CANTIK DENGAN SATU KALI KLIK

CANTIK DENGAN SATU KALI KLIK
14. Cukup sekali saja


__ADS_3

"Arka, ada yang harus aku bicarakan?" ucap Aini dengan hati-hati


Lelaki itu kemudian mengangkat kepalanya dan menatapnya.


"Katakan saja, gak usah basa-basi," sahut Arka dingin


"Aku hanya ingin meminta maaf padamu jika sudah menganggu mu. Maaf jika aku sudah membuat mu tak nyaman,"


"Hmm," jawab Arka kemudian kembali merebahkan kepalanya di meja.


Arka tampak acuh menanggapi permintaan maaf Aini yang dikira hanya pencitraan semata.


Melihat sikap menyebalkan Arka membuat Aini semakin membenci pria itu. Ia bahkan menganggap jika Arka bukanlah cinta sejatinya dan berpikir untuk lebih fokus mengambil hati Dimas.


Keesokan harinya Aini sengaja datang ke kampus lebih awal agar bisa memilih tempat duduk. Intinya agar dia tidak duduk berdekatan lagi dengan Arka.


Untuk sementara aku harus menjauhi dia, jangan sampai aku berurusan lagi dengannya.


Ia sengaja memilih duduk di depan agar lebih fokus belajar seperti dulu. Tapi apa boleh buat kali ini dosen meminta untuk duduk sesuai nomor absen karena akan ada ujian mendadak.


Mau tidak mau Aini harus duduk dengan Arka karena absen mereka berurutan.


Oh sial, padahal aku males banget duduk sama dia, tapi apa boleh buat??


Aini tampak lesu berjalan ke deretan bangku nomor dua. Ia duduk di sebelah Arka yang tak sedikitpun meliriknya.


Kenapa kalau liat dia bawaannya pengin mukul aja, kenapa mukanya menyebalkan sekali. Tahan Aini tahan...sabar...sabar....


"Soal ujian kali ini adalah, ibu minta kalian membuat kesimpulan dari bab 5 dari buku modul, waktunya tiga puluh menit jadi cepat kerjakan!"


Semua mahasiswa buru-buru membuka buku modul mereka dan mulai mengerjakan tugasnya.


Sementara Aini hanya termangu karena tak memiliki modul.


"Gimana mau ngerjain kalau buku modul saja gak punya, duh nasib, nasib, kasian banget ya kalau jadi orang miskin. Beli buku modul aja gak sanggup, tapi malah sok-sokan operasi plastik!" celetuk Alexa


Aini hanya menundukkan kepalanya tanpa menghiraukan ucapan Alexa.


Tiba-tiba Arka membuka buku modulnya dan meletakkannya di tengah-tengah, membuat Aini sedikit terkejut dengannya.


"Eh,"


"Gak usah terharu begitu, kerjakan saja dan banyak omong," ucap Arka kembali membuat Aini langsung terdiam


Pada mata kuliah kedua Aini tampak kesulitan karena tak memiliki buku modul. karena dosen killer semua tak ada satupun siswa yang mau meminjaminya. Melihat Aini kesusahan Arkanpun meletakkan buku miliknya di tengah-tengah agar Aini bisa bersama-sama menggunakannya.


Aini yang sengaja menjauhkan kursinya dari Arka tampak kesulitan saat membaca buku itu. Ia sampai memiringkan kepalanya agar bisa membaca dengan jelas isi modul tersebut.


Ya ampun susah banget ya, kalau gini terus lama-lama leherku bisa tengleng sebelah. Tapi bagaimana lagi untuk sementara aku tidak boleh mengganggunya jadi sabar aja deh,

__ADS_1


Arka melirik kearah Aini membuat gadis itu langsung membuang muka.


Sial, gitu doang dia bisa denger??


*Grep!


Aini membulatkan matanya saat Arka menyentuh kursinya.


Mau apa lagi dia.


Tiba-tiba Arka menarik kursi Aini hingga membuat kepala Aini tiba-tiba bersandar di pundaknya.


"Oh...maaf!" seru Aini buru-buru menegakkan kepalanya


"Hmm, sebaiknya relaks saja gak usah terlalu kaku," jawab Arka menoleh kearahnya


*Deg!


Aini tiba-tiba menjadi salah tingkah saat mengetahui diam-diam Arka memperhatikannya.


