CARI KERJA KOK SULIT?

CARI KERJA KOK SULIT?
Curiga


__ADS_3

Angka termenung mendengar penjelasan Alma, mendengar ada sebuah mobil yang mengikuti gadis itu pastilah bukan sebuah kebetulan. Angka jadi curiga pada seseorang.


"Kamu liat plat mobilnya?" Angka menatap Alma yang sedang mencoba mengingat, tapi melihat gadis itu menggeleng membuat Angka menghela nafas.


"Tapi aku tau kok ciri-ciri mobilnya, sedan warna hitam terus di kap mobilnya ada stiker kucing walau gak besar tapi aku ngeliat jelas kok stiker itu"


Stiker kucing? Angka mencoba mengingat siapa orang yang mempunyai mobil dengan kucing dibagian kap, kalau itu Mamahnya sangatlah tidak mungkin sebab Angka tau Mamahnya sangat membenci hewan berbulu jenis apapun itu. Lebih tepatnya Anita alergi bulu hewan.


"Yakin cuma itu aja yang kamu liat?" Alma mengangguk mengiyakan, Angka melihat luka di lutut Alma yang sudah ditutup perban dengan antiseptik.


"Pasti luka ini sakit ya, aku gak bisa bayangin kalau kondisi kamu lebih parah dari ini. Tau kamu terkilir aja aku panik banget, tolong lain kali hati-hati ya Al dan kalau aku niat mau antar kamu jangan tolak, paham?" Alma tersenyum dan mengangguk, dia mengelus sebelah pipi Angka.


"Kamu jangan ngerasa bersalah ya atas musibah aku ini, semua inikan diluar kehendak kita. Aku janji bakal lebih hati-hati lagi ke depannya" Angka memegang tangan Alma yang berada di pipinya, wajahnya siap mendekat namun Alma memalingkan wajah. Gadis itu tersipu.


"Nanti diliat ibu ka" Angka terkekeh, kalau sudah dihadapan Alma rasanya dia ingin mencecap bibir manis itu lagi. Rasa manis dan lembut bibir Alma seolah memanggil Angka untuk mendekat, untunglah gadis ini mengingatkan. Kalau sampai mereka berciuman dan dipergoki ibu Alma bisa kacau urusannya.


"Iya deh, habis bibir kamu kaya manggil-manggil aku buat di cium" Angka makin terkekeh saat wajah Alma berubah merah dan gadis itu berusaha menutupi wajahnya, lelaki itu menarik Alma ke dalam pelukannya. Alma memukul pelan dada Angka, bisa-bisanya dalam keadaan begini Angka menggodanya. Kalau begini terus lama-lama Alma bisa kena penyakit jantung karna selalu berdetak cepat saat berada di depan Angka.


Dibalik senyum dan kekehannya Angka sedang berpikir, siapa orang yang dengan sengaja berniat mencelakai Alma. Meski sudah mencurigai dua orang tapi Angka sepertinya harus memastikan sendiri, karna bagi Angka keselamatan Alma adalah tanggung jawabnya sekarang. Dia akan melakukan apapun untuk melindungi dan menjaga Alma dari orang-orang yang tidak menyukai hubungan mereka. Termasuk dari Mamahnya sekalipun

__ADS_1


"Angka aku boleh tanya sesuatu gak?" ucapan Alma membuat Angka tersadar dan mengurai pelukan mereka.


"Tanya apa?"


"Sebenernya hubungan kita ini apa?" Setelah berdebat cukup lama dengan hati dan pikirannya Alma akhirnya memilih untuk menanyakan perihal hubungan mereka pada Angka. Benar kata Risa hubungan mereka butuh kejelasan, agar Alma juga tidak perlu banyak berharap pada hal semu.


"Hubungan kita? hmm, kamu maunya hubungan kita ini apa?"


"Kok malah nanya balik ish" Ujar Alma dan memalingkan pandangan dari Angka, melihat wajah sebal Alma menjadi hiburan tersendiri untuk Angka.


