CARI KERJA KOK SULIT?

CARI KERJA KOK SULIT?
Merawat Angka


__ADS_3

"Cara lain? Gimana?"


pertanyaan itu Alma balas dengan senyum misterius.


"Caranya obat ini kita luruhin pakai air, supaya menyatu sama air terus bisa langsung kamu minum" Cara ini biasa ibu alma lakukan saat ia sudah merengek tidak ingin minum obat.


"Emang bisa?"


"bisa lah, sebentar ya"


Alma beranjak ke dapur untuk mengambil sendok, setelahnya ia kembali ke kamar Angka dan mulai meluruhkan obat dengan sedikit di tumbuk. Dan cara itu berhasil, Angka berpikir darimana Alma tau hal seperti ini? kenapa mamah Angka tidak kepikiran ini saat dulu Angka sakit. Jadikan Angka tidak perlu suntik dan menyembunyikan sakitnya, karna ia juga takut di suntik.


"Nah sekarang kamu bisa minum obatnya"


Alma menyodorkan obat yang sudah menyatu dengan air itu, Angka menelan obat itu tanpa takut akan tersedak. Ia meminum air sedikit, Alma tersenyum melihat Angka yang sudah meminum obatnya.


"Harusnya mamah aku kepikiran hal ini sejak dulu, jadikan setiap aku sakit gak perlu sampe ke rumah sakit segala"


"Setiap orangtua kan berbeda pemikiran, mungkin mamah kamu mau yang terbaik jadi nya dia lebih milih rumah sakit buat obatin kamu" Angka mengangguk setuju.


"iya juga sih, kamu tau cara gitu darimana?"


"Dari ibu aku, dulu waktu aku susah minum obat ibu sering ngelakuin hal kaya tadi. Ngeluruhin obat nya supaya lebih gampang aku minum, itu cara yang dilakuin orang jaman dulu. Ibu aku tau cara itu dari Almrhm nenek" Lagi-lagi angka mengangguk, lalu menatap Alma yang sedang sibuk membereskan nakas.


Angka tidak pernah tidak merasa takjub pada gadis di sampingnya ini, ia tersenyum tipis. Alma adalah gadis sederhana dengan hati yang murni. Angka merasakan perasaan aneh jika didekat gadis ini, perasaan dimana dia selalu ingin cepat pulang untuk melihat Alma atau hanya untuk memerhatikan Alma seperti sekarang.


"Kamu kenapa bisa sakit? apa karna terlalu memforsir badan kamu untuk selalu kerja?"


pertanyaan itu membuyarkan lamunan Angka.


"emm semalem aku gak sempet makan karna sibuk ngitung stok bahan di caffe dan ngerjain tugas setelah sampe di apart. Jadi pasti ini aku masuk angin deh"


"Jangan dibiasain nahan lapar, kalau kamu kena maag gimana? masih untung kalo cuma masuk angin. Aku tau sih kamu sibuk tapi yang namanya makan itu harus didahulukan jangan nunggu sampe laper banget baru makan" bukannya kesal mendengar omelan Alma justru Angka malah senang, senyumnya mengembang tipis menatap gadis didepannya.


"Lagian agak aneh juga ya, kamu tu calon dokter bakalan sering nyuruh orang minum obat teratur. Masa kamu sendiri malah takut minum obat, kalau pasien kamu tau pasti mereka bakal ketawa" Angka terkekeh mendengar hal itu dan membenarkan dalam hati.


"Ya gimana lagi namanya trauma, susah dihilangin. Tapi aku beruntung akhirnya ketemu cara gimana harus minum obat tanpa harus nelen bulat-bulat" Alma tersenyum ketika Angka menatapnya.

__ADS_1


"Terus selama ini kalau kamu sakit, gimana cara sembuhnya? kan kamu gak bisa minum obat, apa dibiarin aja sampe sembuh sendiri?" Pertanyaan ini sebenarnya tidak Angka harapkan keluar dari bibir manis Alma.


"Biasanya mamah aku heboh nyuruh ke rumah sakit dan berakhir aku disuntik, meskipun aku harus nahan sakit jarum suntikan itu lebih baik daripada minum obat. Pikir aku dulu" Alma tidak bisa tidak tertawa mendengar hal itu, membayangkan Angka di suntik hanya karna masuk angin. Mamah Angka memang unik. Hening beberapa saat. sampai angka kembali buka suara.


"Alma" panggilan itu membuat pandangan keduanya bertemu, Alma mendadak merasa tersipu melihat senyum manis Angka.


"Makasih ya, udah perhatian dan urusin aku. Berkat kamu sekarang aku ngerasa lebih baik"


Alma mengerjap pelan, lalu dengan cepat mengalihkan tatapannya.


"Emm, sama sama. Kalo gitu aku ke belakang dulu ya mau lanjutin kerjaan" Gadis itu dengan cepat beranjak sebelum angka melihat wajah bersemu nya yang sudah pasti semerah tomat ini.