Meskipun dia itu menyebalkan tetapi sebenarnya dia baik. Buktinya dia mau membagi bukunya denganku. Sudah begitu dia juga menyuruhku berdekatan dengannya agar lebih mudah membaca bukunya. Mungkin selama ini dia tidak ill feel ataupun padaku. Tapu tetap saja aku tidak boleh mengganggunya...


Aini tampak memperhatikan Arka diam-diam, namun Arka yang sadar dirinya sedang diperhatikan oleh Aini langsung melirik kearahnya.


"Eh," Kali ini Aini langsung memasang senyum termanisnya membuat Arka langsung salah tingkah.


*Deg!


"Hmm," jawab Arka kemudian menghela nafas panjang


"Waktunya sepuluh menit lagi!" seru sang dosen


"Apa, 10 menit!" Aini buru-buru menyelesaikan tugasnya itu


"Maaf bisa buka halaman selanjutnya tidak?" tanya Aini


"Hmm,"


Aini buru-buru membuka halaman selanjutnya tanpa menghiraukan Arka.


Karena Aini membuat Kesimpulan begitu cepat membuat ia tampak menguasai buku modul itu.


"Lima menit lagi,"


Mengetahui waktu sudah hampir habis, Arka kemudian merebut buku itu dari Aini dan melanjutkan pekerjaannya. Aini yang tak mau mendapatkan nilai jelek berusaha untuk mengintip halaman selanjutnya, pelan-pelan.


Baru saja Aini hendak membuka halaman selanjutnya, jari telunjuk Arka langsung menyentil tangan Aini hingga gadis itu mengaduh kesakitan.


Semua mahasiswa lagi-lagi menoleh kearah mereka.

__ADS_1


Dosen kemudian memperingatkan mereka untuk segera mengumpulkan pekerjaan mereka. Karena dianggap mengganggu jalannya ujian, keduanya kemudian di hukum untuk membersihkan ruang kesehatan.


Aini dan Arka kemudian menuju ruang kesehatan.


"Maaf ya gara-gara aku terlalu egois jadi membuat kamu di hukum," ucap Aini


"Hmm," jawab Arka dengan wajah juteknya


"Sekali lagi maaf,"


"Bisa gak sih kamu diam!" sahut Arka


"Iya maaf,"


Mendengar kata maaf membuat Arka langsung memasang wajah juteknya.


"Kau ini bisa gak sih berhenti bilang maaf!" kali ini Arka sengaja meninggikan suara membuat Aini langsung terdiam


"Iya,"


"Oi, jangan berisik!" seru salah seorang mahasiswa yang berada di dalam ruangan kesehatan.


"Maaf kak," jawab Aini


"Dari pada minta maaf melulu lebih baik cepat bersihkan ruangan ini atau kau tidak boleh pulang!" seru Arka


"Baik,"


Aini buru-buru mengambil sapu dan membersihkan lantai ruangan itu. Setelah selesai menyapu ia juga merapikan berang-berang yang berserakan di sana. Melihat Aini mengangkat barang-barang berat membuat Arka langsung membantunya.


"Sebaiknya kau mengepel saja, biar aku yang memindahkan kardus-kardus ini," tandasnya


"Baik,"


Aini buru-buru mengambil kain pel dan mempersiapkan air untuk mengepel.


Saat ia sedang mengepel diam-diam ia memperhatikan Arka yang sedang memindahkan barang-barang.


Ku pikir dia itu benar-benar menyebalkan dan egois, ternyata dia tidak sejahat itu. Sebenarnya dia baik hanya saja ia memang tidak ramah,


"Minggir!"


"Eh maaf," Aini buru-buru menepi saat Arka berjalan melewatinya sambil membawa sebuah kardus besar.


"Fiuh!"


"Maaf gara-gara aku kamu harus dihukum seperti ini," ucap Aini merasa bersalah


"Maaf, maaf, memangnya tidak ada kata lain apa dalam otakmu selain minta maaf, memangnya kau ini beo yang harus mengulang setiap perkataan mu!"

__ADS_1


"Uh, dasar sialan" seru Aini tampak berkaca-kaca


"Bukankah sudah ku bilang jika permintaan maaf itu terlihat tulus kalau diucapkan sekali atau dua kali saja. Tapi kalau kau mengucapkannya berkali-kali itu malah membuat mu terlihat tidak tulus dan hanya terkesan seperti pencitraan semata. Sebenarnya kamu tulus meminta maaf atau tidak sih?" tandas Arka membuat Aini terkesiap


__ADS_2