
Keesokan harinya, Alma sedikit ragu untuk datang ke apartemen angka. Apakah ia menuliskan surat pengunduran diri saja?
Apalagi alma melihat sendiri bagaimana tidak sukanya ibu dan tunangan angka akan kehadirannya sebagai pembantu di apartemen lelaki itu kemarin.
Tapi alma juga tidak bisa lari dari tanggung jawabnya lagipula angka juga tidak mengiriminya pesan seperti ucapan terakhirnya kemarin. Setidaknya Alma datang dulu saja ke apartemen Angka untuk memastikan apakah ia lanjut kerja atau tidak.
15 menit waktu yang dibutuhkan Alma untuk sampai di apartemen angka, baru saja ingin menekan password namun pintu sudah terbuka dari dalam. Sosok angka dalam balutan kemeja hitam muncul dari balik pintu, lelaki dengan tubuh tinggi itu tersenyum seolah menyambut Alma dan seolah sudah mengetahui kedatangannya.
"Aku kira kamu gak akan dateng, tadinya aku mau chat tapi rasanya kurang etis. masuk yuk" Angka melebarkan pintu supaya Alma bisa masuk, setelahnya mereka duduk disofa depan tv. Alma mendadak merasa canggung dan gugup, Angka berdehem sebelum mulai berbicara.
"Soal kemarin aku minta maaf ya, sebenernya mamah aku bukan marah sama kamu. Tapi dia kesel sama aku karna gak ngasih tau dia soal kamu yang kerja disini. Dari dulu mamah tuh emang gak suka sama pembantu yang umurnya muda, dia mikirnya kalau punya pembantu yang usianya muda pasti kerjanya males-malesan. Bukan tanpa alasan dia mikir gitu tapi emang dulu pernah ngalamin punya pembantu yang kurang tanggung jawab sama kerjaan"
Alma mengangguk, jadi artinya dia gak dipecat kan?
"Artinya aku masih kerja disini kan?"
"Tentu aja, aku udah jelasin ke mamah gimana kinerja kamu selama sebulan ini. Dan akhirnya dia ngizinin kamu tetap kerja disini, mamah aku juga minta sampein maaf dia ke kamu"
"Aku gak mempermasalahkan itu kok, lagipula di dunia kerja emang pasti ada aja problemnya. Aku mau ucapin makasih malah sama mamah kamu karna tetep ngizinin aku kerja disini"
Angka tersenyum menatap wajah Alma yang tidak lagi terlihat keruh seperti saat datang tadi, Angka lebih suka wajah itu tersenyum dengan raut ceria. Itu lebih cocok untuk seorang Alma.
"Mengenai Renata, kamu gak usah terlalu peduliin omongan dia ya, dia itu emang suka gak jelas orangnya" Alma mengernyitkan dahi, kenapa Angka terlihat tidak suka pada tunangannya itu ? padahal harusnya kan mereka terlihat saling mencintai. Alma hanya mampu memendam rasa penasarannya lagipula tidak sopan rasanya jika ia menanyakan hal bersifat pribadi seperti itu.
"Yaudah kamu bisa mulai kerja, Oh iya kayanya kerjaan kamu bakal nambah sekarang, soalnya aku akan sering sarapan di apartemen itu juga yang jadi syarat dari mamah aku supaya kamu tetap kerja disini. Katanya harus mastiin aku gak melewatkan sarapan"
Alma mengangguk cepat, ia tidak masalah jika harus memasak untuk angka. Sebenarnya dari awal kerja Alma sangat ingin memberi sarapan setiap pagi nya untuk Angka, namun melihat laki-laki itu yang selalu pergi dengan terburu-buru membuat Alma jadi mengurungkan niatnya.
__ADS_1
****
Siang ini renata datang ke kampus Angka tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menemui sang calon tunangan. Niatnya ia ingin memberi suprise dengan tidak memberitahu kedatangannya.
Renata tentu saja jadi pusat perhatian, siapa yang tidak terpesona akan kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Semua pasang mata melihatnya kagum bahkan iri, tatapan iri datang dari mahasiswi sedangkan tatapan kagum kebanyakan datang dari para mahasiswa. Bahkan ada yang berani terang-terangan menggoda renata tapi tidak dipedulikan gadis itu, fokusnya sekarang hanya mencari lelaki kesayangannya.
"MY BABY ANGKA" teriak Renata begitu melihat angka keluar dari salah satu ruangan yang sudah pasti ruang kelasnya. Anita --mamah angka--tadi memberitahukan nya bahwa Angka akan keluar kelas lebih awal hari ini. Renata ingin menghabiskan waktu dengan angka yang banyak terbuang karna kesibukan masing-masing.
