
Diperjalanan pikiran Angka tertuju pada siapa orang yang berniat mencelakai Alma, meski sudah mencurigai dua orang yaitu Mamahnya dan Renata tapi kecurigaannya akan menjadi tidak berdasar apabila dia tidak punya bukti.
Sebaiknya Angka mencari tau dulu mobil dengan stiker kucing itu maka setelahnya pasti dia juga akan tau siapa pemiliknya. Tapi Angka bingung harus darimana dia memulai, apa dia harus pura-pura menemui Renata untuk memastikan mobil milik gadis itu?
Tapi Angka juga berpikir Renata pastilah sudah menyembunyikan bukti gadis itu tidak mungkin meninggalkan jejak, kalau sudah begini berarti Angka harus lebih pintar lagi dalam menemukan bukti. Namun Angka bingung harus kepada siapa dia meminta bantuan.
Mendadak pikiran Angka tertuju pada papahnya, apa dia meminta bantuan saja pada papahnya?
Karna tidak punya pilihan dan ide lain jadilah Angka melajukan motornya menuju kantor Darmawan Tanubrata, papahnya.
'Semoga papah mau bantu gue' gumam Angka dalam hati.
*****
Disini lah Angka, di gedung 15 lantai milik papahnya. Ngomong-ngomong papah Angka adalah seorang arsitek, dia mengembangkan usahanya dimulai dari Nol dan benar-benar jatuh bangun. Untuk mencapai puncak karir pun banyak hal yang dikorbankan papahnya, termasuk sering jarang pulang seperti bang Toyib membuat Angka kadang merasa kehilangan banyak momen bersama papahnya. Dimana biasanya anak lelaki lebih dekat dengan papahnya tapi Angka justru harus menggigit jari sebab papahnya lebih mementingkan karir daripada keluarganya.
Apalagi saat kecil melihat teman-temannya diantar oleh orangtua lelaki tapi Angka justru lebih banyak diantar supir, Angka benci fakta itu tapi apa mau dikata. Lama-lama dia terbiasa hidup tanpa sosok seorang ayah. Karna Angka tau, Papahnya sangat berambisi untuk bisa sukses tanpa bantuan orangtuanya meski banyak cemoohan dari saudaranya yang lain tapi papahnya memilih untuk tutup kuping, bagi Darmawan Tanubrata sukses tanpa bantuan orangtua itu lebih baik dan dia ingin sukses dengan caranya sendiri.
Dan lelaki tua yang masih tetap terlihat tampan itu tidak mudah menyerah hingga akhirnya dia mencapai kesuksesan melebihi saudara-saudara nya dan membuktikan bahwa tanpa bantuan siapapun dia tetap bisa sukses, asal sabar dan terus berusaha pastilah akan ada jalan.
Angka melangkahkan kakinya menuju ruangan papahnya, security dan para staf yang memang mengenal baik Angka langsung tertunduk sopan sebagai sapaan kepada Angka, ada juga yang menyapa singkat dan dibalas anggukan serta senyuman oleh Angka.
__ADS_1
"Tuan muda" Sebuah sapaan dari orang yang menjadi sekretaris dan tangan kanan papahnya membuat langkah Angka terhenti.
"Oh om Laksa, apa kabar om?" Tanya Angka sekedar basa-basi.
Dia Laksamana Satria, orang yang sudah mengabdikan diri pada papahnya sejak perusahaan ini masih terbilang perusahaan kecil dan belum sesukses sekarang. Boleh dikata Laksamana lah orang yang menemani jatuh bangunnya Papah Angka dalam membangun perusahaan. Ide-ide yang selalu segar dan terencana membuat laksamana dipercaya oleh Darmawan untuk menjadi sekretaris sekaligus tangan kanannya. Lelaki berusia 45 tahun itu tersenyum dan mendekat pada Angka.
"Kabar saya baik, kamu sendiri gimana? usaha kamu lancar?" Anggukan diberikan Angka kemudian dia menatap ruangan Papahnya yang berjarak beberapa langkah di depannya "Papah ada di ruangan, om?"
"Ada, baru aja dia selesai meeting 10 menit lalu, kamu mau ketemu papah kamu?" Angka mengangguk cepat sebagai jawaban.
