
Alma sedang menyiapkan cemilan yang tadi dia buat di dapur, Laras orang yang menabraknya sudah pulang beberapa menit lalu tadinya Alma ingin menyiapkan cemilan itu untuk Laras tapi gadis itu terlihat sangat buru-buru. Mungkin dia memikirkan kondisi ibunya, padahal tapi Alma ingin menawarinya tapi belum sempat berkata, Gadis itu malah langsung pamit pulang. Sepertinya dia memang tidak mau banyak bertele-tele.
Soal uang yang Laras beri Alma yakin jumlahnya sangat banyak, terlihat dari amplop berwarna coklat itu yang agak tebal isinya. Mungkin Alma akan menggunakannya untuk menbantu membayar cicilan ayahnya, dia akan memberikan uang itu pada ayah dan ibunya biarlah kedua orangtuanya yang menyimpan atau menggunakan uang itu, karna bagi Alma gajinya saja sudah cukup untuk sekedar jajan atau beli skincare.
Alma tersenyum kala cemilan yang dia buat sudah tertata rapi dalam nampan, dia membawa nampan itu, tidak sabar ingin melihat Angka mencicipi jajan ala kadar yang dia buat ini. Semoga Angka suka.
Namun saat sampai di ruang santai, Alma tidak melihat keberadaan Angka. Matanya mengendar dan menemukan Angka sedang termenung di balkon.
Alma menghela nafas, sepertinya akhir-akhir ini Angka banyak melamun, dia mungkin memiliki banyak beban pikiran. Alma mendekat pada balkon dan berdehem membuat Angka tersadar dan berbalik menatapnya.
"Ini aku buatin kamu makanan spesial" Kening Angka mengerut mendengar ucapan Alma dan tersenyum geli, spesial katanya? batin Angka.
"Apa itu?" Angka melihat Alma berjalan menuju meja dengan dua kursi yang ada di balkon yang sengaja disiapkan untuk bersantai.
"Sini duduk" Ucap Alma dan tanpa banyak kata Angka mendekat dan duduk disebelah Alma. Dia menatap hidangan dihadapannya lalu beralih menatap pada Alma dengan alis terangkat.
"Ini namanya cireng dan cilok kuah, biasanya aku kalau lagi sedih karna habis dimarahin ibu atau ayah. Aku akan langsung cari makanan pedas buat dimakan, katanya tuh kalau kita makan pedas kita hanya akan terfokus sama rasa pedas itu. Jadi setidaknya hal yang ngebuat kita sedih jadi hilang karna fokus sama rasa pedas di lidah, nah ini salah satu obatnya hehe. Aku mau kamu cobain juga, siapa tau bisa ngebantu ngebuat perasaan kamu lebih baik"
Angka tersenyum mendengar ucapan Alma, gadis ini memang unik biasanya gadis lain memilih eskrim sebagai obat anti galau tapi gadis ini malah memilih makanan pedas sebagai peralihan rasa sedihnya.
__ADS_1
Angka lalu mengambil satu cireng yang berisi ayam suir itu, meski agak kurang menyukai makanan yang mengandung banyak minyak tapi untuk kali ini mungkin makanan dengan banyak minyak ini akan menjadi favorit Angka, tapi itu berlaku jika Alma yang membuatnya.
Terbukti dalam sekali gigit dan merasai isian cireng itu Angka langsung menyukainya, rasanya sangat enak dan rasa pedas yang Alma buat pun tidak terlalu menggigit lidah. Ini sangat sesuai seleranya.
"Enak, kamu pinter banget buat kaya gini, kalau aku masukin ini didaftar menu caffe mungkin bisa banyak peminatnya" Angka menjeda ucapannya untuk menelan potongan cireng terakhirnya. "Tapi harus kamu yang jadi kokinya, soalnya rasa kaya gini bakal beda kalau ditangan orang lain meski pakai resep yang sama"
"Ini artinya aku punya kesempatan buat kerja di caffe kamu?" Angka menggeleng pelan sambil menyicip kuah cilok, lagi-lagi rasanya sangat enak. Memang Alma itu seperti punya tangan ajaib. "Lho kalau gak kerja di caffe kamu gimana caranya cemilan kaya gini bisa ada di cafe kamu sedangkan aku aja gak ada ditempat"
"Kan kamu bisa bikin adonannya dari apartemen atau rumah kamu, nah nanti bisa digoreng di dapur caffe kalau ada yang pesan cemilan ini. Soal pendapatan kita bisa bagi, gimanapun juga resepnya kan dari kamu dan udah pasti kamu ikut andil kalau cemilan ini banyak peminat"
Sebenarnya Alma tergiur dengan tawaran Angka, tapi dia berpikir waktu istirahatnya akan terganggu karna harus membuat adonan dipagi buta.
