CARI KERJA KOK SULIT?

CARI KERJA KOK SULIT?
Menyimpan Rasa


__ADS_3

Alma menatap Angka tanpa berkedip kemudian mengalihkan pandangan ketika Angka balik menatapnya.


"Kamu ngomong apa sih ka? jangan ngawur deh"


"Entah, aku cuma ngasih tau apa yang mengganjal dihati dan pikiran aku. Kehadiran kamu ngebuat aku ragu sama pilihan yang bakal aku ambil ini, padahal tadinya aku udah yakin"


Setelah mengatakan hal itu, Angka menjatuhkan kepalanya dipundak Alma. Gadis itu bergeming, serangan ini terlalu mendadak untuk hati Alma yang mudah mleyot ini. Pengakuan tadi saja masih meninggalkan debaran yang cukup kencang di jantung Alma. Semoga saja lelaki ini tidak mendengar suara jantung Alma.


"Biarin begini sebentar aja ya al" Angka berucap dan berusaha menyembunyikan kegelisahan hatinya. Ia sangat suka pada harum tubuh Alma yang menenangkan ini, wanginya seperti bayi.


"Kamu jangan terlalu deket ka, badan aku bau lho dari pagi kan keringetan mulu" Alma berusaha menggeliat tapi sepertinya Angka tidak peduli dan malah menciptakan gerakan yang lebih parah.


ANGKA MEMELUK PINGGANGNYA!!!


"Gapapa, aku suka"


ucap Angka dengan nafas lelaki itu terasa diceruk leher Alma, aduh kalau begini Alma takut akan pingsan sangking saltingnya. Ini terlalu mendadak dan Alma benar-benar tidak siap.


*****


Setelah pelukan itu terlepas 20 menit yang lalu, akhirnya Alma terbebas. Angka memaksa untuk mengantar Alma pulang meski gadis itu sudah menolak keras.


Mereka sudah sampai di gang menuju rumah Alma, mobil tidak bisa masuk karna gang ini hanya muat untuk motor saja. Jadi Angka hanya bisa mengantarnya sampai sini saja, Alma menoleh pada Angka yang masih bergeming. Kemudian tatapan mereka bertemu.


"Alma aku gak tau kenapa mau cerita hal ini sama kamu. Sebenarnya aku gak pernah ngerasa benci sama mamah, aku cuma kecewa sama keputusan sepihak yang mamah aku ambil. Aku tetap berusaha unutk jadi Angka yang mamah aku kenal, tapi aku memang gak suka sama Renata, dia terlalu kekanakan dan selalu membesar-besarkan masalah sepele"


"Suatu saat aku pasti akan kembali ke rumah dan tinggal sama orang tua ku lagi, tapi aku gak tau kapan pastinya. Karna aku masih belum terima sama pertunangan yang gak aku inginkan ini" Angka menghela nafas kasar dan menyenderkan diri ke kursi mobil. Alma mengelus pundak lelaki itu memberi kekuatan.

__ADS_1


"Kamu pasti bisa laluin semua ini ka, asal kamu sabar semua ini akan ada jalan keluarnya kok" Alma tersenyum ketika tatapan mereka bertemu dan Angka membalas senyuman itu. Hening beberapa saat, sampai...


"Aku bakal pergi ke rumah mamah besok, asal kamu juga ikut" ucapan itu membuat Alma membelalakkan mata, apalagi ini?


"Lho kenapa aku harus ikut? aku bukan keluarga kamu dan aku juga gak kenal sama keluarga kamu, nanti apa kata mereka kalau aku datang tanpa diundang. Ingat lho ka kalo aku ini statusnya adalah pembantu kamu"


"Kenapa harus bawa-bawa status? aku cuma mau kamu ikut kok, nemenin aku kalau-kalau aku ngelakuin hal di luar batas"


"Gak bisa dong Angka, mamah kamu bakalan marah. Aku gak mau, lagian aku bukan siapa-siapa nya kamu"


"Please Al, kali ini aja temenin aku datang ya? Setelah itu aku gak bakal minta tolong aneh-aneh lagi kok sama kamu"


Melihat wajah memohon Angka, jujur saja Alma tidak tega. Lelaki itu seolah sangat berharap Alma mengatakan iya. Tapi Alma takut, pengaruh ibu Angka dan Renata itu sangat kuat. Alma hanya orang biasa, jika dia sampai masuk ke dalam masalah Angka maka hancurlah dia.


Alma hanya diam dengan hati bimbang,


Pada akhirnya hanya bisa mengangguk walau hati dan pikirannya tidak sejalan, banyak ketakutan yang hinggap di diri Alma. Entah mengapa Alma punya firasat buruk soal hari esok.


