
Angka tengah berkutat dengan data pemasukan dan pengeluaran bulanan di ruang kerjanya yang berada dilantai atas caffe. Fokusnya teralih ketika pintu ruangannya diketuk, pintu terbuka ketika Angka berujar masuk dengan suara agak keras.
Dia Andin salah satu pegawai caffe kenanga masuk dan membiarkan pintu terbuka.
"Ada apa din?" Tanya Angka.
"Itu pak, ada tamu yang mau bertemu bapak"
"Siapa?"
"Aku" Ujar sebuah suara dibelakang Andin, Angka mendengus melihat Renata dengan gaya angkuhnya datang, gadis itu melirik pada pegawai Angka dan mengibaskan tangannya. Menyuruh pergi.
Angka hanya mengangguk ketika Andin menatapnya seolah pamit dan menutup pintu. Renata tersenyum kearah Angka tapi lelaki itu memilih mengacuhkan gadis didepannya ini, entahlah Angka sangat muak dengan Renata.
"Harusnya sebagai calon tunangan yang baik ,kamu tanya dong kabar aku gimana Angkara Gautama" ucap Renata berjalan semakin mendekat kepada Angka, ketika ia sudah berdiri disamping lelaki itu dia memberikan kecupa dipipi Angka. Lelaki itu mengerang marah dan berdiri, menyingkir sejauh mungkin dari gadis beracun itu.
"Jangan asal nyium, gue alergi sama bibir beracun lo" Ucap Angka pedas, dia memilih duduk di sofa dekat jendela. Mendadak dia merasa gerah, tapi mendengar tawa sarkas dari Renata dia menoleh dan menatap heran ke arah gadis itu. Dasar gila tiba-tiba datang dan tertawa seperti itu, benar-benar menyeramkan. Batin Angka.
"Haduh Angkara kamu itu harus terbiasa sama sentuhan aku, gimana nanti kalau kita udah nikah? kecupan itu nantinya bukan apa-apa" Renata terkekeh dan semakin mengeluarkan tawa ketika melihat raut tidak suka Angka. Semakin membuatnya tambah cinta saja.
"Dalam mimpi lo itu terjadi" Ujar Angka dengan nada tajam seketika tawa Renata terhenti dan wajah itu berganti menjadi sangat datar.
"Masih aja kamu menyangkal sama kenyataan yang udah pasti, inget Angka kamu itu milik aku bahkan sebelum kita dilahirkan pun kita udah terikat, terikat janji perjodohan antara mamah kamu dan mamah aku"
"Itu cuma perjanjian konyol yang mamah gue buat, gue ya milik gue sendiri bukan milik lo atau siapapun. Bahkan mamah gue sekalipun, kalian gak berhak maksa gue karna ini hidup gue"
"Aku tau kamu berusaha menolak bukan karna kamu gak mau, tapi karna cewe kampung itu kan" Renata tersenyum sinis saat Angka langsung menoleh marah ke arahnya "Kenapa? benerkan yang aku bilang? gara-gara dia kamu berontak dan mendadak gak mau melanjutkan pertunangan kita, padahal sebelumnya kamu fine-fine aja"
"Namanya Alma, bukan cewe kampung. Lo jangan sok tau soal urusan gue, daridulu juga gue ogah tunangan sama lo. Mamah selalu merencanakan hal tanpa ngasih tau gue, dulu gue males mendebatnya tapi sekarang gue udah muak"
__ADS_1
Renata menatap Angka dengan pandangan marah namun Renata berusaha tenang, dia menarik dan menghembuskan nafas secara perlahan. Dia tidak boleh gampang emosi dan tetap tenang atau kalau tidak, Angka akan semakin sulit dia jangkau.
"Oke, kalau memang bukan cewe itu alasan kamu menolak pertunangan ini, jadi gak masalah dong ya kalau aku jadiin dia gelandangan"
Angka menoleh, dia melihat gadis itu sedang memainkan kukunya seolah menunggu reaksi Angka. Apa maksudnya menjadikan Alma gelandang?
"Apa maksud lo?"
"Pramana Sudirja, Ayah Almana Paramita seseorang yang gagal merintis usahanya dan meminjam modal besar pada pengusaha kaya raya bernama Aditya Putra Kusmanto yaitu Papah aku, dia memberikan sertifikat rumah sebagai jaminan. Dia selalu nunggak dalam pembayaran, gimana kalau aku ambil aja ya rumah itu? Biar dia dan keluarganya jadi gelandangan dipinggir jalan karna gak punya tempat tinggal"
Angka membelalakkan mata ketika Renata selesai berbicara, bukankah ayah Alma meminjam uang pada bank? apakah ayah Alma berbohong? apa Alma tau kebenarannya? Tapi Angka yakin Alma pun tidak tau bahwa selama ini ayahnya berbohong. Astaga kenapa ayah Alma ceroboh sekali dengan menjadikan sertifikat rumah sebagai jaminan, Angka mendadak gelisah ditempatnya.
