CANTIK DENGAN SATU KALI KLIK

CANTIK DENGAN SATU KALI KLIK
16. Berpaling


__ADS_3

"Arrgghhh!, dasar mesum!" seru Aini kemudian mendorong Arka dan berlari meninggalkannya.


Tidak mungkin, bagaimana aku bisa melakukan hal itu.


Arka tampak shock saat mengingat apa yang sudah dilakukannya pada Aini.


Tubuhnya gemetar saat Ia melihat luka di leher Aini.


"Arrgghhh!!" Arka menjerit histeris saat mengingat semuanya. Ia tak mengira jika Aini tak meninggalkannya meskipun ia telah berbuat sesuatu yang membuatnya marah


Bagaimana bisa ia biasa saja dan sedikit pu tidak marah padaku setelah apa yang sudah ku lakukan padanya, sebenarnya apa yang dia inginkan dariku??


"Kamu kenapa, apa kau baik-baik saja?" tanya Aini


Saat gadis itu hendak menyentuhnya Arka langsung menampik lengannya. Ia kemudian membalikkan badannya dan berlari meninggalkan Aini.


"Mau kemana, Itu pintunya terkunci!"


*Brakkk!!


Tanpa berpikir panjang Arka langsung mendobrak pintu ruang kesehatan dan berlari meninggalkan Aini yang masih menganga melihat apa yang terjadi.


"Pintunya terbuka!"


Aini tak menduga jika Arka bisa mendobrak pintu ruangan itu.


"Wah dia mendobraknya, ternyata dia kuat juga," ucap Aini kemudian segera bangun


Sementara itu Dimas yang merasakan firasat yang tidak enak, mencari keberadaan sang Adik Arka.


Ia tak sengaja bertemu dengannya di depan ruang kesehatan.


"Arka...Aku mencari mu kemana-mana ternyata kau ada di sini?" tanya Dimas


"Kau berdarah??" Dimas kemudian mengambil sapu tangannya dan membersihkan darah di pelipis Arka.


"Aku tidak papa, sebaiknya kau tolong saja perempuan yang ada di dalam," jawab Arka kemudian bergegas pergi


Sementara itu Dimas segera masuk dan terkesiap melihat Aini di ruangan itu.


"Ai, apa kau baik-baik saja?" Dimas kemudian menghampiri Aini yang masih terkesiap melihatnya.


Aini hanya bisa mengangguk pelan "Aku baik-baik saja kak," jawab Aini


"Tunggu, lehermu terluka, kau harus berobat,"


Dimas kemudian mengajak Aini menuju ke Klinik tak jauh dari kampus.


Kenapa Dimas selalu bersikap lembut, ramah, dan baik kepadaku. Berbeda dengan Arka.


Kalau begini terus Ku bisa jatuh hati padanya.


"Sepertinya luka nona Aini tidak terlalu parah jadi dia bisa segera pulang," ucap seorang perawat


Dimas kemudian menawarkan untuk mengantar Aini pulang. Namun gadis itu menolaknya.


"Biar aku pulang sendiri saja, terimakasih sudah menolongku," ucap Aini


Ia kemudian segera naik angkutan umum menuju ke rumahnya.


Keesokan harinya Aini memilih datang lebih pagi.


Setibanya di lobby kampus ia melihat Dimas sedang berbincang dengan receptionist.

__ADS_1


"Pagi Ai,"


"Pagi kak,"


"Aku tidak mengira jika kau adalah mahasiswi yang rajin hingga datang pagi-pagi sekali,"


"Aku sudah terbiasa kak,"


"Hmm, begitu rupanya. Lalu apa yang kau lakukan pagi-pagi begini?" tanya Dimas


"Mencari sarapan murah di sekitar kampus," jawab Aini tersenyum menatapnya


"Apa aku boleh ikut?" tanya Dimas


"Tentu saja,"


Setelah menaruh buku-bukunya du dalam kelas Aini kemudian mengajak Dimas menuju ke sebuah kedai bubur ayam langganannya.


"Bubur ayam biasa dua ya," ucap Aini


"Baik neng,"


Aini kemudian duduk di meja paling belakang. Ia kemudian menuangkan teh hangat untuk Dimas.


"Teh tawar hangat, sangat enak di minum sebelum sarapan,"


Dimas langsung meneguk teh itu hingga habis setengah gelas.


"Ternyata benar, enak juga rasanya meskipun hambar," jawab Dimas


Tidak lama pesanan mereka pun tiba.


