CARI KERJA KOK SULIT?

CARI KERJA KOK SULIT?
Semakin Dekat


__ADS_3

Pagi menyapa, tidur Alma kali ini terasa sangat nyenyak. Ia juga mimpi indah sepertinya ciuman Angka semalam menjadi salah satu faktornya membuat Alma betah berada di alam mimpi.


"Jam berapa ini" gumamnya dan melihat jam di nakas, pukul 5.30 pagi. Pantas saja matahari belum sepenuhnya menampakkan sinarnya.


Alma bangun dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, semalam Angka berkata bahwa ada pakaiannya yang sudah kecil dan sepertinya bisa Alma pakai. Ya setidaknya sampai pulang nanti Alma bisa memakainya.


Setelah selesai mandi dan berpakaian Alma bergegas keluar kamar untuk membuat sarapan, ia melirik ruang tv dan melihat Angka yang meringkuk memeluk guling dengan selimut yang sudah tidak beraturan letaknya. Alma tersenyum dia mendekat sebentar untuk melihat Angka, wajah itu semakin terlihat tampan dan polos jika sedang terpejam begini.


"Ganteng banget sih" ujar Alma pelan, mengelus rambut Angka lalu beranjak menuju dapur.


Pagi ini Alma akan membuat nasi goreng telur saja, ia pun lupa berkata pada Angka semalam bahwa stok bahan makanan sudah hampir habis. Lelaki itu butuh belanja bulanan untuk menyetok persediaan.


Saat sedang asik memasak Alma dikejutkan dengan tangan melingkar disekitar pinggangnya, Alma sudah tau siapa orang ini. Kepala lelaki itu disandarkan pada bahunya, Alma baru mengetahui sisi manja Angka yang satu ini.


"Masak apa Al?" Tanya Angka dengan suara beratnya, duh Alma jadi membayangkan jika istri Angka nanti menjadi orang yang sangat beruntung bisa mendengar dan mendapat pelukan seperti ini di pagi hari.


"Nasi goreng telur, kamu sejak kapan bangun? aku kok gak denger suara langkah kaki kamu"


"Aku kebangun sejak ada orang yang ngelus rambut aku sambil bilang kalo aku ganteng banget" Mendengar itu sontak saja pipi Alma bersemu, astaga dia ketahuan. Malu sekali.


"Ish kamu tuh ya" Sebal Alma, Angka terkekeh melihat wajah bersemu itu yang selalu terlihat menggemaskan. Lelaki itu menatap baju yang dipakai Alma, training biru dan kaos warna hitam yang agak kebesaran, padahal kaos ini menurut Angka sudah kekecilan saat ia pakai tapi ternyata saat Alma yang memakainya malah terlihat agak kebesaran. Ini apa karna Angka yang punya tubuh terlalu besar atau Alma yang terlalu mungil?


Entahlah yang pasti Angka senang melihat pakaiannya dipakai Alma, lucu. Pikirnya.


"Sana mandi dan siap-siap kamu kan harus berangkat ngampus dan pergi ke caffe kan?"


"Hari ini aku ada kelas agak siangan, soal ke caffe dari rumah pun aku masih bisa pantau kok" Angka mengeratkan pelukan itu membuat Alma sedikit risih, dia kan sedang memasak jika dipeluk gini Alma menjadi tidak fokus.

__ADS_1


"Ya tetep aja dong, harus mandi. Kamu bau soalnya" Bohong Alma nyatanya Angka masih sangat wangi bahkan nafasnya pun begitu. Alma hanya ingin lelaki ini cepat-cepat pergi agar dia bisa kembali fokus memasak.


"Masa sih?" Tanya Angka lalu membaui tubuhnya, ehm agak kecut sedikit. Batinnya.


"Yaudah deh aku mandi dulu"


Cup!


Alma mematung ketika kecupan singkat ia rasakan dipipi kanannya sedangkan si biang keladi dengan santainya berjalan menuju kamarnya. Tidak taukah dia bahwa Alma hampir terkena serangan jantung karna ulahnya itu?!


"Ishh sekarang aku harus ekstra hati-hati sama setiap gerakannya, bisa bahaya nih buat kesehatan jantung" Alma menarik nafas dan menghembuskannya dengan cepat. Ia harus menyiapkan benteng pertahanan yang kuat supaya siap dengan segala serangan tiba-tiba Angka.


*****


"Nanti kamu pulang aja Al, hari ini kamu gak usah pulang sampe sore" Ujar Angka ketika mereka sedang sarapan bersama, sebenarnya Alma agak tidak enak makan bersama Angka begini. Alma sadar lelaki ini masihlah menjadi majikannya, meski mereka sudah tau perasaan masing-masing tetap aja kan Alma harus sadar posisinya.


