CARI KERJA KOK SULIT?

CARI KERJA KOK SULIT?
Kebenaran


__ADS_3

Alma termangu, dia hendak menjawab pertanyaan ibunya namun terhenti ketika pintu rumah terbuka dan menampilkan wajah kuyu ayahnya. Rosita memberikan tatapan sinis pada Pramana, suaminya. Sedangkan Alma bangkit berdiri dan menyalimi ayahnya, dia lalu melirik ibunya yang semakin menunjukkan wajah memerah menahan emosi.


Wanita setengah baya itu melempar tatapan tajam pada suaminya.


"Ini dia si pembohong utama, gak salah kalau anaknya pun ikut-ikutan jadi pembohong. Hebat kalian berdua, bisa menipu saya yang bodoh ini, buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya. Isitilah itu sangat pantas untuk kalian"


Pramana yang tidak mengerti apa-apa dibuat bingung oleh ucapan istrinya, kebohongan apa yang dimaksud?


"Maksud kamu apa?"


Rosita tersenyum sinis menatap suaminya.


"Gak usah pura-pura gak tau kamu, kamu berhutang dengan seorang pengusaha kaya dan menggadaikan sertifikat rumah ini kan? kamu pikir siapa kamu hah?? bisa-bisanya jadiin rumah aku sebagai jaminan" Jerit Rosita mengeluarkan semua kekesalan dalam hatinya.


Pramana terkejut bukan main mendengar hal itu, dia menoleh pada Alma dan melihat anaknya itu dalam kondisi kacau dengan wajah yang menahan tangis.


"Aku memang berhutang dengan seorang pengusaha kaya tapi bukan dengan orang yang gak aku kenal, dia Aditya teman baikku semasa kecil. Kami bertemu tidak sengaja, waktu itu aku sedang menunggu angkutan umum, tiba-tiba ada mobil mewah yang berhenti tepat didepan aku, dia mengenalkan diri sebagai Aditya. Awalnya aku gak ingat sama dia, tapi setelah dia bercerita akhirnya aku ingat. Lalu dia menanyakan banyak hal sampai akhirnya aku cerita dan dia siap sedia buat bantu aku"


Rosita terdiam beberapa saat, jika memang benar begitu. Lantas mengapa pengusaha kaya itu mengutus 2 orang berbadan besar itu untuk menagih hutang?


"Meski dia dengan sukarela membantu ayah tapi ayah tetap membayar pinjaman itu setiap bulannya walau hanya setengahnya sebab dia maksa ayah untuk gak usah merasa terbebani, dia bahkan menelpon ayah beberapa hari lalu. Dia nanya gimana usaha ayah dan setelah ayah cerita, dia mau minjamkan ayah modal lagi, dia juga bilang sama ayah untuk gak usah mikirkan soal modal. Dia siap bantu ayah kapan aja" Lanjut Pramana. Rosita dibuat pusing sekarang, dia terduduk sambil memijat pelipisnya. Dia lega tapi juga bingung.


"Aditya, dia pernah hampir mati tenggelam ketika bermain di sungai. Ayah satu-satunya orang yang sadar dia tenggelam dan membantu dia susah payah untuk bisa selamat. Sejak saat itu dia merasa sangat berhutang budi sama ayah, dia gak pernah lupa sama ayah. Itu sebabnya dia siap sedia membantu ayah dan dia mau ayah bisa mendirikan usaha sendiri"

__ADS_1


Alma terdiam mendengar penjelasan Ayah nya, dia sangat percaya akan apa yang Ayah nya bicarakan. Itu berarti orang-orang itu bukanlah utusan si pengusaha kaya itu, lantas siapa dia?


Lama terdiam, Alma tersadar akan satu hal. Aditya Kusmanto, mengapa nama itu seperti tidak asing ditelinga Alma. Kusmanto? Ahh!!! Alma ingat sekarang. Renata, dia juga bermarga Kusmanto, apakah ini semua terjadi akibat ulah gadis angkuh itu? mungkinkah dia sengaja menciptakan boomerang besar untuk Alma dan keluarganya, untuk menghancurkan Alma perlahan. Renata pasti sengaja melakukan ini untuk menjauhkan Alma dari Angka, betapa jahatnya gadis itu.


"Kalau memang ayah berteman baik sama Aditya Kusmanto itu, lantas kenapa ayah menggadaikan sertifikat rumah ini?"


"Bukan menggadaikan, Aditya ingin membeli rumah ini setelah tau ayah tinggal di perkampungan kecil yang bahkan mobil aja gak bisa masuk. Dia ingin ayah tinggal disalah satu perumahan yang rumahnya sudah dia beli untuk kita tinggali, katanya suasana disana lebih baik dari sini" Pramana mengeluarkan sebuah kertas yang Alma yakini sebagai sertifikat rumah, dia menyodorkan sertifikat itu pada Rosita.


"Tapi ayah menolak karna ayah tau, rumah ini sangat dicintai oleh ibumu. Ini rumah masa kecilnya, gimanapun ayah gak akan lakuin hal yang gak ibu kamu sukai" Pramana melempar senyum ketika matanya bertemu dengan mata istrinya. Rosita jadi merasa bersalah, dia sudah bertindak keterlaluan, seharusnya dia menanyakan baik-baik bukannya malah terpancing emosi. Tapi dia juga begitu syok, banyak hal yang dia ketahui dalam satu waktu, membuat kepalanya terasa ingin pecah.


