
Angka dan Alma sampai di Beauty Salon, Angka tau salon ini karna Mamah nya sering minta antar ke tempat ini namun Angka selalu menolak sebab sangat malas menunggu.
Angka membawa Alma masuk dan mereka langsung disambut oleh lelaki dengan wajah tampan dan kulit putih mulusnya, namun sayang gaya lelaki itu agak kemayu.
"Malam mas ganteng, akhirnya datang juga aku udah nunggu lho daritadi" Lelaki kemayu itu buka suara dan menatap Angka dengan genit, Alma sedikit geli dibuatnya.
Sedangkan Angka terlihat santai saja sepertinya lelaki itu sudah tidak asing lagi dengan perilaku genit itu.
"Kabar mamah cantik gimana mas, sehat? Udah hampir sebulan beliau gak mampir tumbenan banget biasanya tiap minggu rutin datang"
"Baik kok, mungkin mamah lagi sibuk sama kegiatannya jadi belum ada waktu buat kesini. oh iya kenalin ini Alma teman gue"
Angka memperkenalkan Alma pada lelaki kemayu itu sebagai teman, Alma sedikit tertegun. Mengapa lelaki itu tidak jujur saja bahwa Alma adalah pembantunya?
"Temen apa temen nih? hehe. Hai Alma, nama eyke Ben. Nice to meet you"
Alma tersenyum membalas ucapan itu dan membalas uluran tangan lelaki di depannya ini dengan kaku.
"Dia yang bakal lo make over, tolong buat sebagus mungkin ya? jangan kecewain gue lho. Gue percayakan dia sama lo"
Lelaki bernama Ben itu menatap Alma dari atas sampai bawah, lalu dia mengangguk-anggukan kepalanya.
"Mas ganteng tenang aja, ini sih cuma perlu sedikit polesan pasti langsung cetar. Percayakan sama aku, inget jangan panggil aku Ben kalo gak bisa buat pelanggan puas"
Setelah mengatakan itu, Ben berjalan terlebih dahulu. Sebelum Alma melangkah Angka menahan lengannya.
"Aku tunggu di kursi itu ya" Angka menunjuk sebuah bangku panjang yang di isi beberapa orang yang mungkin juga sedang menunggu, Alma mengangguk, mengiyakan.
"Rileks aja oke? Ben orangnya asik kok"
Angka kembali berujar, dia melihat wajah tegang Alma dan mencoba menghibur gadis itu agar dia rileks. Alma kembali mengangguk kemudian berjalan menuju Ben yang sudah siap dengan alat make up nya. Alma duduk, setelahnya lelaki kemayu itu mulai memoles wajah Alma dengan banyak krim, Alma tidak tau itu krim untuk apa saja sangking banyaknya.
Butuh waktu 1 jam setengah untuk Ben menyelesaikan riasannya pada wajah Alma dan di tambah dengan menata rambut gadis itu. Sampai Alma merasa mengantuk sangking lamanya, sedang Angka lelaki itu asik dengan ponselnya membalas pesan masuk dari grup kuliah atau membalas chat teman-temannya.
__ADS_1
"Nah sekarang buka matanya cantik, lalu liat apa ada yang kurang dari dandanan you"
Sejak tadi memang mata Alma terpejam, Ben yang memerintah katanya agar wajah Alma terlihat pangling. Ia harus menutup mata sampai proses make over selesai.
Alma membuka matanya perlahan dan ia mematung menatap wajah dalam pantulan cermin itu, hei siapa dia? mengapa cantik sekali? Alma bahkan tidak yakin bahwa itu adalah wajahnya. Wajah yang biasanya berminyak itu sekarang terlihat sangat cantik berkat tangan ajaib Ben. Dan rambut yang biasa diikat asal sekarang tertata dengan sangat anggun, Alma benar-benar merasa terpukau melihat wajahnya sendiri.
"Gimana ada yang kurang?"
Dengan cepat Alma menggeleng membuat Ben mengulas senyum bangga, sudah ia duga pasti Alma sangat menyukai polesan tangan ajaibnya.
"Jangan kasih tau Angka dulu, sekarang kita ganti baju you dulu oke?"
Mereka berjalan menuju ruang ganti, Ben mengambil sebuah gaun berwarna hitam dan memberikannya pada Alma.
"Gaun ini pilihan mas ganteng langsung lho, you harus bangga"
"Pilihan angka sendiri? Dia yang pilih ini buat saya?"