Angka menatap Alma dari jendela mobilnya, ketika melihat gadis itu menjauh. Angka sedang bertarung dengan pikirannya. ia harap apa yang ada dalam pikirannya bisa berjalan lancar tanpa hambatan. Dia akan mencoba, resikonya akan Angka pikirkan nanti.


*****


Esok harinya, Alma datang dan bekerja seperti biasa. Ketika ia tiba Angka sudah tidak ada di apartemen, mungkin lelaki itu ada kelas pagi. Mengingat sebentar lagi Angka akan lulus sebagai sarjana kedokteran.


Alma merasa bahwa jika ia berharap lebih, ia takut sakit hati. Sebab tau segala hal tentang ia dan Angka begitu jauh, bagai langit dan bumi. Alma bahkan tidak berani walau sekedar berkhayal menjadi pasangan Angka, menjadi seseorang yang penting bagi lelaki itu. Bagi Alma bisa dekat dan melihat Angka seperti ini saja seperti mimpi di siang bolong.


Alma menatap figura Angka yang tersenyum lebar dalam balutan jas, Alma tau itu adalah foto saat perpisahan SMA Angka. Alma pernah melihat pakaian itu dari foto yang risa kirim beberapa tahun lalu. Saat itu Alma menceritakan pada sahabatnya 'Risa' , jika ia penasaran dan sangat ingin melihat bagaimana penampilan Angka menggunakan jas diperpisahan sekolahnya meski sudah pernah melihat Angka menggunakan jas saat perpisahan SMP dulu. Tapi Alma hanya penasaran saja.

__ADS_1


Risa yang memang memfollow akun sosmed Angka dan kebetulan Angka pun membagikan foto perpisahannya pun dengan cepat risa meng-secreenshot dan mengirimkannya pada Alma. Gadis itu ingat, pada hari itu ia sangat kegirangan, Angka terlihat semakin tampan dan dewasa.


"Kamu terlalu jauh ka, aku bahkan gak berani sekedar berkhayal untuk memiliki kamu karna aku tau kita bagaikan langit dan bumi"


Alma tersenyum miris dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Sudah ada cucian menumpuk Angka yang menunggu untuk disentuhnya.


*****


pukul 16.15 Angka sampai di apartemen, ia melihat suasana apartemen yang sepi. Angka memang meminta pada Alma untuk pulang lebih awal untuk istirahat sejenak di rumahnya sebelum angka jemput menuju acara yang berada di rumah mamah nya.


Angka akan menjemput Alma setelah mandi dan merilekskan diri sejenak, sebab angka merasa bahwa hari ini akan terasa lebih lambat dari biasanya. Jadi dia harus mempersiapkan energi yang banyak supaya bisa menghadapi apapun yang terjadi nanti.


Angka memutuskan mengirim pesan pada Alma untuk bersiap-siap karna Angka akan menjemputnya 30 menit lagi. Pesan itu langsung mendapat balasan berupa 'okeee' dengan emot tersenyum.


Angka memutuskan untuk rebahan sebentar untuk menyiapkan niat mandi nya karna jika boleh jujur Angka sangat lelah sekarang dan ingin tidur. Tapi ia harus menyelesaikan ini sebelum semuanya semakin rumit.


30 menit berlalu, Angka sampai di gang rumah Alma. Sebenarnya ia ingin masuk dan meminta izin pada ibu Alma, namun gadis itu menolak dengan alasan bahwa ibunya sedang ke pasar. Angka pun tidak percaya begitu saja, lagipula mana ada orang yang ke pasar di sore hari seperti ini?


Namun Angka hanya membalasnya dengan deheman, gadis itu pikir bisa mengelabui seorang Angkara yang terkenal akan otak licik nya itu. Angka mengirim pesan pada Alma bahwa sebentar lagi dia akan datang untuk jemput nya.


jujur Alma sangat gugup saat ini, bukan hanya gugup tapi Alma juga merasa takut. Alma keluar dari gang dan melihat mobil Angka sudah terparkir.


Ia sampai berkeringat dingin sekarang, Alma saat ini mengenakan rok plisket sepanjang lutut dan atasan hitam lengan panjang. Kecantikan Alma menguar dan Angka dibuat tertegun sesaat, heiii kenapa wajah natural gadis itu sangat cantik begini???


"Kita langsung ke salon ya, gaun yang kamu pakai juga udah ada disana"


Alma mengangguk saja dan kemudian mobil melaju ke tempat tujuan.

__ADS_1


__ADS_2