
"Ma--maksudnya?" Alma bertanya gugup, ingin memastikan.
"Kamu inget gak waktu kita sama-sama telat dihari pertama masuk? aku suka kamu dari sejak tangan kita gak sengaja bersentuhan"
Ah hari itu tentu saja Alma ingat, bahkan sangat ingat. Hari yang tidak akan pernah Alma lupakan, meski saat itu hatinya belum merasakan betul perasaan aneh pada Angka. Tapi Alma merasakan desiran saat tangan mereka bersentuhan.
Hari itu pula Angka merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya, perasaan berdebar padahal saat itu umurnya baru menginjak 13 tahun tapi Angka sudah bisa menafsirkan bahwa ia menyukai gadis imut di depannya saat itu. Cinta pandangan pertama dan cinta pertamanya. Tapi Angka terlalu kaku, jadi yang bisa dia lakukan hanyalah menatap Alma dari jauh. Memerhatikan segala tindakan dan ekspresi yang gadis itu lakukan, imut dan polos. Begitu pikir Angka.
"Sebenernya aku pengen nyatain perasaan aku sama kamu pas kita ada di kelas 3 smp, aku udah siapin keberanian aku waktu itu tapi karna Nina ngasih tau sebuah fakta yang ternyata adalah kebohongan. Saat itu semangat aku langsung ilang dan berakhir balik lagi nyimpen perasaan aku buat kamu"
Angka mengedikan bahu, hari itu dia ingat sekali sudah membeli coklat untuk Alma. Dia sudah percaya diri bahwa dia akan diterima, karna yang Angka tau bahwa Alma juga menyukainya jadilah pemuda itu memberanikan diri menyatakan perasaannya.
Tapi karna kedatangan Nina yang membawa berita kurang menyenangkan membuat keberanian yang sudah cukup lama Angka kumpulkan langsung hilang begitu saja.
"Kalo kamu suka aku, kenapa kamu malah pacaran sama Sasmita? Harusnya sebagai laki-laki kamu harus terima apapun jawaban aku, bahkan kalaupun itu nyakitin kamu"
"Aku pacaran sama Sasmita karna dia punya banyak kemiripan sama kamu, emang ini agak jahat untuk Sasmita yang gak tau apa-apa tapi aku cuma mau mencoba move on dari kamu dengan cara cari orang baru yang setidaknya kepribadiannya agak mirip sama kamu. Setidaknya walau di awal aku anggep dia sebagai kamu tapi lama-kelamaan kan aku pasti bakal bisa cinta sama dia sebagai diri dia. Semua kan cuma perihal waktu" Angka menghela nafas sejenak sebelum kembali berujar.
"Tapi nyatanya aku gagal, aku gak bisa hilangin kamu dari pikiran aku. Waktu pacaran sama Sasmita pun aku manggil dia Mita, supaya mirip sama nama belakang kamu. Setiap apapun yang kamu lakuin aku selalu pengen liat dan aku gak bisa ngalihin perhatian aku dari kamu"
"Kamu boleh bilang aku jahat tapi semuanya terjadi diluar kendali aku Al, aku gak bisa hilangin perasaan aku. Bahkan pas kita udah lulus pun aku masih nyari tau kabar kamu, waktu kamu gak datang ke reuni aku selalu tanya kenapa kamu gak bisa datang padahal aku sangat berharap kamu ada dan aku bisa ngeliat kamu lagi tapi ternyata kamu gak pernah datang"
Tanpa sadar airmata Alma menetes, dulu dia selalu menolak datang ke acara reuni karna ingin menghindari Angka karna Alma takut perasaannya luluh lagi dan kembali berharap, tapi Alma tidak menyangka bahwa lelaki ini malah menunggunya dengan banyak harapan agar mereka bisa bertemu lagi. Angkara Gautama yang dia cintai selalu menunggunya datang.
"Sampai akhirnya setelah lama gak ketemu, Tuhan masih berbaik hati sama aku. Kita ketemu lagi secara gak sengaja, walau udah bertahun-tahun gak ketemu tapi aku masih bisa ngenalin kamu seolah mata dan pikiran aku udah punya radar sendiri untuk bisa nemuin keberadaan kamu"
Angka menoleh pada Alma dan tersenyum manis, tangannya bergerak menghapus airmata Alma.
__ADS_1
"Aku pengen banget Al menghabiskan banyak waktu sama kamu, pergi jalan-jalan, nonton bioskop sama kamu dan banyak hal lain. Tapi aku gak punya kesempatan itu dulu"
Alma langsung menghambur kepelukan Angka, dia menangis entah tangis bahagia karna akhirnya tau bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan atau sedih karna baru tau fakta ini setelah bertahun-tahun lamanya.
Angka membalas pelukan itu tak kalah erat, dia lega sekarang. Hal yang sudah sangat lama dia pendam sekarang sudah tersampaikan, Angka sangat bersyukur akan hari ini. Sepertinya Angka akan mencatatnya sebagai hari bersejarah.
