CARI KERJA KOK SULIT?

CARI KERJA KOK SULIT?
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

"Ayah saya gak ada pak, beliau lagi kerja. Bapak bisa balik lagi nanti sore" Ucap Alma..


2 orang berbadan besar itu saling lirik satu sama lain, kemudian salah satu dari mereka menjauh, mengeluarkan ponsel dan sepertinya menelpon seseorang. Mungkin bos mereka itu?


Alma cemas ditempatnya, dia memegang tangan Rosita yang dingin. Alma melirik ibunya pasti dia syok berat mendengar hal ini, apalagi mengetahui ayahnya memberikan sertifikat rumah sebagai jaminan. Tapi Alma tau Ayahnya tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa dipikir lebih dulu, apa ini adalah jebakan? Entahlah Alma tidak ingin menebak-nebak. Biar dia tanyakan pada Ayahnya nanti.


Pria berbadan besar yang tadi menjauh itu kembali mendekat, dia membisikkan sesuatu ditelinga temannya dan kemudian mereka saling mengangguk.


"Oke, kami akan kembali besok. Bersama bos kami, Pramana harus ada! Kalo dia gak ada, siap-siap kalian kami usir dari rumah ini"


Setelah mengancam dua orang itu pergi dengan membanting pagar rumah Alma, membuat Alma dan ibunya meringkuk ketakutan. Alma menatap ibunya, mereka saling menatap, Alma menggenggam tangan Rosita mencoba memberitahu bahwa semua akan baik-baik saja.


"Kenapa Ayah mu nekat Al minjem uang ke rentenir sebesar itu, gimana cara kita bayarnya?" Rosita menangis, Alma memeluk ibunya mencoba menenangkannya. Meski Alma sendiri sedang butuh ditenangkan, dia juga terkejut. Lalu kemana selama ini uang yang Alma beri kepada Ayahnya?


"Bu, kita gak boleh mikir macem-macem dulu sama ayah, oke?" Alma menghapus airmata Rosita "Kita tanyakan dulu baik-baik sama Ayah, Alma yakin ayah gak akan bertindak sebelum berpikir. Ibu taukan ayah orangnya gimana?"


"Tapi kamu liat sendiri tadi Alma, mereka akan ambil paksa rumah ini kalau kita gak segera bayar. Darimana kita punya duit buat lunasin hutang segitu banyaknya"


"Bu, percaya aja ya sama ayah. Ibu jangan mikir kemana-mana dulu, nanti darah tinggi ibu kumat, Alma gak mau ibu kenapa-napa"


Pada akhirnya Rosita hanya mengangguk, benar yang Alma bilang dia harus tenang dalam keadaan seperti ini. Akan ia tanyakan pada suaminya terlebih dahulu, ia tidak boleh langsung menghakimi Pramana, suaminya. Mereka sudah hidup lebih dari 24 tahun, Rosita tau bagaimana sifat dan sikap suaminya.


"Semoga semuanya akan baik-baik aja"


*****

__ADS_1


Sedangkan ditempat lain, Renata sedang asik menata kuku jari tangannya. Ia sedang berada di salon sekarang, sebelum memulai semua rencana dia butuh healing terlebih dahulu.


Setelah mengancam Angka dan mengirim 2 orang suruhannya kerumah Alma, gadis itu terlihat sangat senang sekarang. Suasana hatinya sedang baik kali ini.


Dia akan datang kerumah Alma besok dan memberikan banyak kejutan untuk gadis itu, ah bukan hanya dia tapi juga Angka. Renata ingin melihat apalagi yang akan lelaki itu lakukan, membatalkan pertunangan mereka dan membuat orang yang dia cintai hidup sebagai gelandangan atau tetap meneruskan pertunangan mereka dan menyelamatkan gadis kampung itu dari hidup tanpa rumah.


Entahlah Renata hanya mampu menunggu, dia tidak sabar untuk melihat segala rencananya berjalan lancar.


"Inilah akibatnya kalau kalian berani macam-macam sama seorang Renata Kusmanto, hanya ada kehancuran kalau kalian berurusan sama gue" Dia bergumam dalam hati dan tersenyum miring "permainan baru dimulai" Batinnya tersenyum licik.


*****


Angka sedang dalam perjalanan menuju rumah Alma, dia sedaritadi mencoba menghubungi gadis itu tapi tidak diangkat. Nomornya pun tidak aktif, tidak biasanya gadis itu susah dihubungi begini. Dia jadi cemas, takut kalau Renata mulai bertindak macam-macam pada Alma.


