
Alma meringis memasuki rumah, ibunya pasti akan heboh melihat jalan Alma yang pincang. Tadi Abang ojek menawarkan untuk mengobati Alma tapi Alma menolak dan menganggap ini adalah musibah, jadi tidak perlu merasa bersalah. Alma hanya minta diantar sampai rumah pun dengan tetap membayar ongkos, abang ojek juga pasti tidak ingin ada masalah saat mengantar penumpang namun namanya juga musibah mana ada yang bisa memperkirakan.
"YAAMPUN ALMA KENAPA KAMU?!" Jerit Rosita, benarkan kata Alma ibunya ini pasti akan heboh.
"Alma kepleset tadi bu, waktu jalan di gang" Bohong Alma, lagi-lagi dia berbohong. Alma hanya takut jika dia jujur ibunya akan semakin risau, lagipula dia hanya perlu urut dan mengobati lukanya. Mungkin dalam beberapa hari akan baikan.
"Astaga, kaki kamu bengkak Al. Kayanya terkilir ini" Ucap Rosita yang diangguki Alma, memang Alma juga berpikir begitu. Rasanya nano nano sekali.
"Mending kamu masuk kamar aja deh, yuk ibu bantuin. Nanti ibu panggil Nek Mar sekalian buat urut kamu" Nek Mar adalah tukang urut yang cukup terkenal di daerah Alma, lebih tepatnya dia tetangga sebelah rumah Alma yang memang cukup handal dalam hal memijat bisa dibilang pijatannya selalu mujarab meski usianya sudah bisa dikatakan sepuh.
Alma duduk di ranjangnya, sebenarnya dia ingin menghubungi Angka soal dia yang tidak bisa pergi bekerja besok. Tapi Alma takut Angka malah semakin kepikiran dan nekat datang, mengingat lelaki itu tidak dalam suasana hati yang baik. Mungkin nanti saja Alma akan mengabari lelaki itu.
Tak lama pintu terbuka menampilkan ibu dan Nek Mar yang datang dengan minyak ditangannya, untuk mengurut. Jujur saja Alma takut kalau harus diurut saat ada cidera seperti ini, sakitnya bukan main.
"Bu jangan kemana-mana, temenin Alma" pinta gadis itu saat Nek Mar sudah bersiap mengurutnya, Alma memegang erat tangan Rosita dan menjerit-jerit saat tangan keriput Nek Mar mulai melakukan pijatan. Rasanya dia tidak sanggup tapi semoga saja dengan begini kakinya bisa lebih baik besok sehingga dia tidak perlu terlalu lama membolos kerja.
"Ini agak parah terkilirnya pas jatoh kayanya kaki kamu ketekuk dalam. Tapi sekarang udah gapapa untung tulangnya gak ngengsol. Pakein ini aja untuk ngeredain bengkaknya" Nek Mar memberikan botol yang Alma tidak tau apa isinya yang pasti botol itu beraroma tidak sedap. Obat yang memang selalu diberi Nek Mar ke orang yang mengurut dengannya, salah satu obat mujarabnya.
"Makasih ya Nek"
Setelahnya Alma sendirian di kamarnya sedang menimbang apakah harus mengabari Angka atau tidak, asik melamun membuat Alma tanpa sadar tertidur. Hari ini banyak hal tak terduga menghampiri Alma dimulai dari ciuman tiba-tiba Angka sampai tersenggol mobil yang membuat kakinya terkilir dan berakhir di urut.
*****
Pagi kembali menyapa Angka terbangun di jam 8.30 dia pergi ke dapur untuk minum dalam keadaan shirtless. Kebiasaan Angka jika tidur memang tidak pernah mengenakan baju sebab menurutnya lebih nyaman begitu, tidak tau saja dia Alma beberapa kali hampir pingsan karna melihat tubuh tinggi berototnya. Angka memang rajin jika sudah menyangkut kesehatan badan tidak heran tubuhnya terbentuk dengan sempurna.
__ADS_1
Dia pikir Alma sudah datang namun sejauh mata memandang Angka tidak menemukan keberadaan gadis itu, padahal biasanya Alma adalah orang yang on time.
"Kemana dia" Gumam Angka, dia berjalan kembali memasuki kamar dan memeriksa ponselnya. Siapa tau gadis itu mengabarinya, tapi ternyata nihil tidak ada pesan apapun dari Alma membuat Angka bertanya-tanya dan merasa khawatir takut terjadi sesuatu pada Alma saat menuju apartemennya.
Baru akan menghubungi Alma, satu notif pesan masuk dan tertera nama Alma disana.
Angka maaf hari ini aku ijin gak datang dulu ya ke apart kamu, kaki aku keseleo semalem abis jatuh. Tapi besok aku usahain datang kok.
Mendapat pesan begitu mata Angka melebar dan seketika pikiran buruk memenuhi kepalanya, apa lukanya sangat parah sampai dia tidak bisa datang? Tanpa banyak menduga-duga langsung saja Angka menelpon gadis itu ingin memastikan.