"Emm kamu mau sabar kan? untuk kejelasan hubungan kita aku mau pastiin pertunangan aku dan Renata batal dulu, pokoknya yang harus kamu tau, aku ini milik kamu dan kamu milik aku" Angka menjeda ucapannya sejenak "Kalau memang semua urusan rumit udah selesai aku akan langsung nikahin kamu gak usah pake pacaran segala, kamu mau nunggu kan?"


Alma tersenyum dan mengangguk, Angka benar, membuat hubungan mereka jelas disaat Mamah Angka sendiri sudah punya pilihan untuk anaknya malah akan memperumit keadaan. Alma hanya tidak ingin kehadirannya membuat Angka semakin jauh dengan Mamahnya, bagi Alma menjalin hubungan haruslah ada restu dari kedua orangtua. Itu hal wajib dan utama untuknya.


****


"Nak Angka apa gak nanti aja pulangnya? Ibu baru aja mau buat cemilan, masa kamu cuma minum teh doang" Ujar Rosita begitu melihat Angka yang mendatanginya untuk pamit pulang, sedangkan Angka hanya tersenyum tidak enak.


"Maaf bu, Angka masih ada urusan soalnya. Tapi nanti Angka pasti kesini lagi kok buat jenguk Alma" Rosita mesem-mesem, mimpi apa anaknya itu bisa diperhatikan oleh bosnya yang tampan ini. Dia jadi curiga kalau lelaki di depannya ini bukan bos anaknya melainkan pacarnya, jika memang benar begitu Rosita akan sangat merestui.

__ADS_1


"Ya sudah, hati-hati ya dijalan" Alma menggeleng melihat tingkah ibunya, kalau sudah dihadapan cowo ganteng kadang suka salah tingkah begitu kadang Alma agak malu dengan tingkah ibunya yang satu itu.


Alma merubah raut menjadi tersenyum ketika melihat Angka mendekat ke arahnya yang sejak tadi berdiri disamping pintu dapur, Angka membalas senyum itu lalu membantu memapah Alma yang berjalan dengan pincang itu padahal Angka sudah melarang gadis itu mengantarnya sampai depan, tapi dasarnya Alma yang keras kepala membuat Angka akhirnya mengalah saja.


"Udah dibilang di kamar aja, ngeyel banget kamu pake mau anter ke depan segala"


"Kan aku juga udah bilang, aku mau jadi tuan rumah yang baik nganterin tamunya sampai depan pintu. Lagian aku bosen tau di kamar seharian"


"Iya deh si nona keras kepala, oh iya kamu gak usah masuk kerja dulu sampe kaki kamu mendingan. Aku bisa bersihin apart sendiri kok buat beberapa hari ke depan yang penting kamu sehat dulu" Alma ingin memprotes namun Angka buru-buru menyela nya "Jangan ngebantah, aku gak mau sampe kamu kenapa-napa lagi. Nurut buat kali ini aja" Ujar Angka menatap tajam Alma akhirnya gadis itu mengangguk mengiyakan.


Mereka sampai di pintu depan, Angka berjalan menuju motornya yang diparkir di teras rumah Alma. Gadis itu melambai tangan ketika Angka sudah keluar dari teras dan bersiap untuk pergi, lelaki itu membunyikan klakson sebelum akhirnya meninggalkan pekarangan rumah Alma.


"Orangnya udah ilang itu, betah amat bediri di pintunya" Alma berjengkit mendengar ucapan tiba-tiba itu, astaga ibunya ini "Ish Ibu, ngagetin aja astaga"


"Jujur deh Alma sama ibu, itu tadi pacar kamu kan bukan bos?" Mendengar pertanyaan diselipi nada godaan itu membuat Alma gelagapan sendiri, namun dengan cepat dia menggeleng.


"Bukan bu, dia beneran bos aku kok. Ibu nih ada-ada aja pemikirannya" Takut kalau ibunya kembali bertanya yang aneh-aneh, Alma memutuskan untuk berjalan menuju kamarnya.


"Mana ada bos yang segitu perhatian sama karyawannya kalau bukan karna suka, padahal kalo iya pacaran juga gapapa" Gumam Rosita pelan.

__ADS_1


****


Gais sekali lagi buat kalian yang baca jangan lupa kasih like, komen dan bintang 5 nya ya buat cerita ini. Dukungan kalian sangat aku nantikan 🀍🀍


__ADS_2