
Setelah mengantar Alma sampai dengan selamat di rumahnya, Angka langsung memilih kembali ke apartemennya. Jam menunjukkan pukul 21.30 Angka segera membersihkan diri. Ia sangat ingin tidur untuk merilekskan pikirannya.
Angka hanya membutuhkan waktu singkat untuk mandi karna dia benar-benar ingin cepat merebahkan diri, begitu keluar dari kamar mandi dan sedang mengeringkan rambut dengan handuk. Ponselnya berbunyi, menandakan adanya panggilan masuk.
Segera ia beranjak dan melihat siapa yang menelpon malam-malam begini, id caller papah tertera di ponsel Angka. Dia sudah menebak hal ini, pasti papahnya akan membahas hal itu.
"hallo pah" sapa Angka begitu panggilan itu ia angkat.
"dimana kamu?" suara dingin dan tegas itu membuka suara.
"apartemen"
"besok pulang kerumah, tidak usah pergi ke kampus atau kemanapun. pasti kamu udah bisa menebak apa yang akan papah bicarakan" ujar darmawan-papah Angka-
"gak bisa pah, besok aku ada kuis pagi"
"kalau kamu gak mau datang, biar papah yang kesana sekalian papah mau ketemu gadis pilihan kamu. mamah kamu bilang gadis itu bekerja di apartemen kamu"
Belum sempat Angka membalas, panggilan itu terputus begitu saja. Setau Angka papahnya sedang ada perjalanan dinas untuk beberapa waktu namun mengapa malah mengatakan akan datang besok. Angka memang memikirkan bahwa papahnya pasti akan datang dan mengintrogasi nya begitu pulang dari perjalanannya tapi Angka tidak menebak bahwa hari esok papahnya akan langsung datang.
"Sial, kalo sampe papah ketemu Alma bisa-bisa makin panjang urusannya. Apalagi papah udah tau Alma kerja juga disini" Angka memijat pelipisnya, kepalanya terasa ingin pecah sangking pusingnya.
Angka menelpon Alma mencoba untuk memberitahu bahwa besok tidak perlu datang untuk bekerja dulu, dia takut urusan akan semakin runyam. Tapi sialnya ponsel Alma tidak aktif lalu bagaimana Angka bisa memberitahukan, kalaupun datang ke rumah gadis itu dia tidak enak dengan orang tua Alma jika bertamu malam-malam begini.
Pada akhirnya Angka hanya bisa pasrah pada apa yang akan terjadi besok, semoga tidak menambah masalah. Meski begitu Angka tidak merasa menyesal melakukan ini, biarlah kali ini Angka menjadi egois.
Dia hanya ingin mengejar cintanya, itu saja.
*****
Pagi menyapa, Alma bergegas bersiap-siap untuk pergi bekerja. Dia mengecek ponselnya yang ternyata sejak semalam lowbet, kalau begini Alma harus rela tidak membawa ponselnya karna kalaupun tetap membawanya tidak akan berguna juga.
"Semoga hari ini lebih baik dari kemarin" Alma menatap pantulan dirinya dalam cermin kemudian tersenyum dan bergegas menuju meja makan, hari ini Alma tidak berniat sarapan hanya ingin minum susu untuk cepat sampai di apartemen Angka. Tapi entah kenapa dia merasa agak gelisah, biasanya dia tidak merasa begini.
__ADS_1
"Bu, Alma langsung berangkat ya" ucap Alma sambil mengambil susu dan meminumnya.
"Gak sarapan dulu?"
"engga deh bu, aku berangkat dulu ya" Alma menyalami sang ibu dan bergegas pergi menuju apartemen Angka.
Tak butuh waktu lama Alma sampai di apartemen Angka, ia berniat membuka pintu namun pintu terbuka lebih dulu dari dalam. Angka menatap Alma seolah ada kata yang ingin diucapkan lewat tatapan itu, tapi Alma tidak mengerti apa itu.
"kamu kenapa?" tanya Alma tapi Angka malah menarik tangannya masuk.
"Ini dia pacar Angka pah" ujar Angka ketika mereka sudah berdiri dibelakang sofa, Alma melihat tubuh seorang pria yang membelakangi mereka duduk santai dengan bersandar pada kepala sofa.
Eh tunggu, Angka tadi menyebutnya pah? apa pria didepan mereka ini adalah papah Angka?!
tubuh itu mulai bangkit dan berbalik ke arah mereka, Alma merasa gerakan itu seperti slowmotion. Jadi sejak tadi kehadirannya memang sudah ditunggu Angka dan papahnya?
Pria paruh baya itu masih terlihat tampan dan fresh menurut Alma, pantas saja Angka memiliki wajah yang sangat tampan meski berwajah seperti triplek ternyata itu semua adalah turunan dari sang papah. Benar-benar gen yang sempurna.
Baiklah lupakan soal paras pria paruh baya di depannya ini, Alma menjadi gugup dan tubuh nya pun dia biarkan Angka ambil alih dengan menarik dan berdiri di depan papah Angka yang sejak tadi terus menatapnya dengan tatapan intimidasi.
