CEO & Gadis Pelunas Hutang

CEO & Gadis Pelunas Hutang
Bab 11. Seseorang Tak Terduga


__ADS_3

Dodi Kurniawan tak sia-sia menjual anaknya pada Helma Sadewa. Mengingat, operasi transplantasi paru yang diperuntukkan pada istrinya, berhasil dan Isma Yani bisa bertahan hidup.


Keadaan Isma semakin membaik, meskipun ia masih belum diperbolehkan pulang. Isma sudah bisa membuka matanya, dan mampu berbicara, walaupun suaranya masih begitu pelan dan serak.


Dodi Kurniawan selalu setia menunggu istrinya, dan tetap berada disampingnya. Ia jarang pulang ke rumah, dan hanya sesekali datang hanya untuk membersihkan rumahnya saja.


"Halo, Bu, Lingga sudah pulang sekolah," sapa Lingga, adik Livia, begitu ia sudah sampai di ruang rawat Isma.


"H-halo, Lingga, Ibu bersyukur sekali, masih bisa menatapmu, tersenyum padamu, dan menyambutmu pulang seperti ini. Ibu kira, Ibu akan mati, dan tak pernah bisa bersama kalian lagi," ucap Isma begitu lemah.


"Ibu, jangan bicara seperti itu. Bersyukur karena Ibu masih bisa diberi kesehatan dan bisa kembali sehat. Ibu pasti sehat, Ibu kini tengah dalam masa pemulihan. Semoga sebentar lagi kita bisa pulang ke rumah ya. Ibu pasti sudah merindukan rumah," Dodi terlihat begitu bahagia.


"Iya, Bu. Ibu harus tetap semangat. Lingga yakin, Ibu bisa sehat kembali. Tak ada lagi yang perlu kita khawatirkan, Ibu hanya tinggal menjalani pemulihan saja,"


Isma Yani tidak tahu, jika dirinya tengah mendapati transplantasi paru, yang uangnya didapatkan dari hasil menjual Livia. Yang Isma tahu, Livia tengah bekerja dan memang kini berada di luar kota.


"Ayah …" ucap Isma tiba-tiba.


"Iya, Bu? Kenapa? Ibu mau makan? Makan apa? Biar Ayah belikan," ucap Dodi sigap.


Isma menggeleng, ia terlihat begitu sedih karena keadaan ini. Bukan makanan, bukan minuman yang ia inginkan. Melainkan ….

__ADS_1


"Ibu mau bertemu Livia, Ayah. Apakah dia belum bisa pulang juga? Ibu merindukannya, Ayah," tutur Isma sembari menitikkan air matanya.


Isma tahunya Livia tengah bekerja di luar kota. Padahal, semenjak Isma masuk ruang ICU dan tak sadarkan diri, Livia sudah memutuskan untuk cuti dan menunggu ibunya.


Isma tak tahu, jika kini ia bisa kembali sehat karena semua pengorbanan Livia. Namun Dodi enggan mengatakannya pada Isma, karena Dodi takut, jika Isma akan marah dan tak terima, anak sulungnya dijual dan dinikahkan dengan pria yang sama sekalu tak mencintainya.


"Livia masih kerja, Bu. Sabar, ya. Nanti Ayah minta dia untuk pulang, karena kini Ibu sudah sadar," jawab Dodi tersenyum.


Dodi tak mungkin mengatakan kejujurannya di tengah keadaan istrinya yang baru saja membaik. Dodi pasti akan menceritakannya, akan tetapi nanti, setelah Isma pulang dan kondisinya sudah membaik.


"Baiklah, kalau begitu, Ibu ingin meneleponnya, Ayah. Bolehkan Ibu menghubungi Livia? Ibu sudah lama tak mendengar suaranya, Ibu ingin mendengar suaranya," ucap Isma penuh pengharapan. 


Lagi-Lagi Dodi terdiam. Mana mungkin bisa menelepon Livia dalam keadaan seperti ini? Dodi tak tahu, Livia sedang apa dan bagaimana. Bahkan, setelah pernikahan itu terjadi, Livia belum pernah menelepon Dodi.


"Ibu, Livia ponselnya rusak. Terakhir dia mengabari kita, jika dia belum ada uang untuk membeli ponsel baru. Ibu yang sabar, ya. Livia baik-baik saja, kok. Yang penting, sekarang kau harus jaga kesehatanmu, agar kau cepat pulih dan bisa segera pulang,"


Isma Yani menghela napas panjangnya. Ia benar-benar sedih, tak bisa bertemu dengan sosok yang sangat ia rindukan saat ini. Sayang sekali, Livia begitu jauh dari pandangannya, padahal Livia adalah anak kesayangannya.


"Bu, ibu jangan banyak pikiran, ya. Nanti Ibu sakit. Ibu harus banyak istirahat, jangan pikirkan Kakak ataupun dan yang lainnya. Pokoknya Ibu harus fokus sama kesehatan Ibu. Bu, Lingga cari makan siang dulu ya untuk Ibu. Nanti Lingga kembali lagi. Ayah, Lingga keluar dulu, ya," tutur Lingga.


"Ada uangnya tidak, Ga?"

__ADS_1


"Ada, Yah. Tadi aku habis membantu seorang Ibu menjualkan dagangannya, aku dapat uang dari Ibu itu. Sudah, ya, aku pergi dulu,"


"Hati-Hati di jalan, Ga,"


Akhirnya Lingga pergi ke luar rumah sakit, dan berniat membelikan makanan untuk Ibu dan juga ayahnya. Lingga kebetulan mendapatkan uang dari hasil membantu jualan orang lain.


Saat Lingga berada di luar halaman rumah sakit, tiba-tiba ada seorang pria yang menarik lengannya. 


"Di mana Livia? Katakan padaku, pindah ke mana dia sekarang?"


Deg. Lingga kaget, kenapa tiba-tiba ada seorang pria yang mencari kakaknya.


"Kak Livia pergi merantau!"


"Bohong! Aku adalah teman kerjanya yang berasal dari luar kota! Dan dia sudah berhenti!"


Deg. Tak boleh ada yang mengetahui keberadaan Livia saat ini, tak boleh. Lingga bingung, mungkinkah pria ini adalah lelaki yang sempat satu pekerjaan dengan Livia?


"Kak Livia pergi, tidak ada, dia bekerja jauh,"


"Aku adalah kekasihnya! Jangan sembunyikan apapun lagi dariku!" ucapan pria itu benar-benar membuat Lingga kaget bukan main.

__ADS_1


"Jadi, Kak Livia sebenarnya memiliki seorang kekasih?" batin Lingga, antara percaya dan tak percaya.


__ADS_2