"Tumben, biasanya juga nelpon om buat nyampein ke papah kamu"
"Iya om hehe, kebetulan kali ini urusannya agak privat jadi harus dibicarakan langsung sama Papah. Kalau gitu Angka keruangan papah dulu ya om" Angka berjalan setelah mendapat anggukan dari Laksa.
Darmawan menoleh dan alisnya menukik tajam ketika melihat anak semata wayangnya datang tanpa diminta, biasanya Angka sangat sulit untuk diminta datang ke perusahaan walau hanya untuk mengantar dokumennya yang tertinggal di rumah. Katanya takut Papahnya menghasut Angka untuk mengikuti jejaknya, padahal Darmawan sama sekali tidak berpikir begitu. Baginya apapun keputusan Angka adalah hak pemuda itu dan sebagai orangtua Darmawan hanya perlu mendukung. Dia tidak ingin memaksakan kehendaknya, meskipun dia ingin Angka melanjutkan bisnisnya ini.
"Ada apa kamu datang kesini?" Tanya Darmawan to the point membuat Angka mendengus.
"Kebiasaan deh Pah, aturan kalau anak datang itu ditanyain kabar kek disuruh duduk gitu, ini to the point banget. Lagian papah tau darimana aku dateng karna ingin sesuatu?"
Angka melihat lelaki paruh baya itu terkekeh.
__ADS_1
"Apalagi memang selain karna sesuatu hal yang kamu mau, gak mungkin kamu sukarela datang kesini kalau gak karna ada tujuan" Angka menggaruk tengkuknya salah tingkah, ternyata Papahnya ini sudah bisa menebak isi pikiran Angka.
"Ehm ya sebenernya ada yang mau aku omongin, lebih tepatnya aku butuh bantuan papah" Darmawan mengernyitkan dahi kemudian duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat Angka berdiri, lelaki muda itupun ikut duduk dihadapan Darmawan.
"Bantuan apa? kayanya penting banget sampai kamu rela datang kesini" Angka menghela nafas jengah "Jadi gini, Papah masih ingetkan sama Alma? Cewe yang kerja di apartemen aku?" Mendengar ucapan Angka, Darmawan memegang dagunya mencoba mengingat siapa yang Angka maksud.
"Ah perempuan pendek dan manis itu? Ya dia begitu cantik, tentu papah ingat. Kenapa? kamu mau nikahin dia? Jangan dulu Angka lebih baik kamu fokus selesain pendidikan kamu dan kelola caffe kamu sampe punya banyak cabang dulu baru pikirin nikah"
Angka menghela nafas kasar, dia baru bicara sedikit tapi Papahnya malah ngalor ngidul kemana-mana. Sifat sok taunya itu memang benar-benar membuat Angka jengkel.
"Dengerin dulu kenapa sih pah, maen nyerocos aja kaya rel kereta api" Lagi-lagi hanya kekehan Darmawan yang Angka dengar. Bicara dengan Papahnya memang harus banyak sabar jika tidak ingin stress, Angka salut dengan sang mamah yang betah dengan makhluk random seperti Papahnya ini, seumur hidup pula. Poor Mamah Anita.
"Iya iya, papah inget kok. Ada apa sama dia?"
"Kemarin malam dia kecelakaan, gak terlalu parah tapi kakinya terkilir sama lututnya luka. Tapi yang jadi masalah kecelakaan itu disengaja, Alma bilang kalau ada mobil yang ngikutin dia sampe akhirnya mobil itu nabrak motor dari ojek online yang Alma pesan"
"Mobil yang ngikutin dia? Berarti dia memah sudah diincar" Angka mengangguk mengiyakan. "Dia ingat ciri-ciri mobilnya? karna kalaupun papah harus mencari tau pastilah harus ada sedikit petunjuk"
"Ada satu petunjuk pah, di mobil itu Alma bilang ada tertempel stiker kucing dibagian kap mobilnya" Angka menjeda ucapannya menunggu reaksi Papahnya yang sedari tadi mendengar sambil bersedekap dada. Dia melihat Papahnya menganggukan kepala.
"Jadi kamu mau minta bantuan Papah buat cari siapa pelakunya?" Anggukan cepat diberikan oleh Angka, hah sudah Darmawan duga. Dia tau betul bagaimana tabiat anaknya dia tidak akan mau repot-repot meminta jika bukan karna ada suatu alasan. Sepertinya gadis pembantu itu sudah sangat berarti di hidup anak semata wayangnya ini.
__ADS_1
"Oke papah akan bantu kamu"