
Alma dan Angka sedang berada di taman kota yang tidak jauh dari rumah Alma, mereka sejak sampai tadi hanya diam tak bersuara. Lebih tepatnya Angka yang sengaja tidak bersuara karna dia melihat raut wajah Alma yang tampak berbeda hari ini. Sebenarnya ada apa dengan gadis itu?
"Al?" Panggil Angka, seketika lamunan Alma buyar dan dia menoleh pada Angka. Lelaki itu menatapnya lalu tersenyum tipis yang Alma balas dengan senyum singkat.
"Kamu kenapa? Ada yang ganggu pikiran kamu?" Alma melirik Angka sekilas kemudian menggeleng, dia tersenyum tipis lalu menyandarkan kepalanya pada pundak lebar Angka dan langsung disambut rangkulan hangat melingkupi pundaknya. Dia sangat ingin bercerita pada Angka tapi dia takut lelaki itu jadi ikut kepikiran dan pada akhirnya ikut membebaninya, tapi Alma butuh teman cerita untuk kegundahan hatinya ini.
"Tadinya aku ngerasa capek banget, tapi setelah ngeliat kamu, aku ngerasa energi aku keisi penuh lagi" Ucap Alma mendongak menatap wajah tampan Angka yang terkekeh pelan.
"Masa? kalau gitu aku juga butuh isi energi karna aku juga lagi ngerasa capek banget"
Alma menelengkan kepala lalu menatap Angka dengan raut berpikir "Cara isi energi aku gampang kok, cukup peluk aku aja" Lanjut Angka yang langsung mendapat dekapan hangat dari gadis didepannya ini.
"Sekarang udah keisi penuh?"
"Hmm masih kurang sedikit, jadi pelukannya harus agak lama" Lalu mereka sama-sama terkekeh, menikmati momen di sore hari seperti ini dengan deru angin yang berhembus lembut menerpa mereka. Menerbangkan rambut Alma yang memang tidak terikat seperti biasa.
Alma melepas pelukan itu dan menatap Angka, lelaki itupun balas menatap Alma yang termangu. Alma menunduk sejenak, "Angka ada yang mau aku kasih tau sama kamu, ini tentang keluarga aku. Mungkin kamu bakal mengira ini terlalu mendadak karna aku bicara soal keluarga ku tapi aku gak mau nyimpan rahasia apapun yang pada akhirnya buat kamu kecewa"
"Apa itu?" Alis Angka terangkat, menatap Alma intens menunggu gadis itu kembali bersuara.
"Ayah aku punya hutang sama salah satu pengusaha kaya, dia minjam uang 100 juta dengan menggadai sertifikat rumah. Mereka ingin ayah aku bayar semua hutangnya secepatnya, mungkin sebentar lagi aku bakal kehilangan rumah aku. Tapi aku masih ada sedikit tabungan kalau memang harus sewa kontrakan, itu sebabnya juga aku gak milih-milih kerjaan yang penting aku kerja dan bisa bantu ayah bayar hutang"
__ADS_1
Alma menghela nafas kasar sebelum kembali melanjutkan,
"Tadi pagi dua orang suruhan pengusaha itu datang dan nyuruh kami bayar, aku baru tau tadi pagi kalau selama ini ayah bohong dia bilang minjam uang di bank tapi ternyata malah minjem sama orang lain. Aku bingung sekarang Angka"
Angka begitu terkejut mendengar ucapan Alma, rupanya Renata sudah bergerak. Gadis licik itu tidak main-main dengan ucapannya meski Angka tau Renata itu nekat tapi dia tidak berpikir gadis itu bergerak secepat ini. Kalau sudah begini maka Angka harus mulai turun tangan menyusun rencana untuk membantu Alma, tanpa diketahui siapapun termasuk Alma.
"Terus gimana? Apa yang bakal kamu lakuin sekarang?" Tanya Angka mencoba bersikap tenang, meski kepalanya sudah mendidih kesal akibat ulah Renata.
"Gak tau, kalau kami gak sanggup bayar terpaksa rumah itu direlain. Habis mau gimana lagi" Alma mengulum bibirnya tapi segera memasang raut seperti biasa, dia tidak ingin membuat Angka terlalu cemas memikirkannya.
"Tapi kamu tenang aja, aku bakal urus semuanya sendiri. Kamu tolong tetap disamping aku ya? Supaya aku kuat jalanin semua ini, karna kamu kan pengisi energi aku" Angka mengangguk kemudian kembali membawa Alma ke dalam pelukannya. Dia ingin membantu Alma tapi dia juga tau Alma sangat keras kepala, dia pasti akan menolak mentah-mentah bantuan dari Angka. Gadis ini tidak pernah ingin merepotkan orang lain.