Beberapa menit kemudian, Angka maupun Alma hanya berdiri di pagar besi balkon setelah Angka menghabiskan semua makanan meski untuk kuah cilok dia tidak menghabiskannya takut sakit perut dia bilang. mereka sedang sama-sama termenung, entah terbang kemana pikiran mereka.
"Alma" gumam Angka dan tatapan mereka bertemu, Alma bisa melihat gurat kesedihan dimata dan wajah Angka. Kira-kira hal berat apa yang sedang Angka hadapi, sampai terlihat segitu lelahnya. Karna tidak tau apa yang harus dilakukan, Alma merentangkan tangannya, siapa tau Angka memang butuh sebuah pelukan. Terkadang seseorang lebih butuh pelukan daripada ucapan penyemangat dikala hatinya sedang gundah.
Tak Alma duga Angka memeluknya dengan sangat erat, kepala lelaki itu ditaruh diantara ceruk lehernya. Angka memang sangat membutuhkan ini, memastikan bahwa Alma akan selalu baik-baik saja jika berada disisinya.
"Tetap disisi aku Al apapun yang terjadi, aku takut dan gak mau kehilangan kamu" gumam Angka pelan namun masih bisa Alma dengar. Gadis itu menepuk punggung Angka pelan, menenangkannya.
__ADS_1
"Aku akan terus ada disini buat kamu, jangan takut"
*****
Disisi lain, seorang gadis dengan dress mini sedang menggila ketika salah satu mata-mata suruhannya menangkap gambar kemesraan dua orang yang sangat ingin dia pisahkan. Gadis itu Renata, membuang dan melempar barang-barang yang berada di kamarnya untuk meluapkan rasa marahnya.
"Sial! kenapa tiap hari mereka malah semakin lengket" Desis Renata tajam.
Dia melirik kearah ponselnya yang kembali berdenting tanda adanya pesan masuk, dia akan benar-benar menghancurkan ponsel ini jika mata-mata suruhannya itu kembali mengirim gambar kemesraan Angka dan Alma.
"Ibu Alma ternyata tidak mengetahui kalau anaknya bekerja sebagai seorang pembantu di apartemen milik tuan Angka, ibunya hanya tau anaknya bekerja sebagai pelayan caffe. Informasi ini saya dapat dari tetangga Alma ketika saya mencoba bertanya tentang keluarga Almana Paramita dan berpura-pura menjadi teman lamanya"
Melihat isi pesan itu wajah Renata langsung berubah menjadi senyum licik dan bengis, hal ini bisa dia jadikan boomerang untuk gadis perebut tunangannya itu. Renata hanya harus menyusun rencana bagaimana caranya ibu Alma tau pekerjaan anaknya, atau Renata harus turun tangan sendiri? Dia ingin melihat tangisan dan kehancuran gadis perebut itu.
Dia sangat yakin ada alasan kuat mengapa Alma berbohong kepada ibunya soal pekerjaannya, Renata hanya perlu 1 rencana untuk menyingkirkan Alma dari kehidupan sehari-hari Angka. Membuat mereka menjauh secara perlahan.
"Ayah Almana terlilit hutang bukan dengan bank melainkan dengan ayah Anda, nona. Ayah alma meminjam uang sekitar 100 juta untuk modal usahanya namun usaha itu gagal karna usaha jahit ayah Alma yang sepi peminat dan untuk kompensasi waktu pembayaran ayah Alma memberikan jaminan berupa sertifikat rumah kepada Tuan Kusmanto"
Dan skak! Kehancuran Alma berada ditangan Renata sekarang, dia akan mengancam gadis itu habis-habisan atau dia akan kehilangan segalanya. Akan Renata pastikan Alma akan menghilang selamanya dari hidup Angka, tak akan Renata biarkan mereka bersatu dan hidup bahagia sedangkan dia harus menderita sendirian. Tidak akan dia biarkan itu terjadi.
__ADS_1
"Lo tunggu pembalasan gue, Almana Paramita"