
Alma memasuki apartemen Angka, keadaan gelap gulita. Sepertinya Angka lupa menghidupkan lampu padahal lelaki itu pernah bilang pada Alma bahwa dia tidak suka gelap. Tapi keadaan apartemen terasa sunyi, apa benar dia sudah ada disini?
"Angka" panggil Alma, meraba jalan sampai tangannya merasa menyentuh sesuatu yang besar dan berotot di depannya. Heh! apa ini?!
"Alma" Bisik suara didepannya, Ini suara Angka tapi kenapa suara ini terdengar lirih dan putus asa.
"Kamu ken--" belum selesai Alma berujar pelukan yang begitu erat Alma rasakan dari lelaki didepannya ini. Alma membalas pelukan itu dan mengelus punggung Angka, gadis itu tidak tau apa yang di alami Angka jadi dia berusaha menenangkan lewat elusan dipunggung lelaki itu. Angka mengeratkan pelukan mereka, dia membenamkan wajahnya pada ceruk leher Alma. Pelukan ini terasa nyaman untuknya dan membuat pikiran Angka rileks.
"Al, aku butuh kamu. Tolong jangan pergi" Racau Angka, dia sadar dan yakin bahwa gadis didepannya ini adalah tempatnya pulang yang memberinya rasa nyaman lebih dari siapapun. Hanya dengan memeluk Alma, Angka merasa sangat cukup. Alma adalah Rumah ternyaman Angka.
"Kamu kenapa ka?" Tanya Alma, melepaskan perlahan pelukan mereka. Alma tidak bisa melihat jelas wajah Angka karna keadaan apartemen ini sangatlah gelap, dia hanya bisa melihat samar-samar wajah sendu Angka.
"Aku cuma lagi capek dan gak tau kenapa hati dan pikiran aku langsung tertuju ke kamu, aku mau kamu" Angka menangkup wajah Alma, mengelus pipinya pelan.
"Aku gak kemana-mana kok, aku disini" Angka menatap wajah cantik didepannya ini, dia beralih memegang pinggang Alma. Perlahan namun pasti wajah Angka mendekat Alma yang tidak bisa melihat dengan jelaspun dibuat kaget dengan benda lembab dan basah yang mendarat dibibir ranumnya.
"Emm Angka" Gumam Alma mencoba melepas ciuman itu namun Angka malah menahan tengkuknya dan ******* bibir Alma dengan sangat lembut membuat Alma lama-kelamaan jadi terbuai dan memejamkan matanya. Alma membalas dengan ragu dan kaku karna ini memang pertama kalinya bagi Alma, selama 20 tahun dia hidup hanya bersama Angka dia merasakan berbagai sentuhan dari lawan jenis. Termasuk ciuman.
Angka sendiri tersenyum merasakan balasan kaku dari gadis didepannya ini, dia memperdalam ciuman mereka. ******* lembut bibir atas dan bawah Alma, bibir ini terasa manis dan mungkin akan menjadi candu untuk Angka. Pagutan itu terlepas kala Alma menepuk pundak Angka brutal, dia butuh bernafas. Angka melepas ciuman mereka dan nafas mereka sama-sama terengah, apalagi Alma dia menghirup banyak oksigen. Angka benar-benar brutal. pikirnya.
__ADS_1
"Hehe maaf Al, bibir kamu manis aku jadi lupa kalo kamu manusia bukan permen" Harusnya Alma menampar lelaki ini tapi dia malah memalingkan wajah, tersipu malu. Walau sudah mewanti-wanti akan setiap serangan tiba-tiba Angka namun tetap saja Alma dibuat terkejut, apalagi serangan yang satu ini. Bukan hanya hatinya yang lemah tapi tubuhnya pun jadi lemas, Alma bahkan merasa kakinya terasa seperti jelly.
"Kamu ishh" Sebal Alma, Angka terkekeh melihat gadis itu mencoba menyembunyikan wajahnya. Angka berjalan menuju saklar lampu dan menghidupkannya, baru lah dia bisa melihat jelas wajah malu-malu Alma yang sudah berwarna merah itu.
"Lucu" batin Angka ketika sudah berdiri berhadapan dengan Alma. "duduk dulu yuk, kali ini kamu datang sebagai tamu bukan pekerja aku" Angka menuntun Alma menuju sofa ruang tv, mereka duduk disana dengan jarak yang terlalu dekat. Ya siapa lagi kalau bukan Angka yang menarik Alma mendekat.