"Makasih ya Angka karna udah mau dengerin aku" Angka mengeratkan pelukan mereka "Kamu jangan pernah ngerasa sendiri Al, aku bakal selalu ada disamping kamu, tolong jadiin aku sebagai orang yang bisa kamu andalkan" Alma mengangguk mendengar ucapan Angka, dia merasa tenang sekarang.
"Apapun yang terjadi kita bakal bersama, kamu harus percaya kalau semua akan baik-baik aja" Mereka menutup percakapan dengan saling memeluk, menikmati waktu sore sebelum akhirnya memilih beranjak. Ada hal yang harus Angka lakukan, dia akan mulai menyusun rencana. Angka tidak ingin, Alma kembali mengalami kesulitan karna ulah Renata.
****
Alma melambai sejenak ketika sudah turun dari mobil Angka, menunggu sampai mobil itu hilang dari jarak pandangnya. Waktu menunjukkan pukul 5.30 sore, itu artinya sebentar lagi ayahnya akan pulang. Dan waktunya dia mengintrogasi ayahnya, tentang kepada siapa dia berhutang dan kemana semua uang yang dia beri selama ini untuk membantu ayahnya membayar hutang. Alma hanya butuh jawaban tapi dia tidak akan menghakimi ayahnya.
Begitu sampai di rumah Alma disambut oleh ibunya yang duduk di teras rumah, seolah menunggu kedatangan seseorang. Apa ibunya sedang menunggu ayah pulang?
__ADS_1
"Bu, ngap--"
Plakk!!
Wajah Alma tertoleh kesamping begitu tamparan kuat ibunya mendarat dipipi tembamnya, wajah Alma terasa nyeri tapi hatinya lebih dari sekedar nyeri. Dalam 20 tahun hidupnya baru kali ini ibunya melakukan kekerasan, selama ini ibunya selalu menjadi sosok penuh kelembutan dalam keluarganya. Tapi sekarang bisa Alma lihat raut datar dan tatapan marah itu, tertuju padanya entah karna sebab apa.
"Beraninya kamu bohong ibu selama ini?! Ibu percaya sama kamu Alma! Lalu apa balasan kamu berbohong sama ibu?!" Suara keras ibunya membuat Alma memejam sejenak, dia masih mencoba mengerti situasi. Kebohongan apa yang ibunya maksud?
"Bohong? Alma bohong soal apa bu?" Alma bertanya dengan nada lembut, namun ibunya malah melotot tajam dan menyeretnya masuk ke dalam rumah lalu menghempaskan tubuh Alma. Nafas wanita setengah baya itu memburu.
"SOAL PEKERJAAN KAMU YANG TERNYATA SEORANG PEMBANTU, MASIH BERANI KAMU TANYA KEBOHONGAN APA YANG KAMU LAKUIN?!" teriakan itu menggema, gadis itu melotot kaget. Darimana ibunya tau soal kebohongan Alma? siapa yang membocorkan rahasia ini pada ibunya? Batin Alma bergelut.
"Alma, kenapa kamu bohong sama ibu? kenapa kamu gak jujur?" Suara itu melemah ditambah isakan pelan milik ibunya, Alma meraih kaki ibunya dan memeluk kaki itu dengan tangisnya pula.
"Bu, Alma gak mau buat ibu kecewa karna kerja sebagai pembantu, Alma tau ibu gak mau Alma merendahkan diri karna bekerja sebagai pembantu tapi Alma gak punya pilihan bu. Maafin Alma karna milih untuk berbohong" Rosita mencoba menahan isaknya meski gagal, dia benar-benar lelah hari ini. Begitu banyak kejutan yang datang padanya, belum bernapas karna satu masalah datang pula masalah yang lain.
"Ibu mau kamu berhenti kerja, tadi sahabat kamu yang bernama Renata datang dan memberitahu semuanya sama ibu. Termasuk tentang lelaki yang sering datang kesini, dia bukan bos kamu di caffe kan? tapi dia majikan kamu"
Alma terkejut bukan main mendengar hal itu, rupanya Renata. Dialah tamu tak diundang yang mencoba merusak hidup Alma, apa ini adalah rencana gadis itu untuk menjauhkan Angka darinya?
"Dia bilang dia sengaja kasih kamu kerjaan sebagai pembantu di apartemen tunangannya karna kamu butuh kerjaan, tapi kamu malah mencoba merebut tunangannya, apa benar itu Alma? apa benar kamu juga menjual harga diri kamu, demi cinta yang ternyata udah jadi milik orang lain?"
__ADS_1
Pertanyaan itu hanya semakin membuat Alma bungkam.