
Sudah lebih dari 3 hari, tapi Darmawan-Papah Angka- belum menemukan titik terang soal siapa pemilik mobil yang sengaja menabrak Alma. Kondisi Alma juga sudah membaik, dia sudah kembali bekerja hari ini meski Angka sudah melarang karna dia tau kaki terkilir Alma belum sepenuhnya sembuh. Jalannya pun masih agak pincang tapi memang dasar Alma itu keras kepala, jadilah dia memilih masuk kerja katanya gak mau makan gaji buta.
"Nanti kalau mau ngangkat keranjang cucian panggil aku, jangan kamu angkat sendiri. Awas aja ya" Angka memperingati ketika dia melihat Alma sedang mencuci pakaian sebelum melangkah menuju dapur untuk sarapan. Dia sesekali melirik pintu tempat Alma mencuci takut-takut gadis itu tidak mengindahkan peringatannya karna Angka tau Alma itu orang yang tidak enakan.
Alma yang sudah selesai mencuci dan membilas pakaian berniat mengangkatnya namun dia mengingat wajah penuh ancaman Angka pun bergidik dan tidak jadi mengangkat keranjang cucian. Dia menyembulkan kepala melihat ke arah meja makan dimana Angka sedang asik bersantap, duh jadi gak enak kalau ganggu acara sarapan Angka. Pikirnya.
Angka yang merasa diperhatikan pun melirik sebelah kirinya, ahh ternyata gadis itu penyebabnya, lihatlah wajah gelisahnya itu Angka sudah menebak dalam hati bahwa pasti gadis itu sedang berpikir bagaimana caranya meminta bantuan padanya. Diam-diam Angka terkekeh, apapun yang dilakukan Alma selalu saja membuat tertawa. Gadis itu terlalu menggemaskan.
"Ngapain disitu Al?" Ucapan itu membuat Alma terkejut dan melirik cepat pada Angka, kemudian menyengir. Dia ketahuan.
"Hehehe, anu-- itu-" Alma dan rasa gugupnya, pastilah dia akan menjadi gagap mendadak.
Angka yang paham maksud Alma pun segera beranjak dan mendekati gadis itu, tidak lupa dengan senyum diwajah tampannya itu.
"Tinggal panggil aku aja Al, sampe merah gitu pipinya" Alma gelagapan dan memegang kedua pipinya, astaga melihat Angka berjalan saja membuatnya salah tingkah begini apalagi jika lelaki ini bertingkah lebih. Mungkin Alma akan jingkrak-jingkrak seperti orang bodoh, Angka terkekeh melihat wajah gadis itu. Rasanya dia ingin mengigit pipi bakpao milik Alma, 'sabar Angka, jangan terlalu sat set takut Alma risih' Batin Angka.
"Aku gak enak ganggu acara makan kamu, lagian bisa aku dorong kok. Kan tempat jemurnya juga deket" Ucap Alma yang dibalas gelengan oleh Angka. "Nanti aku beli mesin cuci baru deh, yang ada pengering otomatisnya biar kamu gak repot jemur segala"
"Ya ampun Angka, ini aja mesin cucinya masih bagus kok ngapain diganti. Lagian ya gak sehat kalau harus pake pengering takut kumannya gak mati, kalau dijemurkan kena sinar matahari jadi pasti kuman-kuman dibaju kotor pun bakalan ilang" Memang Alma tau bahwa dijaman modern seperti sekarang apapun bisa dilakukan oleh mesin, tapi untuk kesehatan mesin tidak bisa melakukan itukan? Dia juga punya mesin cuci dirumah tapi daripada menggunakan pengeringannya, ibu maupun Alma lebih suka menjemur di belakang rumah. Sinar matahari kan sehat.
__ADS_1
"Ya aku takut kamu jatoh, lantai juga pasti licin"
"Gak akan jatuh emang aku anak kecil apa, lagian cucian baju kotor kamu tuh gak banyak kok" Pada akhirnya Angka mengalah dan membawa keranjang cucian menuju balkon tempat jemuran ditaruh.
"Sana kamu siap-siap katanya ada jam pagi, nanti takut telat lho ka" Ucap Alma saat Angka sudah menaruh keranjang cucian di balkon, lelaki itu melirik jam ditangannya kemudian mengangguk. "Yaudah aku berangkat ya, kamu kalo ada apa-apa langsung kabarin aku jangan sungkan"
Alma mengangguk lalu tanpa diduga Angka mengelus pucuk kepalanya kemudian berlalu pergi meninggalkan apartemen. Sebelum itu Alma mendengar gumaman Angka walau lelaki itu mengucapkannya dengan pelan.