Dia benar-benar bingung apa yang harus dia lakukan sekarang, pikirannya blank. Bagaimana bisa Ayah Alma harus terlibat hutang dengan keluarga Kusmanto? Tidak mungkin tiba-tiba dia datang meminjam uang kalau bukan karna ada seseorang yang memberitahu.


"Alma, ini aku angka. Kamu ada didalem?" Angka berujar ketika sampai didepan pagar rumah Alma, pintu utama rumah itu terbuka.


Orang yang dicari pun akhirnya menampakkan diri, Alma keluar dengan stelan rumahannya. Tapi ada yang aneh dari wajah itu, terlihat kuyu dan Angka bisa melihat mata gadis itu memerah.


Alma yang melihat kedatangan Angka pun mencoba terlihat biasa saja, meski dia yakin wajahnya ini pasti terlihat suram tapi Alma hanya tidak mau Angka tau permasalahannya.


"Kamu baik-baik aja kan, Al?" Tanya Angka ketika Alma sudah membuka gerbang dan berdiri dihadapannya, dia memegang pundak Alma. Namun gadis itu hanya merespon dengan anggukan.


"Aku baik-baik aja kok, ada apa kamu kesini?"

__ADS_1


"Aku cuma mau tau keadaan kamu, habis kamu ditelpon tapi nomor kamu malah gak aktif, aku khawatir" Mendengar ucapan Angka senyum Alma mengembang meski tipis, dia memegang pipi Angka. "Aku gapapa kok, cuma tadi bantuin ibu aja di dapur. Hp aku lowbet, lagi di cas juga di kamar"


Angka menghembuskan nafas kemudian tersenyum lega, baginya yang penting Alma baik-baik saja.


"Mau masuk dulu?" Angka menggeleng mendengar pertanyaan itu. "Ikut aku yuk, kita keluar sebentar"


"Kemana?"


"Ikut aja dulu, nanti juga kamu tau" Angka melihat gadis didepannya ini terlihat ragu, sebenarnya apa yang sedang gadis ini pikirkan. Angka yakin ada sesuatu yang terjadi tapi Alma memilih menyembunyikan nya, Angka akan mencari tau jika memang Alma memilih untuk tidak memberitahu nya.


"Yaudah, aku ganti baju dan ijin sama ibu dulu" Angka mengangguk dan membiarkan Alma masuk, dia memilih duduk di teras rumah. Beberapa menit kemudian Alma keluar dari dalam rumah, dia menutup pintu utama. Tumben ibunya tidak ikut keluar, padahal Angka ingin sekalian ijin.


"Ibu kamu mana?"


"Ibu lagi istirahat, tadi aku udah bilang kok, yuk berangkat sekarang" Angka mengangguk dan menggandeng tangan Alma, mereka berjalan sebentar menuju mobil Angka yang terparkir di depan gang rumah Alma.


Mobil itu melaju membawa keduanya menuju tempat tujuan tanpa sadar bahwa sedaritadi ada yang mengawasi mereka, di dalam sebuah mobil Mini Cooper berwarna hitam seorang gadis tersenyum licik. Dia adalah Renata.


*****


Rosita yang sedang duduk seorang diri dimeja makan tengah termenung memikirkan hal yang baru dia ketahui, kepala terasa ingin pecah sekarang. Dia tidak akan membiarkan orang-orang itu mengambil rumah peninggalan ibunya ini, apapun akan Rosita lakukan untuk mempertahankan rumah ini.


Pikirannya terpecah kala mendengar suara ketukan pada pagar rumahnya, siapa yang bertamu? kalaupun Alma pulang tidak mungkin dia pergi secepat itu dan tidak mungkin juga dia mengetuk pagar. Atau jangan-jangan dua orang besar tadi datang kembali?


Rosita gelisah tapi dia tidak ada pilihan lain selain melihat sendiri siapa yang datang, wanita setengah baya itu membuka pintu rumahnya dan berjalan menuju pagar. Dia melihat seorang gadis berpakaian modis dan sangat cantik berdiri di depan pagar rumahnya. Ketika pagar terbuka, gadis itu tersenyum manis pada Rosita.

__ADS_1


"Selamat siang Tante, saya Renata. Sahabat baik Alma, Alma nya ada Tante?"


__ADS_2