
Hari senin hari yang sangat dibenci banyak orang karna menjadi awal hari dimana kebanyakan orang pasti mengalami banyak kesialan. Contohnya alma. Waktu sudah menunjukkan 8.30 tapi ia baru sampai di apartemen angka. Ini terjadi karna ojek online yang alma tumpangi ban nya bocor.
Mau mencari bengkel tetapi jaraknya sangat jauh, mana keadaan jalanan sangat padat oleh kemacetan. Jadilah alma memilih untuk berjalan kaki saja, walau begitu Alma tetap memberi ongkos full pada tukang ojeknya. Anggap saja senin berkah.
Begitu sampai apartemen Angka, gadis itu menghela nafas lega. Sungguh ia lelah. Tapi kalau naik angkutan umum lagi alma sayang duit. Maklum pengeluaran alma selama sebulan sangatlah banyak jadi sebisa mungkin ia berhemat.
Alma membuka pintu apartemen angka, suasana hening seperti biasa. Tapi yang alma heran kenapa sepatu angka masih terpajang rapi di rak tempat sandal dan sepatu? biasanya ketika alma datang hanya tersisa sandal dalam milik angka. Sedangkan sepatu nya tentu saja pemuda itu pakai ke kampus.
'apa dia gak kuliah kali ya?' batin alma.
Gadis itu memilih mengecek langsung pada kamar Angka, ia melihat pintu kamar pemuda itu terbuka sedikit menyisakan celah untuk alma mengintip. Tapi betapa kagetnya alma begitu melihat tubuh tinggi besar itu terbaring miring di lantai.
"Angka!!!" jerit alma berlari menghampiri angka.
"hei bangun ka, kamu kenapa?!!" entah kenapa alma merasa sangat panik, gadis itu mengguncang tubuh Angka. Tubuhnya Lelaki di depannya ini sangat panas. Angka demam.
"mah, kepala angka pusing" gumam Angka, wajahnya terlihat pucat bahkan bibirnya pun memutih.
"Angka kamu masih sadar kan? aku bantu naik ke tempat tidur ya" Alma mendudukkan Angka lalu membantu pemuda itu berdiri, ya ampun berat sekali manusia satu ini. gumam alma dalam hati.
"Angka badan kamu jangan dilemesin banget bentar lagi sampe kasur kamu nih" padahal jarak dari tempat Angka berbaring menuju ke tempat tidur tidaklah jauh, tapi kenapa alma justru merasa sebaliknya? Pasti karna beban dari lelaki yang dipapah nya ini.
brukk...
Perjuangan Alma tidak sia-sia Angka kini sudah berbaring di tempat tidurnya, astaga hari ini menjadi hari yang melelahkan bagi alma. Belum sempat duduk sama sekali untuk menghilangkan rasa lelahnya akibat berjalan, ini malah ditambah harus mengangkat tubuh besar Angka. Huft.
Gadis itu memilih untuk ke dapur mengambil baskom dan kain untuk kompresan, baru selangkah ia berjalan. Sebuah tangan besar nan hangat menahannya.
"Jangan tinggalin aku" gumam Angka, menggenggam tangan Alma erat.
"aku ke belakang bentar buat ambil kompresan" Dengan pelan alma melepas tautan itu, mengelus rambut Angka pelan kemudian keluar dari kamar menuju dapur.
Setelahnya barang yang ia butuhkan sudah lengkap alma pun kembali ke kamar dan mulai mengompres Angka,
__ADS_1
'abis ini aku bikin bubur deh pasti Angka belum makan' alma bergumam pelan.
Gadis itu menatap lekat wajah Angka yang tertidur lelap dengan sesekali dahinya mengernyit dalam tidurnya lelaki itu terlihat gelisah. Bahkan dalam tidurnya saja lelaki ini masih terlihat tampan.
Alma memutuskan untuk membuat bubur agar ada asupan yang masuk ke perut Angka, memastikan Angka minum obat, baru setelah itu mengerjakan kerjaan lain. Hari ini Alma bekerja ekstra mengurus majikan dan rumah nya.
Beberapa menit kemudian bubur siap lalu Alma taruh di nampan tak lupa juga dengan air hangatnya. Begitu masuk kamar Alma melihat angka sudah bangun dan mendudukkan diri dengan bersandar di kepala kasur.
"Udah bangun ternyata, ini aku buatin bubur buat sarapan. Ayo dimakan setelah itu kamu minum obat" Ucap Alma. Mendengar kata obat Angka memperlihatkan mimik muka yang terlihat enggan.
"Cukup sarapan aja habis itu aku tidur lagi, gak perlu minum obat" Angka berucap, suaranya terdengar serak.
