
Angka dan Alma sampai di kediaman Anita, mamah Angka. Tempat ini tidak bisa di sebut rumah, ini sih lebih pantas disebut mansion sangking besarnya.
Mobil Angka terparkir rapi dan Alma melihat banyak kendaraan mewah yang juga terparkir di sebelah mobil Angka, Alma jadi bertanya-tanya seberapa kaya keluarga Angka. Gadis itu merasa tidak pantas berada disini.
"Yuk turun, kayanya acara nya udah mau di mulai"
Sebelum sempat melangkah keluar mobil, Alma menahan lengan Angka. Gadis itu mendadak berkeringat dingin.
"Angka kayanya aku gak bisa masuk ke dalam, aku ngerasa gak pantas"
Angka mengernyit mendengar penuturan Alma dengan cepat Angka menggenggam tangan dingin itu.
"Gak usah berpikiran yang lain-lain oke? Lagian kamu udah sangat cantik begini, tenang aja ada aku yang bakal terus di samping kamu"
Mereka saling menatap, Alma melihat ketulusan di mata Angka membuatnya sedikit rileks. Alma menghembuskan nafas kemudian mengangguk. Angka turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Alma, mereka masuk dengan Alma yang memegang lengan Angka erat untuk mengurangi rasa gugupnya.
Mereka tidak sadar bahwa ada sepasang mata yang menatap mereka dengan kobaran api cemburu. Orang itu Renata, dia juga baru datang. Dia mengenali mobil Angka calon tunangannya.
Renata berniat menghampiri namun melihat Angka membuka pintu samping kemudi membuat gadis itu urung melanjutkan langkahnya. Ingin melihat siapa yang lelaki itu bawa pada acara khusus seperti ini. Begitu melihat pembantu itu yang Angka bawa, darah Renata seolah mendidih.
'Sial, gue keduluan sama cewe kampung itu' Batin Renata, kesal.
Sebenarnya Renata bisa saja menghampiri keduanya dan menghempas tangan yang saling bertaut itu. Namun Renata memilih untuk mengalah kali ini, dia akan membuat gadis kampung itu dipermalukan.
'Lo liat apa yang bakal menunggu lo disana, tunggu pembalasan gue' Gumam Renata lalu mengikuti langkah keduanya dengan pelan dan anggun.
*****
Suasana di dalam mansion ini sangatlah ramai, sepertinya ini bukan acara makan malam biasa sebab Alma melihat begitu banyak tamu yang datang. Ini lebih mirip seperti pesta daripada acara makan malam.
"Angka sebenernya ini acara makan malam keluarga atau pesta makan malam? Banyak banget tamu nya"
Angka menoleh pada wajah cantik di sampingnya ini, ia tersenyum.
__ADS_1
"Mamah aku memang selalu ngadain acara kaya gini beberapa bulan sekali, ini bisa disebut sebagai pesta . Bukan acara makan-makan keluarga, mamah aku ngundang keluarga, teman-temannya, dan bahkan kolega papah"
Alma mengangguk mengerti, pantas saja seramai ini. Alma melihat Anita mamah Angka yang sedang berbincang dengan beberapa orang, begitu melihat tatapan itu terarah pada tempat mereka berdiri. Alma dengan cepat melepas rangkulannya pada lengan Angka. Astaga sangking gugup nya Alma tidak sadar memeluk lengan Angka.
Semoga saja mamah Angka tidak menyadari nya, Alma takut wanita paruh baya itu marah padanya. Anita mendekat pada sepasang anak muda itu, sudah Anita duga bahwa Angka akan mengajak gadis ini. Tidak salah Anita meminta gadis itu membujuk Angka untuk datang, hal ini akan Anita jadikan tempat untuk membuat gadis bernama Alma itu sadar posisi.
Siapa dia dan siapa Angka.
"Nak, kamu datang?" ucapan basa basi itu mengalihkan perhatian dua anak muda itu.
"Ya, karna aku gak punya pilihan selain datang kan?" ujar Angka, senyum manis Anita berubah menjadi senyum kecut. Lalu tatapannya beralih pada Alma yang langsung tersenyum sopan padanya.
"Mamah kira kamu datang sendiri, tapi gapapa yang penting kamu datang karna acara ini mamah buat khusus untuk kamu"
Kening Angka mengerut, ia merasa ada yang tidak beres dari dibuatnya acara ini. Ia menatap Mamah nya yang memamerkan senyum manisnya. Semoga saja ini hanya perasaan Angka saja.
"Enjoy the party ya Alma" ucapan itu Alma balas dengan anggukan dan senyumnya. Setelahnya wanita paruh baya itu pergi dan menyambut tamu lain, meninggalkan Alma dan Angka dalam kebisuan.
