CARI KERJA KOK SULIT?

CARI KERJA KOK SULIT?
Feeling seorang ibu


__ADS_3

Anita menatap tawa Angka yang sudah sangat lama tidak ia lihat, sejak diputuskan nya pertunangan Renata dan Angka secara sepihak dan kemarahan Angka padanya. Anak semata wayangnya itu memilih untuk menjauh dan tinggal di apartemen, Anita bahkan sangat sulit membuat Angka seterbuka dulu untuk menemuinya pun Angka terkadang selalu menghindar.


Bukan mau Anita memaksakan Angka pada pertunangan ini, namun janjinya pada Sarah ibu Renata yang merupakan sahabatnya sejak SMA membuat Anita tidak bisa berkutik. Sarah meninggal karena kanker payudara ketika usia Renata 5 tahun, ia menitipkan Renata pada Anita. Sarah dan Anita juga sudah berjanji jika anak mereka berbeda jenis kelamin maka mereka akan menjodohkan kedua anak mereka. Siapa sangka jika janji itu akan membuat Anita harus menerima kemarahan putra satu-satunya itu.


Renata menatap benci pemandangan di depannya, kenapa Angka begitu mudah tertawa dengan gadis pembantu itu ? dan kenapa setiap bersamanya Angka selalu merasa enggan dan seolah ingin Renata cepat-cepat pergi dari hadapannya.


"My baby Angka!" panggil Renata keras, sontak Angka dan Alma dengan cepat menoleh ke arah sumber suara dengan wajah kaget.


"Mamah? kapan kalian datang?"


"Sejak tadi, kamu terlalu serius sama pembantu kamu itu sampe gak sadar aku dan mamah kamu datang" Renata melirik sinis Alma yang menatapnya dengan kernyitan dahi, sejak awal Alma tidak merasa mencari masalah dengan gadis itu tapi kenapa seolah gadis bernama Renata itu terlihat membencinya ya?


"Alma, namanya Alma jangan sebut dia begitu. Lagian ada tata krama ketuk pintu dan salam kan kalau mau masuk ke tempat orang?" Angka berbicara sinis yang membuat Renata semakin merasa kesal, kenapa Angka sangat membela pembantu itu sih? ujar batin Renata.


"Udah-udah jangan debat, mamah udah ngabarin kamu lho Angka tapi kamu gak ngasih balasan. Jadi yaudah deh mamah langsung datang sama Renata kesini"


Angka menghela nafas mendengar ucapan ibunya, kan dia bisa datang kesini tanpa harus ada Renata. Tapi Angka tau ibunya pasti berniat membuat Renata dan Angka menjadi lebih dekat makanya tiap ada kesempatan ibunya selalu membawa renata.


Kemanapun dimana angka berada. Itu agak menyebalkan menurutnya.


"Maaf mah, Angka langsung keluar begitu balas chat mamah tadi belum sempet liat lagi balasan mamah"


Meskipun Anita tau Angka menjadi dingin padanya tapi tidak membuat anak itu menjadi lupa akan rasa hormat pada ibunya. Menurut Angka mau bagaimana Anita, wanita itu tetap ibu Angka. Seseorang yang sudah membesarkannya.


"Kalian duluan aja ke ruang tv, Angka mau ganti pakaian dulu. Al tolong buatin mereka minum ya" Alma mengangguk mendengar titah itu kemudian beranjak dan memberi anggukan ketika matanya bertemu dengan tatapan ibu Angka.


Renata dan ibu Angka duduk di sofa depan tv, melihat Angka yang sepertinya masih lama keluar dari kamarnya. Renata harus melancarkan aksinya untuk menghasut ibu Angka agar memecat Alma dari apartemen Angka. Setelah itu Renata akan menawarkan tinggal disini sebagai orang yang akan membantu Angka untuk membersihkan apartemen. Tentu saja dengan bantuan orang lain, tidak mungkin Renata rela kuku mahalnya terkena debu atau kotoran di apartemen ini.

__ADS_1


Ia akan mulai menyuruh orang membereskan apartemen ini ketika Angka sudah pergi.


"Mah, kok mamah masih biarin si pembantu centil itu kerja disini sih? harusnya mamah suruh Angka mecat dia dong. Aku calon tunangannya aku lebih bisa diandalkan kok kalo cuma untuk bersih-bersih. Aku juga bisa sekalian tinggal disini supaya Angka ada teman"


"maaf ren, mamah gak bisa maksa Angka. kamu tau sendiri gimana keras kepalanya angka. Mamah gak mau banyak nuntut sama dia, karna mamah gak mau sampe Angka semakin marah sama mamah"


Anita nenatap ke bawah, ia tidak sanggup jika mata teduh anaknya menatap Anita dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Baiklah jika mamah Anita tidak mau membantu maka Renata sendiri yang akan membuat gadis pembantu itu mengundurkan diri.


