
Alma berdiam diri menatap jendela kamar nya yang terbuka, setelah pulang dari apartemen angka dengan memilih naik ojek online daripada diantar lelaki itu. Kalimat terakhir angka membuat nya mematung dan tidak bisa mengeluarkan kata lain selain "bisa pulang sendiri" padahal alma sudah meyakinkan diri bahwa ia tidak lagi menaruh rasa pada angka namun mendengar fakta secara langsung dari lelaki itu bahwa ia sudah punya tunangan, alma merasakan pedih di ulu hati nya.
mungkinkah dia masih mengharapkan cinta nya terbalas? atau mungkin ternyata memang selama ini cinta untuk angka tidak pernah hilang melainkan hanya terpendam karena tidak lagi bisa melihat lelaki itu. Jawaban nya alma sendiri tidak tau, ia tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaan nya sekarang.
"kayanya aku sekarang memang harus ngeyakinin diri kalo sampai kapan pun gak akan bisa milikin kamu"
alma menghembuskan napas kasar lalu memilih mendudukkan diri dikursi kayu dalam kamar nya, gara-gara lelaki itu Alma rasanya malas untuk mengerjakan hal lain bahkan untuk mandi sekalipun padahal selama di apartemen angka ia lumayan banyak berkeringat dan berpikir untuk langsung mandi jika sudah sampai rumah. Namun yang terjadi ia malah melamunkan lelaki yang bahkan tidak memikirkannya barang sedetik pun. mungkin.
tok tok tok
pintu kamar nya diketuk dan wajah ibu nya muncul dari balik pintu,
"lho belum mandi?" alma menoleh pada sang ibu dan menunjukkan cengiran khasnya.
"belum bu, aku ngerasa capek jadi mau duduk bentar. habis ini langsung mandi kok"
"yaudah cepet mandi gih abis itu makan, ibu masak sayur sop kesukaan kamu"
alma mengangguk dan pintu pun akhirnya tertutup, alma memilih untuk segera beranjak dan membersihkan diri. perutnya juga sudah lumayan merasa lapar walau tadi di apartemen angka , alma sudah minum jus buah untuk mengganjal perut nya.
*****
Angka sedang sibuk dengan urusan caffe, mendata beberapa bahan makanan dan minuman yang sudah sedikit stoknya. Setelah alma pulang dari apartemen nya yang lebih memilih ojek online ketimbang diri nya entah mengapa membuat angka sedikit merasa kesal. kenapa gadis itu seolah sedang menghindari nya? apakah karena angka memberitahu bahwa ia ingin menjemput tunangan nya makanya dari itu merasa canggung?
__ADS_1
Astaga. bahkan angka tidak peduli pada reaksi calon tunangan nya itu jika dia tau angka mempekerjakan seorang yang seumuran dengannya ketimbang memilih pembantu berumur yang berpengalaman.
Seharusnya angka menjemput Renata Kusmanto di bandara tapi ia terlalu malas melakukan nya. ponselnya pun tidak berhenti berdering dan angka tau dari siapa panggilan itu berasal, siapa lagi jika bukan mama nya.
tapi angka lebih memilih mengabaikan panggilan itu. terserah lah, pikirnya.
Saat asik melamun pintu ruang kerja nya terbuka menampilkan seorang gadis berpakaian modis dan mini dengan tubuh tinggi bak model dan make up yang cukup mencolok. Dia Renata Kusmanto. calon tunangan angka itu lebih memilih langsung menghampiri sang pujaan hati begitu sampai di kota ini ketimbang datang menemui orang tua nya.
"My baby angka, kenapa kamu gak jemput aku di bandara hah?" tanya gadis itu sembari berjalan dengan berlenggak-lenggok menghampiri angka yang langsung memijat pelipisnya. Hari neraka bagi angka dimulai dari sekarang.
"Sorry, kerjaan saya banyak jadi gak bisa jemput" angka melihat renata mempoutkan bibirnya tapi menurut angka itu tidak ada lucu nya malah angka semakin kesal melihat wajah itu.