"Ya kamu kan udah beberes dari pagi, jadi hari ini kamu boleh pulang lebih awal" Mendengar itu Alma mengangguk, mengiyakan. Jadi hari ini Alma bisa sedikit bersantai dan menonton drama. "Aku juga bakal antar kamu pulang" lanjut Angka.


"Eh gak usah, aku bakal pulang naik ojek online aja nanti" Angka menggeleng mendengar itu.


"Gak, udah jadi tanggung jawab aku buat antar kamu pulang. Gak ada bantahan" Pada akhirnya Alma mengalah, biarlah jika memang Angka ingin mengantarnya lumayan juga Alma jadi hemat ongkos.


Setelah selesai sarapan mereka bersiap menuju rumah Alma, Angka membawa motor matic kesayangan yang memang ditaruh di parkiran apartemen. Lelaki itu bilang motor ini adalah motor pertama pemberian papahnya sebab Angka berhasil mendapat peringkat 5 besar saat SMA. Bisa dibilang ini hadiah atas keberhasilannya tapi setelah lulus SMA dan Angka dibelikan mobil karna berhasil masuk jurusan kedokteran di univ ternama di kota ini. Dia jadi jarang menggunakan motornya dan hanya memakainya jika bosan mengendarai mobilnya, itupun bisa terhitung jari.


"Udah siap tuan putri?" Angka menatap Alma lewat kaca spion dan ikut tersenyum saat Alma mengangguk dan berkata "Siap pangeran."


Perjalanan dari apartemen Angka menuju rumah Alma tidaklah jauh, hanya 15 menit dan sekarang mereka sedang memasuki gang menuju rumah Alma.

__ADS_1


"Ibu kamu ada dirumah Al?" Ujar Angka ketika sudah memarkirkan motor di depan rumah Alma, rumah minimalis dan teras yang tidak terlalu besar. Tapi Angka bisa merasakan kehangatan dari rumah ini.


"Ada kok, tapi kalo ayah kayanya dia udah berangkat kerja" Alma mengira Angka akan langsung pergi tapi lelaki itu malah ikut turun dari motornya dan mengikuti langkah Alma.


"Assalamualaikum, bu" ujar Alma yang langsung mendapat jawaban dari dalam, Alma membuka pintu dan melihat ibunya berjalan kearah mereka. Wajah wanita paruh baya itu mengerut saat melihat lelaki asing dibelakang anaknya, mata rosita menatap lelaki muda itu tanpa kedip. Terpesona akan ketampanannya.


"Eh siapa ini? Ganteng amat" Alma melotot mendengar ucapan ibunya, sudah tua juga masih saja tidak kedip jika melihat lelaki tampan. Batin Alma.


"Saya Angka, bu. Bos Alma di tempat kerja" Angka menyalami Rosita membuat wajah yang sudah agak keriput itu tersenyum. Sopan dan tampan, perpaduan yang sangat pas.


"Oh bos Alma toh, kirain pacarnya Alma hehe" Alma mendelik pada sang ibu "Duduk dulu nak Angka. Ibu buatkan minum ya" Angka buru-buru mencegah langkah ibu Alma.


"Gak usah bu, saya cuma mau mastiin Alma sampai dengan selamat di rumahnya. Saya juga lagi buru-buru, masih ada urusan"


"Ah, begitu yaudah kalo gitu makasih ya nak Angka sudah repot-repot antar Alma pulang padahal dia bisa pulang sendiri. Anak ini emang agak manja" Angka terkekeh melihat wajah cemberut Alma. Sedangkan Rosita pun ikut terkekeh, dia senang menggoda Alma.


"Kalau gitu saya pamit bu, Al aku pulang dulu ya" Angka menyalami ibu Alma dan setelahnya beranjak pergi, Alma tersenyum menatap kepergian lelaki itu bahkan ketika Angka sudah tak terlihat pun senyum itu masih terpasang diwajahnya. Rosita yang melihat itu tidak bisa menahan untuk tidak menggoda Alma.


"Udah kali senyumnya, orangnya juga udah ilang. Ibu curiga nih dia bukan bos kamu tapi pacar kamu, iya kan?"


"Apasih ibu, dia beneran bos aku kok" Alma memang masih belum jujur pada ibunya soal pekerjaannya, dia akan mencari waktu yang tepat untuk bicara jujur pada orang tuanya nanti.


"Tapi dia baik lho Al mau antar kamu pulang, bos lain mana ada yang mau repot-repot ngantar karyawannya begitu. Eh tapi kok bisa bos kamu yang antar kamu pulang? Bukannya kamu nginap di tempat temen kamu?"


Dan pertanyaan itu membuat Alma gugup setengah mati karna belum menyiapkan jawabannya, matilah dia.


'Mampus gue' batin Alma.

__ADS_1


__ADS_2