"Kamu kenapa tiba-tiba manggil aku kesini? bukannya hari ini aku libur?" Tanya Alma ketika dia sudah menetralkan wajah, Angka menatap gadis itu sesaat sebelum menghela nafas dan menyenderkan tubuhnya dikepala sofa.
"Aku lagi capek. Capek hati dan pikiran, kalo sekedar capek badan aku bisa istirahat atau tidur. Tapi kalo capek hati dan pikiran aku gak tau harus apa, tapi entah kenapa aku tiba-tiba ke inget kamu. Aku ngerasa dengan adanya kamu bisa jadi obat dari rasa capek aku" Angka menoleh dan menatap Alma dalam, lelaki ini sepertinya sangat tau bagaimana membuat seorang gadis tersipu.
"Kalau kamu ngerasa lelah, bukan berarti kamu harus istirahat atau tidur. Ada kalanya kamu lihat keatas dan berdoa, karna kamu kan masih punya Tuhan" Angka tersenyum mendengarnya, Angka bahkan sudah lupa kapan terakhir kali dia berdoa pada Tuhan. Rasanya sudah sangat lama dia meninggalkan kewajibannya.
"Kamu bener, kalau kita mau santai dan tanpa masalah itu nanti pas kita udah mati"
"Jangan pernah ngerasa putus asa, setiap masalah ada jalan keluarnya. Tuhan gak pernah ngasih cobaan ke umatnya melebihi batas, anggap aja ini ujian"
"Udah kaya sekolah aja ada ujiannya" Angka terkekeh begitupun Alma.
"Beda lho ujian dikehidupan dan disekolah, disekolah kita dapet pelajaran dulu baru dapet ujian. Tapi kalo dikehidupan kita dikasih ujian dulu baru dapet pelajaran" Alma tersenyum, mereka saling tatap dalam hening. Angka menggenggam tangan mungil itu dalam genggaman tangan besarnya. Dia butuh Alma, di hidupnya.
__ADS_1
"Makasih ya Al, ngobrol sama kamu ngebuat aku ngerasa lebih baik. Rasanya beban dipikiran aku berkurang dan aku bisa lebih berpikir realistis" Ujar Angka mengecup jemari Alma.
"Panggil aku disaat kamu butuh, aku bakal usahain selalu ada" Angka menarik Alma dalam pelukannya, biarlah untuk sekarang dia akan menikmati waktu bersama Alma sebelum kembali berperang melawan mamahnya untuk membatalkan pertunangannya dengan Renata. Karna Angka hanya butuh Alma dihidupnya, ya hanya Alma.
*****
Pukul 7 malam, Alma memutuskan untuk pulang. Setelah berdebat dengan Angka karna lelaki itu memaksa untuk mengantar Alma pulang sedangkan Alma menolak karna berpikir Angka butuh istirahat. Akhirnya disinilah Alma, menunggu ojek online yang akan mengantarnya pulang.
Beberapa menit kemudian ojek pesanan Alma datang dan gadis itu pun bersiap pulang, saat sedang asik diatas motor menuju rumahnya. Ada sebuah mobil hitam yang mengikuti dibelakang, terlihat mencurigakan. Mobil ini terus mengikuti kemanapun ojek Alma berbelok, membuat Alma sedikit was-was ditambah jalanan menuju rumahnya memang sepi pengendara dan abang ojek pun menyadarinya.
"Mbak kayanya mobil itu ngikutin kita ya" Ujar abang ojek membuat Alma menoleh sekilas kebelakang, namun tepat saat Alma menoleh mobil itu menyalip dengan cepat dan menyenggol motor ojek online yang ditumpangi Alma.
"Astaga!!!"
Motor oleng ke kiri dan Alma maupun abang ojek terjatuh. Alma merasakan perih pada kaki kirinya, lututnya pun terluka. Sedang Abang ojek hanya mengalami luka ringan di punggung tangannya.
"Mba, gapapa? aduh pake nanya lagi ya saya, maaf mba mobil itu tadi nyenggol motor saya. Saya gak siap jadi jatuh. Maaf mba sekali lagi, duduk sini dulu mba" Alma dibantu abang ojek duduk dipinggir jalan, perih sekali lututnya. Kakinya juga sepertinya terkilir.
Kalau begini bagaimana Alma akan datang bekerja besok, Angka juga pasti akan memarahinya. Seandainya dia pulang dengan Angka mungkin ini tidak akan terjadi, dan Alma sadar mobil tadi sepertinya memang sengaja menyenggol motor yang ditumpangi Alma, ingin mencelakai Alma. Gadis itupun tau pasti ini adalah sebuah peringatan untuknya.
__ADS_1