Darmawan-papah Angka- menaikkan sebelah alisnya menatap putra semata wayangnya lalu tatapannya beralih pada gadis di samping putranya. Ia cukup cantik bahkan sangat cantik malah untuk ukuran gadis yang menjadi pembantu rumah tangga. Darmawan tidak yakin gadis ini bekerja sebagai pembantu juga di apartemen anaknya yang sembarangan ini. Jangan-jangan itu hanya akal-akalan Angka agar bisa berdekatan dengan gadis didepannya ini.
"bener ini pacar kamu?" tanya Darmawan yang langsung dijawab anggukan cepat oleh Angka.
"Kok bisa gadis secantik kamu mau sama anak saya? dijadikan pembantu pula"
Angka melotot mendengar penuturan sang papah yang malah terdengar seperti menyudutkannya.
"Papah kok ngomong gitu sih" sebal Angka dan mendelik pada Darmawan. Lelaki setengah baya itu terkekeh melihat tingkah anaknya, sangat jarang dia melihat ekspresi lain dari Angka yang biasa hanya berwajah datar dan bicara seperlunya saja.
"Alma ini papah aku, dia juga baru datang selisih beberapa menit aja mungkin sama kedatangan kamu. Dan pah ini Alma calon mantu papah"
Alma mendelik mendengar ucapan Angka, calon mantu katanya? cih.
__ADS_1
"Pagi om, saya Alma" sapa Alma canggung kemudian mengulurkan tangan dan disambut oleh Darmawan, tak disangka Alma membawa tangan itu untuk ia salimi seperti halnya yang biasa ia lakukan pada orangtuanya sebelum berangkat bekerja atau saat pergi darimana pun.
Darmawan tertegun melihat kesopanan yang dimiliki Alma, bahkan Angka yang anaknya saja tidak menyaliminya saat datang tadi. Renata pun tidak pernah melakukannya, biasanya gadis itu hanya menyapanya seperti menyapa teman lama yang tidak pernah dilihatnya. Benar-benar jauh berbeda dengan sosok gadis didepannya ini.
"Senang bertemu dengan kamu Alma, semoga kamu bisa menerima anak saya yang banyak kurangnya ini"
Angka menoleh cepat menatap sang papah, apa maksudnya ucapan tadi, apa papahnya ini mendukung hubungan mereka?
"Papah setuju sama pilihan kamu, lagipula dari awal juga papah gak setuju sama rencana pertunangan kamu dan Renata tapi papah gak punya daya membantah mamah kamu. Papah kurang suka dengan Renata, dia terlalu bebas" Angka menatap papahnya dengan haru , untuk kali ini dia bersyukur mempunyai papah seperti Darmawan meskipun dia sering ditinggal dinas dan kurang mendapat kasih sayang seorang ayah. Tapi Angka bersyukur papahnya kali ini berada di kubunya.
"Tapi pah, mamah gak setuju sama hubungan kami" Ujar Angka lesu.
"Soal mamah kamu, kasih dia sedikit bujukan. makanya kamu jangan terlalu memusuhi mamah kamu, dekati dan rayu mamah kamu papah yakin lama-kelamaan dia akan luluh juga"
"Gak segampang itu pah, papah tau sendiri sifat mamah yang egois dan gak mau dibantah itu gimana"
"Kalau itu sih jadi urusan kamu dan Alma, sebenarnya papah datang kesini cuma mau melihat aja apa bener anak lelaki papah udah punya pacar. Tapi ya masa kamu tega jadiin pacar kamu pembantu"
"Alma lagi butuh pekerjaan pah, kebetulan aku kan juga lagi butuh art lagian kerjanya juga gak banyak kok. Angka cuma butuh ngeliat Alma sebelum beraktivitas jadilah Angka memperkerjakan Alma disini. Itung-itung Alma belajar jadi istri yang baik sebelum menikah sama aku nanti" Angka terkekeh di akhir kalimat, sedang Alma hanya mampu memasang senyum malu.
kenapa Angka jadi sangat frontal begini sih, Alma kan jadi malu.
"Yaudah papah hanya mau bahas itu aja, papah mau istirahat dirumah. Jam 2 malam papah baru sampai dan pagi nya langsung kesini untuk ngehindarin mamah kamu biar gak ngomel, pusing papah dengernya"
Angka mengangguk mengiyakan, tatapan Darmawan teralih pada Alma yang sejak tadi diam.
"Alma sekarang tugas kamu cuma harus ngeluluhin istri saya, saya kasih clue untuk mengambil hatinya. Masakan saja dia hidangan khas korea istri saya sangat menyukai masakan dari negeri ginseng itu, dia pasti akan luluh kalau kamu bisa ngasih tau dia banyak resep masakan korea"
Masakan korea? Alma ahlinya jika menyangkut masakan khas korea atau apapun yang berbau korea, ini karna Alma sangat menyukai drama korea bahkan dia pun salah satu kpopers dari salah satu boygrup negeri ginseng itu. Seperti meluluhkan hati ibu Angka akan mudah-mudah sulit. Ya kalian pasti tau lah artinya.
Tapikan dia dan Angka hanya berpura-pura pacaran untuk menghindari pertunangan yang sudah Anita mamah Angka rencanakan.
mengapa pula dia harus repot-repot meluluhkan hati wanita itu.
__ADS_1
'Kenapa jadi ikutan repot gini' gumam batin Alma.