk itulah kamu juga harus menjaga sikap mulai sekarang," ucap pria itu mengusap lembut kepalanya
"Apa sikap ku menyebalkan selama ini?" tanya Aini
"Hmm, entahlah, hanya kau yang tahu. Coba saja ingat-ingat apa saja yang sudah kau lakukan pada Arka hingga ia begitu membenci mu," jawab Manager Game kemudian duduk di sampingnya.
Aini kemudian merenung mengingat ingat kembali semua ucapan dan perbuatannya kepada Arka.
Ia kemudian teringat bagaimana ia mencibir Mega saat ia bertanya tentang soal quiz kepadanya.
"Kalau mau pintar ya belajar bukan hanya menyontek," seru Aini dengan ketus saat Mega bertanya padanya
Ia juga masih ingat betul bagaimana tatapan Arka saat melihatnya memaki Mega.
"Ternyata kau sama saja dengan gadis-gadis lain yang memanfaatkan kecantikan mu untuk menindas orang!" ucapnya dengan wajah datar
"Sepertinya sikapku memang kelewatan kepada Mega, meskipun ia sering membully ku selama ini tapi tidak seharusnya aku juga bersikap kasar kepadanya saat ia bertanya kepadaku, gara-gara aku tak menjelaskan kepada dosen dia jadi tidak mendapatkan nilai quiz. Mungkin itu yang membuat Arka membenciku. Dan aku baru sadar jika aku terus berbuat kasar seperti ini maka aku tidak ada bedanya dengan Alexa," kenang Aini
"Kau pasti haus bukan, aku sengaja membelikan minuman ini untukmu,"
"Ternyata kau sama saja dengan yang lain, menggunakan kecantikan untuk menaklukkan seorang pria, menyebalkan!" ucap Arka kemudian meninggalkannya
"Sepertinya aku juga sudah membuat Arka kesal karena terlalu mengejar-ngejarnya. Kenapa aku sampai bersikap norak seperti itu. Benar kata Arka jika aku memang tak ubahnya seperti gadis lain yang berusaha mengejarnya hanya bermodalkan kecantikan saja. Sepertinya aku harus menyelesaikan semua masalah ini, aku harus meminta maaf kepada Mega dan meluruskan kesalahan pahaman Arka," Aini kemudian keluar dari kolong meja
"Nah gitu dong semangat neng nong," tandas Manager Game
"Makasih ya selama ini selalu mensupport aku, btw namamu siapa, kan gak enak kalau manggilnya anu," ucap Aini
"Panggil saja aku Ben,"
"Ok Ben, terimakasih banyak selalu memberiku semangat,"
Aini kemudian bergegas menuju ke toilet untuk membersihkan lukanya.
"Aini, akhirnya ketemu juga!" seru Agni begitu senang saat menemukan Aini
Aini kemudian membalikkan badannya dan tersenyum menatap Agni.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Agni khawatir
"Hmm, aku baik-baik saja kok, terimakasih sudah mengkhawatirkan aku,"
"Ya ampun muka kamu ampe bengkak gini, kamu pasti menangis karena Arka bukan. Dia memang keterlaluan selalu saja seperti itu, selalu membuat siapapun yang mendekatinya menjadi ill feel dengannya," jawab Agni
Syukurlah dia mengira wajahku bengkak karena menangis,
"Gak kok, bukan karena Arka. Aku menangis karena sakit," jawab Aini berusaha mencari Alibi lain
"Baiklah kalau begitu ayo kembali ke kelas, tapi sebelumnya aku make up dulu wajah kamu biar gak terlihat bengkak,"
Untungnya hanya muka saja yang kembali bengkak, coba kalau tubuhku juga kembali melar juga,
Sementara itu Alexa yang diam-diam mengintip Aini tersenyum senang saat melihat wajah Aini membengkak.
"Kau pikir bisa mendapatkan pria tampan, jangan harap Aini. Sampai kapanpun tidak akan pernah ada pria tampan yang akan menyukaimu,"
Tidak lama Aini pun kembali ke kelasnya.
Aini kemudian membuat sebuah surat permintaan maaf. Ia pun kemudian meletakkan surat itu di meja Arka.
Saat jam pulang ia juga menemui dosen mata kuliah ekonomi dan menjelaskan kepadanya tentang Mega yang sebenarnya tidak mencontek saat quiz.
Dengan penjelasan dari Aini membuat sang dosen memberikan kesempatan kepada Mega untuk mengikuti quiz susulan.
Aini juga menemui Mega dan meminta maaf kepadanya atas perbuatan kasarnya tempo hari.
"Maafkan aku yang sudah bersikap kasar waktu itu, maaf juga kalau aku terlambat menjelaskan kepada Pak Arif sehingga kamu harus melakukan quiz susulan," ucap Aini
"Gak masalah Ai, btw makasih ya sudah mau menjelaskan kepada Pak Arif," jawab Mega kemudian menjabat tangan Aini
Aini kemudian berlalu meninggalkan Mega yang akan mengikuti quiz susulan.
"Akhirnya satu masalah selesai, sekarang aku tinggal meminta maaf kepada Arka,"
Aini kemudian kembali ke kelas untuk mengambil tasnya. Ternyata Arka juga belum pulang. Pemuda itu tampak merebahkan kepalanya di meja seperti biasanya.
Aini berjalan perlahan menghampirinya. Ia mengumpulkan keberanian untuk mendekati Arka lagi meskipun sebenarnya ia sangat malu saat harus berhadapan dengannya. Apalagi saat mengingat sikap genitnya saat memaksanya menerima minuman darinya.
"Arka, ada yang harus aku bicarakan?" ucap Aini dengan hati-hati
Lelaki itu kemudian mengangkat kepalanya dan menatapnya.
"Katakan saja, gak usah basa-basi," sahut Arka dingin
__ADS_1
"Aku hanya ingin meminta maaf padamu jika sudah menganggu mu. Maaf jika aku sudah membuat mu tak nyaman,"