"Bertahun-tahun kita saling mendam rasa, aku juga bodoh ka, harusnya aku beraniin diri aku waktu kelulusan untuk nyatain perasaan aku sama kamu. Bukannya malah dengan bodohnya ngebiarin diri aku larut dalam rasa penasaran soal gimana perasaan kamu ke aku"
"Ini udah jadi takdir kita Al, aku gak masalah yang penting sekarang kamu tau perasaan aku dan aku tau perasaan kamu"
Mereka larut dalam pelukan sampai akhirnya Alma tersadar, ia melepas pelukan itu dengan cepat, menghapus air matanya. Angka mengubah rautnya menjadi bingung. Meskipun Alma tau bahwa Angka juga menyimpan rasa padanya tapi sepertinya mereka memang tidak ditakdirkan bersama, Alma sadar sampai kapanpun Angka tidak bisa dimilikinya karna lelaki itu milik Renata. Calon tunangannya.
"Kenapa Al?" Tanya Angka bingung, Alma terdiam sejenak mengalihkan tatap dari Angka sebelum menjawab.
"Angka kamu gak lupa, kan? kalo kamu punya Renata. Dia calon tunangan kamu ka, meski kita udah tau perasaan satu sama lain tapi gak menutup fakta kalo kamu sekarang milik Renata"
"Gak Al, aku gak cinta sama Renata, pertunangan kami hanya sebatas janji bodoh yang mamah aku buat ke mamahnya Renata. Aku gak pernah setuju sama pertunangan ini tapi mamah aku yang selalu maksa, bahkan papah aku pun gak suka sama Renata karna tau hal buruk apa yang sering dia lakuin"
"Tapi mamah kamu udah siapin tanggal dan acara untuk pertunangan kalian, kamu gak bisa membangkang ibu kamu demi bisa bersama aku, ka" Angka memegang tangan Alma erat.
"Makanya itu kita usaha sama-sama ya? Kita cari cara supaya mamah aku mau membatalkan rencana pertunangan ini, aku gak mau lagi menyesal Al. Aku udah ketemu kamu dan tau gimana perasaan kamu ke aku. Aku gak akan jadi orang bodoh lagi dengan ngelepas kamu gitu aja"
Alma terdiam, dia sedang menimbang apakah harus menyetujui saran Angka atau kembali menjadi pengecut dengan berpura-pura lagi?
Alma menghembuskan nafas kasar, ini akan jadi keputusan yang akan mengubah hidup mereka.
"O--oke, kita coba sama-sama ka. Tapi aku mohon jangan terlalu kasar sama mamah kamu, aku yakin kalo kamu bersikap baik sama mamah kamu lama-lama mamah kamu pasti luluh"
__ADS_1
Mendengar itu Angka tersenyum senang dan mengangguk, dia membuat gerakan 'yes' tanpa suara membuat Alma terkekeh melihatnya. Segitu senangnya ya dia?
"Aku akan gunain kesempatan ini, entah apa yang bakal terjadi kedepannya. Tapi aku yakin kalo sama kamu semua akan baik-baik aja, kita coba pelan-pelan buat ngeluluhin mamah aku ya?" Alma mengangguk, mereka kembali berpelukan. Sepertinya sehabis ini Alma akan banyak mengalami hal yang belum pernah ia alami, tapi seperti kata Angka tadi kalau mereka bersama semoga semua akan baik-baik saja.
Mata Alma melirik jam yang menunjukkan pukul 10.10 malam, sudah waktunya mereka tidur. Alma tidak ingin Angka terlambat bangun besok. Alma melepas pelukan mereka dan lagi-lagi wajah Angka seperti tidak rela.
"Liat jam tuh, udah waktunya tidur nanti kamu bisa telat bangun kalo tidur terlalu larut"
"Aku bukan anak kecil kali Al, lagian kan ada alarm" Alma menggeleng mendengarnya, itu karna dia tau bahwa alarm sekencang apapun tidak akan membangunkan Angka yang ada matanya malah semakin terpejam rapat seolah bunyi jam weker itu adalah lagu pengantar tidur untuknya.
"Gak ya, tidur sekarang. Sana kamu masuk kamar aja, biar aku yang tidur disini"
"Kamu aja yang di kamar biar aku di sofa ini udaranya lagi dingin lho nanti kamu bisa masuk angin"
"Terus kamu berasa manusia baja gitu yang gak bisa masuk angin juga?"
"Aku laki gak akan mudah sakit, sana masuk"
Pada akhirnya Alma mengalah, dia beranjak membereskan piring dan gelas kotor di meja dan ke dapur untuk mencucinya sebentar sebelum masuk ke dalam kamar Angka.
Saat baru saja merebahkan diri, pintu kamar Angka terbuka dari luar. Angka masuk dengan cengirannya, membiarkan pintu terbuka.
"Aku mau ambil selimut sama guling"
Alma melihat lelaki itu mengambil selimut di dalam lemari dan mengambil satu guling diatas kasur, ngomong-ngomong Alma memang tidak biasa tidur memeluk guling dia lebih tidak bisa tidur tanpa bantal. Bukannya segera pergi setelah mengambil barang yang dibutuhkan, Angka malah mendekat pada Alma.
Hal yang tidak Alma sangka, lelaki itu mencium keningnya!
__ADS_1
"Good night Al, semoga mimpi indah"