
Sekarang Angka dan Alma sudah berada di dalam mobil, suasana di dalam mobil sangat canggung sekali. Setelah Anita mamah Angka memilih pergi mengejar Renata, pemuda itu pun langsung menarik Alma pergi meninggalkan pesta yang mendadak menjadi ajang gunjingan untuk keluarga Tanubrata.
Angka sangat yakin kali ini dia tidak akan selamat dari papah nya, Darmawan Gautama. Lelaki paruh baya itu sangat menjunjung tinggi harga diri keluarga nya, saat tau bahwa Angka melakukan hal yang mampu mencoreng nama baik keluarga Gautama pasti papahnya akan langsung kembali dan berakhir mengintrogasi Angka.
Angka sangat yakin mamahnya akan mengadukan hal yang tidak-tidak dan akan membuat Alma berada di dalam bahaya. Tapi Angka tidak akan membiarkan hal itu terjadi, mulai sekarang dia akan melindungi Alma sebagai orang yang dia sayangi.
Pada akhirnya Angka kalah oleh perasaan nya, dia mengakui bahwa dia sudah jatuh cinta pada gadis disebelahnya ini. Sejujurnya Angka sudah menyukai Alma sejak pertama kali mereka berpapasan saat keduanya sama-sama telat masuk kelas di hari pertama mereka resmi menjadi murid dengan seragam putih biru.
Angka selalu memperhatikan Alma dengan mata tajamnya sampai dia tau bahwa ternyata gadis itu juga menyukainya. Tapi dulu Angka ingat saat dia berniat mengutarakan perasaannya pada Alma, salah satu teman Alma yang bernama Nina datang dan memberitahu Angka bahwa Alma tidak benar-benar menyukainya sebaliknya gadis itu membenci Angka. Nina juga bilang bahwa Angka hanya dijadikan orang yang pura-pura Alma sukai karna sebenarnya gadis itu menyukai Rendi teman dekat dan teman sebangku Angka.
Walau Angka tidak tau hal itu benar atau tidak sebab dia tidak pernah mendengar langsung dari Alma tapi hal itu berhasil membuat Angka patah hati dan mengubur perasaannya pada gadis itu, Angka tidak pernah bisa menghilangkan Alma dalam hatinya itu sebabnya pula dia selalu perhatian pada hal sekecil apapun yang di alami Alma. Bahkan tanpa gadis itu sadari bahwa Angka selalu ada kapanpun gadis itu membutuhkan bantuan.
Dan Angka akhirnya memilih untuk berpacaran dengan gadis lain untuk mengalihkan perasaan nya dari Alma, walau ternyata dia tidak bisa benar-benar mengabaikan Alma.
Sampai mereka berpisah karna kelulusan, Angka masih suka menstalk akun sosial media gadis itu. Ingin sekali dia memfollow Alma tapi dia takut perasaannya goyah dan pada akhirnya jatuh kembali pada Alma, tapi siapa yang mengira 7 tahun kemudian mereka kembali bertemu dan sekarang bisa seintens ini. Apakah ini pertanda bahwa Angka bisa memiliki Alma?
Kembali ke masa sekarang, Angka menoleh pada gadis di sebelahnya ini. Alma sejak tadi bungkam, Angka berpikir apa gadis ini marah padanya?
"Alma, aku minta maaf soal hari ini" Angka akhirnya buka suara membuat Alma yang sejak tadi melamun menjadi tersentak dan menoleh padanya.
"Kejadian hari ini benar-benar diluar perkiraan aku, maaf karna ngebawa kamu ke dalam masalah ini" Alma menatap Angka, lelaki itu memberhentikan mobil di taman yang tak jauh dari rumah Alma. Sepertinya mereka memang membutuhkan waktu untuk mengobrol berdua.
"Kamu marah ya?"
"Engga kok ka, aku cuma kaget aja dan ngeliat ibu kamu semarah tadi aku jadi takut. Apa aku masih bisa bekerja dirumah kamu dengan aman"
Hening. Mereka sibuk memikirkan kemungkinan yang akan terjadi setelah ini.
__ADS_1
"Kamu gak usah pikirin soal mamah aku, dia gak akan macem-macem ke kamu. Kamu tenang aja, aku akan lindungi kamu dari mamah aku"
aku bakal lindungi kamu.
Kalimat itu terngiang di kepala Alma dan setidaknya membuat gadis itu merasa sedikit tenang. Alma yakin selagi ada Angka disisi nya dia tidak perlu takut.
"Soal tadi emm-- soal aku yang ngakuin kamu sebagai pacar aku. Bisa gak kamu pura-pura jadi pacar aku?"