"Angka my baby" Sapaan menggelikan itu mengalihkan perhatian banyak orang, siapa lagi pemilik suara cempreng itu selain Renata Kusmanto si model abal-abal itu.
"Ren tolong jaga sikap, malu diliatin orang"
Angka berujar dengan emosi tertahan, ia sungguh malu karna banyak pasang mata yang menatap mereka. Alma yang sejak tadi diam pun memilih menyingkir, sepertinya dua orang ini butuh privasi.
"Angka aku mau ambil minum dulu ya disana, aku haus" Angka yang sejak tadi sibuk menghindar dari tangan Renata pun menatap Alma dengan wajah enggannya.
"Aku temenin ya, kamu jangan pergi sendirian"
"Gak usah Angka, aku bisa sendiri kok"
Renata yang mendengar hal itu jadi gerah sendiri, mengapa Angka sangat perhatian pada gadis pembantu ini.
"Udah deh Angka jangan lebay, dia cuma mau ambil minum. Biarin dia ambil sendiri, jangan manja minta ditemenin segala" Ujar Renata ketus menatap sinis pada Alma yang dibalas tatapan heran oleh gadis itu. Siapa juga memang yang ingin di temani ? Dasar perempuan genit. Begitu batin Alma mengumpati Renata.
__ADS_1
"Yaudah kamu jangan jauh-jauh ya, nanti aku nyusul" Ucap Angka yang dibalas anggukan oleh Alma, gadis itu berjalan menuju tempat berbagai minuman berjejer.
Alma mengambil segelas jus jeruk dan meminumnya, akhirnya rasa hausnya terobati.
Bahkan gadis itu sampai memejam sangking menikmati minuman itu.
"Gimana pestanya Alma? menyenangkan berada di antara orang-orang kaya? Atau justru kamu malah sadar posisi dan berpikir gak sepantasnya berada disini?" Suara itu mengalihkan fokus Alma, ia menoleh kesamping dan menemukan Anita. Ibu Angka dengan wajah datarnya.
"Bu Anita?" gumam Alma.
"Saya merasa berterima kasih karna kamu berhasil membujuk Angka untuk datang kesini, tapi saya benar-benar gak menyangka mengapa kamu malah ikut datang kesini? apa niat kamu sebenarnya Alma?" pertanyaan dengan nada dingin itu, tidak dapat Alma artikan. Apakah wanita paruh baya ini sedang menyinggung nya?
"Saya gak ada niat apapun bu, Angka yang mengajak saya kemari. Saya sudah menolak tapi dia memaksa"
"Berani sekali pembantu rendahan seperti kamu menyebut anak saya hanya dengan nama. Mau bagaimanapun dia adalah majikan kamu, panggil dia tuan" Ketus Anita sedang Alma langsung menundukkan kepala.
Ia sudah terbiasa menyebut angka hanya dengan nama saja. Lelaki itu yang menyuruhnya, katanya agar tidak merasa canggung sebab Angka menganggap Alma adalah temannya.
"Maaf bu, maksud saya tuan Angka yang memaksa saya datang kesini"
"Seharusnya kamu bisa menolak, seperti dia yang keras kepala mengajak kamu harusnya kamu juga melakukan hal yang sama untuk menolaknya. Bukannya malah mengalah dan memilih mengikuti kemauan nya"
Alma menunduk, dia sangat ingin menjawab namun ia takut malah semakin salah bicara.
"Sadar akan posisi kamu, jangan berharap lebih pada anak saya. Karna sampai kapanpun saya gak akan setuju kalau anak saya memilih kamu, ingat ini baik-baik saya akan mengusahakan apapun agar pertunangan Angka dan Renata bisa secepatnya terjadi dan agar secepatnya kamu pergi dari hidup anak saya" Anita menjeda ucapannya.
"Gak sulit bagi saya menghilangkan hama seperti kamu, jika kamu mencoba melawan saya. Akan saya buat kamu menderita kalau sampai hubungan Renata dan Angka memburuk" Alma menatap Anita dengan terluka.
Ucapan wanita ini sungguh keterlaluan, Alma bahkan tidak ada niat untuk memiliki hubungan lebih dengan Angka. Meskipun ada celah tapi Alma sangat sadar posisi, ia tidak akan mengambil resiko.
"Paham gak kamu?" Masih dengan menunduk, Alma mengangguk cepat. Anita tersenyum miring begitu berhasil mengintimidasi gadis di depannya ini, ia bergerak menjauh begitu melihat Angka yang datang mendekat.
"Ingat kata-kata saya"
__ADS_1
Alma lagi-lagi mengangguk, rasanya ia sangat ingin menangis sangking merasa sesak.