"Lihat saja apa yang bakal gue lakuin ke lo, pembantu centil"


gumam Renata dalam hati.


*****


Alma yang begitu fokus menatap depan tidak menyadari niat jahat Renata, ketika tubuhnya kehilangan keseimbangan karna jegalan kaki Renata, Alma memejamkan matanya. Alma sudah pasrah jika ia harus menahan malu dan sakit karna terjatuh.


Tapi kok Alma tidak merasakan apapun ya? Yang ada ia malah merasa seperti menimpa sesuatu yang empuk. Untuk memastikan apa yang berada di depannya ini pun, Alma membuka matanya.


TERNYATA DIA JATUH DI PELUKAN ANGKA TEMAN-TEMAN, SEKALI LAGI JATUH DI PELUKAN ANGKA!!!


Alma mematung menatap wajah Angka dari jarak sedekat ini, nikmat Tuhan mana lagi yang ia dustakan begitu melihat ketampanan dari pemuda di depannya ini. Angka memang benar-benar manusia tampan tanpa celah. Bahkan alma tidak melihat adanya pori-pori di wajah Angka, 'mulus coy mukanye' Batin Alma menjerit.


Sedang Renata menatap sengit pemandangan di depannya, sialan gadis itu. Bukannya jatuh menahan malu malah keenakan karna jatuh dipelukan Angka. Buru-buru gadis itu beranjak dan memisahkan keduanya. Ia mendorong Alma kasar lalu memeluk lengan Angka begitu pelukan itu terlepas.


"Centil banget sih lo meluk-meluk tunangan orang, sadar dong kalo lo cuma pembantu disini" ucap Renata mendengar hal itu Alma entah merasa tidak terima.

__ADS_1


'si nenek lampir ini lama-lama ngeselin juga' batin Alma.


"Lho saya gak bakalan mau jatuh begitu kalo gak karna ada kaki gaib yang tiba-tiba muncul ngejegal kaki saya"


Renata melotot mendengar Alma berani membalas ucapannya, apa tadi dia bilang kaki gaib? dikira Renata hantu kali ya.


"Kaki gaib lo bilang, lo---" ketika tangan Renata ingin menarik rambut Alma, Angka yang sejak tadi diam dan tau kejadian yang sebenarnya pun menarik kasar tangan Renata. Menghalau tangan yang ingin berbuat kasar itu.


"Lo apa-apaan sih? jadi cewe kasar banget. Jangan sangka gue gak liat ya kelakuan iseng lo tadi. Kalau sampai Alma jatuh dan kenapa-kenapa gimana? Siapa yang bakalan di minta tanggung jawab? Itu pasti gue!"


Renata menatap Angka dengan wajah terkejut, kenapa Angka terlihat seperti sangat marah hanya karna renata sedikit berbuat iseng pada Alma. Bahkan lelaki itu berani berbicara dengan nada tinggi begini.


Sebenarnya apa arti pembantu ini untuknya?


Anita yang sejak tadi memilih diam dan hanya melihat keributan itupun akhirnya bersuara,


"Angka jangan bicara se-kasar itu sama Renata. Ingat, dia calon tunangan kamu dan suatu saat dia bakal jadi istri kamu"


Renata tersenyum senang mendapat pembelaan dari mamah Angka kemudian menatap Alma dengan senyum miringnya yang dibalas delikan aneh oleh gadis itu.


'gak jelas lo nenek lampir' gumam Alma dalam hati.


"Terus aja mah belain anak ini, biar dia semakin membenarkan tingkah bodoh yang dia lakukan untuk mencelakakan orang lain" Angka memilih melengos dan duduk di sofa ruang tv dengan dongkol.


Anita sekarang sadar bahwa Angka bukan hanya kesal pada kelakuan kekanakan Renata melainkan karna anaknya ini mengkhawatirkan gadis bernama Alma, pembantunya itu.


Anita tau bahwa Angka anaknya menyukai gadis itu, tapi bagaimanapun Anita harus mencegah agar perasaan Angka tidak semakin mengakar pada Alma agar pertunangannya dengan Renata berjalan lancar.

__ADS_1


Ya semoga saja semua berjalan sesuai rencana. Begitu doa Anita dalam hati.


__ADS_2