"Gemes banget sih"
Tolong pegangin Alma dia siap terbang ke pluto sekarangš¤
Jam menunjukkan pukul 2 siang, Angka baru saja menyelesaikan kelas terakhirnya. Dia sudah bersiap pulang dan melihat ponselnya ketika sudah berada didalam mobil baru saja melaju melewati gerbang kampus, notif dari papahnya yang mengatakan belum menemukan petunjuk lain membuat Angka menghentikan laju mobilnya.
Baru saja Angka ingin menelpon Papahnya untuk memastikan, matanya menangkap sebuah mobil dengan ciri-ciri yang disebutkan Alma melewatinya. Mobil itu berlawanan arah dengannya. Bak gerakan slow motion Angka melihat mobil itu yang berjalan melewatinya, itu mobil sedan dengan stiker kucing dibagian kapnya. Tanpa banyak kata Angka langsung memutar arah dan mengejar mobil itu, dia tidak boleh membiarkan orang itu lolos.
Sepertinya mobil di depannya ini sadar bahwa ia tengah diikuti, mobil itu menambah lajunya dan Angka pun melakukan hal yang sama. Pokoknya Angka harus menangkap pelakunya dan menanyakan apa motif pemilik mobil itu mencelakai Alma.
"Sial" Umpat Angka ketika mobilnya terhalang oleh mobil yang menyalip dari arah kanan, pandangan Angka sedikit terhalang namun dia bisa melihat bahwa mobil itu berbelok ke arah kiri. Entah kenapa Angka kenal jalan ini, inikan jalan yang bisa tembus kerumah Alma juga. Kenapa mobil itu mengarah ke arah sini, apa dia berniat untuk mencelakai Alma lagi atau dia ternyata menguntit Alma.
__ADS_1
"Gak akan gue biarin lo lolos" ujar Angka dan menambah kecepatan mobilnya, suara dari klakson kendaraan lain tidak Angka hiraukan tujuannya saat ini hanya untuk mendapatkan seseorang dibalik kemudi mobil di depannya ini.
Sretttt!!!!
Suara decitan ban mobil Angka berbunyi ketika berhasil menghadang mobil itu dan saat ini mereka hanya berjarak beberapa meter sebelum sampai di gang yang bisa, tembus menuju rumah Alma, gang yang bisa dilalui mobil, gang yang baru Angka tau kemarin saat menjenguk Alma di rumahnya.
Angka menghampiri si pemilik, menggedor pelan kaca mobilnya. Angka akan berpura-pura terkejut jika yang keluar dari mobil itu adalah Renata. Lihat saja apa yang bisa Angka lakukan untuk memperingati gadis itu. Namun ekspetasi Angka sangat berbeda jauh karna ketika kaca diturunkan dan muncul lah wajah si pengemudi.
"Ada apa ya?" Tanya gadis yang mengemudikan mobil itu pada Angka yang menatapnya intens, Angka bisa melihat kegelisahan diwajah itu namun si pemilik sangat pintar menyembunyikan rautnya.
"Maaf mbak saya cuma mau tanya sebentar" Angka menjeda ucapannya sejenak meminta persetujuan dan gadis itu hanya mengangguk "apa sekitar 4 hari yang lalu mbak nabrak seseorang sampe jatuh dari motor?" Angka melihat keterkejutan diwajah gadis itu, dia bergerak gelisah dan akhirnya keluar mobil. Berdiri dihadapan Angka dengan kepala menunduk.
"i--iya mas saya memang nabrak orang tapi hari itu saya lagi buru-buru banget, ibu saya kena serangan jantung dan kritis di rumah sakit. Saya gak sengaja, saya mau nolong tapi saya takut malah makin mengulur waktu. Jadi saya langsung tancap gas tanpa mikirin mereka yang kena serempet mobil saya, tapi beberapa hari ini saya sangat merasa bersalah sama korban tabrak lari hari itu. Mau mencarinya pun saya gak tau harus mulai darimana, tolong maafin saya mas"
Angka melihat gadis itu memasang wajah memelasnya mencoba peruntungan siapa tau dengan sedikit imut bisa meluluhkan hati lelaki tampan didepannya ini.
"Saya Laras, saya siap tanggung jawab kalau memang terjadi sesuatu yang buruk sama mbak itu, bagaimana pun semua terjadi karna kecerobohan saya juga"
"Namanya Alma bukan mbak itu" jawab Angka datar "Saya cuma mau mbak datang ke dia dan minta maaf secara langsung sama korbannya mbak"
__ADS_1