"Silakan dicoba kak, aku yakin setelah ini kakak akan ketagihan makan bubur di sini," ucap Aini


"Benarkah," Dimas segera menyendok bubur itu dan memasukkannya kedalam mulutnya


"Sudah ku duga," jawab Aini tertawa kecil


Dimas tiba-tiba berhenti mengunyah dan memperhatikan Aini yang tampak begitu lahap menyantap sarapannya.


"Pelan-pelan Ai, nanti tersedak," ucap Dimas kemudian mengusap kepalanya


*Deg!


Lagi-lagi dia berhasil membuat ku tersipu, Andai saja Arka seperti dirimu,


"Ehemm, jangan nakal neng nong!" seru Ben yang tiba-tiba muncul di hadapan Aini


"Astaga, kenapa kau selalu muncul di hadapanku secara tiba-tiba!"


"Apa?" tanya Dimas terkejut


"Ah tidak papa, aku hanya terkejut karena tiba-tiba ada lalat di depanku,"


"Sial, aku dibilang lalat!" gerutu Ben


"Ingat neng nong, kay tidak boleh tergoda pria lain selain target mu," imbuh Ben


Aini buru-buru menyudahi sarapannya dan mengajak Dimas kembali ke kampus.


"Cih, bahkan aku sekarang di cuekin!" gerutu Ben


"Maaf ya kak, lain kali kita bisa sarapan bareng lagi, sekarang aku buru-buru karena harus mengerjakan tugas,"

__ADS_1


"Ok, tapi...."


"Maaf kak, aku buru-buru!"


Saat Aini hendak pergi Dimas tiba-tiba menghentikannya.


"Aini Tunggu!"


"Iya kak," Aini. Buru-buru membalikkan badannya kearah Dimas


Lelaki itu tiba-tiba mendekatkan wajahnya, membuat Aini langsung memerah.


*Deg!


Aini membelakakan matanya saat Dimas semakin mendekatkan wajahnya.


Jangan sekarang kak, aku belum siap.


Aini kemudian menutup matanya.


"Ada nasi yang tertinggal," ucap Dimas kemudian mengambil nasi yang menempel di sudut bibir Aini.


Astaga, betapa malunya aku, hampir saja aku berpikir sesuatu yang memalukan.


Karena malu Aini buru-buru pergi meninggalkan Dimas.


"Hahahahaha, dasar neng nong. Padahal aku sudah memilihkan pria yang sempurna untukmu tapi kau malah tergoda dengan orang lain!" ucap Ben


"Dimas juga sempurna kok," jawab Aini ketus


"Oh jadi namanya dimas toh, sepertinya kamu kecewa karena aku sudah menganggu kencan kalian. Apa aku harus menggantikan Dimas untuk melakukan adegan yang gagal tadi?" goda Ben


"Ish, gak perlu!" jawab Aini dengan ketus


"Ok, apa kau tidak penasaran dengan hadiah yang ku berikan??" tanya Ben


"Hadiah, hadiah apa?" tanya Aini


"Appearance Boster, apa kau tidak penasaran,"


Appearance Boster adalah skill untuk menambah level kecantikan menjadi dua kali lipat.


"Wah bagaimana bisa tingkat ketertarikan Arka meningkat menjadi 70 poin, kapan itu terjadi??"


Aini kemudian mengingat-ingat kapan ia mendapatkan pemberitahuan penambahan poin.


Seketika wajahnya memerah saat ia mengingat ketertarikan Arka meningkat saat pria itu mendusel-duselkan wajahnya saat ia tak sadarkan diri.


"Sial!"


Ben tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajah Aini.


"Meskipun begitu kau harusnya berterima kasih kepada Arka karena sudah membuat mu mendapatkan skill baru. Bayangan saja sekarang poinmu menjadi 170. Untuk sementara poinmu saat ini adalah 30 untuk Cute dan 140 poin lagi bisa kau gunakan untuk mempercantik dirimu yang sekarang," jawab Ben


Tiba-tiba layar game muncul di hadapan mereka.


*Tring!!


"Sekarang kamu pilih saja, kamu mau pakai 140 poin itu untuk CUTE, PURE, LUXURY, ATAU SEXY?" tanya Ben


Aini tampak berpikir keras untuk memilih keempat karakter itu.


"Seandainya kau tidak cantik??"

__ADS_1


Tiba-tiba perkataan Arka terngiang di telinganya.


"Sepertinya aku lebih memilih Pure kali ini, aku tidak mau menjadi menggemaskan tapi aku ingin tampak cantik alami,"


__ADS_2