
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, mamah kamu sekarang baik-baik saja tapi kalau bisa jangan sampai buat dia banyak pikiran karna itu bisa mempengaruhi kesehatan jantung mamah kamu" Ucap Heru, dokter pribadi keluarga Tanubrata. Angka menghela nafas lega mendengarnya, dia sudah ketakutan tadi melihat wajah pucat mamahnya.
"Bilang mamah kamu untuk jangan lupa mengkonsumsi obatnya dan kalau bisa juga jangan sampai mamah kamu punya beban pikiran yang berat supaya kondisinya bisa terus stabil" Angka mengangguk lalu berterima kasih pada dokter Heru setelah mengantar dokter Heru sampai ke pintu depan, Angka kembali naik ke kamar mamahnya.
"Mah" panggil Angka lirih lalu mendekat pada Anita yang sudah bangun dan sedang berusaha terduduk di kepala ranjang. Angka duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan mamahnya,
"Mah, jangan terlalu mikirin hal apapun yang memberatkan mamah. Angka gak mau mamah kenapa-kenapa" Meski Angka terlihat dingin dan terkesan selalu mengabaikan sang mamah sejak rencana perjodohan antara dia dan Renata dilakukan tapi didalam hati kecilnya Angka masihlah sangat menyayangi mamahnya dan tidak ingin sampai sesuatu yang buruk terjadi kepadanya.
"Mamah gak akan begini seandainya kamu nurut dan setuju perihal pertunangan kamu dan Renata" Angka memutar bola matanya kesal, kembali lagi ke topik yang sangat Angka benci ini. Angka sadar sekarang pasti mamahnya akan menggunakan sakitnya sebagai alasan kepada Angka untuk menuruti maunya.
"Mah please, kalaupun aku setuju untuk tunangan sama Renata gak dalam waktu cepat" Ucap Angka kesal.
"Tapi kenapa nak? kamu seolah gak setuju banget sama pertunangan ini. Dulu kalaupun kamu menolak tapi kamu tetap nurut sama semua keputusan mamah, sekarang kenapa jadi sangat ngetol untuk membatalkan"
"Mamah tau alasannya kan? aku gak cinta sama Renata"
"Semua cuma perihal waktu--"
"Bukan masalah waktu mah, ini masalah hati. Aku udah coba untuk cinta dan terima Renata tapi hati aku gak bisa bohong, dulu aku nurut aja karna aku masih bisa menghindar dan mengulur waktu tapi sekarang aku berontak karna aku mikir semakin lama mamah semakin maksain kehendak mamah tanpa pikirin perasaan aku" Angka menyela dan berbicara dengan menggebu pada mamahnya, Angka sebisa mungkin menahan gejolak amarah dalam dirinya.
"Ini semua karna pembantu kamu itukan?! Jangan coba bodohi mamah, Angka. Sepintar apapun kamu cari alasan dengan bilang kalo kamu gak ada perasaan apa-apa sama pembantu itu. Tapi mamah tau, mamah bisa liat cinta dimata kamu untuk perempuan itu" Angka melototkan mata, ingin membantah tapi apa yang ibunya ucapkan memang lah benar. Itu kenyataannya.
"Mah, kita udah bahas ini. Kalo ak--"
"Udahlah Angka, akui saja. Tapi mamah hanya ingatkan satu hal sama kamu kalau kamu sampai tolak perjodohan ini. Maka mamah gak akan anggap kamu anak lagi" Angka terkejut tentu saja, mamahnya tega melakukan hal itu untuk orang asing seperti Renata? Hah! yang benar saja.
"Terserah mamah, aku gak peduli yang pasti aku akan tetap pada pendirian aku" Ucap Angka sebelum memilih beranjak meninggalkan Anita yang menjerit memanggil namanya.
__ADS_1
"Angka kembali nak! mamah belum selesai bicara"
Angka tetap melangkah tidak peduli akan jeritan Mamahnya dan tidak peduli juga kalau-kalau jantungnya itu kembali bereaksi. Angka hanya lelah dan ingin cepat-cepat pergi, kepalanya sangat pusing memikirkan hal-hal yang terjadi dihidupnya akhir-akhir ini.
Tapi langkahnya terhenti begitu satu suara menginstrupsi langkahnya untuk berhenti, Angka berbalik menatap Renata yang sedang asik mengecat kuku di ruang santai di lantai 2 ini. Alis Angka terangkat satu seolah berkata 'ada apa? Lo ganggu' ketika tatapan mereka bertemu.
Terlalu sibuk akan kondisi mamahnya Angka jadi lupa soal keberadaan gadis bengis ini, bukannya bertanya atau berbasa-basi menanyakan Mamahnya. Gadis ini malah asik mengecat kuku dan sesekali meniupnya.
"Angka, mau kemana? kita kan belum selesai kangen-kangenan" Renata tersenyum sembari mendekat dengan langkah yang dibuat berlenggak-lenggok.
'Aish perempuan licik ini' Batin Angka kesal.