Alma melotot kaget namun dengan cepat dia menetralkan ekspresi, jadi pacar pura-pura Angka? mengapa tidak sungguhan sekalian? eh--
"Tapi mamah kamu--"
"Bukannya tadi aku udah bilang? Gak usah pikirin mamah aku, semua kolega bisnis papah aku udah tau kamu pacar aku. Sebagai bentuk protes aku untuk gak melanjutkan pertunangan dengan Renata cuma ini satu-satunya hal yang bisa aku lakuin. Aku udah kehabisan ide menolak kemauan mamah aku"
Angka menghela nafas panjang sebelum kembali berujar.
"Please Al, cuma kamu yang bisa bantu aku semua udah terlanjur terjadi. Aku janji bakal kasih banyak bonus ke gaji kamu kalo kamu bersedia, gimana?"
"Oke, aku bakal bantu kamu" ucap Alma, Angka tersenyum mendengar hal itu dan tanpa sadar malah memeluk Alma. Pelukan itu sangat erat, Alma bisa merasakan nafas Angka di tengkuknya. Setelah tersadar Angka melepas pelukan itu masih dengan senyum cerah di bibirnya.
"Tapi ada satu hal lagi bakal kita hadapi"
Alma mengernyit menunggu kelanjutan ucapan Angka.
"Papah aku, dia pasti udah tau hal yang terjadi malam ini dan udah dipastikan dia bakal pulang, mengintrogasi aku dan juga...kamu"
Alma memasang wajah gelisah, berhadapan dengan mamah Angka saja dia sudah berkeringat dingin. Apalagi berhadapan dengan papah Angka, bisa-bisa dia pingsan sangking takutnya.
__ADS_1
Menyadari kegelisahan Alma, pemuda itu mengambil jemari mungil itu ke dalam genggaman tangan besarnya. Mencoba menenangkannya dan berkata lewat genggaman itu bahwa semua akan baik-baik saja. Alma tersentak namun tak urung memberikan senyuman untuk lelaki di depannya ini.
Ya semua akan baik-baik saja selagi ada Angka disampingnya, Alma yakin itu.
*****
Di lain tempat, tepatnya di kamar lantai 3 kediaman Anita Atmajaya Gautama dan Darmawan Gautama. Renata sang calon menantu sedang sibuk menangis meraung, dia sangat malu saat dipesta tadi. Angka benar-benar sudah mencoreng nama baiknya, Renata tidak tau apakah dia masih punya muka berhadapan dengan banyak orang setelah ini.
Dia duduk bersandar di samping tempat tidur sudah 30 menit sejak dia meninggalkan pesta seja itupula dia enggan beranjak, seolah tidak bertenaga.
"Tega kamu Angka ngelakuin ini sama aku"
Gedoran pintu terdengar, memang tak lama Renata memasuki kamar dan mengunci pintu. Anita sudah sibuk menggedor pintu dan meminta Renata untuk keluar, tapi Renata ingin sendiri. Dia tidak ingin diganggu siapapun.
"Renata, nak buka pintunya. Biarin mamah masuk kita akan bahas soal pertunangan kamu dan Angka. Mamah pastikan pertunangan kalian akan tetap terlaksana"
"Biarin aku sendiri dulu, tolong pergi" Ucap Renata menutup telinga saat gedoran malah bertambah kuat.
Anita putus asa pada akhirnya dia membiarkan Renata seorang diri dengan membawa beberapa bodyguard untuk berjaga didepan pintu kamar Renata takut kalau gadis itu berbuat nekat atau memilih kabur.
Renata menghentikan tangisnya, dia yang tadi terlihat sendu berubah menjadi menggelap. Dia menghapus airmata dan beranjak menuju laci meja dekat jendela, dia mengambil foto dirinya dan angka saat lelaki itu datang ke singapura berkat paksaan Anita. Di foto itu Renata terlihat tersenyum bahagia berbeda dengan Angka yang memasang wajah sangat datar menunjukkan bahwa lelaki itu enggan berada di dekatnya.
"Kamu akan jatuh ke pelukan aku Angka, kalau dengan cara baik-baik kamu gak bisa luluh maka jangan salahkan aku kalau akhirnya bertindak kasar untuk ngebuat kamu menerima pertunangan kita"
Renata mengusap foto itu sejenak.
"Gak peduli seberapa pun kamu mencoba menghindar aku akan terus kejar kamu sampai dapat dan akan menyingkirkan apapun yang mencoba merebut kamu dari aku, bahkan aku gak peduli kalau harus membunuh orang sekalipun untuk bisa dapatin kamu"
__ADS_1
"Almana Paramita, lo akan menemui ajal karna udah dengan berani merebut Angka dari gue. Tunggu tanggal mainnya"
Gadis itu tersenyum miring dengan berbagai rencana jahat di kepalanya untuk menyingkirkan gadis yang menjadi penghalang hubungan nya dengan Angka.