"Jangan main-main sama hidup orang lain Renata, inget setiap perbuatan lo akan ada balasan nantinya" Ucapan Angka hanya dibalas senyuman sinis oleh Renata.
"Aku gak peduli soal balasan atau apapun dari apa yang aku perbuat, aku cuma mau hancurin hal yang ngerusak kebahagiaan aku"
"Lo lagi mencoba ngancem gue?"
Tawa keras Renata menggema, Angka rasanya sangat ingin menyumpal bibir itu dengan lumpur, biar sekalian dia semen supaya gadis itu tidak bisa bicara selamanya. *kejam sekali angka xixi*
"Anggaplah aku sedang mengancam kamu kalau kamu masih mencoba menolak pertunangan kita, jangan naif Angka aku tau kamu menolak pertunangan kita karna kehadiran cewek kampung itu" melihat keterdiaman Angka, Renata kembali berujar "Minggu ini adalah pesta pertunangan kita, kalau kamu gak datang dan acara batal saat itu juga aku bakal hancurin Alma dan keluarganya"
"Ingat itu baik-baik Angka" Renata memilih pergi setelah memberi peringatan pada Angka, dia tersenyum miring sebelum beranjak dan menutup pintu. Meninggalkan Angka seorang diri dengan kegundahan hatinya, sial mengapa secara kebetulan hal ini terjadi.
Angka tidak akan membiarkan Renata dan ancamannya menjadi kenyataan, dia akan mencari cara agar Alma dan keluarganya bisa tetap tinggal dirumahnya dengan aman.
*****
Hari minggu, Alma kembali mengambil jatah libur. Dia sedang berkutat di dapur membantu ibu memasak, dia sedang membuat tumis kangkung. Acara memasak kali ini diselingi candaan dari ibu dan anak itu sampai gedoran kuat di pintu utama rumah Alma, mengusik aktivitas memasak mereka.
__ADS_1
"Siapa itu bu? gedornya kok kaya orang marah" Tanya Alma ketika mendengar gedoran semakin bertambah kuat.
"Tau tuh siapa sih, coba ibu liat dulu kamu lanjutin masak aja" Baru saja Rosita ingin beranjak namun Alma lebih dulu mencegah.
"Biar Alma aja bu" Gadis itu melangkah menuju pintu, sebelumnya dia mengintip lewat gorden jendela. Alma melihat 2 pria berbadan besar sedang berdiri di depan pintu rumahnya, 'serem banget mereka' ucap batin Alma.
Dia jadi ragu mau membuka pintu, namun gedoran kembali mengusik dan ucapan lelaki itu membuat Alma mematung ditempatnya.
"Pramana keluar!! Kamu harus bayar hutang"
Hutang? apa ayahnya meminjam uang dari rentenir? kemarin Alma baru saja memberinya uang untuk membayar hutang cicilan bank, lantas siapa orang-orang didepan itu. Mau bilang mereka mungkin salah rumah pun tidak mungkin, jelas-jelas mereka menyebut nama ayahnya tadi.
Alma akhirnya memilih membuka pintu, dia memasang raut setenang mungkin meski dalam hati Alma ketakutan setengah mati.
"Ada apa ya pak? gedor-gedor rumah orang sembarangan, bapak tau etika bertamu gak?" ujar Alma sinis.
"Halah anak kecil sok ngajarin etika, mana bapak mu? suruh dia bayar hutang. Ini sudah lebih 2 minggu dia belum bayar juga"
"Hutang apa pak maksudnya?"
"Ayah kamu berhutang sama Aditya Kusmanto, bos kami. Hutang seratus juta dan baru membayar 5 juta, sekarang dia malah nunggak dan ngilang ketika dihubungi"
"Aditya Kusmanto?" gumam Alma, dia termenung sejenak. Tidak, tidak mungkin ayahnya meminjam uang pada orang lain, Alma tau ayahnya berkata dia hanya meminjam uang pada bank. Itupun hanya 30juta, mereka ini pasti berbohong.
"Suruh bapak mu itu cepat keluar atau saya dan teman-teman saya bakal ngusir kalian secara paksa untuk mengambil rumah ini yang sudah dia jadikan sebagai jaminan"
Mata Alma membola, dia terkejut tentu saja. Ayahnya menjadikan rumah, satu-satunya harta yang mereka miliki sebagai jaminan?
"Ya tuhan apalagi ini" Jerit batin Alma.
__ADS_1