Renata tersenyum manis namun syarat akan makna ketika melihat wajah Angka yang seolah malas untuk melihatnya.
"Terus? Gue peduli?" Jawab Angka menampilkan wajah malasnya bersiap kembali melangkah tapi suara Renata kembali menghentikannya.
"Almana Paramita, perempuan berumur 20 tahun yang jadi cinta terpendamnya seorang Angka. Gimana ya kalau aku sedikit bermain-main sama dia?"
"Kenapa? kaget ya aku tau soal pembantu kamu itu"
"Jangan sentuh dia, kalau lo coba buat sentuh dia. Gue pastikan lo gak akan pernah lagi bisa lihat matahari" Renata terkekeh mendengar ucapan Angka seolah ucapan itu adalah guyonan untuknya. Angka benci sekali dengan perempuan didepannya ini.
"duhh aku takut" ujar Renata memasang wajah pura-pura takutnya kemudian dia tertawa pelan. "Kamu pikir aku bakalan terintimidasi sama ancaman kamu? Aku bahkan bisa berbuat nekat ke cewe pembantu itu kalau kamu tetap berusaha batalin perjodohan kita"
Angka melihat wajah yang biasanya memunculkan raut manja dan tengil itu kini berubah bak menjadi Dewi Iblis yang mengerikan dan penuh dengan ancaman, dari sini Angka sadar bahwa dia harus berhati-hati pada gadis didepannya ini, dia sangat berbahaya untuk disepelekan.
"Kamu harus terima perjodohan ini. Kalau gak, liat aja apa yang bakal aku lakuin ke pembantu kamu yang centil itu. Kali ini aku gak main-main ka, kamu gak lupakan? kalau aku bisa lakuin apapun yang aku mau tanpa ada satu orangpun yang bisa mencegahnya" Ancam Renata.
__ADS_1
Angka tau bahwa gadis didepannya ini bukan hanya licik tapi juga gila, tapi baru kali ini dia melihat secara langsung kegilaannya. Angka menjadi was-was jangan sampai Alma menjadi korban kegilaan gadis ini. Angka akan melindungi dan menjaga Alma mulai dari sekarang karna Angka tau Renata tidak sekedar mengancam kali ini. Dia harus berhati-hati agar Alma tetap baik-baik saja.
*****
Pukul 5 sore, setelah pertemuannya dengan Risa yang membuatnya jadi kepikiran soal status hubungannya dengan Angka. Sekarang Alma jadi overthinking istilah bahasa yang digunakan anak jaman sekarang apabila mereka terlalu berpikir berlebihan tentang satu hal.
Apa yang dikatakan Risa memang benar, mereka sudah tau perasaan masing-masing. Lalu mereka sekarang apa?
Mau mengikuti saran Risa untuk menanyakan pada Angka langsung tapi Alma malu, dia takut kalau jawabannya tidak sesuai harapan dan kembali membuatnya harus menelan pil pahit. Alma memang tidak ingin berharap lebih, tapi dia juga hanyalah manusia biasa apalagi Alma seorang perempuan yang hatinya mudah goyah. Dia juga ingin kepastian.
"Tapikan Angka mau tunangan, mungkin omongan dia kemarin cuma sekedar ungkapan perasaan yang selama ini dia pendem. Oke Alma jangan baper, inget Angka terlalu jauh untuk bisa lo raih" Gumam Alma.
Sekarang Alma sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan yang dekat dengan apartemen Angka, entahlah Alma hanya merasa tempat ini cocok untuk dijadikan healing. Selama bekerja dengan Angka, dia sering melihat gedung ini saat pergi ataupun pulang ke rumahnya. Dan Alma penasaran ingin memasukinya, jadilah dia disini sekarang.
Dia duduk di bangku yang memang disediakan pihak mall untuk para pengunjung, saat berniat untuk pulang. Ponselnya bergetar, tanda adanya pesan masuk. Alma melihatnya dan tertera nama Angka sebagai pengirim. Panjang umur lelaki ini, Alma baru memikirkan dia malah mengirim pesan.
Angkara G.
Al, bisa dateng ke apart?
Isi pesan itu membuat Alma mengernyit, katanya Alma libur kenapa harus pergi ke apartemen? Meski bertanya-tanya dalam hati akhirnya Alma memilih untuk menghampiri Angka, takut ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan.
Setelah membalas, Alma melangkah menuju apartemen Angka yang hanya berjarak beberapa langkah dari mall tempat Alma berada. Jadilah gadis itu memutuskan untuk jalan kaki saja.
*****
**Hai bertemu lagi dengan mincek si author abal-abal, aku berterima kasih buat kalian yang mau baca cerita ini. Tapi Mincek minta dukungannya dong berupa like, vote and komen. Dukungan dari kalian sangat berharga lho buat mincek supaya semangat update😁
__ADS_1
Oh iya, Mincek juga akan update setiap hari tapi jamnya gak nentu ya. Jadi pastikan kalian baca eps terbaru, jgn sampai ketinggalan.
See you in next part🤍**