
Setelah kepergian Darmawan, kedua muda mudi itu malah terduduk canggung di sofa apartemen Angka. Terlebih Angka dia sebenarnya sangat tidak enak dengan Alma karna membawa gadis itu pada permasalahan hidupnya padahal niat gadis itu hanya bekerja dan menghasilkan uang untuk kebutuhan hidup. Namun Angka malah menambah beban Alma dengan membawanya pada masalah ini.
"Al emm aku minta maaf karna ngebawa kamu dalam masalah aku, hanya saja aku gak punya pilihan lain" Lelaki itu menghembuskan nafas kasar sebelum melanjutkan.
"Aku bakal terima apapun syarat dan ketentuan yang kamu kasih tapi tolong tetap jadi pacar pura-pura aku ya?"
Melihat wajah memelas itu Alma jadi berempati, dia tidak enak menolak apalagi selama ini Angka sudah begitu baik padanya lelaki itu selalu ada untuk membantunya. Tapi Alma juga begitu takut pada ancaman ibu dari lelaki di depannya ini, Anita bisa melakukan apa saja untuk menjatuhkan dan menghancurkan Alma. Bagi wanita paruh baya itu Alma hanyalah sebutir debu yang bisa dengan mudah dia singkirkan.
"Aku takut Angka, aku bisa aja jadi pacar pura-pura kamu. Tapi aku takut ibu kamu ngelakuin hal yang gak kita sangka, aku gak mau terkena masalah. Hidup aku udah cukup sulit" Alma berujar lirih, dia benar-benar bingung sekali harus bagaimana.
"soal mamah aku, kamu tenang aja. Aku jamin dia gak akan berbuat macam-macam, hanya saja aku perlu kamu untuk menghadapi Renata sampai dia jengah dan membatalkan rencana pertunangan kami"
Alma mendongak menatap Angka yang juga sedang menatapnya, lelaki itu menatapnya lekat seolah meyakinkan semua akan baik-baik saja. Akhirnya setelah hening beberapa saat Alma mengangguk, pertanda bahwa dia menyetujui hubungan pura-pura mereka. Angka tidak bisa untuk tidak tersenyum, wajahnya terlihat sangat sumringah padahal tadi wajah tampan itu terlihat keruh dan putus asa.
"Aku akan pastikan semua akan baik-baik aja, kamu hanya harus percaya sama aku, oke?" Alma kembali mengangguk, gadis itu akan mempercayakan semua pada Angka karna Alma yakin Angka tidak akan ingkar janji.
"Oh iya soal papah aku tadi, aku sebenarnya udah tau kalau papah aku gak suka sama Renata cuma yang aku takutkan semalem aku ngebuat masalah membawa nama keluarga Tanubrata" jeda sejenak Angka menghembuskan nafas mencoba memberi ketenangan pada hatinya yang sedang gundah.
__ADS_1
"Papah aku adalah orang yang paling gak suka kalau sampai ada masalah yang bisa berpotensi merusak nama baik keluarga. Apalagi semalam itu kebanyakan investor papah yang datang, tapi aku yakin sekarang papah udah ngebungkam orang-orang yang datang untuk gak nyebar rumor aneh-aneh"
"jadi kamu tenang aja ya?" Genggaman tangan besar itu Alma rasakan menyelimuti tangan mungilnya, hangat dan genggaman ini seperti mencoba meyakinkan Alma untuk percaya bahwa pemilik tangan ini akan melindunginya dalam keadaan apapun.
"Aku percayakan semuanya sama kamu" Alma menyunggingkan senyum yang dibalas senyum juga oleh Angka, mereka saling bertatapan sampai akhirnya genggaman tangan mereka terlepas dengan wajah memerah malu. Angka menggaruk tengkuknya sedangkan Alma menunduk malu.
Hal aneh jika Alma merasa risih atau tidak nyaman berada di dekat Angka karna sejak dulu hal inilah yang selalu Alma idamkan. Berada di dekat Angka dan bisa merasakan bagaimana rasanya berpacaran dengan lelaki tinggi ini, namun sekarang rasa bahagia itu juga diselimuti ketakutan.