Angka terkekeh geli melihat Alma yang salting, Angka ingin menikmati momen ini. Lebih lama. Seandainya ia bisa.


****


Kondisi tubuh Angka menjadi jauh lebih baik saat jam menunjukkan pukul 1 siang, setelah minum obat Angka tertidur sangat nyenyak. Mungkin itu efek dari obat yang diminumnya.


Ia sudah bangun sejak 15 menit yang lalu, kemudian memutuskan mengeck ponselnya.


Banyak pesan yang bermunculan begitu ia melihat notifikasi, ada dari mamah nya, dari Renata dan juga beberapa temannya yang menanyakan dimana keberadaan Angka sekarang.


Mom :


angka kamu dimana? tumben pesan mamah gak dibalas.


angka balas pesan mamah.


renata nyariin kamu nih, mau ajak makan siang.


bocah gendeng biar jadi anak durhaka kamu ngabaikan pesan mamah.


^^^Angkara G. :^^^


^^^maaf mah, angka lagi gak enak badan^^^


^^^baru ngecek hp ini.^^^

__ADS_1


Angka menatap pintu kamarnya, kenapa apartemen terasa sunyi? kemana Alma? apa yang sedang ia lakukan?


karna penasaran Angka memilih untuk beranjak, kepalanya masih sedikit pusing tapi itu lebih baik daripada tadi pagi.


Begitu keluar kamar dan melihat seisi ruangan ternyata Alma sedang menyetrika baju di ruangan khusus menggosok dekat dapur. Gadis itu terlihat cekatan dan seperti sudah biasa melakukan pekerjaannya, Angka jadi bingung apa yang tidak bisa Alma lakukan.


Dia sudah cocok menjadi ibu rumah tangga, pasti kalau menjadi suami Alma semua akan terjamin dari kebersihan makanan atau rumah. Semua higienis.


"ASTAGA!!" jerit Alma terkejut begitu berbalik dan melihat Angka yang mematung tepat beberapa meter di belakangnya.


"Kamu ini ngagetin aja, untung aku gak punya riwayat penyakit jantung" Alma mengelus dadanya sedangkan Angka hanya menunjukkan cengirannya.


"Habisnya kamu serius banget nyetrika sampe gak sadar ada aku di belakang kamu"


"Harusnya kamu nyapa atau apa gitu ini tiba-tiba muncul udah kaya jelangkung"


"iya deh aku minta maaf, aku salah. Lain kali aku bakal langsung ngagetin kamu aja gak perlu diem dulu" Angka terkekeh pelan melihat Alma yang langsung memasang wajah datar. Bukannya terlihat seperti orang marah, wajah itu malah terlihat imut menurut nya.


"keadaan kamu gimana? udah enakan?"


Angka mengangguk menjawab pertanyaan itu.


"Udah kok berkat ibu dokter Alma, pasien Angka sudah sembuh sekarang"


Alma memasang senyum gelinya mendengar ucapan Angka, ibu dokter katanya.


"Syukur deh kalo udah mendingan, lain kali kalo kamu ngerasa gak enak badan langsung aja minum obat, tinggal diluruhin kaya yang aku lakuin tadi"


"kenapa aku harus lakuin sendiri? kan ada kamu yang bakal ngelakuin itu"


Ucapan itu membuat Alma tertegun, kenapa kata-kata Angka seperti isyarat bahwa Alma akan selalu mengurusnya ketika sakit? memang alma ini istrinya apa ya? yang akan bersama lelaki itu 24 jam.


"ya aku kan gak selamanya ada di apartemen kamu, kalo misal kamu demam tinggi pas tengah malem gimana? aku gak mungkin keluar rumah malem-malem, bisa-bisa dikepret ibu ntar" Angka kembali terkekeh mendengar kalimat Alma sedangkan si gadis hanya mendengus kesal.


"Ya kamu tinggal lari kalo mau di kepret ibu kamu, masa diem aja kaya patung"


"Iya bisa lari tapi habis itu dicoret dari KK" Wajah masam alma membuat tawa Angka pecah, Astaga gadis di depannya ini benar-benar selalu bisa menghiburnya. melihat Angka tertawa membuat Alma akhirnya ikut-ikutan tertawa, walau ia tidak tau hal lucu apa yang menbuat Angka tertawa.

__ADS_1


Sangking asiknya tertawa mereka tidak menyadari, ada 4 pasang mata yang memerhatikan kedua manusia yang masih asik melempar canda tawa itu. 2 orang itu memerhatikan mereka dengan raut wajah berbeda. Yang satu terlihat terkejut melihat tawa lepas lelaki muda yang sudah sangat lama tidak ia lihat. Dan yang satu lagi melihat pemandangan di depannya dengan kilat cembur di matanya.


kedua orang itu adalah Anita mamah Angka dan Renata calon tunangannya.


__ADS_2