"Yes, mas ganteng punya selera yang bagus buat you. Kayanya dia beli ini sambil membayangkan you" ucapan Ben berhasil membuat Alma salting, jantung Alma mendadak tidak aman.
*****
Angka mengecek jam di tangannya, entah mengapa meski sudah menunggu cukup lama namun tidak ada rasa kesal atau bosan di hati lelaki itu. Yang ada malah jantung Angka berdetak kencang sangking penasaran nya dengan tampilan Alma. Ia tidak sabar ingin melihat Alma dalam balutan gaun pilihannya.
Tak lama dia melihat Ben keluar dan berjalan ke arahnya dengan wajah sumringah. Angka langsung berdiri seolah siap menyambut Alma.
"Udah beres ben?"
"Udah dong mas ganteng, pasti gak sabar ya mau liat?" pertanyaan itu malah Angka balas dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, kenapa jadi salting begini? batin Angka.
"Tunggu sebentar dia lagi pakai gaun nya" Angka mengangguk dengan sabar, ia menunduk dan mengendarkan pandangan sampai tepukan pada bahunya mengalihkan tatapan Angka pada Ben, dan lelaki kemayu itu mengisyaratkan Angka untuk menatap ke depan.
Angka tertegun seolah aliran darah dalam tubuhnya berhenti bekerja dan nafas Angka seperti berhenti berhembus. Agak lebay memang tapi sungguh Angka tidak bisa mengalihkan matanya dari keindahan di depannya ini.
__ADS_1
"Ya Tuhan cantik banget" gumam batin Angka saat Alma sudah berdiri di depannya. Sungguh saat Alma berjalan tadi gerakan gadis itu seperti slow motion sangking terpesonanya Angka.
"Ngedip atuh mas Angka" Ucap Ben begitu melihat Angka yang melongo menatap Alma, Angka tersadar dengan semburat merah di telinganya. Tanda bahwa lelaki itu sedang salting sekarang.
"Gimana mas ganteng, make over nya berhasil gak nih?"
"Berhasil, dia jadi semakin cantik. Makasih ya Ben, kerjaan lo emang gak perlu di raguin lagi"
Angka menjawab cepat membuat Alma tersipu, lelaki itu bahkan dengan enteng mengatakan cantik.
"Ini semua berkat wajah cantik dari neng Alma, gak butuh banyak polesan udah cakep betul kan?" Ben menaikturunkan alisnya dan Angka terkekeh lalu mengangguk menjawabnya.
"Yaudah gih kalian berangkat, nanti telat lho"
"Gue bakal kasih bonus buat lo ben"
ucapan Angka dijawab acungan jempol oleh Ben. Lalu Angka menatap Alma dengan senyum merekah, lelaki itu mengulurkan tangannya kepada Alma. Dengan malu-malu Alma menerima uluran itu, mereka pamit pada ben dan bergegas menuju parkiran salon.
Kebetulan mereka berada di lantai 2, sejak tadi banyak pasang mata yang menatap mereka. Terutama pada Alma, rasanya Angka ingin mencolok mata lelaki yang menatap kagum pada Alma. Lelaki itu semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Alma.
Gadis itu sadar namun memilih diam, kenapa Angka bersikap seperti lelaki yang posesif kepada pasangannya begini? Apa lelaki itu lupa bahwa Alma adalah pembantunya?
"Abaikan tatapan orang-orang ya Al, anggap aja kamu artis yang lagi di liatin banyak fansnya"
Alma terkekeh mendengar ucapan Angka, lelaki itu mencoba menghiburnya dan membuat Alma percaya diri. Apakah lelaki itu tidak sadar bahwa banyak para gadis yang menatap memuja padanya? Tapi lelaki itu malah sibuk menggenggam tangan Alma seolah takut jika tautan tangan itu terlepas maka Alma akan hilang dari pandangannya.
"Makasih ya Angka" ucap Alma tulus, yang dibalas anggukan dan senyuman manis lelaki itu.
"Nanti sampai di acara makan malam, jangan jauh-jauh dari aku ya? aku takut kamu hilang"
Alma tidak tau makna dari ucapan itu yang pasti Alma dibuat salting dan untungnya saja blush on yang ia pakai menutupi semburat merah di wajahnya.
__ADS_1
'Tahan Alma jangan baper, inget dari dulu Angka emang suka baperin lo dan inget kalau kasta kalian berbeda' Batin Alma meyakinkan hatinya untuk tidak mudah jatuh pada perlakuan manis Angka.