Tapi Alma akan mencoba meyakinkan hati bahwa semua akan baik-baik saja selagi Angka ada bersamanya.
*****
Sebenarnya Angka sangat malas pergi kemana-mana dan hanya ingin menghabiskan waktu di apartemen dan membahas banyak hal dengan Alma. Namun apa mau dikata bahwa pekerjaannya tidak bisa ditinggal begitu saja, ada tanggung jawab yang harus Angka penuhi.
Ia juga mendapat telpon dari tangan kanannya yang membantu Angka mengurus caffe jika dia tidak ada, memberitahu bahwa ada banyak bahan makanan dan minuman yang stoknya menipis. Akhirnya mau tidak mau Angka harus terjun langsung untuk mengurusnya.
"Pagi pak Angka" Sapa Lucius Sanjaya, orang kepercayaan Angka begitu dia ingin menaiki tangga menuju lantai 3 dimana ruangannya berada. Lucius memang sudah menunggu kedatangannya, jadilah pria itu ikut naik bersama Angka dan mereka memasuki ruang kerja Angka yang minimalis tapi estetik itu.
__ADS_1
"Pagi, ada laporan apa aja hari ini selain stok bahan yang mulai habis" Ujar Angka buka suara setelah duduk di kursi dalam ruangannya.
"Sebenarnya ada beberapa karyawan yang memberi saran untuk membuat beberapa menu baru karna mereka merasa orang yang datang pasti tertarik mencoba menu baru, agar kesannya caffe ini gak menyediakan hidangan yang itu-itu saja"
Angka mulai tertarik mendengar usulan itu, lelaki itu sesungguhnya juga ingin memberi saran yang sama tapi karna ada beberapa masalah personal Angka jadi lupa membahas itu dengan para karyawannya. Untunglah mereka juga ternyata punya ide yang sama.
"Memang ada bagusnya kita buat menu baru supaya orang-orang lebih banyak tertarik untuk datang, kita juga bisa menambah menu baru dalam beberapa bulan sekali. Supaya bisa punya banyak menu pilihan, kira-kira apa aja makanan yang mereka rekomendasi kan untuk ditambah di menu?"
"Mereka bilang kita kan hanya menaruh menu dessert sebagai makanan pendamping, jadi mereka mengusulkan beberapa makanan berat seperti nasi goreng, chicken wings pedas atau original, dan juga beberapa menu lainnya bisa bapak cek disini. Mereka bilang gak harus semua menu yang mereka rekomendasi kan ada di menu baru, bapak bisa pilih beberapa yang cocok"
Angka mengangguk dan menerima sodoran kertas berisi banyak menu makanan berat, sepertinya Angka harus menaikan gaji karyawannya. Mereka semua memang kompeten, Angka harus memberi mereka apresiasi.
"Buat 5 menu makanan berat, itu sudah saya ceklis menu mana aja yang harus ditaruh di daftar menu baru" Angka menyodorkan kembali kertas itu, Lucius melihat beberapa daftar makanan yang diceklist oleh bos muda nya ini. Ada nasi goreng, chicken wings, spaghetti, ayam geprek dan bakso.
Setelahnya Lucius pamit undur diri dan Angka hanya mengangguk sebagai balasan. Pemuda itu menyandarkan tubuh di kursi kebesarannya itu, menerawang banyak hal dalam hidupnya termasuk takdir yang membawanya pada Alma cinta pertama sekaligus cinta monyetnya.
Walau Angka tidak tau apa perasaan sebenarnya yang dimiliki Alma untuknya, mengingat gadis itu dulu hanya menjadikannya sebagai orang yang pura-pura disukai. Dan rumor yang mengatakan dia selalu gagal move on mendapatkan Angka karna Angka yang tidak menyukainya.
__ADS_1
Lelaki itu mengusap wajahnya kasar, dia sendiri juga bingung apakah perasaannya ini masih sama untuk Alma atau sebenarnya dia hanya ingin balas dendam karna cintanya dulu tidak bisa tersampaikan pada Alma?
Entahlah pada akhirnya Angka pasrah saja pada takdir yang entah akan membawa kemana hubungan pura-pura nya dengan Alma, semoga saja semua berakhir baik tanpa ada yang tersakiti. Semoga saja.