"Maafkan aku mas" Ujar Rosita terisak dan berhambur memeluk suaminya, seharusnya dia menyambut kedatangan suaminya dengan baik karna dia sudah lelah bekerja seharian. Lihatlah lelaki setengah baya ini malah tetap menunjukkan kelembutan, tidak ada raut kemarahan karna sudah dituduh seperti itu. Pramana membalas pelukan istrinya, lalu merentangkan tangan kearah Alma yang segera disambut oleh gadis itu.


"Aku pengen beritahu kamu cuma waktunya selalu gak pas, aku juga mau jujur soal aku yang gak jadi minjam di bank, kalian tau darimana kalau ayah punya hutang sama pengusaha kaya?"


"Ada dua orang berbadan besar datang tadi pagi dan nagih hutang, dia bilang besok semua hutang harus lunas, ibu tentu aja kaget dan kebingungan. Sebab ibu cuma tau ayah punya hutang di bank"


"Dua orang berbadan besar?"


"Iya yah, mereka datang kaya orang marah. Ibu dan Alma ketakutan, ibu takut Alma dibawa sama mereka, besok juga mereka ngancem mau datang lagi dan bawa bos mereka"


"Coba nanti ayah tanya sama Aditya siapa orang-orang itu, kalian gak perlu khawatir, biar nanti ayah yang hadapi"


Pandangan Rosita teralih pada Alma membuat gadis cantik itu menunduk, Pramana mengikuti arah mata istrinya dan dibuat bingung, biasanya ibu dan anak ini selalu kompak tapi sekarang terlihat seperti ada kecanggungan diantara mereka.

__ADS_1


"Ada apa bu?" Rosita menghela nafas sebelum menjawab.


"Dia bohong sama kita, yah. Katanya kerja di caffe gak taunya dia kerja jadi pembantu di apartemen selama ini, dia juga mau merebut kekasih sahabatnya yang jadi majikan ditempat Alma kerja. Ibu gak habis pikir sama anak ini yah"


Pramana menoleh pada Alma yang menunduk, dia mengelus kepala anaknya membawa anaknya untuk duduk disofa ruang tamu diikuti oleh Rosita yang memilih duduk disingle sofa.


"Kenapa kamu bohong nak?" Tanya Pramana lembut dan pecahlah tangis Alma, dia memeluk ayahnya dan mengucap beribu maaf.


"Maafin Alma yah, bu. Tadinya Alma mau jujur soal pekerjaan Alma tapi Alma tau ibu gak akan suka sama pekerjaan itu, Alma terpaksa kerja jadi pembantu karna mau bantu perekonomian keluarga kita. Aku gak tega liat ayah yang kerja keras sementara aku enak-enakan dirumah, jadi aku nekat ambil kerjaan ini. Maafin aku yah,bu"


"Ayah pernah bilangkan gak mau Alma kerja jadi pembantu karna ayah gak rela anak ayah disuruh-suruh, dimarah-marahin, kamu keluar aja ya dari kerjaan itu, nanti ayah akan bantu carikan kerjaan lain" Alma merasa hatinya bimbang, apakah dia harus menuruti keinginan orangtua nya atau tetap bertahan untuk bisa selalu bersama Angka, seseorang yang amat dia cintai.


"Kasih Alma waktu ya, yah. Meski kerja sebagai pembantu tapi Alma gak bisa keluar gitu aja" Pramana mengelus puncak kepala anaknya dan melirik Rosita yang mengangguk pelan.


"Ya sudah, tapi ayah minta jangan terlalu lama ya?" Alma hanya mampu mengangguk, sekarang dia harus menyiapkan kalimat apa yang pas untuk dibicarakan dengan Angka soal pengunduran dirinya.


"Lalu soal lelaki yang sering datang kesini, dia memang punya calon tunangan tapi itu karena perjodohan, dia sendiri gak bersedia sama pertunangan itu. Dia mau perjodohan itu dibatalkan, sebab Alma dan dia saling mencintai" Alma menghela nafas sebelum melanjutkan "Ibu ingat Angkara? anak smp yang sering Alma ceritain saking sukanya Alma sama dia? Dia Angka yang sama yang datang kesini, kami bertemu lagi dan Angka yang menawari pekerjaan itu, awalnya aku gak mau nerima tapi aku gak ada pilihan lain"


"Lantas kenapa anak gadis itu bilang, kamu yang menggoda calon tunangannya, mereka saling mencintai. Tapi semenjak kamu datang, calon tunangannya berubah dan mereka semakin menjauh"


"Itu karna dia pengen aku dan Angka pisah, bagi dia Angka hanya milik dia.Tapi Angka selama ini tertekan karna perjodohan itu, Renata akan menghalalkan segala cara supaya Angka setuju sama perjodohan mereka"


Rosita mendadak kalut, berarti gadis itu akan menjadi ancaman untuk anaknya. Dia tidak ingin anak gadis satu-satunya ini sampai kenapa-napa.

__ADS_1


"Kalau begitu, kamu harus menjauh dari Angka. Sebab bahaya kalau kalian terus bersama, nurut ya sama ibu?"


__ADS_2