Angka menoleh mendengar suara yang tidak ingin dia dengar itu, Astaga si perusuh satu ini kenapa pula bisa sampai ke kampusnya.
Begitu renata sampai di depannya angka hanya menatapnya datar. Sial. sepertinya hari ini ia tidak bisa menghindar seperti biasanya.
"Aku kangen kamu, kenapa susah banget sih balas pesan atau angkat telpon aku" Renata berucap manja, Angka menghela nafas lelah. Ia berjalan melewati renata yang langsung dicegah gadis itu.
"eh eh, ish kamu mau kemana beb. aku udah jauh-jauh lho dateng kesini harusnya kamu seneng dong"
"emang ada gue minta lo kesini?" Angka berujar datar lalu melanjutkan langkahnya.
Ini tidak bisa dibiarkan renata tidak akan memberikan harga dirinya hancur, ia mengejar angka lagi lalu dengan cepat merangkul lengan lelaki itu. Untungnya angka tidak menolak sentuhannya kali ini dan itu membuat senyum renata terbit. Tidak peduli seberapa kuat Angka menolak pesonanya, Renata akan mengejar lelaki ini sampai dapat. Karna bagi renata ia pantang menyerah sebelum mendapatkan apa yang ia mau.
'liat aja kamu angka sebentar lagi juga pasti kamu akan berlutut memohon cinta dari aku, karna aku yakin kamu cuma pura-pura nolak pesona aku. Di dunia ini gak akan ada yang bisa menolak pesona dari seorang Renata Kusmanto' ujar renata dalam hati.
*****
Jam menunjukkan pukul 2 siang, Angka memilih kembali ke apartemen setelah susah payah mengusir renata secara halus. Angka sengaja datang ke caffe dan memilih menyibukkan diri dengan berkas-berkas penjualan dan tidak memperdulikan rengekan gadis itu yang meminta diantar ke salon.
Gila saja , angka kapok menemani seseorang pergi ke salon, dia tau betapa membosankan nya menunggu para wanita melakukan perawatan. Angka tau karna mamah nya pernah minta ditemani ke salon.
__ADS_1
Dan itu menjadi pertama dan terakhir kalinya seorang angka menemani seseorang ke salon.
Begitu dia masuk, Angka melihat Alma sedang menjemur di balkon. Lelaki itu mendekat dan mendadak seperti tidak bisa menggerakkan badan begitu melihat Alma yang terkena sinar matahari. Mengapa bisa gadis itu menjadi semakin cantik dan bersinar karna terpaan sinar matahari?
Wajah natural itu benar-benar pahatan yang sempurna, hidung mancungnya, dan jangan lupakan bibir pink natural yang gadis itu punya. Apakah kecantikan ini sudah ada sejak dulu? tapi kenapa baru sekarang Angka menyadari nya?
Kehadiran Angka diketahui Alma, gadis itu menurunkan benda yang akan dijemur nya lalu menatap angka yang melihatnya tanpa berkedip. Ada apa dengan lelaki itu? apa ia mendadak kesurupan? atau sedang pura-pura jadi patung?
"Angka? kamu ngapain berdiri disana?"
Angka tersadar lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal demi mengalihkan rasa malu karna ketahuan menatap Alma.
"oh maaf aku ehmm baru sampai kok, aku gak ngeliatin kamu"
"Aku gak ada nanya kok kamu ngeliatin aku atau engga" Alma mendadak ingin tertawa melihat wajah tersipu itu.
'ASTAGA ANGKA BIKIN MALU AJA' batin lelaki itu merutuki kebodohannya.
"Anu itu--" tatapan angka tertuju pada benda yang alma pegang dan wajahnya memerah sampai ke telinga.
"Itu alma kayanya kamu betah banget ya megang barang pribadi aku, jangan lupa buat di jemur" setelah berucap begitu angka langsung pergi meninggalkan alma yang menatap kepergiannya dengan heran. Lalu gadis itu mengalihkan tatapannya pada benda yang ia pegang.
YA AMPUN INI ****** ***** ANGKA!!! BAGAIMANA BISA ALMA TIDAK MENYADARI BARANG APA YANG IA PEGANG.
"aduh alma bodoh banget sih lo, bisa-bisa disangka mesum kalo begini"
alma dengan cepat menjemur benda terakhir di keranjang cucian itu dan buru-buru masuk.
__ADS_1
Rasanya alma tidak sanggup untuk melihat wajah angka nanti.
ALMA MALU!!!