
Kini Angka, Mamah nya dan Renata duduk di sofa ruang tv. Angka masih cukup kesal dengan kejadian tadi ditambah sekarang Renata duduk sangat dekat dengannya membuat Angka ingin sekali melempar perempuan ini dari atas gedung apartemen.
"Ada apa mamah kesini?" Tanya Angka buka suara karna sejak tadi mamah malah sibuk bermain hp sambil cekikikan.
"Oh iya, mamah sampe lupa tujuan kesini. Mamah mau adain acara makan-makan di rumah besok malam. Kamu datang ya?"
Hah, Angka acara makan-makan itu hanyalah kedok agar ia datang. Padahal Angka tau bahwa yang akan mereka bahas adalah tanggal pertunangan ia dan Renata. Angka sudah hapal betul tabiat mamah nya.
"Mah aku---"
"Gak ada penolakan atau alasan apapun lagi ya Angka, kamu selalu menghindar dari acara begini. Sekali-kali datang dong buat mamah merasa bahwa mamah ini punya anak, lagian ini cuma makan malam biasa kok"
Pembohong. Angka tau itu. Sejak dulu dia berkata bahwa itu hanyalah makan malam biasa tapi mamah nya malah mengenalkan Renata sebagai calon tunangan Angka dimasa depan. Bahwa Angka sudah jadi hak mutlak Renata. Itu menjadi terakhir kalinya Angka mendatangi acara makan malam seperti itu dan karna itu pula Angka memutuskan untuk tinggal di apartemen. Ia sangat kecewa terhadap keputusan sepihak mamah nya.
Sejak saat itu juga hubungan Angka dan mamah Anita merenggang. Angka merasa sangat dikhianati saat itu, ingin membantah tapi dia tidak mau membuat mamah nya merasa malu dan bersedih hati. Saat itu Angka merasa serba salah.
"Mamah tau alesan pasti kenapa angka benci datang ke acara kaya gitu" Ucapan dingin sang anak membuat hati kecil Anita terluka. Dia sudah gagal menjadi ibu yang baik untuk Angka, padahal Angka selama ini selalu percaya dan menjadikan Anita sebagai poros hidupnya namun nyatanya Anita malah mengambil keputusan yang menyakiti anaknya. Tapi Anita tidak punya pilihan lain.
'Maafkan mamah nak' batin Anita sendu.
Alma melihat hal itu sebenarnya ia bingung apa alasan Angka menjadi sedingin itu pada ibunya sendiri, padahal yang Alma ingat saat SMP dulu lelaki itu selalu bersemangat menceritakan ibu nya yang hebat itu. Anita adalah seorang designer terkenal yang punya beberapa butik, banyak artis dan orang-orang sosialita membeli rancangan ibu Angka itu. Dan tiap harinya Angka selalu bercerita bahwa ia bangga mempunyai ibu yang hebat seperti Anita. Namun kenyataan yang Alma lihat ini sedikit membuatnya heran dan sedikit penasaran.
"Yaudah Mamah cuma mau bicara itu aja, ayo Renata kita pulang. Ada yang harus Mamah beli dan mau minta pendapat kamu"
"Tapi tante aku masih mau disini" Renata mempoutkan bibirnya.
"Nanti kita kesini lagi kalau urusan udah beres" Akhirnya Renata menurut pada ucapan Anita, ia mengecup pipi Angka singkat yang langsung membuat pemuda itu mengusap wajahnya seolah-olah ciuman adalah penyakit menular. *Kejam sekali memang.
"Alma tolong kamu antar mereka sampe pintu, aku mau ke kamar mandi" Alma yang sejak tadi hanya menonton drama keluarga di depannya ini langsung tersadar.
"Ah iya, mari bu" Alma berjalan lebih dulu di ikuti Renata, Anita menatap sekali lagi pada sang putra yang masih bergeming.
__ADS_1
"Mamah sangat berharap kamu datang nak"
Senyuman sendu ibunya mengusik hati Angka tapi lelaki itu juga tidak bisa memastikan apakah ia akan datang atau tidak. Angka memilih diam tidak menjawab.
Sebelum benar-benar pergi dari apartemen Angka, Anita menatap Alma pembantu anaknya yang dipilih langsung oleh Angka.
Gadis ini entah mengapa mendatangkan ketakutan untuk Anita, dia takut apa yang sudah dia rencana kan tidak berjalan lancar karna kehadiran gadis didepannya ini.
Alma tersenyum sopan ketika ia menyadari bahwa ibu Angka menatapnya.
"Bisa saya minta tolong sama kamu?"
Ucapan itu memudarkan senyum Alma, dia takut ibu Angka menyuruhnya untuk mengundurkan diri karna kejadian tadi.
"Apa itu bu?" Alma menjawab sopan, Anita menghela nafas sebelum kembali berbicara.