"harusnya kamu kabarin aku dong atau kabarin mama kamu kek kalo gak bisa jemput, jadikan aku gak perlu nunggu kamu. harus kamu tau ya aku nunggu kamu hampir 1 jam tadi...." Dan bla bla bla.
itulah yang angka tidak suka dari gadis di depan nya ini, kalau orang berbuat salah ia akan terus menyalahkan orang tersebut meskipun sudah meminta maaf sekalipun. gadis ini benar-benar egois dan tidak bisa mengerti orang lain, harus orang lain yang selalu mengerti dia. kalian bisa bayangkan bagaimana rumitnya hidup angka jika harus menikah dengan gadis ini. mungkin angka akan beruban sebelum waktunya.
"Angka kamu dengerin aku!! dasar nyebelin banget sih"
*****
Alma bersiap menuju apartemen angka, tepat sebulan sudah ia bekerja pada angka. pertemuan terakhir nya dengan angka adalah hari dimana angka mengatakan soal tunangan nya itu. setelahnya alma tidak pernah bertemu lelaki itu lagi, ketika ia datang pemuda itu sudah tidak ada di apartemen dan hanya meninggalkan note bahwa ia akan berangkat lebih awal dan pulang lebih larut dari biasanya, begitu seterusnya. Alma tidak begitu memperdulikannya, ia sudah memantapkan hati untuk mengubur harapannya pada lelaki itu.
Mungkin angka sedang sibuk dengan tunangannya itu, biarlah toh itu bukan urusan alma. Yang gadis itu tau hanyalah bekerja sebagaimana mestinya, ngomong-ngomong soal gaji angka baru saja mentransfer gaji nya tadi malam. ia juga memberikan bonus padahal alma tidak mengharapkan lebih tapi jika sudah dikasih ya ia tidak akan menolak tentu saja.
__ADS_1
"Nyuci baju terus nyetrika ternyata banyak juga baju dia yang lecek mungkin gak pernah digosok, tapi pasti gak digosok mana sempet tuh orang pegang setrikaan atau mungkin yang lebih parah dia gak bisa gosok" alma bermonolog sendiri selagi memasukan baju kedalam mesin cuci.
ting tong .....
Bel apartemen berbunyi , alma menghentikan aktivitasnya. apa itu angka? eh tapi jika itu angka tidak mungkin ia menekan bel dia kan tau password apartemen dan tidak mungkin juga lelaki itu lupa password apartemen nya sendiri. lalu siapa yang bertamu?
Alma bergegas membuka pintu dan terpampang lah dua orang perempuan. Satu wanita paruh baya dan satu lagi seorang gadis dengan tubuh tinggi dan dress mini nya berdiri menatap alma dengan raut wajah yang sama. Heran.
"kamu siapa?" wanita paruh baya itu yang lebih dulu buka suara, ia menampilkan wajah yang terlihat sinis. astaga alma bukan maling, kenapa wajah itu sangat dingin mengingatkan nya pada wajah angka atau jangan-jangan wanita ini memang ibu nya angka?!
"Saya alma bu, pembantu baru di apartemen. ibu ada keperluan apa kalau boleh saya tau?"
alma berujar sopan, gadis dengan dress mini itu berdecak.
"apa kami gak disuruh masuk dulu?! minggir lo!" gadis itu dengan arogan mendorong alma sampai gadis itu hampir kehilangan keseimbangannya. benar-benar tidak sopan.
ia masuk diikuti wanita paruh baya dengan sanggul rapi itu.
"Saya Anita ibu angka dan ini Renata calon tunangan angka" alma dengan cepat menunduk begitu tau bahwa yang di depannya ini adalah ibu angka, pantas saja wajahnya mirip.
"silahkan duduk bu, saya akan buatkan minuman"
"Tunggu"
__ADS_1
alma menghentikan langkah kakinya dan memilih kembali menghadap wanita paruh baya di depan nya ini, tatapan intimidasi itu membuat alma merasa ciut.
"sejak kapan kamu bekerja di apartemen ini? kenapa angka gak ngasih tau saya soal kamu?"