"Lho kenapa? kalau sakit ya minum obat dong, itu harus. gimana mau sembuh kalau gak minum obat"
"Gak perlu Al, aku udah biasa begini tinggal dibawa tidur juga nanti sembuh sendiri"
Sebenarnya bukan tanpa alasan Angka menolak meminum obatnya, dulu saat kecil dia punya pengalaman buruk saat minum obat. Angka ingat betul ketika umurnya 9 tahun, ia demam dan mamah nya menyuruhnya meminum obat tablet berbentuk bulat berukuran sedang. Saat akan meminum nya, obat tablet itu malah nyangkut di tenggorokan Angka.
Hari itu Angka merasa bahwa mungkin itu menjadi hari terakhir ia hidup, sebab Angka langsung kesulitan bernafas. Mamah Anita sangat panik saat itu, semua orang yang bekerja di rumah besar itu seketika heboh melihat tuan kecilnya kesulitan bernapas.
Itu merupakan kejadian yang sangat tidak ingin Angka ulang, benar-benar mengerikan. Sebab itu pula Angka menjadi trauma meminum obat tablet entah apapun itu bentuknya.
Dan mamah nya menjadi sangat ribut jika tau Angka sakit, wanita itu pasti sibuk menyuruhnya untuk ke rumah sakit dan jangan sampai meminum obat, takut kejadian yang sama terulang.
Tapi yang jadi masalah sebagai ganti karna tidak bisa meminum obat Angka harus menahan sakit dari jarum suntikan.
"Gak bisa gitu lah, kamu harus minum obat"
"Gak bisa Al, aku--"
"Udah pokoknya kamu harus minum obat. Sini biar aku suapin makan nya"
Huftt. Angka menghela nafas lelah. Kenapa gadis ini keras kepala sekali, Angka bisa saja cerita tapi ia terlalu malu. Alma pasti akan menertawakan nya jika Angka cerita, yang benar saja lelaki berbadan kekar sepertinya takut minum obat.
__ADS_1
Lebih tepatnya takut tersedak saat meminum obat.
"Aaaa..." Angka melahap bubur itu dengan di suapi Alma, entah kenapa Angka merasa nyaman berada di dekat Alma. Gadis itu penuh perhatian dan ketulusannya dalam bekerja maupun saat mengurus angka seperti sekarang membuat jantung pemuda itu berdesir.
"Nah udah abis, ayo sekarang minum obatnya" Alma mengambil tablet obat di atas nakas dan menyodorkan obat beserta segelas air pada angka.
"minum dulu air nya" lanjut gadis itu.
Angka menatap horor obat berbentuk bulat di tangannya ini, kenapa mendadak ia merasa dejavu?
"Tapi Al, aku beneran gak bisa minum obat"
Angka memasang wajah memelas,
"ya tapi kenapa? gimana mau sembuh kalau gak minum obat"
"Aku trauma minum obat--"
Dan akhirnya Angka memilih jujur soal dia yang takut minum obat, Alma pasti tidak akan mengerti jika Angka tidak cerita. Alma tercengang mendengar cerita Angka. Alma tau rasanya tersedak sesuatu ia juga pernah hampir mati karna sesak nafas akibat tersedak saat minum teh.
Diwaktu itu Alma sedang menonton acara komedi ditemani teh hangat, saat sedang asik tertawa sembari minum. Alma tersedak teh membuatnya kesulitan bernafas.
Alma ingat saat itu ibunya sedang menilap baju disampingnya, awalnya ibu tidak menyadari alma tersedak dan masih asik menilap baju tapi begitu melihat Alma berusaha menggapai tangan sang ibu dengan wajah sudah memucat dan tangan memegang leher barulah ibunya sadar bahwa anaknya tersedak.
Ibu nya berteriak membuat seluruh penghuni rumah mendatangi ruang tv, ayah alma yang sedang mandi pun langsung berlari dengan banyak busa di kepalanya karna sedang keramas bahkan handuk ayahnya hampir copot saat berlari sangking paniknya. Abangnya pun ikut membantu mengusap punggung Alma.
Sampai akhirnya Alma bisa kembali bernafas normal saat ibunya meniup ubun-ubun alma. Hal itu ibu Alma lakukan karna titah sang nenek, itu merupakan cara yang dilakukan orang jaman dulu saat ada orang tersedak. Siapa sangka itu berpengaruh juga pada Alma.
"Jadi gitu Al" Ucap Angka diakhir cerita, Alma hanya mengangguk. Sedetik kemudian alma mendapat ide.
"Kalau kamu gak bisa minum obat bulat-bulat, kita bisa pakai cara lain"
"Cara lain? Gimana?"
__ADS_1
Pertanyaan Alma balas dengan senyum misterius.