Sedangkan ditempat lain lebih tepatnya di kamar dengan nuansa pink kalem itu seorang gadis terduduk di ranjangnya. Siapa lagi jika bukan Alma, dia sedang menunggu balasan dari Angka. Dia hampir lupa mengabari Angka sangking terlalu nyenyak dalam tidurnya, meski sebenarnya dia terbangun sejak 40 menit yang lalu. Dia baru ingat saat ibunya menyuruh mengabari teman atau bos Alma bahwa dia harus absen datang bekerja karna musibah yang menimpanya semalam.
"Kok cuma di read ya" Ucap Alma pelan, tak lama ponselnya berdering ternyata panggilan masuk dari Angka. Haduh Alma harus siap untuk di introgasi oleh lelaki itu. Alma mengangkat panggilan itu menjawab dengan suara pelan, takut kena semprot Angka.
"Hallo"
Alma meringis mendengar cercaan kalimat Angka, kenapa jadi harus rawat inap. Alma hanya terkilir bukan patah tulang.
"Aku gapapa kok Angka, udah diurut kok besok juga aku masuk kerja kalo udah mendingan"
"gak usah pikirin kerja dulu, fokus sama keadaan kamu. Bikin khawatir aja harusnya semalam aku antar kamu pulang jadinya gak gini kan, bentar lagi aku kesana"
"Ehh ka, gak us--" Belum sempat Alma menyelesaikan kalimatnya Angka sudah keburu menutup sambungan telpon itu, Alma mendengus. Inilah yang membuatnya ragu untuk memberitahu Angka, kalau begini bisa-bisa ibunya curiga. Mana ada pula bos yang mau repot-repot menjenguk karyawannya yang hanya terkilir, Alma bahkan baik-baik saja hanya sebelah kakinya saja yang terluka dan harus berjalan pincang.
Beberapa menit kemudian terdengar suara mesin motor di depan rumah Alma, gadis itu sudah bisa menebak siapa yang datang. Tak lama pintu kamar Alma terbuka, ibunya datang namun tidak sendiri ada Angka mengikuti dari belakang. Lelaki itu terlihat khawatir namun sebisa mungkin menutupinya takut ibu Alma berpikir lain tentang hubungan mereka.
__ADS_1
"Si bos ganteng jenguk kamu nih, beruntung banget kamu dapat bos baik dan peduli sama karyawannya begini" Rosita melempar tatapan menggoda pada Alma yang dibalas gadis itu dengan delikan.
"Yaudah ibu tinggal ya, ini pintunya biarin aja ke buka ya"
"Iya Tante" Angka tersenyum menatap kepergian ibu Alma lalu beralih pada gadis cantik yang sedang terduduk dengan punggung kaki yang dibaluri entah apa itu Angka juga tidak tau. Yang pasti itu adalah obat untuk kakinya yang terluka.
"Gimana keadaan kamu?" Ucap Angka ketika sudah duduk ditepi ranjang Alma, menatap gadis itu lembut.
"baik kok, cuma kaki aku pincang kalo dibawa jalan. Keseleo lumayan parah kata tukang urutnya, tapi gapapa kok besok pasti sembuh"
Tangan Angka terulur mengelus rambut Alma.
"Maaf" lirih Angka mengundang tatapan bingung dari Alma.
"Maaf kenapa? ini bukan salah kamu ini musibah ka" Angka menggeleng mendengar ucapan Alma.
"Harusnya semalam aku maksa ngantar kamu dan seandainya aja aku gak suruh kamu datang ke apart, kamu pasti baik-baik aja sekarang"
"Hei" Alma menangkup wajah Angka, lalu tersenyum mencoba menenangkan Angka.
"Ini bukan salah kamu, emang udah takdir aku jatoh dan luka kaya gini. Tapi gapapa kok, jangan ngerasa bersalah nanti aku juga ikutan gak enak" Alma mencebik, Angka membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Sungguh dia hampir gila selama di perjalanan menuju rumah Alma, dia takut terjadi sesuatu yang buruk. Angka tidak ingin Alma terluka bahkan sekecil apapun
"Kenapa bisa jatoh? Bukannya kamu diantar abang ojek, apa dia memang gak bisa bawa motor sampe ngebuat kamu jatoh begini. Apa perlu kita tuntut dia?" Alma melepas pelukan mereka dan menatap tajam Angka. "Ini musibah tau, bukan salah abang ojolnya. Sebenernya perjalanan kami aman-aman aja sampe pas motor udah masuk ke jalan sepi sebelum masuk gang ada mobil yang ngikutin terus pas aku tengok dan mau mastiin itu siapa, mobil itu malah jadi ngebut dan nabrak motor abang ojol"
"Mobil? kamu di ikutin?"
__ADS_1
*****
HAI HAI KEMBALI BERTEMU MINCEK, GAK BOSEN MINCEK INGETIN BUAT LIKE, KOMEN DAN VOTE NYA YA. MINCEK NANTIKAN DUKUNGAN KALIAN LHO YAA🤍🤍🤍