"Tolong bujuk Angka supaya datang ke rumah saya besok malam, ini adalah syarat dari saya jika kamu mau lebih lama bekerja disini"
****
Alma jadi pusing dibuatnya, kenapa pula ia harus dilibatkan. Alma kan tidak ada urusannya dengan mereka, Alma disini hanya bekerja. Setelah mengucapkan kalimat itu, ibu Angka langsung pergi tanpa mau tau jawaban apa yang akan Alma beri. Sepertinya memang Alma tidak diberi pilihan, sebab itu adalah perintah dari nyonya besar.
Ya sudahlah, Alma akan mencoba menbujuk Angka. Sebentar lagi ia akan pulang, tapi haruskah ia mulai membujuk Angka sekarang? tapi Alma takut Angka akan marah karna menganggap Alma ikut campur kedalam urusannya. Untuk resikonya Alma akan pikirkan nanti yang penting Alma mencoba dulu. itu pikirnya.
"Alma ngapain kamu ngelamun di belakang pintu begitu?"
Alma tersadar dari lamunannya, Astaga. sangking asiknya memikirkan perihal perintah ibu angka tadi ia sampai tidak sadar masih berdiri di belakang pintu yang sudah tertutup.
"Hah itu... emm lagi pengen aja berdiri disini hehehe" Alma menunjukkan cengirannya, Angka terkekeh dengan tingkah gadis itu. Ada-ada saja pikir Angka.
"Kamu gak siap-siap pulang?" Angka melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 15.55
__ADS_1
sebentar lagi memang waktunya Alma pulang.
"Ini juga mau siap-siap, mau ambil tas dulu di dapur" Angka mengangguk dan akan beranjak kembali ke kamarnya.
"Angka" panggilan itu membuat langkah Angka berhenti, ia menoleh pada Alma dengan alis terangkat.
"Kenapa?"
"Itu...kenapa kamu gak coba datang aja ke acara Mamah kamu? dia mengharapkan kamu datang, maaf kalau aku ikut campur tapi aku cuma gak tega liat wajah ibu kamu tadi" Alma terpaksa berbohong, sebab jika dia bilang ini perintah ibu Angka. Bisa-bisa wanita paruh baya itu memenggal kepalanya.
"Ada alasan Al, kenapa aku gak bisa langsung setuju sama ajakan mamah aku. Aku cuma gak mau kecewa lagi" Angka seperti menerawang ke masa lalu terlihat dari tatapan yang kosong, kemudian Angka duduk di sofa panjang dan mengkode dengan menepuk sofa di sebelahnya agar Alma ikut duduk di sampingnya. Alma menurut lalu duduk di sebelah Angka dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Lelaki itu menghela nafas.
"Dulu aku selalu percaya sama apapun yang Mamah aku omongin, bagi aku mamah adalah perempuan terhebat yang pernah aku temuin. Tapi hari itu semua kepercayaan aku ilang begitu aja"
"Kenapa?"
"Mamah pernah berbohong soal makan malam, nyatanya makan malam hari itu bukan makan malam biasa. Hari itu adalah hari dimana Renata diperkenalkan sebagai calon tunangan aku di depan seluruh keluarga dan beberapa rekan yang Mamah undang. Aku kecewa banget sama Mamah karna gak pernah diberitahu soal pertunangan itu. Aku kaget, marah, bingung semuanya jadi satu, aku pengen nolak tapi ngeliat wajah sumringah mamah aku lebih milih diam"
Alma bisa membayangkan betapa kecewanya Angka saat itu, perihal pasangan adalah hal yang sangat sensitif. Salah pilih malah akan menciptakan permasalahan baru, tidak adanya keharmonisan dalam pernikahan.
"Renata adalah anak dari almarhum sahabat Mamah, namanya tante sarah. Beliau meninggal karna kanker, dulu waktu tante Sarah masih hidup dan mamah aku juga tante Sarah sama-sama hamil mereka ngebuat janji kalau anak mereka sepasang maka mereka akan menjodohkan keduanya"
Perjodohan rupanya, mengapa pula kedua sahabat membuat janji konyol seperti itu? kalau anak mereka saling suka, kalau tidak? ya seperti Angka inilah akhirnya.
"Lagian dijaman sekarang masih aja ada jodoh-jodohan gitu" Angka mengangkat bahu tanda bahwa ia juga tak habis pikir.
"Janji itu pada akhirnya ngebuat salah satu dari kalian menderita, Renata dia bahagia sama pertunangan kalian. Tapi kamu??" ucap Alma menatap Angka yang terdiam menatap kosong televisi yang tidak menyala.
"Tadinya aku sedang mencoba menerima takdir, tapi beberapa hari ini ada satu hal yang mengusik niat aku. Aku ragu dengan keputusan aku sekarang"
Ucapan itu membuat Alma menyatukan alisnya tanda menunggu lanjutan ucapan Angka.
__ADS_1
"Kehadiran kamu yang ngebuat aku ragu Al"
Alma bergeming mendengar hal itu seolah ada yang menutup telinganya membuat Alma tidak bisa mendengar hal lain kecuali ucapan Angka tadi yang terus terngiang.